Share

Bab 3

Author: Ungu
Tubuhku langsung lemas. Aku jatuh terduduk di lantai dengan rasa malu yang luar biasa, hingga rasanya ingin mengubur diri ini.

“Kak Donny… tolong… tolong jangan kasih tahu siapa-siapa. Kumohon….”

Ujarku dengan gemetar, takut setengah mati kalau pria ini akan menjatuhkan hukuman mati bagi harga diriku lewat kata-katanya.

Namun, dia hanya mengulurkan tangan, membantuku berdiri, lalu menunjukkan senyuman yang tampak sangat perhatian.

“Sudah kubilang, aku sudah menghadapi sangat banyak pasien. Aku nggak akan memandangmu berbeda hanya karena masalah ini. Lagipula, kalau tubuhmu memang nggak masalah, kamu nggak mungkin mencariku, bukankah begitu?”

Kalimat yang sama persis dengan ingatanku itu berhasil menenangkan hatiku yang gelisah. Tapi, dia tak melepaskan tanganku. Alih-alih melepaskannya, dia malah membimbingku masuk ke dalam kamar tamunya.

“Biar kubantu periksa, jangan sampai ini mengganggu kehidupan sehari-harimu.”

Pikiranku kosong saat mengikutinya. Begitu aku sadar kembali, diriku sudah berbaring di atas ranjang dan tangannya sudah berada di pahaku. Ujung jarinya mulai menyelinap ke balik daster rumahanku.

Persis seperti kejadian di klinik tadi.

Mengingat kamar utama berada tepat di sebelah kamar ini, aku pun menggigit bibir, mencoba menahan rangsangan yang muncul akibat gesekan jarinya di area sensitifku.

Kali ini, dia tak berhenti.

Pertama-tama, tangannya menekan-nekan bagian belakangku yang sudah basah dari balik kain tipis, lalu dia menarik pinggiran celana dalamku dan membiarkannya terlepas hingga berbunyi ‘plak’.

Aku tersentak kaget dan secara reflek menjepit kedua kakiku.

“Kamu… kamu apain?” tanyaku dengan malu bercampur kesal.

“Aku harus melepas ini agar bisa mengoleskan obat.”

Tatapannya terlihat begitu profesional, membuatku tak sanggup mengeluarkan kata-kata penolakan.

Kemudian, dia kembali mendekat di antara kedua kakiku. Aku melirik sedikit, hidungnya yang mancung, matanya yang bersinar, bibirnya yang tipis, serta hembusan napas hangat dari mulutnya tepat mengenai area sensitifku. Rasanya hatiku pun hampir luluh.

Aku sangat malu, tapi di saat yang sama, ada rasa gembira dan sensasi tertantang.

Aku menurut saat dia menyingkap pakaianku dan membiarkan bagian bawahku yang basah terpapar di hadapannya. Lalu dengan perlahan, dia melepaskan celana dalamku.

Saat kain itu terlepas, cairan sisa orgasme tadi membentuk tarikan benang halus yang akhirnya jatuh ke tangannya.

Namun, tatapannya tetap lurus dan dengan tenang menyeka cairan itu, lalu berbalik mengambil salep.

Aku memejamkan mata mencoba menahan diri, tapi indra perasaku justru semakin tajam.

Rasanya seperti ada belut yang masuk ke sawah, berenang dengan lincah, memicu getaran hebat di sekujur tubuhku.

“Kak Donny, sudah… sudah belum….”

Begitu aku membuka mulut, yang keluar justru desahan pelan yang menggoda.

“Kecanduanmu ini sangat parah, obatnya harus dioleskan dengan benar. Jangan bergerak.”

Jari-jari Donny terasa jauh lebih hebat daripada mainan milik suamiku.

Di bawah stimulasi yang terus-menerus, gairah yang sudah lama kupendam seolah meledak. Kesadaranku perlahan kabur dan aku ingin menikmati sensasi ini.

“Aku… aku sudah nggak kuat lagi….”

Aku mengerang pelan, meraih bantal di sampingku untuk menutupi wajah karena tidak berani menatapnya.

