INICIAR SESIÓNMeskipun aku sering bermimpi tidur dengan Vindy, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan intim dengannya. Terlalu banyak komplikasi.
Pertama, dia sama tidak berharganya seperti sepatu bayi yang baru lahir. Aku hanya menginginkan satu wanita, tapi aku tidak bisa memilikinya karena beberapa alasan, bahkan ketika ada kesempatan di depan mata.
Jadi, Vindy adalah pelarian yang diperlukan dari rasa sakit yang terus-menerus. Aku hanya bisa bertahan beberapa kali sebelum akhirnya patah semangat.
Dan memang aku patah semangat.
Jadi, aku mengambil jalan buntu karena putus asa.
Aku pergi ke rumah Vindy. Lebih tepatnya sarang pelacur, karena mengetahui bahwa dia dan ibunya sama-sama perempuan murahan.
***
Oktober lalu, dia membukakan pintu dengan kemeja tanpa lengan dan celana pendek ketat yang dulunya celana olahraga.
“Gatheli, apa yang kamu lakukan di sini?”
Aku ingin lari.
Aku ingin bukan dia.
Aku ingin menjadi bukan diriku. Si pecundang abadi.
“Aku … aku cuma … Bisakah kita…? Kamu bilang….”
Aku melihat ke jalan, berharap melihat Malaikat Maut, tapi dia mungkin menertawakanku.
Semua orang juga begitu.
Vindy mengusap bagian depan kemeja Calvin Klein lavender-ku, karena belum pulang setelah mengunjungi Harum di rumah sakit.
Aku benar-benar kacau. Aku menatap Vindy, dan dia menyeringai puas, bertanya, “Kau ingin bercinta denganku, kan?”
Bukan dia yang ingin kulihat saat itu.
“Mungkin aku tidak … kurasa….”
Tanpa terlalu memikirkan hal itu lagi, aku membentak, “Jancuk. Boleh? Aku cuma—”
Dia tertawa dan mengibaskan rambut panjangnya, mengenai wajahku, tapi aku tidak tersentak.
“Lama sekali kamu datang. Aku kira kamu akan menembakku setelah pesta Halloween Malam Minggu, tapi—”
“Aku tidak mau membicarakan itu.”
Atau dia.
Vindy mengangguk sambil matanya menatap tubuhku, membuatku menyesal telah datang.
“Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai.”
***
Menatap Harum, Vindy berkata, “Kuharap bapak bayimu melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada bapak bayiku. Bapak bayiku lebih mengkhawatirkan baju mahalnya daripada mengkhawatirkan anaknya.”
Kebenaran itu menyakitkan di setiap tingkatan yang bisa dibayangkan.
Aku memang berpakaian bagus dan sudah sejak mulai bekerja di sini. Aku menghabiskan sebagian besar gajiku untuk pakaian dan sepatu.
Itu membuatku merasa lebih penting daripada diriku yang sebenarnya. Itu memberi kesan tertentu, meskipun palsu.
Ini lebih dari sekadar pakaian. Ini hampir seperti pernyataan status.
Aku bukan orang miskin dari Kota Pare ketika aku bekerja. Di sini, aku Arjuna Galih S.H, seorang paralegal yang sukses. Seseorang, meskipun itu semua hanya ada di kepalaku.
Konsep dangkal itu adalah penambah kepercayaan diri yang kubutuhkan untuk menjalani hariku.
Selain Harum.
Sebagian besar.
Harum menyilangkan tangannya, menilai Vindy. Ekspresi wajah Harum akan tampak posesif kalau aku tidak tahu itu bukan.
Dia berkata, “Gatheli akan menjadi ayah yang hebat. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”
Harum itu gampang percaya atau pintar ‘gedabrus’. Aku memilih yang terakhir.
Vindy membanting pintu kulkas.
“Berhenti membelanya, Harum.”
“Itu benar. Dia orang baik. Bahkan kamu tahu itu.”
Mungkin mudah percaya adalah pilihan yang lebih baik.
