LOGIN'Ishhh, kenapa dia jadi tambah nyebelin. Hufh, dulu aja... ingatan Sasti terlempar ke masa lima tahun lalu. Saat itu, ia baru lulus SMP.
"Mas Agha, mau nggak jadi pacarku?" Dengan pedenya Sasti yang bertubuh mungil kulit sawo matang mengungkapkan perasaannya. Padahal usianya masih sangat muda. Sedangkan Agha yang bertugas di pelosok kampung Sasti saat itu berusia 26 tahun. Lelaki yang ditugaskan secara paksa atas perintah bapaknya sendiri itu hanya menganggap ucapan Sasti sebuah candaan. "Anak kecil tuh belajar yang rajin biar pinter. Nggak usah pacaran. Besok kalau udah besar baru cari pasangan." "Eh nikah maksudnya, Mas?" "Iyalah, ga usah pacaran nanti ujung-ujungnya nggak jadi. Kamu yang rugi sendiri." "Oh jadi Mas Agha nggak punya pacar, ya?" tanya Sasti antusias. Ia bermain di markas Agha tanpa rasa canggung dan takut. Padahal di sana penghuninya kaum Adam semua. Ada sih yang tukang masak tapi bisa dihitung jari. "Nggak." Agha menjawab disela kesibukannya membetulkan tenda sembari mengutak-atik ponsel. Wajah Agha sesekali berubah serius. Sasti tak mengerti apa yang terjadi. Sejatinya Agha dilempar tugas ke pelosok karena sang ayah ingin menjauhkannya dari wanita yang dicintai namun beda status sosial. Rania namanya, mahasiswi yang kalem, jelas berbeda jauh dengan Sasti. "Mas langsung mau nikah? Sudah punya calon belum? Kalau belum gimana sama aku aja? Mas bisa jadi penduduk di sini. Memajukan kampungku, ide bagus, kan?" Sasti berceloteh tanpa henti membuat Agha jengkel setengah mati. Sasti memang tipe anak yang ceria dan banyak omong. Entah bawaan bayi atau sebenarnya hanya sikapnya yang menghibur diri sendiri sebagai anak yatim piatu. Ia hanya tinggal dengan nenek yang sangat menyayanginya. "Kamu bisa diem nggak, sih? Kamu itu bukan tipeku. Aku suka perempuan kalem, lemah lembut. Cantik, kulit putih, anak kuliahan. Dah jangan bermimpi muluk-muluk. Belajar saja yang rajin biar otaknya encer nggak mikirin pacaran. Kasian itu nenek kamu, Sas. Harusnya kamu buat bangga beliau." Ucapan panjang lebar Agha disertai raut yang menegang membuat Sasti tercengang. Ucapan reflek Agha tadi dianggap serius oleh Sasti. "Begitu, ya," ucap lirih Sasti. Tenggorokannya tercekat. Kebaikan dan keramahan Agha selama ia kenal pun terhempas begitu saja oleh ucapan kasar barusan. "Sana pergi! Jangan ngganggu, aku lagi sibuk." "Jadi, selama ini Mas Agha baik sama aku bukan karena suka, ya?" tanya Sasti polos. "Bukanlah." "Mas Agha cuma kasian sama aku karena anak yatim piatu?" Akhirnya tetesan bening lolos tanpa permisi. Sasti menatap sendu lawan bicaranya. Dalam hati seolah berkata kalimat mengejek dirinya sendiri yang terlalu kepedean. "Mungkin," balas Agha tanpa pikir panjang. Ia masih serius menatap ponsel. Jiwa muda Sasti yang amat bergejolak seketika redup hanya karena kalimat singkat barusan. Ia begitu menelan kecewa. Terlihat dari pelupuk mata yang berusaha keras menahan kembali cairan bening. Ia sedikit menengadahkan kepala membendung air mata agar tidak lolos membasahi pipi. Seketika itu, Agha telah mengukir jejak luka dalam hatinya. Hingga ia mematri dalam diri tidak akan menaruh hati kembali dengan lelaki berpangkat AKP itu. "Sasti," seru Rizky membuyarkan lamunan Sasti. "Eh iya, Pak." "Kalian berdua sudah saling kenal?" "Itu Pak Rizky, hmm saya..." "Baru kenal tadi di jalan. Dia yang nabrak mobil Almira," terang Agha dengan wajah tegas. Sasti berusaha mengontrol diri dari rasa canggung dan gugup. Perkiraannya salah ternyata Agha mengatakan pertemuan saat tabrakan tadi bukan peristiwa lima tahun lalu. 