หน้าหลัก / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 4: Aspal Basah dan Helm yang Terlalu Besar

แชร์

Bab 4: Aspal Basah dan Helm yang Terlalu Besar

ผู้เขียน: Sfrauf
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-07 21:22:42

Hujan belum sepenuhnya berhenti, hanya menyisakan gerimis tipis yang membasahi aspal parkiran SMA Cakrawala. Bau tanah basah—petrichor—tercium kuat, bercampur dengan aroma bensin dari barisan motor siswa yang masih terparkir. Jagad berjalan di depan dengan langkah lebar, sementara Jihan mengekor di belakangnya sambil berusaha melindungi tas pianonya agar tidak terkena sisa tetesan air dari dedaunan pohon peneduh.

“Pelan-pelan bisa, nggak? Kaki gue nggak sepanjang kaki lo!” gerutu Jihan saat jarak mereka semakin jauh.

Jagad berhenti tepat di depan sebuah motor sport hitam mengkilap yang tampak terlalu gagah untuk ukuran anak SMA. Ia menoleh, menatap Jihan yang tampak mungil di balik jaket denimnya yang mulai lembap. “Makanya, jangan cuma pinter main piano, olahraga juga biar kakinya tumbuh.”

Jihan memutar bola matanya. “Sumpah, gue makin nyesel setuju pulang bareng lo.”

Jagad tidak membalas. Ia membuka bagasi motornya dan mengeluarkan sebuah helm cadangan berwarna putih. Tanpa aba-aba, ia memakaikan helm itu ke kepala Jihan. Klik. Suara pengunci helm yang beradu tepat di bawah dagu Jihan membuat gadis itu terpaku. Wajah Jagad berada sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. Jihan bisa mencium aroma sabun cuci muka Jagad yang segar, sangat kontras dengan hawa dingin sore itu.

“Kegedean, ya?” gumam Jagad sambil membetulkan kaca helm Jihan yang melorot.

“S-sedikit,” jawab Jihan terbata. Jantungnya mendadak melakukan maraton tanpa alasan yang jelas.

“Pegangan yang kuat. Gue nggak mau dituduh menculik aset sekolah kalau lo jatuh di jalan,” kata Jagad sambil naik ke jok motornya dan menyalakan mesin yang menderu rendah.

Sementara itu, di lantai dua gedung sekolah, dua pasang mata memperhatikan mereka dari balik jendela kelas yang masih terbuka.

“Gue nggak salah liat, kan, Nda?” Galang menyipitkan mata, mengamati Jagad yang sedang membantu Jihan naik ke jok belakang. “Itu Jagad? Si manusia es yang biasanya nggak mau bonceng siapa pun karena katanya berat-beratin motor?”

Manda, yang sedang memasukkan sisa buku ke tasnya, ikut menengok ke bawah. Ia hampir menjatuhkan kotak pensilnya. “Demi apa? Jihan beneran naik motor Jagad? Wah, kiamat makin deket kayaknya. Tadi sore mereka baru aja mau saling bunuh di ruang OSIS!”

Galang terkekeh, tangannya bersandar di kusen jendela. “Jagad itu aneh. Dia kelihatan kayak mau nindas Jihan, tapi sebenernya dia cuma nggak tahu cara bicara yang bener sama cewek selain lewat tantangan. Dia itu tipikal orang yang bakal bakar satu gedung cuma buat mastiin satu orang nggak kedinginan.”

“Tapi Jihan itu keras kepala, Lang,” sahut Manda cemas. “Dia lagi sensitif banget soal anggaran musik. Kalau Jagad salah ngomong sedikit aja di jalan, gue yakin Jihan bakal loncat dari motor.”

“Tenang aja,” Galang menepuk bahu Manda. “Jagad mungkin brengsek soal kata-kata, tapi kalau soal keamanan orang yang dia bawa... dia bakal jadi orang paling hati-hati se-Jakarta.”

Di bawah, motor Jagad mulai membelah jalanan Jakarta yang macet pasca hujan. Jihan duduk dengan kaku, kedua tangannya memegang erat besi behel di belakang jok. Angin dingin menusuk kulit lehernya, tapi punggung Jagad yang lebar di depannya seolah menjadi tameng yang efektif.

