Share

BAB 6

Author: Rayhan Rawidh
last update publish date: 2026-01-26 23:25:27

Dia jelas bisa lebih baik dalam hal berpakaian, mengingat dia seorang pengacara.

Bondan menutupi kepalanya yang botak dengan bandana bermotif paisley di waktu luangnya, dan meninggalkan Range Rover-nya di rumah, mengendarai sepeda motor.

Mungkin Harley, tapi aku tidak begitu tahu merek motor selain itu. Bisa jadi Schwinn, atau Kawasaki.

Siapa tahu.

Aku melihat kentang rebus, lumpia rebung, roti gandum, dan siomay jamur. Dan itu baru makanan pembuka.

Ini jam 10:00 pagi, demi Tuhan.

Setiap kali dia ingin aku duduk di seberangnya di mejanya, Bondan selalu memesan hampir seluruh menu di Loving Live, sebuah toko makanan vegetarian, karena aku ‘Budha’—setengah Budha dari pihak ibuku.

Dengan alasan itu dia langsung berpikir bahwa aku penganut Budha dan hanya makan makanan vegetarian. Padahal, aku hampir tidak makan yang dia pesan seperti manusia pada umumnya.

Lagipula, si bodoh itu tidak mempertimbangkan semua itu ketika dia melihatku makan kentang goreng ayam dan keju atau pizza pepperoni dan sosis terus-menerus—minum susu. Belum lagi makan daging babi.

Selain itu, Bondan selalu mengingatkanku tentang hari raya Budha yang akan datang. Kurasa dia memasang peringatan G****e hanya untuk itu.

Siakek. Dasar arek gendeng.

Ini makanan gratis, jadi aku tidak membantah. Mengambil tuna sandwich favoritku punya Bondan yang berada di sebelah sandwich gandum jamur, aku menggelengkan kepala sambil duduk. Dia menutup teleponnya sementara aku menggigit, membiarkan mentimun dan tomat menggantung di mulutku seperti bangkai.

Sebagai seorang pengendara motor sejati, dia meringis, melemparkan tisu ke arahku. "Beradaptasilah sedikit, Gatheli."

Aku menyeruputnya dengan gerakan yang brilian yang membuat wajahnya berkerut seperti kertas timah diremas.

"Sudah lama hilang." Itu benar. Aku tidak punya pilihan dalam hal ini.

"Aku tidak akan membantah itu."

Ketika aku mengambil gigitan ekstra besar lainnya, dia berdiri dan pergi ke pintu, menutupnya, yang mengirimkan peringatan ke seluruh pikiranku. Aku selalu memastikan untuk tidak pernah berada di ruangan tertutup sendirian dengan Bondan Amaroso. Tidak ada saksi.

Kehilangan nafsu makan, aku menjatuhkan sandwichku ke pembungkusnya, memperhatikannya memasukkan tangan gemuknya ke dalam celana Dockers-nya—pilihan mode yang kurang tepat—berjalan santai kembali ke sisi mejanya yang besar. Dia menggoyang-goyangkan uang receh yang selalu ada di sakunya.

Siapa sih yang masih membawa uang receh di saku zaman sekarang ini?

Bondan tidak pernah membeli apa pun dari mesin penjual otomatis.

Apakah celengan babinya kabur? Apakah dia mengharapkan bansos? Apakah dia kepingin ngamen solo?

Aku butuh jawaban.

Dia kembali ke singgasana kulit merahnya, mengeluarkan bunyi kentut yang keras.

Biasanya, itu membuatku tertawa, dan dia harus berteriak padaku selama sepuluh menit untuk menenangkan diri.  Tapi seperti kata Phil Collins, “I Can Feel It Coming in the Air.”

Oh, sial. Aku harus pergi.

Sambil mengambil serbet, aku melihat ke jendelanya. “Terima kasih atas makanannya, tapi—”

“Kita bahkan belum mulai.”

“Oh. Benar. Apa—”

Aku duduk kembali, gelisah. Tanganku memegang rambutku, tanganku memegang pahaku, tanganku memegang daguku.

Aku bahkan akan memegang manukku kalau itu bisa membantuku rileks, tapi jelas tidak dalam kasus ini atau di depan penonton ini.

Dia akan menikmatinya.

