INICIAR SESIÓNDia jelas bisa lebih baik dalam hal berpakaian, mengingat dia seorang pengacara.
Bondan menutupi kepalanya yang botak dengan bandana bermotif paisley di waktu luangnya, dan meninggalkan Range Rover-nya di rumah, mengendarai sepeda motor.
Mungkin Harley, tapi aku tidak begitu tahu merek motor selain itu. Bisa jadi Schwinn, atau Kawasaki.
Siapa tahu.
Aku melihat kentang rebus, lumpia rebung, roti gandum, dan siomay jamur. Dan itu baru makanan pembuka.
Ini jam 10:00 pagi, demi Tuhan.
Setiap kali dia ingin aku duduk di seberangnya di mejanya, Bondan selalu memesan hampir seluruh menu di Loving Live, sebuah toko makanan vegetarian, karena aku ‘Budha’—setengah Budha dari pihak ibuku.
Dengan alasan itu dia langsung berpikir bahwa aku penganut Budha dan hanya makan makanan vegetarian. Padahal, aku hampir tidak makan yang dia pesan seperti manusia pada umumnya.
Lagipula, si bodoh itu tidak mempertimbangkan semua itu ketika dia melihatku makan kentang goreng ayam dan keju atau pizza pepperoni dan sosis terus-menerus—minum susu. Belum lagi makan daging babi.
Selain itu, Bondan selalu mengingatkanku tentang hari raya Budha yang akan datang. Kurasa dia memasang peringatan G****e hanya untuk itu.
Siakek. Dasar arek gendeng.
Ini makanan gratis, jadi aku tidak membantah. Mengambil tuna sandwich favoritku punya Bondan yang berada di sebelah sandwich gandum jamur, aku menggelengkan kepala sambil duduk. Dia menutup teleponnya sementara aku menggigit, membiarkan mentimun dan tomat menggantung di mulutku seperti bangkai.
Sebagai seorang pengendara motor sejati, dia meringis, melemparkan tisu ke arahku. "Beradaptasilah sedikit, Gatheli."
Aku menyeruputnya dengan gerakan yang brilian yang membuat wajahnya berkerut seperti kertas timah diremas.
"Sudah lama hilang." Itu benar. Aku tidak punya pilihan dalam hal ini.
"Aku tidak akan membantah itu."
Ketika aku mengambil gigitan ekstra besar lainnya, dia berdiri dan pergi ke pintu, menutupnya, yang mengirimkan peringatan ke seluruh pikiranku. Aku selalu memastikan untuk tidak pernah berada di ruangan tertutup sendirian dengan Bondan Amaroso. Tidak ada saksi.
Kehilangan nafsu makan, aku menjatuhkan sandwichku ke pembungkusnya, memperhatikannya memasukkan tangan gemuknya ke dalam celana Dockers-nya—pilihan mode yang kurang tepat—berjalan santai kembali ke sisi mejanya yang besar. Dia menggoyang-goyangkan uang receh yang selalu ada di sakunya.
Siapa sih yang masih membawa uang receh di saku zaman sekarang ini?
Bondan tidak pernah membeli apa pun dari mesin penjual otomatis.
Apakah celengan babinya kabur? Apakah dia mengharapkan bansos? Apakah dia kepingin ngamen solo?
Aku butuh jawaban.
Dia kembali ke singgasana kulit merahnya, mengeluarkan bunyi kentut yang keras.
Biasanya, itu membuatku tertawa, dan dia harus berteriak padaku selama sepuluh menit untuk menenangkan diri. Tapi seperti kata Phil Collins, “I Can Feel It Coming in the Air.”
Oh, sial. Aku harus pergi.
Sambil mengambil serbet, aku melihat ke jendelanya. “Terima kasih atas makanannya, tapi—”
“Kita bahkan belum mulai.”
“Oh. Benar. Apa—”
Aku duduk kembali, gelisah. Tanganku memegang rambutku, tanganku memegang pahaku, tanganku memegang daguku.
