LOGINSuamiku telah bekerja di luar negeri selama dua tahun dan tidak menyentuhku, aku sudah kesepian sejak lama. Saat pulang, dia malah menuduhku karena melahirkan anak pria lain. Begitu meremas dengan keras, air ASI malah memuncrat ke wajahnya. Aku benar-benar panik...
View More"Menikahlah dengan kakak iparmu!" Perintah Ayah padaku.
Seketika aku terkejut. Bukankah aku diminta pulang untuk menyaksikan pernikahan kakakku. Tetapi kenapa aku malah diminta menikah dengan suaminya dan menjadi madu dari kakak iparku.
***
Hari ini, aku yang sudah lama merantau di kota diharuskan pulang oleh keluargaku. Aku pun menyanggupinya karena aku memang sudah merindukan halaman tempat tinggal yang telah lama tak kupijak.
Pagi buta setelah aku selesai beberes rumah. Aku berpamitan pada majikan. Sebenarnya ada rasa tak tega jika harus meninggalkan Andara, anak berumur 7 tahun yang sudah aku asuh sejak berumur 5 tahun.
Tangisnya pecah, begitu juga denganku. Pelukan erat yang kuberikan pada gadis kecil itu tak boleh dilepaskan. Namun, di jauh sana, pamanku sudah menunggu di terminal. Lelaki itu memberi kode agar aku segera melangkah ke bus yang sudah dipanaskan mesinnya sejak aku dan majikanku tiba di terminal.
"Andara, Mbak balik dulu ya. Nanti jika Mbak sudah selesai acaranya pasti kembali kok," ujarku seraya mengusap rambut lembutnya.
"Janji ya, Mbak," balasnya melepaskan pelukan karena ada sedikit tarikan dari sang mama.
"Iya, Sayang, Mbak janji," balasku penuh semangat untuk kembali bekerja pada orang baik itu.
Gadis kecil itu akhirnya mau melepaskan pelukan. Meski dengan berat hati ia lakukan. Begitu juga denganku. Air mata ini menetes tanpa pamit membasahi pipi. Sesekali aku menyekanya agar Andara segera berhenti menangis.
Akhirnya aku benar-benar berpisah dengan anak asuhku itu. Kemudian kaki ini melangkah memasuki bus yang akan melaju beberapa menit lagi. Sedangkan paman sudah duduk di kursi yang ia pesan, sekaligus kursiku.
Selama perjalan pulang, kami ngobrol biasa. Paman bercerita jika dia diminta menjemput karena ayah sedang sibuk mengurusi acara pernikahan.
"Memangnya Mbak Sinta mau menikah dengan kekasihnya?" tanyaku karena aku sendiri tak tahu siapa calon suami kakak tiriku itu.
"Sepertinya bukan, dia menikah karena untuk menebus hutang ibumu pada juragan Amran. Katanya hutangnya sampai ratusan juta dan ayahmu tak sanggup membayar. Makanya kakakmu dijadikan tebusan," jelasnya.
Seketika hati merasa iba pada kakak tiriku itu. Malang sekali nasibnya. Itu semua karena kesalahan ibunya. Memang sih ibu tiriku sukanya foya-foya dan menghabiskan uang ayah, sampai-sampai semua warisan peninggalan kakek dan nenek habis.
Sebab itulah, aku juga harus merantau demi membantu keuangan keluarga. Namun ternyata, ibu tiriku tetap saja masih berhutang sampai mengorbankan anaknya sendiri.
Selama perjalan pulang, paman banyak bercerita tentang keluargaku yang semakin kesusahan akibat ulah ibu tiriku. Katanya, ayah juga sering sakit-sakitan karena sudah semakin tua dan kebutuhan kian banyak, sedangkan tenaganya untuk bekerja sudah tidak seperti dulu lagi.
"Memangnya Mbak Sinta tak bekerja?" tanyaku yang tak percaya jika ayah sampai ikut ngutang juga demi memenuhi kebutuhan hidup.
