Share

Bab 2

Author: Ungu
Rasa canggung membuatku meringkuk, begitu malu sampai-sampai rasanya ingin mencari lubang untuk bersembunyi.

Aku tak peduli lagi soal pengobatan itu dan langsung mendorong pria itu, lalu buru-buru berdiri.

Namun, saat tangannya meninggalkan rokku, dia tak sengaja menyentuh bagian belakangku dari balik celana dalam. Seketika kakiku lemas dan hampir jatuh tersungkur di lantai.

Sensasi basah di tangan pria itu membuatku merasa sangat malu.

Aku tak peduli lagi soal sakitku. Kenyataan bahwa aku baru saja menyemprot tangan pria asing sudah cukup membuatku tak bisa menerimanya.

Aku mengarang alasan seadanya untuk segera pergi, berjalan dengan kaki yang masih gemetar hebat.

Sementara itu, dokter tersebut hanya berdiri di belakang dan menatap kepergianku. Dengan tatapan yang sulit ditebak, dia melirik jari-jarinya yang basah.

Begitu sampai di rumah, seluruh tenagaku seolah habis. Aku terduduk lemas di depan pintu.

Rasa geli dan panas di tubuhku membuatku hampir kehilangan akal. Dengan terhuyung-huyung, aku mengambil mainan, menyalakan ke mode paling kuat dan meringkuk sambil terisak di lantai.

Bayangan tatapan tajam pria itu, sentuhan jarinya yang lambat, tapi sangat ahli, postur tubuhnya yang kekar, serta aroma maskulin pria dewasa yang kuat, semuanya terekam jelas di ingatanku. Semua itu merangsang tubuhku yang memang sudah tak terkendali ini.

Aku melampiaskannya berkali-kali di depan pintu, barulah akhirnya bisa sedikit meredam gemetar tubuhku.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Ada pesan dari suamiku yang mengatakan bahwa seorang teman lama akan datang berkunjung dan menyuruhku untuk siap-siap.

Dengan panik, aku menyeka jejak basah di lantai depan pintu, lalu bergegas ganti baju. Saat keluar kamar, suamiku pun tiba bersama teman lamanya itu.

Begitu mendongak, aku pun terdiam melihat wajah yang sangat familiar itu.

Ternyata dia adalah dokter tadi!

Namanya Donny, teman SMA suamiku. Mereka sangat akrab dulu, tapi berpisah jalan setelah lulus.

Belum lama ini, Donny kembali dari luar kota untuk merawat orang tuanya dan membuka klinik kecil di dekat sini.

Suamiku tak sengaja bertemu dengannya saat bekerja, lalu mengundangnya untuk mampir malam ini.

Aku bisa merasakan tatapannya sesekali menyapu wajahku. Terkadang, dia juga seolah merenung sambil melihat ke arah tangannya sendiri, tangan yang pernah basah oleh cairanku.

Aku sangat takut dia akan membocorkan kejadian di klinik tadi. Untungnya, dia bersikap seolah baru pertama kali mengenalku. Itu membuatku lebih tenang.

Namun, kehadirannya tetap membuat tubuhku gemetar.

Tubuhnya seolah mampu mendekapku sepenuhnya, tangannya yang agak kasar terasa menggelitik saat menyentuh tubuhku dan keahlian ritme sentuhannya membuat siapapun akan menyerah dan membiarkannya menjelajahi tempat paling tersembunyi sekalipun….

Tanpa kusadari, fantasiku mulai membakar akal sehatku lagi. Tubuhku yang memang belum benar-benar puas kembali hampa dan gelisah. Di bawah meja, kakiku mulai bergesekan satu sama lain karena rasa tidak nyaman.

Aku sadar dia terus memperhatikanku diam-diam.

Karena suamiku masih di samping, aku tak boleh membuatnya curiga. Akhirnya, aku mencari alasan dan menyelinap ke kamar.

Mereka berdua minum sampai tengah malam hingga mabuk berat. Akhirnya, suamiku pun menyuruhnya menginap di kamar tamu.

