Share

Jadi Budak Kakak Ipar
Jadi Budak Kakak Ipar
Penulis: Ummu Amay

KABUR

Penulis: Ummu Amay
last update Terakhir Diperbarui: 2023-07-27 14:37:14

"Perempuan jalang kurang ajar! Tak tahu diuntung dan terima kasih!"

Sebuah kalimat kasar terdengar dari arah kamar Alan. Seorang pengusaha yang sudah menikah dan memiliki anak itu, seperti tengah mengamuk sebab alasan tertentu.

Beberapa orang pembantu rumah tersebut bisa mendengar dengan jelas karena pintu kamar yang tidak ditutup. Mereka tampak ketakutan dan saling memandang satu sama lain.

Alan baru pulang dari kantor beberapa menit yang lalu. Tak lama kemudian, suara membahana itu langsung menghiasi seluruh sudut ruangan di lantai tiga tersebut.

Di tengah Alan yang masih marah, juga para pembantu yang masih bersiaga di depan pintu kamar, tiba-tiba sosok perempuan muda muncul di anak tangga terakhir. Ia yang muncul dari bawah, tampak heran dan bingung ketika melihat empat orang pembantu berdiri di depan kamar kakaknya dengan kepala menunduk.

"Ada apa?" tanya perempuan muda itu setelah mendekat dan menghampiri salah satu pembantu.

Namun, belum sempat pembantu di depannya membuka mulut untuk menjawab, sosok Alan muncul dan sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua matanya yang merah menatap ke arah perempuan muda tadi.

"Kamu? Masuk!" seru Alan tiba-tiba, meminta sosok perempuan muda itu masuk ke kamarnya.

"A-aku, Kak?" tanya perempuan itu sedikit terbata. Ia pasti kaget mendengar permintaan -lebih tepatnya perintah, yang Alan katakan.

"Apakah kamu melihatku memandang orang lain?"

Perempuan itu menggeleng. Tapi, masuk ke kamar pribadi milik kakak dan iparnya, itu bukan sesuatu yang baik menurutnya. Terlebih ia belum melihat keberadaan kakak perempuannya sekarang.

Felisha Putri, nama perempuan muda itu. Sudah setahun yang lalu tinggal di rumah besar tersebut. Kuliah dengan dibiayai Alan, yang tiga tahun lalu menikahi Dina -kakak semata wayangnya, sembari ikut menjaga Rafael, bocah dua tahun yang adalah buah hati pasangan suami istri tersebut.

Ya, Alan adalah kakak iparnya. Pengusaha kaya, tampan, dan baik hati. Lelaki yang menikahi kakaknya sebab hutang yang dimiliki oleh kedua orang tuanya kepada banyak orang, termasuk keluarga Tanujaya.

Entah apa yang tengah terjadi sekarang. Felisha yang baru pulang kuliah, dikejutkan dengan penampakan para asisten rumah yang berdiri ketakutan di depan kamar kakaknya. Yang anehnya tidak ia lihat sejak dirinya masuk ke rumah. Padahal biasanya, ia akan melihat wanita itu di ruang makan, mengawasi para pelayan menyiapkan makan malam.

"Apakah kamu tuli?"

Kembali pada kondisi yang terlihat sedikit mencekam saat ini, Felisha akhirnya bergerak maju, perlahan masuk ke kamar kakaknya setelah mendengar bentakan Alan.

Sebelum pintu ditutup, Felisha bisa mendengar lelaki itu berkata sesuatu pada para asisten di depan.

"Kembali ke tempat kalian masing-masing!"

Setelah itu, pintu berdebam kencang. Felisha sampai berjengit kaget sebab suara yang begitu kencang menyapa gendang telinganya.

Posisinya masih menatap ke arah Alan yang kini berbalik menatapnya. Tampak bingung sebab tatapan lelaki itu yang menurutnya terlihat lain dari biasanya, membuat Felisha kini merasa ketakutan.

Lelaki itu berjalan, mendekat ke arah Felisha sembari menanggalkan jas serta menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Lalu,

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Felisha. Sontak perempuan itu meringis kesakitan sebab Alan melakukannya dengan kekuatan yang begitu nyata. Bahkan, Felisha hampir terjungkal kalau saja tidak ada meja di belakangnya berdiri.