'Ah, mungkin ia sudah lupa masa lalu. Untung aja,' batin Sasti. "Ia tadi kami bertemu Pak Agha di jalan, Pak," imbuh Nina berusaha memecah ketegangan. "Syukurlah. Saya khawatir bertambah saingan," canda Rizky. Agha dan Sasti berusaha mencerna ucapan dosen muda itu. "Maksudnya?" tanya Agha penasaran membuat Rizky mendekat ke arahnya. "Kamu kan tahu aku masih single. Aku mendekati mahasiswi buat dikenalin Mama," bisik Rizky ke Agha tanpa bisa didengar Sasti dan Nina. Kedua laki-laki itu mempunyai hubungan saudara sepupu. "Apa?! Tipe dia bukan DOSEN tapi POLISI." Ucapan Agha tidak sengaja menggema di ruang dosen membuat orang disekitarnya terkejut. "Hah kok tahu?" tanya Rizky dengan tatapan penuh selidik. "Bercanda. Biasa kan anak muda suka yang ganteng dan pemberani, iya kan Mbak Sasti?" ucap Agha dengan sikap tenang. Barusan ia keceplosan karena syok sepupunya menyukai gadis muda yang dulu saat ABG pernah menembaknya dan sekaligus ditolaknya mentah-mentah. "Eh, enggak juga. Profesi dosen juga sama bagusnya dengan polisi. Sama-sama pahlawan kan. Dosen pahlawan pendidikan." "Cerdas. Tak salah kamu jadi mapres, Sas. Kalau gitu ayo segera ke auditorium. Acara sudah mundur lima menit," ajak Rizky yang diangguki Sasti. "Mbak Sasti nggak tanya-tanya CV saya?" ucap Agha sambil berjalan beriringan menuju lokasi acara. Nadanya terkesan sengaja menggoda Sasti yang sedikit kesal akibat ulahnya di ruang dosen tadi. "Hmm, boleh," jawab Sasti sambil fokus ke arah depan. Sesekali ia menoleh saat yang sama Agha justru fokus dengan arah depan. "Bisa saya kirim melalui WA? Saya adanya file CV." "Oh, ya. Sebentar, nanti kalau sampai ruangan ya, Pak." "Siap." "Modus kamu, Gha. Awas nggak usah deket-deket Sasti," celetuk Rizky sambil berbisik di telinga Agha. Lelaki itu membalas dengan tertawa lirih. Sementara Sasti dan Nina hanya saling pandang melihat dua lelaki di dekatnya dengan tatapan kepo. Sontak saja Agha tersenyum penuh kemenangan. Sasti tidak menyadari kalau itu hanya akal-akalan Agha saja. Dia bisa mendapatkan nomer kontaknya tanpa meminta langsung. "Sas, amalan baik apa kamu dikerumuni dua cowok ganteng gini?" goda Nina dengan ucapan li "Hush, geli ah, Nin." Sasti hanya menutup telinga akibat bisikan sahabatnya. "Baik mari kita mulai acaranya." Suara Sasti terdengar lugas dan enak di dengar. Pembawaannya benar-benar memukau. Padahal baru bicara sepatah kata setelah MC membuka acara. Agha dibuat takjub dengan perbedaan sikap Sasti dulu dan sekarang. Wanita itu terlihat dewasa sekarang. Meski penampilannya sederhana tak mengurangi kadar kecantikannya. Membuat seseorang tak bosan memandangnya. "Nara sumber kita kali ini adalah AKP Agha Rahmawan. Bisa dipanggil Kapten Agha. Kasat baru di bidang Napza. Ia akan bertugas selama lima tahun ke depan. Bekerja sama dengan beberapa kampus di kota pelajar." Ucapan Sasti berjeda diikuti intonasi menurun. Sesaat ia menelan ludahnya susah payah. CV Agha beserta catatan singkat yang ia baca justru membuat dadanya mendadak berdebar. Ia merapalkan istighfar berulang di dalam hatinya. 'Astaga, ni orang akan tinggal di kota ini. Kerja sama dengan kampus. Duh, semoga cuma sekali ini ngisi di sini.' Begitulah doa Sasti dalam hati. "Sebelum dilanjutkan pemaparan materi, apakah ada yang ingin ditanyakan tentang Pak Agha?" ungkap Sasti sambil mengedarkan pandangan ke audiens yang memenuhi ruang auditorium berkapasitas 200 orang itu. Mayoritas peserta sosialisasi Napza kali ini adalah mahasiswa baru. "Boleh tahu status Pak Agha apa ya?" tanya salah satu mahasiswi dengan antusias. Sepertinya ia sedang taruhan dengan rekannya yang duduk di samping kanan kiri. Terlihat dari sikap kedua temannya seolah mengompori. "Saya Kasat baru di bidang Napza. Tadi sudah disebutkan Mbak Sasti, kan?" balas Agha dengan seulas senyum. Lelaki yang irit senyum malah seringnya mode cool itu sekalinya senyum runtuhlah gunung Es di Alpen. Audiens yang sebagian besar mahasiswi terlihat terpukau. Sasti bisa menangkap perubahan sikap audiens. Ia mendecak kesal sambil melirik sosok narsum di sampingnya. 