Bondan menatap ke arah pintu di atas kepalaku, lalu kembali menatapku. Mulutnya terkatup rapat, satu-satunya hal yang lurus darinya.

Setiap orang punya selera masing-masing, hanya saja bukan seleraku. Aku tidak terlahir seperti itu.

"Hai."

Aku mendongak dari tatapanku ke mejanya, baru menyadari aku sedang melakukannya.

"Tentu saja."

"Tentu saja apa? Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Apakah karena bayinya?"

Aku berdehem, dan tanganku kembali ke rahangku. "Uh, um... Mungkin. Ya."

Kebanyakan, aku memikirkan rencana Bondan untukku di ruangan ini sendirian. Kalau dia mengeluarkan pisau, aku akan benar-benar berteriak lebih keras daripada bayi mana pun.

"Bagaimana kabarnya?"

Anehnya, aku mengatakan yang sebenarnya kepada Bondan.

"Aku sudah lama tidak melihatnya." Setelah mengatakannya dengan lantang, aku merasa lebih buruk karenanya.

Dia menghela napas, duduk kembali, berdecak dan menggenggam tangannya di perutnya yang membuncit karena Harley—Selis—nya.

Terserah.

“Kenapa tidak? Kamu takut?”

Aku langsung mengangguk sebelum sempat menahan diri, dan lebih buruk lagi, berkata, “Bodoh sekali.”

“Aku sudah menduga. Itu mengejutkan. Itu mengejutkan semua orang di sini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu.”

Tetap berada di jalur moralitas ini, aku meluncur ke jalan keluar, mengakui.

“Bagaimana perasaanku? Aku merasa bodoh, Bos. Aku bahkan tidak bisa memperbaiki kesalahan ini.”

Aku butuh cedera kepala parah untuk membungkam moncongku.

“Aku bisa melihat kamu sedang mengalami masalah. Dengan meninggalnya mbakyumu tahun lalu, kehamilan yang tak disangka, dan dengan...”

Dia menyipitkan mata ke arahku lalu ke kentang rebus di mejanya. “Yah, aku tahu kau sedang mengalami masa sulit akhir-akhir ini.”

Jancoeg.

Kalau saja menjual jiwaku kepada Setan bisa membuat Bondan diam.

“Terserah.” Aku tidak bisa berdebat dengannya. Aku tidak tahu apakah aku akan diam.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

Aku memukul sandaran kursi pelan, bersyukur atas pergantian topik.

“Itulah kenapa aku di sini, kan? Kasus Wonotejo—”

Dia langsung memotong pembicaraan dengan lambaian tangannya, membuatku seperti orang yang kehilangan semangat, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Bukan. Bukan itu. Aku menugaskan Ganendra.”

“Tapi…”

Aku menjatuhkan kakiku ke lantai, hampir bersamaan dengan sandwichku. “Kenapa? Aku sudah mengerjakannya selama berbulan-bulan.”

“Karena kamu perlu fokus pada tugas lain.”

Sialan. Kalau dia pikir aku akan gagal—

“PKPA.”

Pendidikan Khusus Profesi Advokat.

Aku menghela napas lega, melempar tisuku ke mejanya dan ke lantai.

Alis Bondan membentuk huruf V yang menopang kepalanya yang bulat. Mengambil tisu yang berserakan di mejanya, dia bertanya,

“Kenapa kamu belum menerima tawaranku untuk jadi sponsoru? Kamu ingin menjadi pengacara. Sudah daftar ikut UPA?”

“Uh...” Aku mengangkat bahu sambil kakiku mulai bergoyang. “Aku batalkan.”

“Kenapa? Dan jangan bilang itu soal uang. Asalkan kamu kuliah di fakultas hukum yang terakreditasi Unggul dan bukan universitas ruko, kami akan membayarnya.”

“Lupakan saja. Aku tidak punya waktu untuk kuliah.”

“Aku baru saja mengosongkan jadwalmu.”

“Serius? Itu sebabnya kamu ngasih kasus itu ke Genderuwo?”

“Serius? Kamu khawatir kasus itu?”

“Jangan mengejekku, Bondan. Aku punya anak.”

“Jadi? Alexis juga melakukannya. Suami pertamanya ditugaskan ke luar negeri, dan dia punya dua anak saat itu.”