"Tidak, Sinta setiap hari dia kerjaannya hanya main sama teman-temannya," sahut paman.
Padahal, hampir setiap bulan aku mentransfer uang pada mereka. Bahkan, terkadang uang khusus jajan pemberian majikan juga aku kirimkan. Tetapi, kenapa tetap saja kurang. Seboros apa mereka?
Tak terasa bus telah berhenti di terminal. Kemudian aku dan paman turun, lalu mencari angkot agar bisa sampai di rumah.
Setengah jam berlalu, aku dan paman sudah sampai di jalan masuk kampungku. Di pojok kampung terpasang janur kuning melengkung yang menandakan jika ada pernikahan.
Gegas aku membayar ongkos angkot. Paman membantuku membawa beberapa tas yang isinya adalah oleh-oleh dari majikanku. Mereka memberikanku uang tambahan dan beberapa kantong makanan untuk dibawa pulang. Berharap jika setelah acara pernikahan aku akan segera kembali ke rumah mereka.
Di depan rumah sudah terpasang tenda hajatan. Ketika aku menginjakkan kaki di halaman rumah. Ayah langsung menyambutku dengan penuh kebahagiaan. Senyumnya terus terukir kala menatapku.
Ada yang aneh menurutku. Biasanya tamu akan keluar masuk silih berganti. Tetapi kenapa ini tidak?
Di samping panggung resepsi, pria berkisar umur 45 tahun itu merentangkan tangan. Menyambut kedatanganku dengan pelukan. Tentu aku membalasnya dengan hangat. Segera aku berlari untuk mendekatinya agar bisa segera melepaskan rasa rindu yang menggebu.
"Akhirnya anak ayah pulang juga," ujarnya penuh kebahagiaan.
"Iya, Yah," jawabku melepaskan pelukan dan mencium punggung tangannya sebagai tanda rasa hormat.
"Ayo masuk dan segera istirahat, acara akad akan dilakukan sekitar 2 jam lagi dan acara resepsi nanti pukul 2 siang," ucap ayah mengajakku masuk rumah.
Pantas saja sudah tak banyak tamu berseliweran seperti sebelum acara pernikahan. Awalnya aku tampak kaget. Aku pikir jika tenda ini baru saja dipasang, ternyata malah acara pernikahan hari ini. Ya, sudahlah, itu artinya aku akan segera kembali bekerja lagi jika pernikahan telah selesai.
"Oh iya, kalau sudah istirahat, segera ke rumah bude Murni ya. Kakak kamu sedang dirias di sana," ucap ayah lalu dia meninggalkan aku sendiri agar beristirahat sejenak.
Tubuh yang lelah mampu membuatku terhanyut dalam tidur lelap. Sampai-sampai aku bangun sudah mendengar keributan di ruang tamu. Ketika mata benar-benar sudah terbuka lebar. Aku menatap pada jam dinding.
Seketika aku terkejut, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Sama sekali aku tak melihat akad dan resepsi. Gegas aku bangkit dari ranjang dan melihat apa yang terjadi di ruang tamu.
Ibu tiriku sedang menangis meraung-raung, bahkan dia juga menjejakkan kakinya di atas lantai. Ayah sudah berusaha menenangkan, tetapi tak ada gunanya.
Aku yang semakin penasaran pun akhirnya mendekat dan bertanya. Sebab, ibu seperti orang gila saat ini.
"Ini ada apa?" tanyaku dan malah mendapat bentakan dari ibu.
"Ini semua gara-gara kamu. Seandainya kamu ada di rumah, pasti Sinta tak jadi menikah dengan anak juragan Amran!"
Loh, loh, kenapa jadi aku yang disalahkan. Bukankah dia yang berhutang? Kenapa malah menyalahkan aku, dasar Mak Lampir!
