Share

BAB 7 PEMAKAMAN

“Berhentilah menangis! Aku ingin beristirahat!” tegur Ray galak.

Anna langsung terdiam dilihatnya di depan pintu kamar sudah berdiri tuannya, dengan wajah dingin dan rahang yang mengetat.

Matanya bersinar, karena emosi yang tidak disembunyikannya dari Anna. Wajah tampan itu seolah tidak menyiratkan rasa kasihan kepada Anna yang sedang berduka.

“Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk mengusik ketenangan Anda.” Anna menundukkan kepalanya tidak berani menatap netra Ray.

Ray mendengus kasar, ia lalu membalikkan badan menjauh dari kamar Anna. Ray keluar dari rumahnya berjalan menuju kandang kuda miliknya.

Penjaga istal yang sedang membersihkan kandang kuda tersebut. Terlihat terkejut melihat kedatangan Ray.

“Selamat pagi, Tuan Ray!” sapa penjaga kuda itu.

“Tolong siapkan Thunder untukku!” perintah Ray dingin.

“Baik, Tuan! Dalam waktu lima menit kuda Tuan akan sudah siap untuk ditunggangi,” sahut penjaga kuda itu.

Beberapa menit, kemudian Ray sudah berkuda mengelilingi areal tanahnya yang luas dan ditumbuhi banyak pepohonan.

Ray menghentikan kudanya di atas sebuah bukit. Dipandanginya hamparan rumput luas yang ada di hadapannya.

Dahulu, setiap akhir tahun tempat ini akan ramai dikunjungi rekan dan sahabatnya, yang memang ia undang untuk berkuda dan mengadakan pesta. Namun, semenjak pengkhianatan istrinya ia sudah menghapus semua kegiatan tersebut.

Ray memutar arah kudanya, sehingga terlihatlah puncak Menara dari rumahnya. Rumah yang ia bangun dengan penuh cinta, tetapi kini sudah menjadi kenangan.

Ray turun dari atas kudannya, lalu ia bawa berjalan menuruni bukit menuju Sungai kecil di mana kudanya bisa minum.

Ray mengelus surai hitam kudanya dengan rasa sayang. ‘Kau satu-satunya yang masih setia kepadaku!’ ucap Ray pelan.

Setelah dirasa kudanya cukup meminum air. Ray menaiki kudanya dan memacu kembali menuju rumahnya.

Sesampainya di depan istal kuda Ray langsung melompat turun dari kudanya. “Tolong, rawat kuda saya!” Perintah Ray kepada penjaga kudanya.

“Baik, Tuan!” sahut penjaga kuda tersebut.

Ray bejalan dengan langkah kakinya yang panjang menuju rumah. Begitu ia berada dalam rumah dilihatnya Anna sudah rapi dan, sepertinya ia akan bepergian.

“Mau kemana kau?” Tanya Ray dingin.

“Saya mau pergi ke tempat persemayaman, Tuan!” sahut Anna.

“Saya akan mandi dahulu, setelah akan saya antar kamu!” sahut Ray.

Anna dengan cepat menggelengkan kepala, ia tidak mau merepotkan tuannya. Ia ragu dengan sikap tuannya ini, yang bisa berubah setiap waktu.

Dengan kepala tertunduk tidak berani menatap langsung netra Ray. Anna berkata, “Tidak perlu, Tuan! Saya sudah memesan taksi.”

Rahang Ray mengetat, ia tidak suka kata-katanya dibantah oleh Anna. Dengan suara yang terdengar tegas ia berkata, “Batalkan!”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut Ray berjalan dengan cepat menaiki tangga. Sesampainya di kamar Ray melepas kemeja yang dipakainya, lalu melemparnya ke dalam keranjang pakaian kotor,

Dinyalakannya pancuran yang ada di kamar mandi, lalu ia berada di bawahnya dan membiarkan air tersebut membasahi badan.

Beberapa menit berselang dimatikannya air pancuran disambarnya handuk bersih. Yang tergantung di gantungan baju.

Keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, yang ia lilitkan di pinggangnya. Rambutnya yang masih basah menetes membasahi dadanya yang bidang dan ditumbuhi rambut tipis.

Selesai berpakaian dan penampilannya sudah rapi. Ray berjalan keluar kamar, lalu menuruni tangga menuju tempat di mana Anna berada.

Mendengar suara sepatu Anna mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung terarah ke dada Ray, yang dengan sengaja membuka dua buah kancing kemeja yang dipakainya.

Lidah Anna menjadi kelu dan tenggorokannya terasa kering, karena ia tidak sanggup melihat Ray.

“Kenapa kau melihatku penuh napsu?” Tegur Ray, dengan tatapan tajam.

Sontak saja Anna menjadi tersadar dari kenangannya akan malam, yang pernah dilewatinya bersama dengan Ray.