Vindy mengabaikan Harum dan menatapku tajam. “Sudah dua minggu. Putrimu merindukan ‘baba’-nya.”
“Merk popok?”
“Bapaknya,” dia mengklarifikasi dengan cemberut yang seolah berkata kau terlalu bodoh untuk bernapas di luar rahim.
Di belakang Vindy, Harum menyeringai padaku, tapi aku tak bisa membalasnya.
Aku tahu aku sudah lama tidak melihat Tunjung. Aku seharusnya tidak tertawa, meskipun aku tak bisa menahan diri untuk mengejek ocehan bayi Vindy yang konyol. Sambil menarik napas dalam-dalam, aku hanya bisa menyilangkan tangan dan bersandar pada kusen pintu aluminium.
Sikapku yang biasa berpura-pura acuh tak acuh. Aku memperhatikan wajah Harum. Dahinya berkerut, bibirnya mengerucut, dan mata hijaunya tertuju pada targetnya, Vindy, yang sedang membungkuk ke arah kulkas.
Ya. Vindy juga punya bokong yang bagus. Dulu aku pernah membayangkan menyentuhnya, tapi hanya sekilas.
Vindytak pernah masuk ke daftar fantasi sesatku. Meskipun begitu, sudah pernah ke sana. Sudah pernah, tetap tinggal untuk ‘tandhuk’ dan pertunjukan di belakang panggung.
Bahkan menghamilinya.
Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana aku melakukannya. Aku ingin pengembalian uang, sialan.
Aku masih terobsesi dengannya. Lebih dari itu.
Aku bilang padanya,
"Aku sudah mengirim uang."
Sial. Aku tidak ingin membicarakan ini di sini.
“Kau pikir itu sudah cukup? Ada apa denganmu?”
Dari mana aku harus mulai?
“Aku sibuk bekerja, dan aku tidak tahu kapan kamu pulang.”
“Ada penemuan yang namanya telepon. Gunakanlah. Kamu punya nomorku.”
Ya. Nomor yang tertulis di setiap bilik toilet pria dalam radius lima puluh kilometer.
Aku melirik Harum, yang kembali menatap Vindy dengan tajam.
Mendorong kusen pintu, aku berjalan ke arah Vindy, dan ketika aku lebih dekat, aku bertanya pelan,
“Bagaimana dengan Raja? Apakah dia akan ada di sana?” Raja Ginting adalah bos besar di sini. Sudah menikah. Seorang kakek sialan yang sering meniduri Vindy.
Matanya membesar seperti ban double cabin-ku sebelum dia menampar bisepku.
“Diam!”
Harum mendekatiku seolah-olah dia akan menerjang Vindy.
Kalau terjadi baku jambak pasti seksi.
“Semua orang tahu tentang itu. Apakah Raja pernah di sana? Apakah dia sedang bermain-main baba-baba’an?”
Sebaiknya tidak. Anak ini tampaknya memang menjadi tanggung jawabku.
Vindy melipat tangannya, melirik Harum dengan gugup. Baru-baru ini aku mengetahui bahwa Harum membuat Vindy merasa tidak aman. Memang seharusnya begitu.
Harum adalah wanita sejati, tidak seperti bagian-bagian industri yang membentuk payudara Vindy. Pucuknya seperti permen karet basi di trotoar yang dingin. Aku tahu itu karena dia menyuruhku menariknya, mengingatkanku pada silikon sialan. Syukurlah dia tidak menyusui anakku.
Jari Vindy menunjuk dadaku, mengacak-acak dasiku.
“Aku bilang aku tidak akan melibatkan pengadilan. Kalau kamu melakukan kewajibanmu, selain membayar uang untuk tumpahan pejuhmu.”
Ketika aku melihat kaca lemari di sebelah kami, aku melihat mulut Harum ternganga, dan aku merasa semakin buruk.
“Kamu harus menjemput anakmu di hari kerja, supaya aku tidak kehilangan akal sehatku.”
“Eh, ya. Aku akan.”
