MasukSalsa mendorong Akas menjauh dengan seluruh tenaganya, ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayunkannya dengan cepat menampar pipi Akas dengan sangat keras.PLAKKKK!Suara tersebut seperti mengoyak seluruh suasana ambigu di dalam ruangan. Seluruh ruangan menjadi sunyi, hanya menyisakan musik yang masih terus berputar.Akas yang ditampar begitu keras merasakan nyeri di pipinya. Baru kemudian ia merasa seakan akan baru saja di tarik kembali ke dunia nyata. Ia mempertanyakan dirinya sendiri, membelalakkan matanya dengan perasaan sulit di percaya. Apa dia baru saja mencium Salsa? Tamparan itu membawanya kembali ke kenyataan juga menjernihkan pikirannya. Api di dalam tubuhnya padam dengan cepat bersama tamparan tersebut yang diterimanya. Akas masih merasakan nyeri di pipinya, namun tidak menganggap Salsa salah. Ia justru bersyukur Salsa menamparnya sehingga menyadarkannya sebelum ia melakukan kesalahan lebih jauh.Disisi lain, Salsa sendiri terkejut dengan apa yang dilakukannya. Ia terse
Ketika lagu perlahan berakhir, Salsa merasakan pelukan datang dari arah belakang punggungnya. Akas mendekapnya dan membawanya ke dalam pelukannya, membiarkannya bersandar dalam diam dan tenang meski air mata menggenang di matanya.Salsa tersenyum dan menutup matanya perlahan dalam diam. Musik di ruang karaoke itu masih menyala, namun Salsa tetap bersandar di dada Akas dalam diam. Mencerna semua emosi yang bergejolak dan menenangkan dirinya sendiri.Namun lain hal nya dengan apa yang terjadi pada Akas, ia tidak setenang yang terlihat di luar. Baru saja ia secara spontan memeluk gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkannya dan mencegah pihak lain menangis.Baru kemudian ketika Akas memeluk gadis itu dalam pelukannya, ia menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan. Tubuhnya sedikit menegang dan nafasnya sedikit cepat. Ia merasakan tangan Salsa yang bergerak menggelitik di daerah perutnya, meski sebenarnya Akas sadar bahwa Salsa tidak bermaksud demikian.Rasanya
"Ayo pergi makan? Setelah itu pergi ke tempat yang kamu inginkan." Baik itu Akas atau Salsa tidak ada satupun yang berusaha mengungkit masalah sebelumnya. Menganggap semuanya berlalu begitu saja.Ketika mereka duduk berhadapan di meja restoran, suasananya menjadi canggung. Lagipula keduanya sempat bertengkar hebat terakhir kali, baik itu Salsa maupun Akas merasa bersalah dengan kata kata kasar yang mereka lontarkan saat itu.Jujur saja, ketika Salsa melirik Akas. Ia harus mengakui bahwa Akas adalah pria yang sangat baik dalam segala hal. Ia dewasa dan mampu membimbingnya, ia tampan dan penuh perhatian. Meskipun terkadang wajahnya dingin, hatinya sangat lembut. Namun ketika Salsa mengingat dua malam panas yang dilaluinya dengan Akas, Salsa harus menambahkan satu kosa kata! Yaitu binatang buas! Bukan berarti Salsa menyebut Akas kasar atau bagaimana. Hanya saja caranya bertarung dan gayanya di atas ranjang benar benar seperti binatang buas yang terlepas dari kurungannya.Jika Salsa tida
"Audrey aku akan bertanya padamu, bagaimana jika kamu yang menyebut dan menyebarkan kabar bahwa ibuku adalah simpanan terdengar sampai pada telinga ayah? Menurutmu, bagaimana ia akan bertindak?" Salsa berjalan mendekat sambil berbisik dengan suara yang hanya ia dan Audrey dengar.Mendengar kata jata Salsa, ekspresi wajah Audrey seketika memucat. Baik ibunya atau dirinya tahu dengan jelas bahwa mendiang istri Hendry adalah sosok yang sangat tabu di rumah. Bagi Hendry, mendiang istrinya adalah sosok yang sangat berharga dan tak tergantikan. Jika Hendry mendengar bahwa ia menjelekkan citra mendiang istrinya di luar, sudah pasti hasilnya sangat jelas. Dia dan ibunya akan di usir.Sudah lama dia dan ibunya bergaul dengan Hendry, namun mereka sama sekali tidak mampu benar benar menyatu sebagai keluarga. Hendry selalu tertahan oleh sosok mendiang istrinya. Karena mendiang istrinya itulah, baik dia atau ibunya tidak benar benar mampu memasuki dunia Hendry. "Aku peringatkan dirimu! Aku sudah