Aku bahkan akan memegang manukku kalau itu bisa membantuku rileks, tapi jelas tidak dalam kasus ini atau di depan penonton ini.
Dia akan menikmatinya.
Bondan menatap ke arah pintu di atas kepalaku, lalu kembali menatapku. Mulutnya terkatup rapat, satu-satunya hal yang lurus darinya.
Setiap orang punya selera masing-masing, hanya saja bukan seleraku. Aku tidak terlahir seperti itu.
"Hai."
Aku mendongak dari tatapanku ke mejanya, baru menyadari aku sedang melakukannya.
"Tentu saja."
"Tentu saja apa? Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Apakah karena bayinya?"
Aku berdehem, dan tanganku kembali ke rahangku. "Uh, um... Mungkin. Ya."
Kebanyakan, aku memikirkan rencana Bondan untukku di ruangan ini sendirian. Kalau dia mengeluarkan pisau, aku akan benar-benar berteriak lebih keras daripada bayi mana pun.
"Bagaimana kabarnya?"
Anehnya, aku mengatakan yang sebenarnya kepada Bondan.
"Aku sudah lama tidak melihatnya." Setelah mengatakannya dengan lantang, aku merasa lebih buruk karenanya.
Dia menghela napas, duduk kembali, berdecak dan menggenggam tangannya di perutnya yang membuncit karena Harley—Selis—nya.
Terserah.
“Kenapa tidak? Kamu takut?”
Aku langsung mengangguk sebelum sempat menahan diri, dan lebih buruk lagi, berkata, “Bodoh sekali.”
“Aku sudah menduga. Itu mengejutkan. Itu mengejutkan semua orang di sini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu.”
Tetap berada di jalur moralitas ini, aku meluncur ke jalan keluar, mengakui.
“Bagaimana perasaanku? Aku merasa bodoh, Bos. Aku bahkan tidak bisa memperbaiki kesalahan ini.”
Aku butuh cedera kepala parah untuk membungkam moncongku.
“Aku bisa melihat kamu sedang mengalami masalah. Dengan meninggalnya mbakyumu tahun lalu, kehamilan yang tak disangka, dan dengan...”
Dia menyipitkan mata ke arahku lalu ke kentang rebus di mejanya. “Yah, aku tahu kau sedang mengalami masa sulit akhir-akhir ini.”
Jancoeg.
Kalau saja menjual jiwaku kepada Setan bisa membuat Bondan diam.
“Terserah.” Aku tidak bisa berdebat dengannya. Aku tidak tahu apakah aku akan diam.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Aku memukul sandaran kursi pelan, bersyukur atas pergantian topik.
“Itulah kenapa aku di sini, kan? Kasus Wonotejo—”
Dia langsung memotong pembicaraan dengan lambaian tangannya, membuatku seperti orang yang kehilangan semangat, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Bukan. Bukan itu. Aku menugaskan Ganendra.”
“Tapi…”
Aku menjatuhkan kakiku ke lantai, hampir bersamaan dengan sandwichku. “Kenapa? Aku sudah mengerjakannya selama berbulan-bulan.”
“Karena kamu perlu fokus pada tugas lain.”
Sialan. Kalau dia pikir aku akan gagal—
“PKPA.”
Pendidikan Khusus Profesi Advokat.
Aku menghela napas lega, melempar tisuku ke mejanya dan ke lantai.
Alis Bondan membentuk huruf V yang menopang kepalanya yang bulat. Mengambil tisu yang berserakan di mejanya, dia bertanya,
“Kenapa kamu belum menerima tawaranku untuk jadi sponsoru? Kamu ingin menjadi pengacara. Sudah daftar ikut UPA?”
“Uh...” Aku mengangkat bahu sambil kakiku mulai bergoyang. “Aku batalkan.”
“Kenapa? Dan jangan bilang itu soal uang. Asalkan kamu kuliah di fakultas hukum yang terakreditasi Unggul dan bukan universitas ruko, kami akan membayarnya.”
“Lupakan saja. Aku tidak punya waktu untuk kuliah.”
“Aku baru saja mengosongkan jadwalmu.”