“Aku bukan Alexis. Wanita itu berasal dari dunia mistis manusia super. Aku hanya dari Pare, Kediri. Sama sekali tidak ada sihirnya.”

Bos Harum adalah yang bos sebenarnya. Alexis Zee adalah Wonder Woman yang asli.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 453 (TAMAT)

    “Kami berteman.”Dia meletakkan tangannya di pinggang dan mengangguk ke arah dadaku. “Kau suka Shinedown?”Aku mengangkat bahu dengan kemejaku yang kusut. “Aku jadi menyukainya.”Willy mengerutkan bibir, tahu aku tidak memakainya untuknya. Memakainya membuatku merasa dekat dengan Evelyn.“Aku tidak tahu apa yang kau pikir bisa kulakukan. Kalau kau belum tahu, aku mendukung Evelyn.”“Aku cuma… Sial. Apa yang harus kulakukan? Aku menyerahkan Evelyn ke pelukan Bona Ginting sialan itu! Dia pernah pacaran dan putus dengan Fiona bertahun-tahun lalu demi uang! Fiona pergi karena dia kembali ke sini. Kau lebih suka Evelyn bersama siapa? Bajingan itu atau bajingan ini?” Aku menunjuk dadaku, berharap dia memilihku, demi Tuhan.“Apa-apaan ini?”Dengan wajah berkerut, Willy bersandar di kusen pintu dan melipat tangannya di dada, memamerkan tato kawat berduri yang melin

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 452

    “Dewasa sekali.”Aku mendengar suara TV dan suara kecil Fina bernyanyi bersamanya. Aku tahu Harum tidak akan ada di sini. Aku tidak ingin dia melihatku memohon kepada suaminya untuk menyelamatkan hidupku.Aku menarik napas dalam-dalam, tapi terasa perih. “Dia mengakhiri pernikahan kami.”“Pernikahan palsu. Maksudmu?” Dia mencengkeram kusen pintu seolah itu akan menghentikannya membunuhku.Suaraku tercekat dan terputus-putus. “Ya Tuhan. Itu bukan palsu. Aku menginginkannya.”“Kenapa?” ​​Pertanyaan sederhana itu tidak memiliki jawaban sederhana. Aku memejamkan mata, tak mampu menjawab. Willy berteriak, “Kalau kau menginginkan lebih, kau sama sekali tidak menunjukkannya! Kau mencabut jantungnya!”Jancuk.Keadaan telah berbalik dari hari itu di Dieng ketika dia memohon padaku untuk membantunya merebut kembali Harum setelah Hanum memergoki Neyla sedang menghisa

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 451

    Setelah menyeka air mata dengan lengan bawah, aku meletakkan kacamata hitamku kembali ke tempatnya dan keluar dari mobil. Biasanya tidak terlalu ramai di tempat favoritku untuk berpikir dan menyendiri.Meninggalkan mobilku di jalan sempit, aku berjalan melewati batu nisan menuju bangku batu. Seringkali, aku duduk di dekat orang terkenal dan melontarkan omong kosong kepada para turis. Hari ini, aku memilih makam orang biasa. Seperti makam yang akan kumiliki suatu hari nanti. Hari ini akan menyenangkan.Sambil duduk, aku membuka pesan di ponselku yang selama ini kuhindari. Hanya melihat nama Evelyn saja sudah cukup membuat kepalaku berdenyut, jantungku berdebar kencang, dan gelombang emosi melanda diriku.‘Maafkan aku karena mencintaimu, jUNA. Itu bukan sarkasme. Aku benar-benar menyesal telah membuatmu melewati semua ini. Aku tidak bermaksud jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku tidak menyalahkanmu karena membenciku karena mengiku

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 450

    Suaranya bergetar. “Kmau tidak punya perasaan untukku.”“Ya, aku punya. Kita berteman,” kataku, tahu itu tidak cukup untuknya. Aku tidak tahu apakah aku bisa berkencan dengan teman lagi. Atau siapa pun.Aku terisak dan mengatakan sebagian besar kebenaran padanya. “Kau tidak harus pergi karena Raja.”Dia menghela napas, dan aku mengusap air matanya dengan ibu jariku. “Ya, aku harus,” dia mengulangi apa yang kukatakan. Matanya beralih dari wajahku, dan dia berbisik, “Terlalu sulit untuk tinggal di sini.”Aku mengerutkan kening dan menyeka hidungku dengan punggung tanganku, lalu menarik manukku yang mulai lemas keluar darinya. Cairan itu menetes di karpet, masih dalam perjalanan, menyebarkan benihku ke mana-mana minggu ini.Aku mengulurkan tanganku pada Fiona agar dia bisa duduk. Kami merapikan celana kami dan saat aku mengambil kacamata hitamku dari lantai dan meletakkannya di atas kepalaku,

