LOGINEvelyn menghindari bar dan pesanku selama dua hari, yang seharusnya bisa kami gunakan untuk bercinta. Aku perlu menguasai keterampilan hidup yang penting ini karena melakukannya sendirian itu … kesepian.
Aku tidak sabar untuk berbicara dengannya, dan karena aku libur dari Depot Bangunan, aku mengirim pesan kepada Evelyn, menanyakan apakah dia ada di kantor ibuku. Yang mengejutkan, dia menjawab bahwa ibuku mengizinkannya pulang lebih awal, dan dia berada di bar bersama Bondan, Ca
POV EvelynAku tertawa agak bingung.“Ramalan cuaca tadi sangat ekstrem.”“Ya.” Dia kembali mengacak-acak rambutnya dengan desahan yang lebih berat.Bingung, aku pergi ke lemari dan mengambil syal merah mudaku.Juna menatapku lagi dengan tatapan tajam, seolah-olah dia ingin aku membaca pikirannya. Mungkin berhubungan dengan esek. Saat aku menyampirkan syal di bahuku, dia mengejutkanku ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan gairah tiba-tiba yang hampir membuatku terjatuh. Tangannya menyentuh wajahku, memegang pipiku seolah dia tidak ingin aku menjauh. Aku menciumnya tapi segera mengakhirinya, benci harus bekerja. Aku lebih suka berbaring di tempat tidur bersamanya sepanjang hari, meskipun hanya menonton TV atau mendengarkan musiknya yang aneh.Atau membicarakan apa yang baru saja terjadi.Kami mengerutkan kening, tetapi alih-alih mengatakan lebih banyak, dia berg
POV EvelynSetelah mandi, Juna dan aku menyingkirkan selimut basah ke ujung tempat tidur, dan aku tertidur sambil memeluknya. Tapi kemudian kami menyadari bahwa kami berdua tidur lasak dan akhirnya berbaring di ujung yang berlawanan, terentang.Setidaknya dia punya tempat tidur ukuran queen.Setelah selesai bersiap-siap untuk bekerja, aku turun ke bawah, merapikan gaun hitamku dengan garis-garis putih di sisinya, dan meskipun tidak ada alasan, Juna menungguku di sofa. Juna menatapku, dan mulutnya ternganga. Aku tersenyum."Kamu tidak perlu menunggu.""Aku yang mau, kok. Kau akan bekerja dengan penampilan seperti itu?""Apa yang salah dengan itu?""Kau terlihat … cantik." Dia duduk kembali, dan tangannya menyentuh selangkangannya, menggosok benjolan yang mulai membesar.Aku menyeringai sambil bergegas ke dapur untuk mengambil makan siangku nanti.Ketika aku kembali ke ruang t
Evelyn menunduk dan menciumku. Bibirnya membangkitkan hasratku padanya, dan aku meraih pantatnya untuk mendorongnya mengambilku. Evelyn duduk dan mengibaskan rambutnya ke sisi lain, dan aku tak bisa mengalihkan pandangan saat dia meraih manukku dan memasukkannya ke celah celana dalamnya. Aku melihatnya menembus rambut pirangnya, lalu dia mengangkatnya dan melakukannya lagi, hanya ujungnya saja.“Sayang, seluruh diriku.”“Aku sedang berusaha.” Dia menunduk, dan kami melihat mekinya menggesek ereksiku. Akhirnya dia memasukkanku lebih dalam ke dalam dirinya. Saat aku sepenuhnya masuk, dia menutupi wajahnya dengan tangan dan terisak.Jancuk.Aku duduk dengan siku dan menarik satu tanganku. “Ada apa?”“Semua yang telah kau lalui, bahkan denganku, dan kau mempercayaiku untuk berada di atasmu.”Aku mengusap air matanya di pipinya ketika dia menurunkan tangan satunya.“Aku butuh ini karena
