Beranda / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 3: Berteduh di Bawah Ego

Share

Bab 3: Berteduh di Bawah Ego

Penulis: Sfrauf
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 21:20:17

Langit Jakarta sore itu seolah mendukung suasana hati Jihan yang mendung. Baru saja ia menyelesaikan latihan piano yang melelahkan, rintik hujan turun dengan derasnya, berubah menjadi badai dalam hitungan menit.

Jihan berdiri di selasar depan sekolah, memeluk tas musiknya erat-erat. Motor ojek online yang ia pesan berkali-kali membatalkan pesanan karena cuaca buruk.

"Sial," gumamnya. "Mana jemputan Ibu masih lama lagi."

Duk. Duk. Duk.

Suara pantulan bola basket di koridor yang sepi membuat Jihan menoleh. Di sana, Jagad berjalan dengan santai, memantulkan bola dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang botol air mineral. Keringat masih membasahi seragam basketnya, tapi wajahnya tampak jauh lebih segar dibanding saat di ruang OSIS tadi.

"Belum pulang, Peringkat Dua?" Jagad berhenti di samping Jihan, ikut menatap hujan yang mengguyur lapangan basket luar.

"Kelihatannya gimana? Gue lagi berenang?" balas Jihan sinis.

Jagad terkekeh pelan. Ia duduk di bangku panjang semen yang ada di selasar, meletakkan bolanya di antara kedua kakinya. "Galak banget. Padahal gue mau nawarin tumpangan."

"Gak, makasih. Gue nggak mau mati muda karena lo bawa motor kayak kesurupan."

"Pilihan lo cuma dua, Han. Nunggu di sini sampai jam tujuh malem dan terkunci di sekolah, atau duduk manis di belakang gue dan sampai rumah dalam sepuluh menit." Jagad melirik jam tangannya. "Pak Satpam biasanya keliling gembok gerbang bentar lagi."

Jihan menggigit bibir bawahnya. Ia benci fakta bahwa Jagad selalu punya poin yang masuk akal.

Hening tercipta selama beberapa menit, hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng. Jihan akhirnya menyerah dan ikut duduk di ujung bangku yang sama, memberi jarak sekitar satu meter dari Jagad.

"Kenapa lo sebegitu ambisiusnya sama lapangan futsal?" tanya Jihan tiba-tiba, suaranya melembut, kalah oleh suara hujan.

Jagad terdiam cukup lama. Ia menatap lurus ke depan, ke arah ring basket yang mulai basah. "Karena cuma di sana gue bisa nentuin arah gue sendiri, Han. Di luar lapangan, hidup gue udah ada skenarionya. Gue nggak boleh kalah, nggak boleh salah."

Jihan menoleh, sedikit terkejut mendengar nada bicara Jagad yang tidak biasanya. "Dari bokap lo?"

Jagad tidak menjawab secara langsung. Ia hanya tersenyum tipis—senyum yang terlihat lelah, bukan sombong. "Nol koma dua poin itu... mungkin buat lo cuma angka. Tapi buat bokap gue, itu celah untuk bilang kalau gue belum sempurna."

Jihan tertegun. Ia teringat ambisinya sendiri yang ingin mengalahkan Jagad karena merasa harga dirinya terinjak. Namun ternyata, posisi nomor satu yang dihuni Jagad adalah sebuah penjara, bukan takhta.

"Gue... gue baru tahu kalau jadi juara umum se-SMA Cakrawala seberat itu," ucap Jihan lirih.

Jagad menoleh ke arah Jihan, matanya bertemu dengan mata cokelat gadis itu. Untuk pertama kalinya, tidak ada percikan api permusuhan di antara mereka. Hanya ada dua remaja yang sama-sama merasa terbebani oleh dunia.

"Jangan kasihan sama gue," potong Jagad, kembali ke mode santainya. "Mending lo pikirin gimana cara menangin lomba piano itu. Kalau lo kalah, gue bakal beneran cat atap ruang musik lo pake warna pink."

"Dih! Nggak bakal!" Jihan spontan memukul lengan Jagad dengan buku musiknya.

"Aduh! Galak banget sih," Jagad tertawa, dan kali ini tawa itu terdengar tulus di telinga Jihan. "Ayo, mumpung hujannya agak reda. Helm gue ada dua, satu khusus buat rival yang lagi butuh bantuan."

Jagad berdiri dan mengulurkan tangannya. Jihan menatap tangan itu ragu, lalu perlahan menyambutnya.

"Cuma kali ini ya, Gad. Besok kita tetep musuhan."

"Tergantung," sahut Jagad sambil berjalan menuju parkiran. "Tergantung seberapa kencang lo meluk gue pas di motor nanti."

"JAGAD!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jagad dan Selaras   Bab 60: Jantung Api

    Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi

  • Jagad dan Selaras   Bab 59: Balapan Cahaya

    Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga

  • Jagad dan Selaras   Bab 58: Simfoni di Stasiun Aethelgard

    Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer

  • Jagad dan Selaras   Bab 57: Gerbang Andromeda

    Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb

  • Jagad dan Selaras   Bab 56: Konser di Kawah Tycho

    Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala

  • Jagad dan Selaras   Bab 55: Oksigen dan Nada Terakhir

    Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status