“Tentu. Aku akan menahan diri. Kalau tidak, aku akan meminta Raja mengurus ke pengadilan.”
Dia mengambil yogurt blueberry-nya dan menabrakku. Untuk sesaat, Vindy dan aku saling bertatap muka, kami berdebat tanpa kata sebelum dia meninggalkan dapur.
Dari belakangku, aku mendengar Betty tertawa di lorong.
Bagus. Tambah pemirsa lagi.
Sambil menghela napas, aku menatap Harum, tetapi kemudian dengan cepat memalingkan muka.
Rasa malu mencapai puncaknya dan merendahkan diriku sepenuhnya.
Bondan dengan sabar menungguku berhenti tertawa. Setelah aku berhenti, aku berkata, “Jancuk. Kita semua mengenalnya. Kamu ngomong seolah-olah aku tidak tahu dia menikah dengannya. Aku ada di sana. Aku yang mengantarnya di pernikahannya.”Itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan, selain membawa bajingan itu kembali ke Surabaya untuk Harum. Dan aku bahkan harus mengubur adikku.Dia menghela napas, membuat kursinya berderit, setidaknya membuatku berkedip lagi.“Ada sesuatu yang berubah. Waktu Harum patah hati berat, sepertinya kamu semakin dekat dengannya. Tapi kemudian kalian berdua bertengkar. Kami semua tahu tentang itu di sini. Beberapa rekan kerjamu mendengar kamu bertengkar dengan Harum di meja resepsionis.”Oh, ya. Benar. Ketika aku menuduhnya membeli sepatu obral sementara dia menyesal pernah ingin berhubungan intim denganku.Itu masih menyakitkan.“Astaga. Aku penasaran siapa.”Vindy dan Betty adalah wanita-wanita paling menyebalkan di sini sekarang setelah Melan
“Aku tidak terima alasan apapun. Ujian Profesi Advokat cuma tiga kali setahun. Sekarang sudah Oktober. Apakah kamu siap untuk ujian bulan ini? Kalau tidak, masih ada April dan Agustus. Aku punya materi yang bisa kamu pelajari. Setelah lulus, kamu bisa mendaftar untuk magister. Fakultas Hukum Universitas Petra bagus dan dekat. Aku akan merekomendasikan Unmer—almamaterku—kalau saja jaraknya tidak dua jam lebih.”“Unmer? Di mana? Merak?”Dia menghela napas, dan aku melihat dahinya meneteskan peluh lebih banyak daripada pancuranku setelah aku mematikan air.“Aku serius tentang masa depanmu.”Aku balas menghela napas, butuh mandi hanya karena melihatnya.“Aku juga, Bondan. Bondan saja.”“Kenapa? Kamu belum memberi alasan yang valid. Yang kudengar hanyalah alasan. Kuliah hukum itu gratis. Bahkan buku teksmu pun gratis.”Karena aku tidak berkomentar, Bondan maju ke depan, meletakkan sikunya di atas meja. Dia diam, jadi aku mendongak untuk melihatnya menatapku.“Ada apa?”“Kamu takut tidak ak
Dia jelas bisa lebih baik dalam hal berpakaian, mengingat dia seorang pengacara.Bondan menutupi kepalanya yang botak dengan bandana bermotif paisley di waktu luangnya, dan meninggalkan Range Rover-nya di rumah, mengendarai sepeda motor.Mungkin Harley, tapi aku tidak begitu tahu merek motor selain itu. Bisa jadi Schwinn, atau Kawasaki.Siapa tahu.Aku melihat kentang rebus, lumpia rebung, roti gandum, dan siomay jamur. Dan itu baru makanan pembuka.Ini jam 10:00 pagi, demi Tuhan.Setiap kali dia ingin aku duduk di seberangnya di mejanya, Bondan selalu memesan hampir seluruh menu di Loving Live, sebuah toko makanan vegetarian, karena aku ‘Budha’—setengah Budha dari pihak ibuku.Dengan alasan itu dia langsung berpikir bahwa aku penganut Budha dan hanya makan makanan vegetarian. Padahal, aku hampir tidak makan yang dia pesan seperti manusia pada umumnya.Lagipula, si bodoh itu tidak mempertimbangkan semua itu ketika dia melihatku makan kentang goreng ayam dan keju atau pizza pepperoni d