Aku berusaha menahan rasa gelisah ini, memejamkan mata dan memaksakan diri untuk tidur.

Namun, rasa panas membara di bagian bawah perutku terus membakar akal sehatku.

Suamiku sudah tertidur lelap di sampingku. Akhirnya, aku keluar kamar dengan tubuh yang lemas dan menyelinap ke kamar mandi.

Aku mencoba memasukkan mainan ke bagian belakang yang terasa hampa itu, tapi sekeras apapun kumencoba, rasa hampa di dalam tubuhku tetap tak terpuaskan.

Akhirnya, aku terisak pelan dan terkulai lemas di lantai dengan posisi menungging. Tapi, tetap tak bisa merasakan puncak kenikmatan yang kuinginkan.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara ‘krek’.

Aku mendongak dan tatapan sayuku bertemu dengan tatapan Donny yang tampak sangat terkejut.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 10

    Aku memberitahu Lina untuk menyetujui syarat orang-orang itu, lalu kami menyusun rencana. Aku menyuruh Lina melapor polisi, lalu membawa petugas ke sana untuk menangkap mereka.Ini adalah cara yang sama yang pernah kugunakan untuk menyingkirkan sahabat suamiku yang bejat itu.“Hana, maaf sekali. Karena aku, kamu sampai harus menggunakan cara menjijikkan ini untuk menyelesaikan masalah. Sebenarnya ini juga nggak ada hubungannya denganmu, bagaimana kalau kamu nggak perlu ikut campur? Biar aku langsung lapor polisi saja.”Ujar Lina meminta maaf sambil meneteskan air mata. Dia bahkan menampar wajahnya sendiri dua kali hingga meninggalkan bekas kemerahan.Orang-orang itu mungkin tidak berani membunuh, tapi jika mereka benar-benar mencari masalah dengan orang tua Lina, masalah ini akan rumit.Orang tua Lina tinggal di kampung halaman. Jika ada orang yang dibayar untuk membuat onar di sana, selama tidak ada korban jiwa, lapor polisi pun tidak ada gunanya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah ren

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 9

    Mendengar itu, wajahku langsung pucat. Aku terus menggelengkan kepala dan menangis sangking takutnya.Namun, mereka malah menganggap serius ide itu. Mereka sudah sering bermain dengan banyak wanita, tapi belum pernah terpikir cara main seperti ini. Menurut mereka, ini pasti akan sangat merangsang.Usai membicarakannya, mereka pun hendak mengeksekusinya. Mereka mengambil pelumas dan bersiap menuangkannya ke area sensitifku.Aku menangis histeris memohon bantuan pada Lina. Jika dia tidak membantuku, aku pasti tak akan selamat malam ini.Lina mengangguk padaku. Saat perhatian pria itu teralihkan sepenuhnya padaku, dia merangkak ke pojokan, mengambil ponselnya dan berlari ke arah pintu.“Kalian semua berhenti!” teriaknya kencang sambil membuka pintu lebar-lebar.Mendengar suaranya, pria-pria itu berhenti. Melihat Lina berdiri di depan pintu yang terbuka, mereka tampak naik pitam dan hendak menghajarnya.“Jangan mendekat! Pakai baju kalian dan pergi sekarang juga! Kalau nggak berhenti, aku

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 8

    Seketika, ucapan Lina memindahkan seluruh perhatian padaku. Aku gemetar ketakutan. Ini tak bisa dipermainkan, benar-benar bisa membunuhku.Aku menggelengkan kepala menolak, tanpa sanggup menjawabnya dan mencoba mengambil kesempatan untuk segera berlari ke kamar.“Hana, bukankah kamu selalu bilang padaku kalau dirimu kesepian? Pria-pria kuat sebanyak ini pasti bisa memuaskanmu. Ayolah, bantu aku.”Ujar Lina lagi saat melihatku hendak pergi. Suaranya sampai berubah nada karena hantaman yang dia terima. Dia tampak sangat menikmati sekaligus menderita.Dengan panik, aku menggeleng dan berbalik untuk lari. Tapi tak disangka, seorang pria tiba-tiba menerjang, mencengkeram tanganku dan menyeretku masuk kembali….“Kamu bahkan sudah datang, mau lari ke mana? Ayo, main bersama saja. Permainan akan lebih seru kalau ditambah kamu.” Pria yang menyeretku itu mengibaskan tangannya, langsung melemparkanku ke arah gerombolan pria di belakangnya.Belum sempat bereaksi, aku sudah tenggelam di antara mere

