LOGINRaymond (Ray), 45 tahun berubah menjadi pria yang dingin dan kasar, setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Istri dan partner bisnisnya. Yang membuat ia jatuh dalam keterpurukan dan usahanya menjadi bangkrut. Di saat usahanya sudah mulai sukses kembali, asisten rumah tangga Ray datang membawa Putrinya yang cantik dan muda untuk menjadi pelayan di rumahnya., yang tanpa diketahui Ray pernah mejadi teman tidur satu malamnya. Pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh mantan Istrinya membuat Ray menaruh curiga dan bersikap kasar kepada Anna, pelayan baru di rumahnya. Diam-diam, Anna menyukai Ray, karena ia merasa di balik sikap kasarnya Ray memiliki hati yang baik dan penuh cinta. Anna bertekad untuk mengembalikan itu semua dari Ray. Kesalhpahaman terjadi, ketika Anna yang hampir menyerah dengan sifat kasar Ray mengembalikan cincin pria itu, yang tertinggal, setelah percintaan panas mereka. Ray curiga, kalau Anna memanfaatkan dirinya demi mendapatkan hartanya. Ray menyangkal perasaannya yang lambat laun jatuh hati kepada Anna, selain karena usia mereka yang terpaut jauh. Juga rasa sakit dan tidak percaya kepada wanita begitu membekas di hati Ray. Kegigihan dan rasa cinta Anna yang besar lambat laun mampu mengubah sikap Ray. Cinta keduanya pun akhirnya bersatu dalam pernikahan yang berbahagia.
View MoreDi tengah kemelut nya malam. Seorang gadis tengah mengadu kepada pemilik semesta. Ia dengan khusyuknya meminta di mudahkan segala urusannya dan di kuat kan hatinya menjalani segala ketetapan-Nya.
Nadzira Xena Gumasya. Gadis cantik berwajah teduh itu dengan senyuman manis yang selalu menghiasi wajahnya menjalani rutinitas sehari-hari nya dengan ceria. Biarpun diperlakukan kurang baik oleh keluarga Tantenya sendiri, Namun Nadzira tetap bersyukur Tante Safira masih mau merawat dan membesarkan nya hingga menjadi seperti sekarang ini. Nadzira menjadi anak yatim-piatu disaat usianya masih balita, sehingga Ia hanya bisa mengenali wajah kedua orang tuanya dari sebuah foto yang terpampang di dinding kamarnya."Nadzira....Zira!" Teriak Tante Safira membangun kan Nadzira dengan kasar"Bukannya pagi ini kamu ada interview kerja? Cepat bangun dan bersiap-siap, awas saja kalau hari ini gagal lagi" Lanjut Tante Safira seraya menutup pintu kamar Nadzira kuatNadzira bangun dengan mata yang masih enggan untuk di buka, Ia melirik jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. "Astaghfirullah...Aku belum shalat subuh" kata Nadzira bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalatnya subuhnya yang sudah kesianganSetelah selesai menunaikan kewajiban nya. Nadzira telah berpakaian rapi, Ia menuju ruang makan untuk sarapan bersama Tante Safira, Rasya dan juga Khansa yang merupakan anak dari Tante Safira"Tante tidak mau tau, pokoknya hari ini kamu harus mendapatkan pekerjaan, jika mereka mengajukan permintaan untuk tidak mengenakan hijab saat jam bekerja, maka turuti saja. Ingat Zira, Tante sudah bersusah payah membesarkanmu, jadi sudah menjadi kewajiban mu untuk membayar semua jerih payah Tante" kata Tante Safira penuh penekananNadzira terdiam mendengar semua yang ucapkan oleh Tante Safira. Benar adanya bahwa Ia memang harus membalas semua kebaikan Tantenya, namun berat hatinya untuk bekerja dengan melepas hijab yang sudah Nadzira kenakan sedari dulu. Lagi pula berhijab itu adalah perintah Agama yang wajib dilakukan setiap wanita Muslimah. Nadzira kini tengah duduk mengantri di sebuah kantor tempat Ia melamar pekerjaan. Nadzira menunggu namanya di panggil seraya terus berdoa dalam hatinya, berharap semua berjalan dengan lancar. Nadzira merasa gugup hingga membuat telapak tangannya terasa dingin."Nadzira Xena Gumasya" panggil seseorang dari dalamNadzira berjalan masuk dengan menunduk seraya mengatur detak jantungnya yang kian gugup. "Selamat pagi Pak" sapa Nadzira ramah pada kedua lelaki yang ada dalam ruangan itu. Nadzira menerka-nerka mungkin saja Bos nya adalah seorang pria yang duduk dengan menatap tajam kearah nya itu. "Bismillah, ya Allah, semoga aja hari ini keterima kerjanya" batin Nadzira"Pagi, silahkan duduk, perkenalkan saya Darwin asistennya pak Zefran Al Faruq" Ucap Darwin memperkenalkan diri"Begini, sebelumnya apa kamu pernah bekerja di bidang yang akan kamu lamar ini" Tanya Darwin melihat cara berpakaian Nadzira"Belum pak" jawab Nadzira jujur"Baik, sebenarnya ada beberapa syarat yang harus di penuhi jika ingin di terima sebagai pekerja disini. pertama tentang cara berpakaian, para pekerja disini diwajibkan memakai seragam yang sudah di sediakan oleh perusahaan, mungkin tidak perlu saya jelaskan kamu pasti sudah mengetahui bahwa sekarang kamu sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Jadi penampilan selalu kami nomor satukan" kata Darwin menjelaskanNadzira mengingat baju yang dipakai oleh wanita yang mempersilahkan Ia masuk tadi. Tentu saja itu pakaian yang tidak pernah di pakai bahkan di sentuh oleh Nadzira sama sekali. Namun Nadzira tetap setia mendengarkan peraturan yang lain, bisa saja nantinya Ia diberi kemudahan. Pikir Nadzira"Kedua, setiap pekerja harus tiba tepat waktu, tidak ada kata terlambat baik itu saat jam istirahat yang sudah di tentukan. Waktu istirahat berlaku selama satu jam pada saat makan siang. Bagaimana Nadzira, apa kamu bersedia memenuhi syarat" lanjut Darwin dengan wajah tegasnyaNadzira terdiam meresapi semua yang di jelaskan oleh Darwin. Hatinya berat menerima peraturan yang bertolak belakang dengan keinginan nya. "Maaf pak, bukan saya bermaksud sombong. Hanya saja sepertinya pekerjaan ini tidak cocok dengan saya, tidak mungkin sebagai seorang wanita muslim saya membuka hijab dan berpakaian terbuka seperti itu. Dan lagi akan sulit untuk saya mengerjakan kewajiban saya dengan waktu istirahat yang sudah ditentukan" jelas Nadzira menunduk merasa tak enak hatiSekilas, Darwin melirik Zefran, mungkin saja Bos nya itu ingin berbicara. "Dimana-mana yang namanya pusat perbelanjaan pasti pakaiannya seperti itu. Apa kamu tidak mencari tahu dulu sebelum melamar pekerjaan Nona?" Ucap Zefran dengan tatapan tajamnya"Lagi pula banyak pekerja saya yang awalnya mengenakan Hijab. Lalu melepas nya jika ingin di terima bekerja di perusahaan saya, tampaknya mereka biasa saja. Tanpa banyak protes seperti Anda sekarang ini. Tidak usah berlagak paling Agamis di depan saya, lakukan saja seperti wanita yang lain. Aku tahu betul kamu pasti sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi jangan sok jual mahal" lanjut Zefran merendahkanNadzira merasa tidak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Zefran padanya. "Maaf pak, mungkin kedengarannya ini hal yang sepele bagi Anda. Namun Hijab adalah sebuah kehormatan bagi kami para wanita muslimah. bagaimana bisa saya menikmati hasil jerih payah saya dengan melalaikan perintah Agama? Memang benar, saya membutuhkan