“Tahan sebentar lagi. Adik ipar, kamu harus menyembuhkan penyakit ini.”

Tangannya mulai menjelajah tanpa ragu di tubuhku. Tak lama kemudian, terdengar suara becek yang mengiringi gerakannya. Aku dipermainkan hingga seluruh tubuhku berkedut dan akhirnya mengerang saat mencapai puncak kenikmatan.

Tangannya basah lagi.

Donny dengan tenang menarik tangannya, menatap cairan di telapak tangannya dengan sorot mata yang sulit dimengerti.

“Obatnya ikut terbilas keluar, sepertinya hanya mengoleskan obat di bagian depan dengan jari saja nggak akan mempan.”

Usai bicara, dia pun mendekat. Benda miliknya yang sudah menegang di bagian bawah, kini menempel di pahaku.

Tepat pada saat itu, terdengar suara samar suamiku dari luar kamar.

“Sayang? Sayang… kamu di mana? Kok tiba-tiba hilang….?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 10

    Aku memberitahu Lina untuk menyetujui syarat orang-orang itu, lalu kami menyusun rencana. Aku menyuruh Lina melapor polisi, lalu membawa petugas ke sana untuk menangkap mereka.Ini adalah cara yang sama yang pernah kugunakan untuk menyingkirkan sahabat suamiku yang bejat itu.“Hana, maaf sekali. Karena aku, kamu sampai harus menggunakan cara menjijikkan ini untuk menyelesaikan masalah. Sebenarnya ini juga nggak ada hubungannya denganmu, bagaimana kalau kamu nggak perlu ikut campur? Biar aku langsung lapor polisi saja.”Ujar Lina meminta maaf sambil meneteskan air mata. Dia bahkan menampar wajahnya sendiri dua kali hingga meninggalkan bekas kemerahan.Orang-orang itu mungkin tidak berani membunuh, tapi jika mereka benar-benar mencari masalah dengan orang tua Lina, masalah ini akan rumit.Orang tua Lina tinggal di kampung halaman. Jika ada orang yang dibayar untuk membuat onar di sana, selama tidak ada korban jiwa, lapor polisi pun tidak ada gunanya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah ren

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 9

    Mendengar itu, wajahku langsung pucat. Aku terus menggelengkan kepala dan menangis sangking takutnya.Namun, mereka malah menganggap serius ide itu. Mereka sudah sering bermain dengan banyak wanita, tapi belum pernah terpikir cara main seperti ini. Menurut mereka, ini pasti akan sangat merangsang.Usai membicarakannya, mereka pun hendak mengeksekusinya. Mereka mengambil pelumas dan bersiap menuangkannya ke area sensitifku.Aku menangis histeris memohon bantuan pada Lina. Jika dia tidak membantuku, aku pasti tak akan selamat malam ini.Lina mengangguk padaku. Saat perhatian pria itu teralihkan sepenuhnya padaku, dia merangkak ke pojokan, mengambil ponselnya dan berlari ke arah pintu.“Kalian semua berhenti!” teriaknya kencang sambil membuka pintu lebar-lebar.Mendengar suaranya, pria-pria itu berhenti. Melihat Lina berdiri di depan pintu yang terbuka, mereka tampak naik pitam dan hendak menghajarnya.“Jangan mendekat! Pakai baju kalian dan pergi sekarang juga! Kalau nggak berhenti, aku

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 8

    Seketika, ucapan Lina memindahkan seluruh perhatian padaku. Aku gemetar ketakutan. Ini tak bisa dipermainkan, benar-benar bisa membunuhku.Aku menggelengkan kepala menolak, tanpa sanggup menjawabnya dan mencoba mengambil kesempatan untuk segera berlari ke kamar.“Hana, bukankah kamu selalu bilang padaku kalau dirimu kesepian? Pria-pria kuat sebanyak ini pasti bisa memuaskanmu. Ayolah, bantu aku.”Ujar Lina lagi saat melihatku hendak pergi. Suaranya sampai berubah nada karena hantaman yang dia terima. Dia tampak sangat menikmati sekaligus menderita.Dengan panik, aku menggeleng dan berbalik untuk lari. Tapi tak disangka, seorang pria tiba-tiba menerjang, mencengkeram tanganku dan menyeretku masuk kembali….“Kamu bahkan sudah datang, mau lari ke mana? Ayo, main bersama saja. Permainan akan lebih seru kalau ditambah kamu.” Pria yang menyeretku itu mengibaskan tangannya, langsung melemparkanku ke arah gerombolan pria di belakangnya.Belum sempat bereaksi, aku sudah tenggelam di antara mere