"Jangan menyalahkan Salma dong, Bu. Jelas-jelas anak kamu yang kabur setelah acara resepsi," jawab ayah membelaku.
Apa? Mbak Sinta kabur setelah acara resepsi? Ini bagaimana ceritanya? Kenapa dia bisa kabur? Aneh-aneh saja. Seandainya berniat kabur, kenapa tidak dari kemarin-kemarin sebelum acara akad.
"Pokoknya ibu tidak mau tahu, Pak. Salma harus menjadi pengganti malam pertama bagi anak juragan Amran. Ibu tidak mau masuk penjara karena hutang, Pak, tidak mau," rengek ibu pada ayah.
Apa? Aku akan dijadikan pengganti malam pertama kakak tiriku. Tidak. Aku tidak mau. Itu sama saja aku berbuat zina.
"Tidak, Bu, aku tidak mau." Aku menolak mentah-mentah.
Kemudian ayah malah ikut mengiba. Memohon agar aku mau menggantikan kakak tiriku malam nanti.
"Ayah tega?" tanyaku mulai berurai air mata.
Pria itu ikut menangis. Mungkin ini adalah keputusan yang sulit baginya.
"Menikahlah dengan kakak iparmu!" Perintah ayah kala aku terus menolak permintaannya dengan alasan takut jadi dosa jika menjadi pengganti di malam pertama.
Namun, pada kenyataannya aku malah diminta untuk menjadi madu dari kakak tiriku.
Bagaimana ini? Kenapa malah aku yang bernasib malang? Sebenarnya apa alasan Mbak Sinta kabur?
Dia memfitnahku selingkuh, mana buktinya?Dia bilang aku tidak berada di rumah Kayla selama masa nifas… mana buktinya?Mumpung aku sudah serahkan tiket kepulangannya sebagai bukti. Dia sengaja memanggil tetangga untuk mempermalukanku, terus dia bilang ada saksi dan bukti saat aku melahirkan anak itu...Baik itu gugatan hukum atau pertengkaran.Membuktikan ketidakbersalahan diri sendiri sering kali merupakan hal tersulit.Orang yang memfitnahmu lebih jelas darimu, betapa tidak bersalahnya dirimu.Pilihan yang paling bijaksana adalah segera keluar dari perangkap untuk membuktian diri dan melemparkan perangkap ini kepada lawan.Andry berusaha keras menciptakan bukti palsu untukku, tetapi sekarang dia harus menghancurkannya satu per satu.Kecuali mengatakan yang sebenarnya atau dia akan mendapat masalah besar hanya karena mencuri anak itu!Masalahnya menjadi semakin besar.Akhirnya, kami bertemu di kantor polisi.Wajah Andry menjadi pucat, dia menggertakkan gigi, "Emily, apa yang ingin kam
"Bukankah Andry bilang kalau aku punya anak haram dengan selingkuhanku? Mulai hari ini, kaulah selingkuhanku!"Wajah Justin membeku.Justin bukan orang baik, dia selalu punya keinginan tetapi tidak berani melakukannya.Kayla bukan orang baik dan juga mengendalikan Justin dengan sangat ketat.Selain itu, Justin memiliki pekerjaan yang stabil, kalau reputasinya hancur, pekerjaannya tidak akan bisa dipertahankan."Apakah kamu mengancamku?" Justin panik.Sekarang tidak ada hal yang kutakutkan."Ini bukan ancaman. Selama kamu bersedia membantuku, semuanya bisa didiskusikan."Mata Justin berbinar, "Apa yang bisa kubantu?"Aku mencibir, "Aku tahu kamu sangat iri dengan Andry. Dia berpendidikan tinggi, tampan dan memiliki istri yang cantik, lembut dan berbudi luhur. Kamu sudah lama mendambakanku, 'kan?""Dan sekarang dia akan menikahi wanita kaya dan cantik, dia akan benar-benar mengalahkanmu! Menghajar kakak ipar sepertimu sama saja dengan menghajari seorang anak kecil!""Tak peduli gimanapun