"A-ada apa ini, Kak? Kenapa Kak Alan nampar aku?" Masih meringis, perempuan itu berusaha bertanya. Ekspresinya kaget sebab tiba-tiba kakak iparnya berlaku kasar.

Tapi, bukannya menjawab Alan malah mendorong tubuh Felisha sampai tersudut ke dinding kamar, lalu mendekatkan kepalanya dan mencium gadis itu dengan beringas.

Felisha tampak tak siap. Ia kaget bukan main ketika Alan menciumnya penuh nafsu. Bahkan, ia tak bisa berdiri dengan tegak ketika Alan juga membawa tubuhnya dalam pelukan.

'Apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya?' batin Felisha menjerit. Ia jelas tak terima dengan aksi Alan padanya.

Mencium adik ipar di saat tak ada istrinya, itu adalah sebuah pelanggaran dan sangat salah. Bahkan Felisha merasa telah menjadi seorang pengkhianat bagi kakaknya, Dina.

Alhasil, Felisha pun mencoba mendorong tubuh Alan, juga berusaha menarik diri dari pelukan lelaki itu pada tubuhnya. Ingin sekali ciuman itu terlepas, tetapi anehnya begitu sulit dilakukan di tengah emosi yang sepertinya tengah menyelimuti jiwa dan raga Alan.

"Kak ... lepaskan ...!"

Perkataan Felisha bahkan tak ubahnya sebuah gumaman yang meluncur dari mulut yang bibirnya Alan kunci.

"Kak!" Usaha terakhir kali, Felisha berhasil melepaskan pagutan di bibirnya.

'Ciuman pertamaku,' batin Felisha menangis, tapi lega.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tiga detik kemudian, Alan kembali melakukan aksi yang sama seperti tadi, bahkan lebih.

Lelaki itu menarik adik iparnya, sambil menempelkan bibirnya ia lalu mendorong tubuh tinggi semampai Felisha ke atas ranjang berukuran besar miliknya.

"Arh!" pekik Felisha kaget bercampur khawatir. Ekspresinya jelas takut saat melihat kedua mata Alan yang masih merah dan tajam menatapnya.

"K-Kak Alan. Ada apa ini?" Gemetar suara Felisha. Ia takut bukan main dengan aksi yang kakak iparnya lakukan.

"Ada apa? Seharusnya kamu tanyakan pada kakakmu itu!" seru Alan dengan kedua tangan yang mengungkung tubuh Felisha.

"Kak Dina? Ada apa dengan Kak Dina?" Sembari menangkup dadanya dengan tangan, gadis itu menatap iparnya tak mengerti.

"Kamu tak tahu atau pura-pura tak tahu? Bukankah kalian sangat dekat. Apakah kakakmu tidak pernah bercerita sebelumnya mengenai rencana perginya ia dari rumah ini?"

"Ap-apa? Kak Dina pergi?" ucap Felisha kaget.

"Cih! Entah siapa yang sedang memainkan drama di sini. Apakah aku yang bodoh dengan mempercayai kakak beradik seperti kalian tinggal di sini? Atau kamu yang memang sengaja tinggal untuk menutupi kebusukan perempuan jalang itu!"

Ada gemetar kemarahan yang Felisha rasakan ketika sang kakak mendapat julukan baru dari iparnya itu.

"Jangan mengatakan hal buruk tentang Kak Dina!"

Di mata Felisha, Dina adalah seorang kakak yang sangat baik. Sebagai seorang wanita, Dina juga berhasil menjadi seorang istri yang baik, taat, dan berbakti kepada Alan, suaminya

Tampak Alan tertawa mencemooh. Mendengar pembelaan dari seorang adik terhadap kakaknya. Sungguh membuat Alan seperti tergelitik, merasa lucu.

"Lalu, menurutmu panggilan apa yang cocok aku berikan pada kakakmu itu setelah ia memberiku berita bahwa saat ini ia pergi dari rumah sebab ingin tinggal bersama dengan kekasih yang selama ini disembunyikan dariku? Apa?"

Bak disambar petir di siang bolong meski senja perlahan mulai gelap, Felisha terkejut mendengarnya.

"Tak mungkin," ucap Felisha lirih. "Tidak mungkin Kak Dina seperti itu."

Felisha tampak tidak terima dengan kabar yang baru saja Alan sampaikan. Tidak mungkin kakaknya berbuat hal jahat seperti itu.