“Serius? Itu sebabnya kamu ngasih kasus itu ke Genderuwo?”
“Serius? Kamu khawatir kasus itu?”
“Jangan mengejekku, Bondan. Aku punya anak.”
“Jadi? Alexis juga melakukannya. Suami pertamanya ditugaskan ke luar negeri, dan dia punya dua anak saat itu.”
“Aku bukan Alexis. Wanita itu berasal dari dunia mistis manusia super. Aku hanya dari Pare, Kediri. Sama sekali tidak ada sihirnya.”
Bos Harum adalah yang bos sebenarnya. Alexis Zee adalah Wonder Woman yang asli.
Bondan dengan sabar menungguku berhenti tertawa. Setelah aku berhenti, aku berkata, “Jancuk. Kita semua mengenalnya. Kamu ngomong seolah-olah aku tidak tahu dia menikah dengannya. Aku ada di sana. Aku yang mengantarnya di pernikahannya.”Itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan, selain membawa bajingan itu kembali ke Surabaya untuk Harum. Dan aku bahkan harus mengubur adikku.Dia menghela napas, membuat kursinya berderit, setidaknya membuatku berkedip lagi.“Ada sesuatu yang berubah. Waktu Harum patah hati berat, sepertinya kamu semakin dekat dengannya. Tapi kemudian kalian berdua bertengkar. Kami semua tahu tentang itu di sini. Beberapa rekan kerjamu mendengar kamu bertengkar dengan Harum di meja resepsionis.”Oh, ya. Benar. Ketika aku menuduhnya membeli sepatu obral sementara dia menyesal pernah ingin berhubungan intim denganku.Itu masih menyakitkan.“Astaga. Aku penasaran siapa.”Vindy dan Betty adalah wanita-wanita paling menyebalkan di sini sekarang setelah Melan
“Aku tidak terima alasan apapun. Ujian Profesi Advokat cuma tiga kali setahun. Sekarang sudah Oktober. Apakah kamu siap untuk ujian bulan ini? Kalau tidak, masih ada April dan Agustus. Aku punya materi yang bisa kamu pelajari. Setelah lulus, kamu bisa mendaftar untuk magister. Fakultas Hukum Universitas Petra bagus dan dekat. Aku akan merekomendasikan Unmer—almamaterku—kalau saja jaraknya tidak dua jam lebih.”“Unmer? Di mana? Merak?”Dia menghela napas, dan aku melihat dahinya meneteskan peluh lebih banyak daripada pancuranku setelah aku mematikan air.“Aku serius tentang masa depanmu.”Aku balas menghela napas, butuh mandi hanya karena melihatnya.“Aku juga, Bondan. Bondan saja.”“Kenapa? Kamu belum memberi alasan yang valid. Yang kudengar hanyalah alasan. Kuliah hukum itu gratis. Bahkan buku teksmu pun gratis.”Karena aku tidak berkomentar, Bondan maju ke depan, meletakkan sikunya di atas meja. Dia diam, jadi aku mendongak untuk melihatnya menatapku.“Ada apa?”“Kamu takut tidak ak
Dia jelas bisa lebih baik dalam hal berpakaian, mengingat dia seorang pengacara.Bondan menutupi kepalanya yang botak dengan bandana bermotif paisley di waktu luangnya, dan meninggalkan Range Rover-nya di rumah, mengendarai sepeda motor.Mungkin Harley, tapi aku tidak begitu tahu merek motor selain itu. Bisa jadi Schwinn, atau Kawasaki.Siapa tahu.Aku melihat kentang rebus, lumpia rebung, roti gandum, dan siomay jamur. Dan itu baru makanan pembuka.Ini jam 10:00 pagi, demi Tuhan.Setiap kali dia ingin aku duduk di seberangnya di mejanya, Bondan selalu memesan hampir seluruh menu di Loving Live, sebuah toko makanan vegetarian, karena aku ‘Budha’—setengah Budha dari pihak ibuku.Dengan alasan itu dia langsung berpikir bahwa aku penganut Budha dan hanya makan makanan vegetarian. Padahal, aku hampir tidak makan yang dia pesan seperti manusia pada umumnya.Lagipula, si bodoh itu tidak mempertimbangkan semua itu ketika dia melihatku makan kentang goreng ayam dan keju atau pizza pepperoni d