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 7

    Begitu Donny muncul, dia melihatku berpose sangat menggoda, posisi yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya. Matanya langsung memerah penuh nafsu, tanpa perlu akting lagi, dia langsung menerjang ke arahku.Aku mengimbangi permainannya dengan melakukan adegan seolah-olah sedang dipaksa. Aku menangis dan berteriak, bahkan bertanya dengan nada pilu mengapa dia tega memerkosaku padahal dia adalah sahabat baik suamiku sendiri.Donny semakin bersemangat dan dengan sangat kooperatif membeberkan alasannya, sama persis dengan penjelasan dendam yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Aku pura-pura menangis kesakitan dengan wajah tanpa daya.Mungkin di dalam diri pria memang ada sisi liar semacam itu. Ditambah aktingku, Donny benar-benar bertingkah layaknya seorang penjahat.Dia menghantamku dengan keras sambil memukulku, menyuruhku untuk patuh.Dalam hati aku mulai cemas, sudah cukup lama tapi kenapa polisi belum datang juga? Tiba-tiba, pintu kamar didobrak hingga terbuka. Beberapa petugas bersera

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 6

    Donny benar-benar hebat, dia seperti binatang buas.Sudah lama sekali aku tak merasakan sesuatu yang hidup seperti ini, apalagi yang begitu panas dan kuat. Setiap hantaman darinya seolah ingin menghancurkanku.Aku ditekan habis-habisan di atas ranjang. Kedua tanganku mencengkeram sprei dengan erat, menggigit bibir merahku erat-erat agar tak mengeluarkan suara.Namun, serangannya terlalu dahsyat. Setiap tusukan mencapai titik terdalam, seolah memeras habis seluruh cairan dari dalam diriku.Semua pori-pori di tubuhku terbuka lebar. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Akhirnya, aku pun tak tahan lagi. Aku mulai mendesah pelan, pinggangku meliuk menyambut setiap gerakannya.“Adik ipar, aku tahu kalau kamu pasti nggak akan bisa menahan godaan ini. Di kantor suamimu sendiri, sementara dia ada di luar sana, kamu pasti merasa sangat tertantang, ‘kan?”Donny terus memprovokasiku dengan kata-katanya.Di bawah serangan fisik dan mental ini, kesadaranku perlahan memuda

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 5

    “Kak Donny, kamu apain?! Lepaskan aku, suamiku akan balik sebentar lagi!”Kejadian yang tiba-tiba ini membuatku kaget. Aku tak menyangka ternyata dia hanya berpura-pura tidur.Ini di ruang kantor suamiku. Beraninya dia bertindak senekat ini! Dia tidak takut ketahuan?!“Adik ipar, jangan pura-pura lagi. Bukannya tadi malam kita berdua hampir berhasil?”“Tadi… tadi malam itu hanya salah paham!” ujarku berusaha membela diri.“Hehe… kalau begitu nggak perlu dibahas soal kejadian tadi malam. Aku tahu kamu sudah susah payah menahannya. Sebagus apapun mainannya, nggak akan pernah senikmat yang asli. Kalau kamu berteriak terlalu kencang dan orang-orang di luar masuk, mereka semua akan mengenalimu. Berbeda denganku, aku bisa pergi kapan saja.”Sambil mengancam, Donny mulai beraksi.Tangannya menyelinap masuk ke kerah bajuku, mencengkeram buah dadaku dengan kasar seolah ingin meledakkan balon.Rasanya sangat sakit, tapi ada sensasi rangsangan yang tak terlukiskan.Namun, aku tidak kehilangan aka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status