Karena masalah sapu tangan tersebut, Salsa bahkan melupakan fakta mengapa Audrey bisa ada di kelas yang sama dengannya. Sepanjang masa orientasi, Salsa begitu pendiam dengan aura murung yang terasa di seluruh tubuhnya. Sehingga banyak teman sekelas tidak berani mendekatinya.Satu satunya adalah seorang gadis muda yang ceria, ia duduk di samping Salsa tanpa memperdulikan pandangan orang lain. Melihat Salsa yang murung, membuatnya penasaran. "Mengapa kamu sangat murung? Apa kamu baik baik saja? Kudengar di kantin makanannya sangat enak, mengapa kita tidak pergi ketika jam istirahat tiba? Aku jamin perasaan murung mu akan hilang!" Ucap gadis itu. Namanya Rosa, gadis dengan suara manis yang sangat ceria. Ia begitu berisik hingga membuat Salsa merasa kesal namun tak bisa berkata kata. Ini adalah kali pertamanya ia melihat seseorang yang sudah melihat orang lain sedang murung namun justru berceloteh panjang lebar di sampingnya. Apa apaan dengan pergi ke kantin? Apakah pihak lain juga mania
Entah mengapa dan sejak kapan, air matanya telah menetes membasahi pipinya. Matanya yang berkaca kaca membuat pandangannya menjadi kabur. Salsa menggenggam pulpen tersebut lembut dan mendekapnya di dadanya.Mengapa baru saat ini? Mengapa? Salsa ingin bertanya namun seakan akan seluruh suaranya tersangkut dalam tenggorokannya. Salsa hanya bisa menangis dalam diam, menundukkan kepalanya dan membiarkan air mata itu membasahi jasnya yang rapi.Salsa meraih sapu tangan yang sebelumnya dijadikan alas untuk bolpoin tersebut dari dalam kotak. Menggunakan sapu tangan tersebut menyapu lembut air matanya, pandangan Salsa menjadi sedikit lebih jelas. Tiba tiba Salsa menyadari terdapat jejak jahitan di tepi sapu tangan tersebut. Kata kata di ujung sapu tangan tersebut sedikit sulit dibaca, namun ia masih bisa membacanya dengan jelas. 'To my daughter and my princess, Salsa putri kesayangan ayah.' Kalimat tersebut dijahit sedikit berantakan. Sama sekali tidak indah, namun Salsa memiliki firasat bah
Orang orang tersebut jelas mendengar pertanyaan dan isyarat kepala sekolah, tetapi tetap tidak ada satupun yang maju untuk menjelaskan. Meski mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap kepala sekolah namun siapa yang suruh mereka dipekerjakan oleh keluarga Liam untuk melindungi putra d
Marry dan Sania datang tergesa gesa setelah mereka didorong oleh Salsa. Keduanya memandang tenang apa yang terjadi bahkan mata mereka menatap Salsa dengan jejak kebencian yang tersisa, Liam yang mendengar ancaman Salsa sedikit terkejut namun ia kemudian tertawa terbahak bahak. Ia meremehkannya, ia
Salsa baru saja hendak melangkah ke dalam lift, ketika ia mendengar pembicaraan ayahnya dan pria yang disapanya sebagai Paman Akas tersebut."Kudengar lima tahun yang lalu, kamu menikah di luar negeri? Bagaimana hubunganmu dengan istrimu? Kamu bahkan tidak mengundangku datang ke pesta pernikahanmu.
"Lalu, ini adalah putriku, Salsa!" Lanjut Henry memperkenalkan Salsa pada Akas. Sudut bibir Salsa berkedut mendengarnya, ia tersenyum sambil menatap Akas sementara Akas juga tersenyum dan menyapa. "Hallo, Salsa." Suara berat yang khas penuh dengan pesona membuat Salsa merasa candu. Untuk sejenak ba