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 449

    Kami sampai di tepi tempat tidur, dan aku berharap Fiona mau bekerja sama denganku. Kami tidak punya banyak waktu sebelum Bondan mencari kami.Otakku mengatakan kami tidak boleh dan tidak seharusnya melakukan lebih dari itu, sementara hatiku yang mati rasa tidak mengatakan apa-apa. Bagian tubuhku yang lain juga tidak peduli.Jancuk. Bahkan hatiku yang mabuk menginginkan lebih dari segalanya.Aku bersandar padanya sehingga dia harus duduk di tempat tidur lalu berbaring. Aku menarik celananya sejauh yang aku bisa sebelum aku harus mengakhiri ciuman kami. Dengan tergesa-gesa, aku berjongkok untuk menarik satu sepatu dan satu kaki celananya.Berdiri di depan Fie, yang hampir setengah buligir di tempat tidur yang juga buligir, aku membuka kancing celanaku. Saat aku mencondongkan tubuh ke arahnya, aku tidak bisa menahan diri untuk menciumnya lagi. Mengejutkanku saat aku menjilat mulutnya, tangan Fiona meraih resleting celanaku. Gerakan zig-zag di manukku membua

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 448

    “Aku salah! Nggak kaget. Tapi aku nggak memaksa dia melakukan apa pun.”“Tapi kau tahu dia akan melakukan apa saja.”Aku menggaruk daguku, tak mampu membantah tanpa terdengar seperti orang yang sangat menyebalkan. “Bukan berarti kami akan menikah. Kami berteman. Terkadang teman melakukan hal-hal bodoh saat mabuk.”“Jun, jangan meremehkan apa yang kau lakukan dengan Fiona. Aku akan mengungkapkan bahwa ini tidak mudah baginya.”“Dia kesal?”Bondan tidak menjawab, tapi tatapan matanya yang tajam sudah cukup menjelaskan. “Bisakah aku berbicara dengannya sebelum kau pergi?”Dia mengangguk. “Aku lebih suka begitu.”Aku bergumam, “Jancuk,” sebelum berjalan melewati pintu dengan desah dan mengangkat kacamata hitamku.Sofa dan kursi usang di ruang tamu mungkin sudah ada sejak tempat ini berdiri. Dindingnya polos, tapi aku tidak tahu a

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 11

    Tapi keadaan berubah. Di kamar hotel, aku tahu Harum masih hancur, sama sepertiku.Tapi segera terungkap—atau mungkin aku salah mengira—bahwa satu-satunya yang bisa memperbaiki Harum adalah pria pemberani itu. Kalau Harum tidak menginginkanku, maka dialah satu-satunya pria yang bisa kuterima untuk

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 10

    Dari jendela, aku melihat mobil-mobil memasuki jalan tol Gempol.Aku mengangkat bahu dengan setengah hati. Itu satu-satunya respons yang bisa kulakukan.“Jun, aku...”Aku tertawa lagi, terkejut melihat mulutku bergerak dalam pantulan bayanganku di kaca jendela yan

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 7

    “Aku tidak terima alasan apapun. Ujian Profesi Advokat cuma tiga kali setahun. Sekarang sudah Oktober. Apakah kamu siap untuk ujian bulan ini? Kalau tidak, masih ada April dan Agustus. Aku punya materi yang bisa kamu pelajari. Setelah lulus, kamu bisa mendaftar untuk magister. Fakultas Hukum Univer

  • Jadilah Pria Kencang Kendor   BAB 5

    Kembali ke meja, Harum meraih ke lemari bagian atas. Bahkan di titik terendah sekali pun, aku langsung menatap pantatnya. Bukan pantatku yang harus kukagumi. Itu pantatnya.Suaminya boleh meraba-raba sesuka hatinya, dan aku harus ingat aku yang mendorong dia ke sana.Namun, aku tidak bisa menahan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status