Kembali ke meja, Harum meraih ke lemari bagian atas. Bahkan di titik terendah sekali pun, aku langsung menatap pantatnya. Bukan pantatku yang harus kukagumi. Itu pantatnya.Suaminya boleh meraba-raba sesuka hatinya, dan aku harus ingat aku yang mendorong dia ke sana.Namun, aku tidak bisa menahan diri kala hasratku muncul. Sebelum dia berbalik, aku memasukkan tanganku ke saku. Sambil memegang cangkir SpongeBob favoritku, dia menuju mesin kopi, tetapi aku menuju pintu.“Aku sedang tidak mood sekarang. Aku ada pertemuan dengan Bondet. Sampai jumpa nanti.”“Kamu akan latihan softball setelah jam kerja, kan?”Berhenti, aku membuat ekspresi wajah, tapi tetap menghindari kontak mata.“Kenapa tidak? Ini latihan terakhir kita.”Dari sudut mataku, aku melihatnya mengangkat bahu, jadi aku menoleh.“Hanya memastikan.” Harum tersenyum, membuatku ikut tersenyum.Melihat ke arah pintu di belakangku, dia berbisik, “Jangan biarkan dia mempengaruhimu. Aku tahu kamu sedang berusaha.”“Tidak cukup keras
Meskipun aku sering bermimpi tidur dengan Vindy, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan intim dengannya. Terlalu banyak komplikasi.Pertama, dia sama tidak berharganya seperti sepatu bayi yang baru lahir. Aku hanya menginginkan satu wanita, tapi aku tidak bisa memilikinya karena beberapa alasan, bahkan ketika ada kesempatan di depan mata.Jadi, Vindy adalah pelarian yang diperlukan dari rasa sakit yang terus-menerus. Aku hanya bisa bertahan beberapa kali sebelum akhirnya patah semangat.Dan memang aku patah semangat.Jadi, aku mengambil jalan buntu karena putus asa.Aku pergi ke rumah Vindy. Lebih tepatnya sarang pelacur, karena mengetahui bahwa dia dan ibunya sama-sama perempuan murahan.***Oktober lalu, dia membukakan pintu dengan kemeja tanpa lengan dan celana pendek ketat yang dulunya celana olahraga.“Gatheli, apa yang kamu lakukan di sini?”Aku ingin lari. Aku ingin bukan dia. Aku ingin menjadi bukan diriku. Si pecundang abadi. “Aku … aku cuma … Bisakah kita…? Kamu bilang….”
Malam itu di tempat parkir, Harum duduk di mobil double cabin-ku dengan pintu terbuka. Aku berdiri di dekat kakinya, diam-diam memohon padanya untuk menginginkanku seperti dia menginginkan Gaatheli.Tapi jauh di lubuk hati, meskipun mereka telah putus, aku tahu Harum tidak akan pernah menginginkannya. Tapi kalau dia ingin kami menjadi pasangan, aku akan puas dengan posisi kedua.Sebelum aku bisa menahan diri, aku mengambil kesempatan itu. Aku mendekat dan menciumnya. Dia bukan lagi sekadar khayalan.Bibirnya memohon agar bibirku menciumnya lebih cepat. Lebih keras. Dan sialnya, aku melakukannya.Aku tak bisa menahan diri ketika tanganku menyentuh kakinya, menyentuh kulitnya yang lembut dan terbuka. Ketika dia membuka kakinya dan roknya, menarikku lebih dekat, aku hampir kehilangan akal sehat dan muncrat.Aku lebih tegang dari biasanya, saat merancap sambil melihat fotonya di ponselku, yang baru-baru ini mulai kulakukan. Maksudku, aku sering memikirkan Harum, tapi aku belum pernah samp