“Maaf, Tuan!” Anna dengan cepat menundukkan kepala.

Ray hanya diam menatap wajah Anna yang bersemu merah, sebelum wanita itu dengan cepat menundukkan kepalanya.

Ray berjalan menuju pintu keluar tanpa melihat ataupun menoleh ke arah Anna. Dan benar saja dapat didengarnya suara langkah Anna yang mengikutinya.

Begitu keduanya berada di luar, sopir pribadi Ray sudah menunggu dengan seragam tugasnya.

Begitu melihat Ray, sopir pribadinya langsung membukakan pintu mobil bagian penumpang.

“Masuklah, Anna!” Perintah Ray.

Anna pun masuk mobil, diikuti oleh Ray yang masuk, melalui pintu di sebelahnya. Keduanya duduk berdampingan dengan Anna yang duduk dengan tubuh kaku, karena takut kepada Ray.

Ray hanya melirik Anna sekilas, kemudian ia melihat ke depan mengabaikan Anna. Ia tidak suka dengan sikap wanita itu, yang seolah begitu ketakutan berada dekat dengannya.

Sesampainya mereka di lokasi sudah ada asisten Ray yang menunggu. Asisten Ray langsung menghampiri mereka dan menyapa keduanya.

“Tuan, sebentar lagi peti jenazah akan diangkat untuk dibawa ke pemakaman,” ucap asisten Ray.

“Bagus!” sahut Ray singkat.

Beberapa jam berlalu, upacara pemakaman Ibu Anna sudah Anna selesai. Namun, Anna masih enggan untuk meninggalkan makam Ibunya. Ia berlutut dengan kepala ia tumpangkan pada batu nisan Ibunya.

‘Selamat jalan, Bu! Semoga Ibu tenang di sana bersama dengan Ayah,’ ucap Anna pelan.

“Ayo kita pulang! Aku tidak mau berlama-lama berada di sini!” ujar Ray dengan dingin.

Anna langsung saja mengangkat kepalanya dan menatap Ray dengan mata besarnya yang berair.

“Tuan boleh pulang, saya masih ingin di sini sendiri!” Anna memalingkan wajahnya kembali melihat makam Ibunya.

Ray melihat ke arah langit yang sudah semakin gelap saja dan suara petir pun terdengar bersahutan.

“Dasar wanita bodoh! Tidakkah kau sadar, kalau hujan akan turun!” Bentak Ray.

Sontak saja Anna menjadi emosi, karena dirinya tidak meminta Ray untuk menunggu dirinya. Ia pun dengan cepat berdiri dari duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan Ray.

Anna mengangkat dagunya, agar bisa menatap tepat netra Ray, karena tingginya yang hanya sepundak pria itu.

“Sudah saya katakan saya ingin sendiri! Saya tidak peduli, kalau harus kehujanan saya hanya ingin berada di sini lebih lama!” Teriak Anna emosi.

Mata Ray langsung melotot dengan tangannya yang terkepal di sisi tubuh bergerak memegang pundak Anna.

Diguncangnya bahu Anna dengan kasar dan dengan suara mendesis, karena marah ia berkata, “Aku tidak mau mengurus seorang pelayan, kalau kau sampai jatuh sakit!”

Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, sehingga membuat keduanya menjadi basah kuyub.

Dengan suara menggeram marah Ray langsung membopong Anna menuju mobilnya.

Anna yang tidak terima memukul punggung Ray dengan kepalan punggung tangannya, yang kecil.

“Turunkan saya, Tuan!” Teriak Anna.

Ray bergeming, ia tetap membopong Anna. Dan begitu sampai di depan mobilnya. Ia langsung menghempaskan badan Anna dengan kasar pada jok mobil.

Ray masuk, melalui pintu yang sama dengan Anna, lalu duduk di sampingnya. Ia menatap Anna dengan geram.

“Lihat! Dikarenakan sifat keras kepalamu kita berdua menjadi basah kuyub!” Tegur Ray galak.

Anna memalingkan wajah, karena emosi membuatnya tidak merasa takut kepada Ray.

“Tuan yang salah, karena tidak mendengar apa yang saya katakan, kalau saya hanya ingin sendirian saja!” sahut Anna galak.

Ray menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kuat-kuat. Ia menatap Anna dengan garang, entah kenapa ia tidak tahu, kalau berada dekat dengan Anna ia selalu saja ingin memarahinya.

Tangan Ray terangkat hendak ia layingkan ke arah Anna. Namun, bukannya merasa takut Anna justru mendongakkan kepalanya dan menatap Ray dengan berani.

“Lakukanah, Tuan! Saya tidak bisa melawan Anda, karena Anda memiliki kuasa dan kekuatan!” Tantang Anna dengan suara yang bergetar.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status