Kembali ke meja, Harum meraih ke lemari bagian atas. Bahkan di titik terendah sekali pun, aku langsung menatap pantatnya. Bukan pantatku yang harus kukagumi. Itu pantatnya.Suaminya boleh meraba-raba sesuka hatinya, dan aku harus ingat aku yang mendorong dia ke sana.Namun, aku tidak bisa menahan diri kala hasratku muncul. Sebelum dia berbalik, aku memasukkan tanganku ke saku. Sambil memegang cangkir SpongeBob favoritku, dia menuju mesin kopi, tetapi aku menuju pintu.“Aku sedang tidak mood sekarang. Aku ada pertemuan dengan Bondet. Sampai jumpa nanti.”“Kamu akan latihan softball setelah jam kerja, kan?”Berhenti, aku membuat ekspresi wajah, tapi tetap menghindari kontak mata.“Kenapa tidak? Ini latihan terakhir kita.”Dari sudut mataku, aku melihatnya mengangkat bahu, jadi aku menoleh.“Hanya memastikan.” Harum tersenyum, membuatku ikut tersenyum.Melihat ke arah pintu di belakangku, dia berbisik, “Jangan biarkan dia mempengaruhimu. Aku tahu kamu sedang berusaha.”“Tidak cukup keras
Meskipun aku sering bermimpi tidur dengan Vindy, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan intim dengannya. Terlalu banyak komplikasi.Pertama, dia sama tidak berharganya seperti sepatu bayi yang baru lahir. Aku hanya menginginkan satu wanita, tapi aku tidak bisa memilikinya karena beberapa alasan, bahkan ketika ada kesempatan di depan mata.Jadi, Vindy adalah pelarian yang diperlukan dari rasa sakit yang terus-menerus. Aku hanya bisa bertahan beberapa kali sebelum akhirnya patah semangat.Dan memang aku patah semangat.Jadi, aku mengambil jalan buntu karena putus asa.Aku pergi ke rumah Vindy. Lebih tepatnya sarang pelacur, karena mengetahui bahwa dia dan ibunya sama-sama perempuan murahan.***Oktober lalu, dia membukakan pintu dengan kemeja tanpa lengan dan celana pendek ketat yang dulunya celana olahraga.“Gatheli, apa yang kamu lakukan di sini?”Aku ingin lari. Aku ingin bukan dia. Aku ingin menjadi bukan diriku. Si pecundang abadi. “Aku … aku cuma … Bisakah kita…? Kamu bilang….”
Malam itu di tempat parkir, Harum duduk di mobil double cabin-ku dengan pintu terbuka. Aku berdiri di dekat kakinya, diam-diam memohon padanya untuk menginginkanku seperti dia menginginkan Gaatheli.Tapi jauh di lubuk hati, meskipun mereka telah putus, aku tahu Harum tidak akan pernah menginginkannya. Tapi kalau dia ingin kami menjadi pasangan, aku akan puas dengan posisi kedua.Sebelum aku bisa menahan diri, aku mengambil kesempatan itu. Aku mendekat dan menciumnya. Dia bukan lagi sekadar khayalan.Bibirnya memohon agar bibirku menciumnya lebih cepat. Lebih keras. Dan sialnya, aku melakukannya.Aku tak bisa menahan diri ketika tanganku menyentuh kakinya, menyentuh kulitnya yang lembut dan terbuka. Ketika dia membuka kakinya dan roknya, menarikku lebih dekat, aku hampir kehilangan akal sehat dan muncrat.Aku lebih tegang dari biasanya, saat merancap sambil melihat fotonya di ponselku, yang baru-baru ini mulai kulakukan. Maksudku, aku sering memikirkan Harum, tapi aku belum pernah samp