“Han! Jangan pegangan di situ! Nanti keseimbangan gue keganggu!” teriak Jagad di balik helmnya, suaranya bersaing dengan deru mesin dan bising kendaraan lain.

“Terus gue pegangan di mana?!” balas Jihan tak kalah keras.

“Jaket gue! Atau pinggang gue kalau lo beneran takut jatuh!”

Jihan mendengus. Modus banget, pikirnya. Namun, saat motor itu melakukan pengereman mendadak karena ada angkot yang berhenti sembarangan, tubuh Jihan terdorong ke depan hingga menabrak punggung Jagad. Secara refleks, kedua tangannya melingkar di pinggang cowok itu.

Jagad sedikit tersentak. Melalui kaca spion, Jihan bisa melihat mata Jagad yang sedikit melebar, sebelum akhirnya cowok itu kembali fokus ke jalan dengan senyum tipis yang tak terlihat oleh Jihan.

Sepanjang perjalanan, tidak ada dialog panjang. Hanya ada keheningan yang anehnya tidak terasa canggung. Jihan mulai memperhatikan detail-detail kecil: cara Jagad memainkan kopling, bagaimana bahu cowok itu tetap tegak meskipun terlihat lelah, dan aroma jaket Jagad yang perlahan membuatnya merasa... nyaman.

“Rumah lo yang cat pagar putih itu, kan?” tanya Jagad saat mereka memasuki sebuah perumahan kelas menengah yang asri.

“Kok lo tahu?” Jihan terkejut.

“Gue Ketua OSIS, Jihan. Gue punya data alamat semua murid di sekolah,” jawab Jagad sombong, meski sebenarnya dia hanya mengingat alamat Jihan karena sering tanpa sengaja melihat berkas pendaftaran beasiswa prestasi milik Jihan di ruang guru.

Motor berhenti tepat di depan rumah Jihan. Jihan segera turun dan melepas helmnya dengan sedikit terburu-buru. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore.

“Makasih,” ucap Jihan singkat sambil menyerahkan helm ke Jagad.

Jagad menerima helm itu, tapi ia tidak langsung pergi. Ia menatap Jihan intens. “Soal taruhan tadi... gue serius, Han. Gue pengen lo menang. Bukan cuma buat anggaran, tapi supaya lo punya alasan buat tetep sombong di depan gue.”

Jihan tertegun. Kalimat Jagad barusan terdengar lebih seperti dukungan daripada ejekan. “Gue nggak butuh tantangan lo buat jadi juara, Gad. Tapi... makasih buat tumpangannya.”

Saat Jagad hendak memutar motornya, sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas pelan di depan mereka. Kaca mobil itu tertutup rapat, tapi Jagad tampak membeku sesaat. Itu adalah mobil ayahnya. Kegembiraan kecil di wajah Jagad hilang seketika, digantikan oleh ekspresi datar yang dingin.

“Gue balik duluan,” kata Jagad tanpa melihat Jihan lagi. Ia menarik gas motornya dengan kencang, meninggalkan Jihan yang berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan.

Malam itu, di rumahnya yang megah namun sepi, Jagad duduk di meja belajarnya. Alih-alih mengerjakan soal olimpiade, ia justru menatap sebuah gantungan kunci kecil berbentuk piano yang tadi jatuh dari tas Jihan saat di motor.

Ia memutarnya pelan dengan jari.

Di ruang sebelah, terdengar suara bentakan ayahnya yang sedang berbicara di telepon soal saham dan kegagalan. Jagad menghela napas, memakai headphone-nya, dan menyetel sebuah rekaman piano klasik. Ia menutup mata, mencoba mencari ketenangan di tengah kekacauan dunia—sama seperti Jihan yang mencari suara di tengah kebisingan lapangan basketnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jagad dan Selaras   Bab 60: Jantung Api

    Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi

  • Jagad dan Selaras   Bab 59: Balapan Cahaya

    Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga

  • Jagad dan Selaras   Bab 58: Simfoni di Stasiun Aethelgard

    Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer

  • Jagad dan Selaras   Bab 57: Gerbang Andromeda

    Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb

  • Jagad dan Selaras   Bab 56: Konser di Kawah Tycho

    Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala

  • Jagad dan Selaras   Bab 55: Oksigen dan Nada Terakhir

    Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status