LOGINDenting piano di ruang musik sore itu terdengar lebih agresif dari biasanya. Jihan tidak sedang memainkan Sonata milik Mozart dengan lembut; dia sedang menyiksa tuts piano itu seolah-olah tiap ketukannya adalah wajah Jagad Rayyan.
"Han, pelan-pelan! Itu piano sekolah, bukan samsak tinju," tegur Manda, sahabat Jihan, yang sedang asyik mengelap biolanya. Jihan berhenti mendadak. Napasnya memburu. "Gue nggak bisa tenang, Nda. Lo tahu apa yang baru gue denger dari Pak Darwin? Anggaran perbaikan atap ruang musik dibatalkan. Katanya, dananya dialihkan buat renovasi ring basket dan cat ulang lapangan futsal." Manda melongo. "Serius? Tapi kan atap kita bocor parah kalau hujan!" "Tanya aja sama Ketua OSIS kesayangan guru-guru itu," Jihan menyambar tasnya dan berdiri dengan hentakan kaki yang mantap. "Dia pikir sekolah ini cuma punya tim basket?" "Eh, Han! Mau kemana?" "Mau perang!" Jihan berjalan cepat menyusuri koridor yang mulai sepi. Tujuannya satu: Ruang OSIS. Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat itu, terdengar sayup-sayup suara diskusi formal. Tanpa mengetuk, Jihan langsung mendorong pintu itu hingga membentur dinding. BRAKK! Sepuluh pasang mata langsung tertuju padanya. Di ujung meja oval, Jagad Rayyan sedang berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan. Dia tidak terlihat terkejut. Cowok itu hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Lima lewat lima belas menit," ucap Jagad tenang. "Lo telat lima belas menit dari jadwal 'invasi' yang gue duga, Jihan." "Nggak usah basa-basi," Jihan maju hingga ujung meja, tangannya menggebrak tumpukan proposal di depan Jagad. "Maksud lo apa mindahin anggaran atap ruang musik ke lapangan futsal? Lo mau kita latihan pake payung kalau hujan?" Anggota OSIS yang lain saling lirik, suasana mendadak mencekam. Galang, wakil ketua OSIS sekaligus sahabat Jagad, mencoba menengahi. "Han, tenang dulu. Ini hasil rapat pleno, bukan keputusan sepihak Jagad—" "Pleno atau rencana busuk Jagad buat fasilitas pribadinya?" potong Jihan tajam, matanya mengunci Jagad. Jagad meletakkan spidolnya. Dia berjalan memutari meja, mendekati Jihan dengan langkah santai yang sangat menyebalkan. Dia berhenti tepat di depan Jihan, aroma parfum citrus-nya kembali menyerbu. "Prioritas, Jihan. Itu namanya prioritas," ucap Jagad dengan suara rendah yang stabil. "Bulan depan ada turnamen basket tingkat provinsi. Lapangan kita licin dan ringnya miring. Itu menyangkut nama baik sekolah. Sedangkan ruang musik? Seingat gue, tahun ini nggak ada kompetisi besar yang kalian ikutin." "Oh, jadi karena nggak ada lomba, kita nggak layak dapet atap yang bener?" suara Jihan naik satu oktav. "Gue ada kompetisi piano tingkat kota dua bulan lagi, Jagad!" "Atas nama sekolah? Enggak, kan? Itu jalur individu," skakmat Jagad. Jihan terdiam sesaat, giginya bergeletuk. Jagad selalu punya logika yang sulit dipatahkan, dan itu membuatnya makin benci. "Gini aja," Jagad menyandarkan pinggulnya di pinggir meja, melipat tangan di dada. "Gue bakal balikin anggaran itu, bahkan gue tambah buat beli senar biola baru buat anak-anak musik. Tapi ada syaratnya." Jihan menyipitkan mata. "Apa?" "Menang lomba piano itu. Bawa trofi itu ke sekolah supaya gue punya alasan buat bilang ke pihak yayasan kalau ruang musik layak dapet investasi lebih." Jagad tersenyum tipis, tipe senyum yang menantang. "Gimana? Berani taruhan sama si Peringkat Dua?" Jihan mengepalkan tangan. Di depan seluruh pengurus OSIS, dia merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan. "Oke. Gue menangin lomba itu, dan lo... lo harus ngecat atap ruang musik itu sendiri kalau perlu," tantang Jihan balik. "Deal," jawab Jagad cepat. Saat Jihan berbalik untuk pergi, Jagad kembali bersuara, "Han?" Jihan berhenti tanpa menoleh. "Jangan latihan sambil marah-marah. Nadanya jadi fals. Gue denger dari sini." Jihan tidak membalas. Dia keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu yang lebih keras dari sebelumnya. Sementara di dalam ruangan, Galang menyenggol bahu Jagad. "Lo sengaja kan? Padahal anggaran futsal sebenernya masih bisa dikurangin sedikit buat atap mereka." Jagad kembali ke papan tulis, menghapus coretan spidolnya dengan wajah datar. "Dia butuh motivasi, Lang. Kalau dia main pake emosi kayak tadi, dia nggak bakal menang lomba itu." Galang menggeleng-geleng. "Cara lo motivasi orang aneh banget, Gad. Kayak ngajak berantem." Jagad tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu yang tadi ditutup Jihan, lalu tanpa sadar ujung bibirnya tertarik sedikit. "Emang itu satu-satunya cara biar dia mau ngeliat gue."Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah
Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik
Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu
Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba
Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu
Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB. Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan, menyisakan hawa dingin yang lembap pasca hujan rintik semalam. Di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman keluarga Rayyan, Galang sedang berjongkok sambil sesekali melirik jam tangan digitalnya yang berkedip. Napasnya terlihat menguap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Bagas dan dua orang anggota tim basket lainnya, Rio dan Danu, sedang menutupi sebuah tangga lipat aluminium dengan beberapa karung goni bekas agar terlihat seperti tumpukan sampah taman."Lo yakin ini bakal berhasil, Lang?" bisik Bagas, suaranya sedikit gemetar karena adrenalin. "Kalau kita ketahuan, bukan cuma Jagad yang pindah sekolah. Kita semua bisa kena skorsing permanen karena ngerusak properti orang.""Diem, Gas. Fokus ke sinyal," jawab Galang tegas, meski ia sendiri merasakan jantungnya berdegup sekeras drum perkusi. "Jagad bakal kasih sinyal lewat lampu senter kecil dari jendela kamarnya tepat jam enam. Begitu lam