Buljem pirangnya sangat menggoda, dan aku menurunkan celana jins dan pakaian dalamku, dan manukku menegang.Evelyn meliriknya dan menarik napas dengan keras. “Sial, sayang. Apakah itu untukku?”“Itu milikmu, Evelyn.”“Apa yang akan kamu lakukan padaku dengan itu?” Dia menggigit bibirnya, dan kurasa pipinya semakin merah.Aku membuka laci meja samping tempat tidurku untuk mengambil kondom dan meletakkannya di atas. Kemudian aku mendekatkan jarak di antara kami. Meskipun manukku menjadi penghalang, aku menyelipkan tanganku ke rambutnya saat dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Serius, seksi, dan intens.Aku berbisik, “Mari bercinta.”Mata Evelyn berkedip cepat dan menatap seluruh wajahku. Aku menariknya ke tempat tidur, dan dia berbaring di sisi tempat aku biasanya tidur.Bantalku akan berbau seperti rambutnya, dan kalau aku beruntung, tempat tidurku akan berb
Evelyn terkikik, dan ketika aku berhenti di lampu merah di jalan yang relatif sepi, aku terkejut ketika dia meraih gesper sabukku. Karena dia berada di posisi yang aneh di atas konsol, aku membukanya, tidak yakin mengapa karena rumah mamaku tidak jauh.Namun, Evelyn membuka kancingnya dan menarik resletingnya. Meraih ke dalam celana dalamku, dia menarikku keluar dan menggesekkan jarinya di atas batangku, yang sangat menginginkan sentuhan Evelyn. Aku suka merasakan sentuhannya padaku.Ketika lampu hijau menyala, aku meletakkan tanganku di atas tangannya saat dia membelaiku. Bukannya menghentikannya, aku hanya memegang tangannya seperti yang dia lakukan saat kami meraba-raba mekinya bersama di ruang penyimpanan di kantor mamaku. Ya Tuhan, itu sangat seksi.Dia bergerak sedikit lebih cepat, sambil membawa tanganku bersamanya, dan aku mengerang, "Cuk. Kau harus berhenti.""Kenapa begitu?"Evelyn menggeser ibu jarinya di atas ujung batangku yang basah.
Aku menjilat bibirku sambil memperhatikan mobil-mobil yang meninggalkan tempat parkir.“Menurutmu, bisakah kita melakukannya lagi?”“Kamu sudah punya janji kencan Sabtu malam.”“Dia mengirimiku pesan dari liburannya untuk mengatakan dia mendapatkan tiket untuk acara musik. Semoga tidak seperti festival pengupas singkong yang Fiona ajak aku datangi.” Aku tertawa, tapi kemudian wajah Evelyn berubah sedih, dan itu adalah hal paling menyedihkan yang pernah kulihat.“Oh.”“Dia kebanyakan mengirimiku foto pantai, matahari terbenam, dan minuman. Itu saja.”Evelyn mengangguk, tapi matanya tetap kosong.Aku meletakkan tanganku di lengan atasnya. “Aku tidak akan pergi. Aku bahkan tidak mau.”Itu benar. Ketika Evelyn mulai bekerja di bar, aku tahu aku sudah tamat, dan aku membatalkan kencanku dengan Kleo. Itu sebelum aku kabur dan menikah. Aku merasa bersalah sekarang
Ruang ganti berkarpet di bagian loker sementara marmer membentuk bagian kamar mandi.Ya Tuhan. Kamar mandinya saja lebih besar dari apartemenku.Saat berganti pakaian, aku menghindari tatapan mesum orang-orang yang berkeliaran di ruang ganti dengan melompat dari satu lorong loker ko
Evelyn menjawab, “Sejauh ini gak, kok. Dia gadis yang manis. Benar kan, Juna?”“Aku baru bertemu dengannya.”Para wanita tertawa sementara Willy beralih dari menatapku tajam menjadi mengabaikanku.Evelyn berkata, “Aku juga, tapi aku sudah tahu pu
Setelah berhenti sebentar di toilet, aku menuju ke double cabin-ku, tahu bahwa aku harus menghadapi kemacetan lalu lintas saat jam makan siang. Semua ini demi French Roast Chicken Poulet, yang bahkan sepadan dengan penderitaan karena Evelyn.Aku memarkir mobil di pinggir restoran dan masuk
“Sepertinya kau berhasil melewati malam pertama, Juna. Bagaimana hasilnya?”Aku terus menatap layar komputerku, belum sepenuhnya terjaga. Lagipula, menghindari wajah Bondan adalah ambisiku pagi ini.“Hebat.”Sebenarnya itu benar. Aku bangun bersama Tun







