Kembali ke meja, Harum meraih ke lemari bagian atas. Bahkan di titik terendah sekali pun, aku langsung menatap pantatnya. Bukan pantatku yang harus kukagumi. Itu pantatnya.Suaminya boleh meraba-raba sesuka hatinya, dan aku harus ingat aku yang mendorong dia ke sana.Namun, aku tidak bisa menahan diri kala hasratku muncul. Sebelum dia berbalik, aku memasukkan tanganku ke saku. Sambil memegang cangkir SpongeBob favoritku, dia menuju mesin kopi, tetapi aku menuju pintu.“Aku sedang tidak mood sekarang. Aku ada pertemuan dengan Bondet. Sampai jumpa nanti.”“Kamu akan latihan softball setelah jam kerja, kan?”Berhenti, aku membuat ekspresi wajah, tapi tetap menghindari kontak mata.“Kenapa tidak? Ini latihan terakhir kita.”Dari sudut mataku, aku melihatnya mengangkat bahu, jadi aku menoleh.“Hanya memastikan.” Harum tersenyum, membuatku ikut tersenyum.Melihat ke arah pintu di belakangku, dia berbisik, “Jangan biarkan dia mempengaruhimu. Aku tahu kamu sedang berusaha.”“Tidak cukup keras
Terakhir Diperbarui : 2026-01-26 Baca selengkapnya