Andry tahu aku tidak akan setuju, kalau dia minta cerai langsung padaku. Dia juga tidak akan mendapat keuntungan apa pun dalam pembagian harta.Kalau aku berkeras hati menunda waktu, masalahnya akan menjadi tak terkendali, perut wanita itu akan makin membesar.Bos perusahaan mereka juga akan dipermalukan di dalam industri."Andry ingin menceraikanmu, tetapi juga tidak ingin menjadi pihak yang bersalah. Dia akan segera mendapatkan promosi jabatan dan kenaikan gaji, serta menikahi wanita cantik dan kaya. Dia bisa mendapat kekayaan tanpa bekerja keras, jadi tentu tidak akan merusak reputasinya atau menunda masa depannya!""Cara termudah adalah menghancurkan reputasimu! Dia itu korban yang paling tak bersalah!"Andry akan ditertawain dengan melakukan ini.Akan tetapi, setelah dia memegang jabatan tinggi dan menikahi putri bos besar, siapa yang berani menertawakannya?Satu-satunya yang ditertawakan hanyalah aku, seorang wanita jalang dan genit!Aku tidak tahan kesepian dan pantas kehilangan
Tindakan Andry sangat berbahaya, dia sama sekali tidak menciptakan sosok selingkuhanku yang sesungguhnya.Sebaliknya, mereka memanfaatkan kelainan fisik yang kumiliki untuk menuduhku telah melahirkan seorang anak.Aku yang tidak menyentuh pria selama dua tahun, kok bisa punya ASI?Bukti kuat ini tidak bisa dibatalkan sama sekali!Terutama mereka menggunakan masalah ini sebagai ancaman, mungkin keluarga kami akan dikritik oleh ribuan orang dan menanggung penghinaan serta paparan online yang tiada habisnya.Sekalipun aku bersusah payah membuktikan diri, kerusakan yang telah terjadi juga sulit diubah.Mereka bahkan sulit mendapatkan pembalasan!"Ayah, Ibu, kalau reputasiku benar-benar hancur, apakah kalian bersedia pindah ke kota lain bersamaku dan memulai hidup baru?""Aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka!"Orang tuaku sama-sama tercengang.Namun, tak lama kemudian, mereka berdua mendekapku dalam pelukan mereka."Anak bodoh, asal kamu hidup baik-baik, Ayah dan Ibu rela melakukan
Pada saat ini, pikiranku menjadi kosong. Aku tecengang di tempat, menatap cairan putih di wajah Andry dengan rasa tidak percaya.Ekspresinya menjadi semakin suram."Pantas tubuhmu begitu sensitif, ternyata kamu tidak hanya berselingkuh, tapi juga melahirkan anak haram?"Nada bicara Kayla juga tegas.
Setiap manusia punya emosi, kecurigaannya padaku membuatku merasa patah hati."Oke, aku akan lihat bagaimana kamu mengakhirinya nanti!"Aku tidak tahu rumor apa yang didengar Andry hingga membuatnya salah paham padaku sedalam ini.Orang tuaku pasti percaya padaku.Aku menarik napas dalam-dalam dan h
Andry memegang erat bahuku dan berkata, "Apa yang aku lakukan? Bagaimana menurutmu?"Pikiranku penuh dengan pikiran-pikiran memalukan, sehingga aku tidak menyadari kalau nada bicaranya agak aneh."Aku tentu..."Andry mendekat, mengerahkan sedikit tenaga pada tangannya dan napasnya yang berat mengena
"Engh ahh…"Aku meremas tubuhku dengan lembut dan mengerang tanpa sadar.Melalui kabut di kamar mandi, aku bisa melihat pipiku yang tersipu di cermin yang buram dan tubuhku yang indah bergoyang tak terkendali."Argh... Emily Sandra, kamu sungguh tidak tahu malu!"Aku tidak menahan diri memarahi diri
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.