Share

Bab 28

Author: Syaard86
last update Last Updated: 2025-12-27 09:54:17

Restoran itu sunyi, terlalu tenang buat Arka. Lampu kuning lembut menggantung di langit-langit, musik piano mengalun pelan, sementara meja yang sudah dipesan atas nama orang tuanya tampak seperti jebakan berlapis sopan santun.

Arka menarik napas dalam-dalam, bahunya sedikit menegang. Aluna sudah duduk saat Arka melangkah masuk. Begitu melihatnya, perempuan itu berdiri pelan, tersenyum kecil, senyum yang rapi dan terjaga, tak lebih dari sekadar formalitas.

"Kamu Arka," suaranya halus, tanpa getar.

"Iya," jawab Arka, matanya menghindar sedikit. Tidak ada jabat tangan canggung, tak ada basa-basi yang menyambut.

Aluna hanya mengangguk singkat lalu duduk lagi, wajahnya tenang, tanpa kesan mendesak. Sikapnya itu malah membuat Arka sedikit lengah, seolah ada celah yang tiba-tiba terbuka.

"Kita pesan dulu?" suaranya ragu, mencoba memecah keheningan.

Arka mengangguk cepat.

Sepuluh menit berlalu dengan obrolan netral—tentang pekerjaan, cuaca, dan hal-hal aman lain yang tak menye
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 43

    Pagi itu, Akira membuka kedua matanya dengan kepala yang terasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena semua masalahnya lenyap tapi malah sebaliknya, untuk pertama kalinya ia berhenti berlari dari kenyataan yang selama ini membuatnya lelah. Sinar matahari lembut menyelinap lewat jendela kos, menari-nari di lantai, hangat dan jujur tanpa basa-basi. Akira duduk di tepi ranjang, peluk lututnya erat sambil mengingat percakapan semalam yang terus terngiang di kepala. “Aku memilihmu.” Kalimat itu berulang-ulang jelas, tapi kali ini ia tak lagi ingin menguliti atau mencari celah keraguan. Ada kelegaan aneh yang merayap masuk. Ia menoleh ke meja, mengambil ponsel yang bergetar di sana. Satu pesan belum dibuka. Naya: "Kita di bawah kos." "Jangan pura-pura tidur." "Ini darurat… tapi versi kita." Akira tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Di halaman kos, Naya dan Lintang berdiri dengan dua gelas kopi take away di tangan. Tatapan mereka serius, tapi ada harapan di sana. “Kita butu

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 42

    Hujan rintik mulai turun sejak sore, tapi tak ada suara gemuruh yang mengiringinya. Tetes-tetes kecil itu jatuh pelan, seperti keraguan yang perlahan menumpuk di dada Arka. Ia berdiri terpaku di depan jendela ruang rawat Azka, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang buram tersapu air. Azka sudah tertidur sejak sejam lalu, napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Tapi justru kedamaian itu yang membuat dada Arka sesak, mengaduk gelisah yang sulit dijinakkan. Ia tahu, waktu untuk menunggu sudah hampir habis. Arka mengambil ponselnya lagi. Pesan terakhir dari Akira masih terpampang di layar, belum terhapus, belum dijawab. “Kalau Bapak sudah punya jawabannya, kita bisa bicara.” Napasnya memburu, jari-jarinya ragu sebelum akhirnya mengetik pesan. Arka: "Aku sudah punya jawabannya. "Boleh aku menemui kamu malam ini?" Ia menatap layar yang tak kunjung berbalas. Satu menit... Dua menit... Lima menit berlalu tanpa kabar. Hampa menggelayut di ruang sunyi itu, bersandin