'Ishh, sok tebar pesona padahal sudah punya pasangan.' Sasti hanya ngedumel sendiri. "Maksudnya status single atau sold out, Pak," seru Rizky dengan nada bercanda. Suasana awalnya tegang dan serius pun mendadak cair. "Hufh, kenapa Pak Rizky malah memperjelas," gerutu Sasti. Nina yang duduk di kursi audiens berdampingan dengan pak dosen pun hanya bisa menahan tawa. "Status Pak Agha sold out ya teman-teman. Jangan berekspektasi tinggi," celetuk Sasti. Mendadak ia menyesal kenapa tak tahan mulutnya ember. Sebab di awal ketemu, Agha memang bersama wanita cantik. Akhirnya ia tergelitik menyahut. "Maaf, mari kita lanjutkan materinya ya," ujar Agha sambil menoleh ke Sasti. Ia menatap Sasti dengan tatapan penuh arti dan dingin. Senyum yang sempat ditebarkan ke audiens mendadak kabur. Sasti pun tak mau kalah. Ia justru membalas dengan tatapan tajam seolah ingin mengatakan. "Nggak usah tebar pesona bikin PHP mahasiswi aja."Bab 43 Extra Part 2"Halo, Mas Agha." Almira akhirnya menelpon Agha."Ada apa, Al? Sasti sudah kamu antar sampai rumah?" tanya Agha."Ckk, nih istrimu lagi ngidam atau apa sih, Mas. Aku disuruh nganter buat mbuntutin kamu. Pokoknya kamu keluar sini. Aku udah gerah mau pulang mandi." Almira sudah mengomel di telpon.Agha pun keluar dari kantornya. Ia memandang keheranan mobil sepupunya terparkir tak jauh dari kantor."Kenapa diantar kesini?""Tuh, tadi di lampu merah lihat Mas Agha naik mobil sama polwan cantik. Dia nggak mau pulang. Maunya ngikutin mobil Mas Agha. Eh tahunya sampai sini malah ketiduran. Tanggung jawab nih, Mas. Aku mau pulang.""Ya sudah. Sana pulang bawa mobilku. Nanti atau besok tak tukar. Biarkan Sasti tidur, kasian kalau dibangunin.""Ckk, hari ini aku dikerjain dua pasangan bener, nih. Nggak Mas Rizky, Mas Agha juga. Hufh."Agha tertawa lebar mendengarnya. Ia bergegas menepuk bahu sepupunya."Sabar, ya. Semoga jodohnya disegerakan."Almira hanya mendecis lalu men
Bab 42 Extra Part 1Satu tahun kemudian..."Ayo buruan sarapannya dipercepat, Sayang. Mas harus mimpin upacara ini," ucap Agha dengan nada halus sambil melihat arloji di tangan kanannya. Sementara sang istri hanya tersenyum sambil menyelesaikan proses mengunyah makanannya dengan santai.Satu bulan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selesai rangkaian acara pernikahan, mereka sebentar lagi harus kembali ke tempat bertugas yaitu di kampung halaman Sasti. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasti manjanya nggak ketulungan. Minta ini itu yang aneh-aneh.Terlihat berbeda sekali dengan watak asli Sasti yang mandiri dan tak pernah manja. Mereka berdua masih tinggal sementara di rumah Pak Projo. Seperti keinginan Bu Santi, Mama Agha. Ia pengin ditemani menantunya sebelum ditinggal bertugas ke kampung halaman. Agha bertugas di kepolisian dan Sasti menjalankan KKN di kampungnya."Sabar, Mas! Aku nggak bisa makan cepat, nih. Nanti kalau mual muntah gimana?""Asam lambung kamu kambuh lagi?
Bab 41 Ending"Maaf, beliau yang akan mengisi acara. Ini spesial karena beliau khusus menangani masalah tema hari ini," ucap polwan itu dengan lembut tapi nadanya tegas.Netra Sasti terbelalak. Gugup langsung menderanya. Ia beberapa kali mengucek mata. Berharap salah melihat bayangan seseorang."Mas Agha?! Ah, mungkin hanya ilusiku saja. Aku terlalu mengharapkan bertemu dia," rutuk Sasti dalam hati. Ia menunduk sedikit lalu menengadah kembali tapi tak sanggup melihat kedatangan narsum. Ia merasa takut hanya bermimpi. Memilih memandang ke arah MC sebentar, ia menunggu kode dari panitia. Sampai tidak ia sadari, narasumber sudah duduk di sampingnya."Apa kabar?" Suara maskulin itu begitu mengganggu konsentrasi Sasti. Mendadak ia gugup setengah mati.'Ya Rabb, kenapa wajah dan suaranya menghantui aku,' batin Sasti masih belum menoleh ke samping kiri."Mbak Sasti Ayuandira, saya sudah siap. Bisa dimulai?"Deg.'Kenapa dia tahu nama lengkapku? Oh, iya tadi kan MC menyebutkan. Tapi kan cuma
Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita
Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto
Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya







