MasukAku memberitahu Lina untuk menyetujui syarat orang-orang itu, lalu kami menyusun rencana. Aku menyuruh Lina melapor polisi, lalu membawa petugas ke sana untuk menangkap mereka.Ini adalah cara yang sama yang pernah kugunakan untuk menyingkirkan sahabat suamiku yang bejat itu.“Hana, maaf sekali. Karena aku, kamu sampai harus menggunakan cara menjijikkan ini untuk menyelesaikan masalah. Sebenarnya ini juga nggak ada hubungannya denganmu, bagaimana kalau kamu nggak perlu ikut campur? Biar aku langsung lapor polisi saja.”Ujar Lina meminta maaf sambil meneteskan air mata. Dia bahkan menampar wajahnya sendiri dua kali hingga meninggalkan bekas kemerahan.Orang-orang itu mungkin tidak berani membunuh, tapi jika mereka benar-benar mencari masalah dengan orang tua Lina, masalah ini akan rumit.Orang tua Lina tinggal di kampung halaman. Jika ada orang yang dibayar untuk membuat onar di sana, selama tidak ada korban jiwa, lapor polisi pun tidak ada gunanya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah ren
Mendengar itu, wajahku langsung pucat. Aku terus menggelengkan kepala dan menangis sangking takutnya.Namun, mereka malah menganggap serius ide itu. Mereka sudah sering bermain dengan banyak wanita, tapi belum pernah terpikir cara main seperti ini. Menurut mereka, ini pasti akan sangat merangsang.Usai membicarakannya, mereka pun hendak mengeksekusinya. Mereka mengambil pelumas dan bersiap menuangkannya ke area sensitifku.Aku menangis histeris memohon bantuan pada Lina. Jika dia tidak membantuku, aku pasti tak akan selamat malam ini.Lina mengangguk padaku. Saat perhatian pria itu teralihkan sepenuhnya padaku, dia merangkak ke pojokan, mengambil ponselnya dan berlari ke arah pintu.“Kalian semua berhenti!” teriaknya kencang sambil membuka pintu lebar-lebar.Mendengar suaranya, pria-pria itu berhenti. Melihat Lina berdiri di depan pintu yang terbuka, mereka tampak naik pitam dan hendak menghajarnya.“Jangan mendekat! Pakai baju kalian dan pergi sekarang juga! Kalau nggak berhenti, aku
Seketika, ucapan Lina memindahkan seluruh perhatian padaku. Aku gemetar ketakutan. Ini tak bisa dipermainkan, benar-benar bisa membunuhku.Aku menggelengkan kepala menolak, tanpa sanggup menjawabnya dan mencoba mengambil kesempatan untuk segera berlari ke kamar.“Hana, bukankah kamu selalu bilang padaku kalau dirimu kesepian? Pria-pria kuat sebanyak ini pasti bisa memuaskanmu. Ayolah, bantu aku.”Ujar Lina lagi saat melihatku hendak pergi. Suaranya sampai berubah nada karena hantaman yang dia terima. Dia tampak sangat menikmati sekaligus menderita.Dengan panik, aku menggeleng dan berbalik untuk lari. Tapi tak disangka, seorang pria tiba-tiba menerjang, mencengkeram tanganku dan menyeretku masuk kembali….“Kamu bahkan sudah datang, mau lari ke mana? Ayo, main bersama saja. Permainan akan lebih seru kalau ditambah kamu.” Pria yang menyeretku itu mengibaskan tangannya, langsung melemparkanku ke arah gerombolan pria di belakangnya.Belum sempat bereaksi, aku sudah tenggelam di antara mere
Begitu Donny muncul, dia melihatku berpose sangat menggoda, posisi yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya. Matanya langsung memerah penuh nafsu, tanpa perlu akting lagi, dia langsung menerjang ke arahku.Aku mengimbangi permainannya dengan melakukan adegan seolah-olah sedang dipaksa. Aku menangis dan berteriak, bahkan bertanya dengan nada pilu mengapa dia tega memerkosaku padahal dia adalah sahabat baik suamiku sendiri.Donny semakin bersemangat dan dengan sangat kooperatif membeberkan alasannya, sama persis dengan penjelasan dendam yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Aku pura-pura menangis kesakitan dengan wajah tanpa daya.Mungkin di dalam diri pria memang ada sisi liar semacam itu. Ditambah aktingku, Donny benar-benar bertingkah layaknya seorang penjahat.Dia menghantamku dengan keras sambil memukulku, menyuruhku untuk patuh.Dalam hati aku mulai cemas, sudah cukup lama tapi kenapa polisi belum datang juga? Tiba-tiba, pintu kamar didobrak hingga terbuka. Beberapa petugas bersera
Donny benar-benar hebat, dia seperti binatang buas.Sudah lama sekali aku tak merasakan sesuatu yang hidup seperti ini, apalagi yang begitu panas dan kuat. Setiap hantaman darinya seolah ingin menghancurkanku.Aku ditekan habis-habisan di atas ranjang. Kedua tanganku mencengkeram sprei dengan erat, menggigit bibir merahku erat-erat agar tak mengeluarkan suara.Namun, serangannya terlalu dahsyat. Setiap tusukan mencapai titik terdalam, seolah memeras habis seluruh cairan dari dalam diriku.Semua pori-pori di tubuhku terbuka lebar. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Akhirnya, aku pun tak tahan lagi. Aku mulai mendesah pelan, pinggangku meliuk menyambut setiap gerakannya.“Adik ipar, aku tahu kalau kamu pasti nggak akan bisa menahan godaan ini. Di kantor suamimu sendiri, sementara dia ada di luar sana, kamu pasti merasa sangat tertantang, ‘kan?”Donny terus memprovokasiku dengan kata-katanya.Di bawah serangan fisik dan mental ini, kesadaranku perlahan memuda
“Kak Donny, kamu apain?! Lepaskan aku, suamiku akan balik sebentar lagi!”Kejadian yang tiba-tiba ini membuatku kaget. Aku tak menyangka ternyata dia hanya berpura-pura tidur.Ini di ruang kantor suamiku. Beraninya dia bertindak senekat ini! Dia tidak takut ketahuan?!“Adik ipar, jangan pura-pura lagi. Bukannya tadi malam kita berdua hampir berhasil?”“Tadi… tadi malam itu hanya salah paham!” ujarku berusaha membela diri.“Hehe… kalau begitu nggak perlu dibahas soal kejadian tadi malam. Aku tahu kamu sudah susah payah menahannya. Sebagus apapun mainannya, nggak akan pernah senikmat yang asli. Kalau kamu berteriak terlalu kencang dan orang-orang di luar masuk, mereka semua akan mengenalimu. Berbeda denganku, aku bisa pergi kapan saja.”Sambil mengancam, Donny mulai beraksi.Tangannya menyelinap masuk ke kerah bajuku, mencengkeram buah dadaku dengan kasar seolah ingin meledakkan balon.Rasanya sangat sakit, tapi ada sensasi rangsangan yang tak terlukiskan.Namun, aku tidak kehilangan aka