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 41

    Pagi menyelinap masuk tanpa menghangatkan ruang kecil itu. Akira berdiri terpaku di depan cermin kosnya, menatap bayangan yang tampak sama, tapi membawa getar asing di dalamnya. Lingkar mata yang mulai gelap dan wajahnya yang pucat membuat senyum yang dulu mudah muncul kini tersimpan rapi, enggan keluar. Rambutnya diikat dengan rapi, hampir terlalu rapi untuk menggambarkan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia menghela napas dalam-dalam, suara napasnya bergaung di ruangan kecil itu. “Jaga jarak,” gumamnya lirih pada bayangan dirinya. Bukan karena ingin pergi, tapi karena takut berharap sendirian. *** Di rumah sakit, Azka membuka mata perlahan. Senyap, sunyi dari langkah-langkah kecil perawat yang biasa datang lebih dulu pagi-pagi. Tak ada suara riang yang menyebut namanya dengan nada hangat seperti biasanya. Ia memalingkan kepala, menatap pintu seolah mencari sosok yang hilang. “Papa…” suaranya kecil, penuh keraguan. Arka yang tengah menyelidiki berkas di mejanya men

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 40

    Malam merayap pelan, menyisakan cahaya redup yang terperangkap di lorong sepi rumah sakit. Akira duduk membisu di bangku panjang dekat jendela, pandangannya kosong menatap lampu kota yang berkelap-kelip samar di kejauhan. Hening menyelimuti, seolah menelan semua sisa tenaga setelah hari yang melelahkan. Di kepalanya, bayangan keputusan Dewan Etik terus berputar; kata-kata “sanksi”, “cuti”, tatapan sinis orang-orang yang sulit dilupakan. Dan Arka yang berdiri tegak di sampingnya, tanpa keraguan sedikit pun. Arka yang biasa dingin kini begitu dekat, tapi justru itu membuat dada Akira seperti tertimpa beban berat. Langkah kaki mendekat pelan. Akira enggan menoleh, tapi tahu siapa yang datang. “Kamu belum pulang?” suara Arka keluar pelan, hampir berbisik, seolah takut mengusik kesunyiannya. Akira menggeleng pelan. “Azka baru tidur.” Arka berdiri di sampingnya, tidak duduk, juga tak menyentuh, menjaga jarak dengan sikap yang rapi atau mungkin terlalu hati-hati. “Kamu capek,”

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 39

    Pagi merayap dengan hawa dingin yang menyusup lebih dalam dari biasanya. Akira berdiri terpaku di depan cermin kamar kosnya, matanya menatap pantulan tubuh yang terlihat lebih kurus, sedikit tenggelam dalam tulang-tulangnya yang makin menonjol dibanding minggu lalu. Matanya tetap memancarkan ketegaran, tapi ada beban berat yang bersarang, rapi tapi tak terucap, membuatnya sulit bernafas lega. Ponselnya bergetar lembut, layar menyala dengan nama Naya. “Udah bangun? Hari ini berat. Tapi kita jalanin bareng.” Napas terdengar serak saat Akira menariknya dalam-dalam sebelum membalas pesan itu, “Iya. Makasih.” Ia menutup ponsel, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, hari ini bukan sembarang hari. *** Di koridor lantai atas rumah sakit, Arka berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap keluar jendela. Langit kelabu di luar tampak suram, membayang layaknya isi pikirannya sendiri yang kacau dan tak menentu. Sebuah suara lirih memecah kesunyian, membuat bahunya otomatis menegang. I

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 38

    Pagi menyelinap tanpa permisi, cahaya matahari merayap halus lewat celah tirai kamar rawat Azka. Sinar hangat itu jatuh lembut di wajah kecilnya yang kini sedikit lebih berwarna, pipi pucat semalam berubah menjadi merah jambu. Nafasnya teratur, berirama bersama deru mesin di samping ranjang, bunyi pelan yang memberi rasa tenang sekaligus mengingatkan betapa rapuhnya hidup itu. Arka duduk tegak di kursi, jemarinya menggenggam tangan mungil Azka yang hangat. “Kamu tidur nyenyak,” ucapnya pelan, suaranya penuh kasih dan lega. Mata Azka mengerut, lalu terbuka perlahan. “Papa?” suara kecil itu pecah di keheningan. “Iya, Papa di sini,” balas Arka cepat, menahan haru di dada yang terasa sesak. Senyum tipis dari Azka muncul, seakan menyalakan bara hangat di hati Arka yang tiba-tiba mencengkeram kuat di dadanya. “Mama Akira?” tanya Azka lirih, ragu. Arka menelan liur, tak langsung menjawab. “Dia di luar. Lagi nunggu.” Azka mengangguk, tapi suaranya pelan, hampir berbisik, “Jangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status