Alan tertawa. Lelaki itu, meski berusaha tampak ceria, tetapi bisa Felisha lihat ada kesedihan yang tengah ia coba sembunyikan.

Tak menunggu sampai gadis muda di bawah kungkungannya percaya akan berita yang ia sampaikan, Alan segera bergerak dan beraksi. Ia seolah ingin melampiaskan kemarahan yang saat ini menggerogoti jiwanya sebab ulah sang istri yang tak tahu diuntung.

"Sekarang tak ada lagi sosok penghangat ranjang ini setelah perempuan jalang itu pergi. Mau tak mau, aku yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk kuliah, tempat tinggal dan semua hal yang aku keluarkan untuk kamu dan kakakmu itu selama tinggal di sini, harus kamu bayarkan lunas."

"Ap-apa maksud, Kak Alan?" Felisha mulai panik. Ia takut dengan kalimat terakhir yang lelaki di atasnya itu katakan.

"Layani aku. Layani aku seperti sebelumnya Dina melayaniku selama tiga tahun masa pernikahan kami."

"Ap-apa! Tidak!" pekik Felisha takut.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Teras Corps
lanjutkan..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jadi Budak Kakak Ipar   AKHIR YANG INDAH

    Pagi itu cerah, langit membentang bersih seolah memberi izin pada sesuatu yang baru untuk dimulai.Felisha berdiri di depan rumah yang beberapa lama kemarin hanya ia kunjungi dalam mimpi dan kenangan. Rumah orang tuanya. Rumah yang pernah menjadi awal, lalu berubah menjadi luka yang terlalu lama ia biarkan tertutup debu.Pintu depan kini terbuka penuh. Udara segar mengalir masuk, menggantikan bau kebusukan yang selama ini mengendap. Tirai putih bergoyang pelan, menyentuh cahaya matahari yang jatuh ke lantai.Felisha melangkah masuk —bukan sebagai perempuan yang terusir, bukan sebagai istri yang dikembalikan, tapi sebagai dirinya sendiri.Ia menyusuri ruang demi ruang. Menyentuh meja makan tempat yang mungkin ibunya dulu siapkan untuk sarapan. Dinding yang pernah dipenuhi foto keluarga. Sudut ruang tamu yang mungkin juga tempat ayahnya biasa duduk sambil membaca koran.Sayang, ia sama sekali tidak memiliki memori itu. Kenangan yang ada di dalam benaknya hanya hidup bersama keluarga Sum

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MENGAMBIL KEPUTUSAN

    Hujan turun tipis pagi itu, membasahi jendela rumah sakit dengan garis-garis halus yang bergerak pelan. Felisha berdiri di balik kaca, menatap halaman yang tampak kelabu. Bau antiseptik masih tercium, namun kini tidak lagi menusuk —mungkin sudah terbiasa.Alan dipindahkan ke ruang perawatan biasa semalam. Tubuhnya masih lemah, wajahnya pucat, tapi nyawanya tidak lagi menggantung di ujung benang. Jika dokter menyebutnya keajaiban kecil. Felisha justru menyebutnya kesempatan kedua —bukan hanya untuk Alan, tapi juga untuk dirinya sendiri.Ia menoleh ke ranjang. Alan terjaga, menatap langit-langit dengan mata yang lebih jernih dari hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapan itu —tidak lagi keras, tidak lagi mengendalikan.“Kamu tidak harus di sini,” ucap Alan pelan, memecah hening.Felisha mendekat, menarik kursi. “Aku tahu.”“Lalu kenapa kamu tetap datang?” tanyanya hati-hati, seolah takut jawaban itu akan mematahkan sesuatu yang rapuh.Felisha menghela napas. “Karena m

  • Jadi Budak Kakak Ipar   PENETAPAN

    Ruang ICU selalu memiliki caranya sendiri untuk menekan waktu. Jam dinding berdetak pelan, tapi setiap detik terasa seperti beban yang dijatuhkan satu per satu ke dada Felisha.Alan terbaring tak bergerak. Monitor di sampingnya menampilkan garis yang naik turun —tanda kehidupan yang kini terasa rapuh, bergantung pada mesin dan keberuntungan.Felisha duduk di kursi yang sama sejak semalam. Ia tidak tidur. Tidak makan. Tangannya menggenggam tas kecil berisi dokumen —sertifikat rumah, hasil kerja keras Alan yang kini justru membuatnya hampir kehilangan nyawa.Ironi itu menyesakkan. Sungguh menyesakkan. Dan andai saja bisa memutar waktu, Felisha lebih memilih agar Alan tidak melakukan hal tersebut. Toh, ia juga sudah ikhlas, tak mengharapkan apa pun lagi. “Kenapa kamu harus sejauh ini…” bisiknya lirih.Ia teringat wajah Herman Sumitra. Senyum palsu. Nada merendahkan. Ancaman yang dulu dibungkus dengan kalimat keluarga.Kini semuanya terasa jelas.Mereka tidak pernah menganggap Felisha se

  • Jadi Budak Kakak Ipar   PENYELIDIKAN

    Pagi datang dengan warna abu-abu yang tidak ramah. Hujan semalam meninggalkan sisa genangan di jalan lingkar utara, memantulkan cahaya matahari yang enggan muncul sepenuhnya. Garis polisi masih terpasang, membentang seperti luka yang belum sempat ditutup.Mobil derek telah pergi, tapi jejaknya tertinggal.Darah.Tidak banyak. Tapi cukup untuk menandai bahwa sesuatu yang besar telah terjadi di tempat itu.Seorang petugas kepolisian berjongkok di dekat aspal, memotret bekas rem yang putus di tengah jalan. Garis hitam itu tidak memanjang sebagaimana mestinya. Terlalu pendek. Terlalu tiba-tiba.“Rem tidak sempat bekerja,” gumamnya.Di sisi lain, seorang teknisi forensik membuka kap mobil Alan yang telah dipindahkan ke area pemeriksaan. Tangannya bersarung, gerakannya teliti.“Kabel rem dipotong,” katanya akhirnya.“Bukan aus. Bukan kegagalan mekanis alami.”Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.Di rumah sakit, Alan masih belum sepenuhnya sadar. Tubuhnya terhubung de

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MENYESAL

    Lampu-lampu rumah sakit menyala terang, terlalu terang bagi mata Felisha yang baru saja tiba dengan langkah tergesa. Aroma antiseptik menyergap, dingin dan asing, membuat dadanya semakin sesak.Suara roda brankar yang melintas, dengungan mesin medis, dan langkah kaki orang-orang yang tak saling mengenal berpadu menjadi kebisingan yang terasa jauh —seolah dunia berjalan tanpa peduli pada detik yang baru saja runtuh baginya.“Di mana dia?” suara Felisha terdengar parau, nyaris tidak seperti suaranya sendiri.Gina yang berjalan di samping refleks meraih tangan Felisha, menggenggamnya erat. “Feli, pelan-pelan … kita tanya baik-baik.”Namun Felisha sudah melangkah lebih dulu. Pandangannya menyapu lorong ICU hingga akhirnya menemukan sosok yang dikenalnya.Alvaro.Pria itu berdiri tegak, tapi jasnya kusut, dasinya longgar, dan sorot matanya kehilangan ketenangan yang biasa ia miliki. Begitu melihat Felisha, ia menunduk sedikit —sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan sembarangan.“Nona,” u

  • Jadi Budak Kakak Ipar   INSIDEN

    Di sebuah rumah besar yang kini terasa lebih seperti bangunan kosong, Herman Sumitra duduk di ruang tamu dengan rahang mengeras. Lampu kristal di langit-langit menyala terang, tapi tak mampu mengusir hawa dingin yang menggantung di udara.Rumah yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun, kini telah berpindah kepemilikan. Rumah itu telah kembali ke pemiliknya, tapi Herman Sumitra tampaknya tak terima. Ia telah berusaha keras membuat bangunan itu menjadi miliknya, tapi kemunculan Alan Tanujaya telah menghancurkan usahanya. "Kuranh ajar!" serunya, entah pada siapa. Ia sendirian di ruangan itu. Tak tahu di mana keberadaan istrinya. Sudah sejak kedatangan Felisha terakhir kali, ia selalu menangis. Terlebih masih tak ada juga kabar dari putri semata wayangnya. Berminggu-minggu sudah Dina menghilang.Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Nomor ponselnya mati. Apartemen yang biasa ia tempati kosong, seolah perempuan itu lenyap begitu saja ditelan kota.Herman mengepalkan tangan. “Ini semua gar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status