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 7

    Begitu Donny muncul, dia melihatku berpose sangat menggoda, posisi yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya. Matanya langsung memerah penuh nafsu, tanpa perlu akting lagi, dia langsung menerjang ke arahku.Aku mengimbangi permainannya dengan melakukan adegan seolah-olah sedang dipaksa. Aku menangis dan berteriak, bahkan bertanya dengan nada pilu mengapa dia tega memerkosaku padahal dia adalah sahabat baik suamiku sendiri.Donny semakin bersemangat dan dengan sangat kooperatif membeberkan alasannya, sama persis dengan penjelasan dendam yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Aku pura-pura menangis kesakitan dengan wajah tanpa daya.Mungkin di dalam diri pria memang ada sisi liar semacam itu. Ditambah aktingku, Donny benar-benar bertingkah layaknya seorang penjahat.Dia menghantamku dengan keras sambil memukulku, menyuruhku untuk patuh.Dalam hati aku mulai cemas, sudah cukup lama tapi kenapa polisi belum datang juga? Tiba-tiba, pintu kamar didobrak hingga terbuka. Beberapa petugas bersera

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 6

    Donny benar-benar hebat, dia seperti binatang buas.Sudah lama sekali aku tak merasakan sesuatu yang hidup seperti ini, apalagi yang begitu panas dan kuat. Setiap hantaman darinya seolah ingin menghancurkanku.Aku ditekan habis-habisan di atas ranjang. Kedua tanganku mencengkeram sprei dengan erat, menggigit bibir merahku erat-erat agar tak mengeluarkan suara.Namun, serangannya terlalu dahsyat. Setiap tusukan mencapai titik terdalam, seolah memeras habis seluruh cairan dari dalam diriku.Semua pori-pori di tubuhku terbuka lebar. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Akhirnya, aku pun tak tahan lagi. Aku mulai mendesah pelan, pinggangku meliuk menyambut setiap gerakannya.“Adik ipar, aku tahu kalau kamu pasti nggak akan bisa menahan godaan ini. Di kantor suamimu sendiri, sementara dia ada di luar sana, kamu pasti merasa sangat tertantang, ‘kan?”Donny terus memprovokasiku dengan kata-katanya.Di bawah serangan fisik dan mental ini, kesadaranku perlahan memuda

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 5

    “Kak Donny, kamu apain?! Lepaskan aku, suamiku akan balik sebentar lagi!”Kejadian yang tiba-tiba ini membuatku kaget. Aku tak menyangka ternyata dia hanya berpura-pura tidur.Ini di ruang kantor suamiku. Beraninya dia bertindak senekat ini! Dia tidak takut ketahuan?!“Adik ipar, jangan pura-pura lagi. Bukannya tadi malam kita berdua hampir berhasil?”“Tadi… tadi malam itu hanya salah paham!” ujarku berusaha membela diri.“Hehe… kalau begitu nggak perlu dibahas soal kejadian tadi malam. Aku tahu kamu sudah susah payah menahannya. Sebagus apapun mainannya, nggak akan pernah senikmat yang asli. Kalau kamu berteriak terlalu kencang dan orang-orang di luar masuk, mereka semua akan mengenalimu. Berbeda denganku, aku bisa pergi kapan saja.”Sambil mengancam, Donny mulai beraksi.Tangannya menyelinap masuk ke kerah bajuku, mencengkeram buah dadaku dengan kasar seolah ingin meledakkan balon.Rasanya sangat sakit, tapi ada sensasi rangsangan yang tak terlukiskan.Namun, aku tidak kehilangan aka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status