pekerjaan ini. Namun tidak dengan melepas hijab saya, permisi" jawab Nadzira beranjak dari tempat duduknyaZefran merasa tertarik dengan wanita yang memiliki pendirian seperti Nadzira. Zefran sengaja memberi penawaran yang menjebak bagi para pelamar yang datang padanya."Tunggu" Zefran menghentikan langkah Nadzira yang hendak keluar dari ruangannya. "Saya menyukai seseorang yang memiliki prinsip hidup yang tidak mudah di goyah kan oleh orang lain. Sepertinya kamu termasuk salah satu pekerja yang memenuhi kriteria yang saya cari, silahkan bergabung dalam perusahaan saya" Ucap Zafran"Beneran pak" Tanya Nadzira dengan mata berbinar"Ya" Balas Zefran singkat"Tapi, apa boleh saya membagi waktu istirahat saya sendiri pak" lanjut Nazdira"Maksud kamu" kata Zefran bingung"Saya tetap ingin melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslim pak, saya akan membagi waktunya tanpa merugikan bapak. 20 menit saya gunakan untuk makan siang, 10 menit shalat Zhuhur, 10 menit shalat Ashar 10 menit shalat Maghrib dan 10 menit untuk shalat Isya" Ucap Nadzira menjelaskan"Baiklah" balas Zefran menyetujui"Terimakasih pak, InsyaAllah besok saya akan datang tepat waktu, permisi" pamit Nazdira meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang teramat sangat bahagia.Disepanjang perjalanan pulang, Nadzira terus tersenyum dan tidak lupa mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Akhirnya ada yang menerimanya bekerja tanpa membuat dirinya meninggalkan kewajibannya. akhirnya ia bisa bekerja, setidaknya dengan begini Tante Safira akan perlahan menyayanginya.Ray yang berada di ujung sambungan telepon berseru memanggil nama Istrinya. ‘Anna! Apa yang terjadi? Siapa yang masuk kamarmu? Apa yang dilakukan orang itu?’ Tanya Ray tidak sabar.Sayangnya hanya suara dengung yang berasal dari ponsel Anna saja. Sementara Anna sendiri tidak memberikan jawaban kepada Ray.Makanan yang sudah ada di atas meja Ray terlupakan. Ia langsung menghubungi orang kepercayaannya.‘Halo, apakah kamu sudah sampai di salon tempat Istri saya berada?’ Tanya Ray, begitu sambungan telepon terhubung.‘Saya sedang dalam perjalanan, Tuan! Saya berusaha secepat mungkin untuk sampai di tempat Istri Anda berada,’ sahut orang kepercayaan Ray.‘Cepatlah!’ perintah Ray.Ray menutup sambungan telepon, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru. Sorot mata dan wajahnya yang penuh dengan amarah membuat staf hotel urung menyapanya. Mereka menghindari untuk berbicara dengan bos nya itu, daripada kena marah.Sesampainya di luar sopir Ray sudah siap membukakan pintu. Ia
Anna yang sedari tadi terus-menerus untuk masuk kamar tidak dapat lagi menahan emosinya. “Mengapa tidak kamu dan pria itu, kalian semua memerintahkan kepadaku untuk masuk kamar? Apa kalian pikir saya akan aman di sana? Bagaimana, kalau pria itu menyusup masuk kamar, sementara kalian berdua tidak ada?”Ray menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Ia ingin bersikap tegas kepada Istrinya itu, tetapi ia juga harus jujur, kalau Anna pastinya merasa tidak yakin dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.“Turunlah kamu ke bawah! Dan lakukan apa yang tadi saya perintahkan,” tegas Ray kepada sopirnya.Sopir itu menganggukkan kepala, sambil memberikan sikap hormat kepada Ray. Ia berjalan meninggalkan Ray dan Istrinya yang tetap berada di tempat mereka berdiri.Ray merangkul pundak Anna, lalu membimbingnya untuk masuk kamar mereka. “Sekarang kita nikmati saja sarapan ini selagi masih panas.” ajak Ray ketika dilihatnya, kalau di atas meja sudah tersaji makanan dan minuman.Mau tidak mau An
Anna memejamkan mata, sebelum ia memutuskan untuk mengikuti perintah nakal dari suaminya. “Kamu membuatku bersikap liar, Ray!”Ray memasangkan bathrobe ke badan Anna, lalu memegang pundak Istrinya dengan lembut. “Ini belum liar, seperti apa yang kuinginkan!”Anna berjalan mendahului Ray keluar kamar mandi, sambil berkata, “Saya tidak akan mau memenuhi fantasimu untuk bersikap liar!”Dalam tiga langkah panjang Ray sudah berhasil mensejajari langkah Anna. Ia mengatakan kepada Istrinya itu, kalau dirinya tidak akan memaksa, tetapi Anna sendirilah yang akan melakukannya.Anna memutar bola mata, ia tahu pasti suaminya akan menggunakan pesona maskulinnya. Yang dengan mudah akan membuat Anna bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan suaminya itu.Keduanya, kemudian berganti pakaian bersih. Setelahnya, Anna dan Ray berjalan keluar kamar menuju ruang makan.“Ray! Saya merasa, kalau ada yang mengintip kita.” Anna berhenti berjalan, ia melihat ke arah jendela kaca. Ia tadi merasa melihat ad
Ray menjadi gusar mendengar apa yang dikatakan oleh Anna. Wajahya menjadi merah, dengan tatapan yang menyorot marah. “Kenapa menjadi pengecut, Anna? Kenapa kau suka sekali melarikan diri dari masalah?”Anna memaksakan diri untuk tetap menatap mata Ray, walaupun dalam hati ia merasa ciut melihat tatapan Ray. Kedua tangannya berkeringat dingin, tetapi ia harus menguatkan dirinya. “Saya buk annya ingin melarikan diri dari pesta itu. Hanya saja saya tidak yakin akan bisa menjadi seorang wanita yang anggun.”“Kamu terlalu memikirkan apa yang belum terjadi! Berhentilah untuk berpikir, seperti itu,” tegas Ray.Anna memejamkan mata, ia tampak berusaha untuk menenangkan dirinya, agar tidak berteriak kepada Ray, karena suaminya itu memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Satu hal yang berbeda dengan dirinya.Ia menjauhkan dirinya dari Ray berdiri di depan cermin besar. Dilihatnya pantulan dirinya, dengan mata yang sembab, karena terlalu banyak menangis. Dilepasnya ikat rambut, sehingga rambutn
“Berhentilah menangis! Aku ingin beristirahat!” tegur Ray galak.Anna langsung terdiam dilihatnya di depan pintu kamar sudah berdiri tuannya, dengan wajah dingin dan rahang yang mengetat.Matanya bersinar, karena emosi yang tidak disembunyikannya dari Anna. Wajah tampan itu seolah tidak menyiratkan
‘Tuan, Ray! Bisakah saya meminta tolong kepada Anda?’ Tanya Anna, melalui sambungan telepon dengan suara yang terdengar gugup.Ray yang terbangun dari tidurnya, karena bunyi telepon di rumahnya yang berdering nyaring. Langsung mengangkat sambungan telepon dan ia menjadi tidak senang, ketika suara p
Tutup mulutmu! Tidak ada wanita yang bisa membuatku mabuk!” Bentak Ray, sambil melayangkan tatapan tajam menusuk.David mengangkat pundaknya. Ia tidak akan mendebat Ray, karena hanya akan semakin menyulut emosinya saja.David menenggak anggur yang dipesannya. Sementara Ray menjentikkan jarinya ke
“Sakit, Tuan! Tolong lepaskan tangan Anda, saya mohon!” Pinta Anna dengan suara pelan.“Bagus, kalau kau merasa sakit! Ini belum seberapa!” Ray melepaskan cekauannya di dagu Anna, sambil mendorong gadis itu hingga ia terjatuh ke lantai.Ray menatap Anna dengan tatapan yang tak terbaca. Bibirnya ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore