LOGINHujan belum sepenuhnya berhenti, hanya menyisakan gerimis tipis yang membasahi aspal parkiran SMA Cakrawala. Bau tanah basah—petrichor—tercium kuat, bercampur dengan aroma bensin dari barisan motor siswa yang masih terparkir. Jagad berjalan di depan dengan langkah lebar, sementara Jihan mengekor di belakangnya sambil berusaha melindungi tas pianonya agar tidak terkena sisa tetesan air dari dedaunan pohon peneduh.
“Pelan-pelan bisa, nggak? Kaki gue nggak sepanjang kaki lo!” gerutu Jihan saat jarak mereka semakin jauh. Jagad berhenti tepat di depan sebuah motor sport hitam mengkilap yang tampak terlalu gagah untuk ukuran anak SMA. Ia menoleh, menatap Jihan yang tampak mungil di balik jaket denimnya yang mulai lembap. “Makanya, jangan cuma pinter main piano, olahraga juga biar kakinya tumbuh.” Jihan memutar bola matanya. “Sumpah, gue makin nyesel setuju pulang bareng lo.” Jagad tidak membalas. Ia membuka bagasi motornya dan mengeluarkan sebuah helm cadangan berwarna putih. Tanpa aba-aba, ia memakaikan helm itu ke kepala Jihan. Klik. Suara pengunci helm yang beradu tepat di bawah dagu Jihan membuat gadis itu terpaku. Wajah Jagad berada sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. Jihan bisa mencium aroma sabun cuci muka Jagad yang segar, sangat kontras dengan hawa dingin sore itu. “Kegedean, ya?” gumam Jagad sambil membetulkan kaca helm Jihan yang melorot. “S-sedikit,” jawab Jihan terbata. Jantungnya mendadak melakukan maraton tanpa alasan yang jelas. “Pegangan yang kuat. Gue nggak mau dituduh menculik aset sekolah kalau lo jatuh di jalan,” kata Jagad sambil naik ke jok motornya dan menyalakan mesin yang menderu rendah. Sementara itu, di lantai dua gedung sekolah, dua pasang mata memperhatikan mereka dari balik jendela kelas yang masih terbuka. “Gue nggak salah liat, kan, Nda?” Galang menyipitkan mata, mengamati Jagad yang sedang membantu Jihan naik ke jok belakang. “Itu Jagad? Si manusia es yang biasanya nggak mau bonceng siapa pun karena katanya berat-beratin motor?” Manda, yang sedang memasukkan sisa buku ke tasnya, ikut menengok ke bawah. Ia hampir menjatuhkan kotak pensilnya. “Demi apa? Jihan beneran naik motor Jagad? Wah, kiamat makin deket kayaknya. Tadi sore mereka baru aja mau saling bunuh di ruang OSIS!” Galang terkekeh, tangannya bersandar di kusen jendela. “Jagad itu aneh. Dia kelihatan kayak mau nindas Jihan, tapi sebenernya dia cuma nggak tahu cara bicara yang bener sama cewek selain lewat tantangan. Dia itu tipikal orang yang bakal bakar satu gedung cuma buat mastiin satu orang nggak kedinginan.” “Tapi Jihan itu keras kepala, Lang,” sahut Manda cemas. “Dia lagi sensitif banget soal anggaran musik. Kalau Jagad salah ngomong sedikit aja di jalan, gue yakin Jihan bakal loncat dari motor.” “Tenang aja,” Galang menepuk bahu Manda. “Jagad mungkin brengsek soal kata-kata, tapi kalau soal keamanan orang yang dia bawa... dia bakal jadi orang paling hati-hati se-Jakarta.” Di bawah, motor Jagad mulai membelah jalanan Jakarta yang macet pasca hujan. Jihan duduk dengan kaku, kedua tangannya memegang erat besi behel di belakang jok. Angin dingin menusuk kulit lehernya, tapi punggung Jagad yang lebar di depannya seolah menjadi tameng yang efektif. “Han! Jangan pegangan di situ! Nanti keseimbangan gue keganggu!” teriak Jagad di balik helmnya, suaranya bersaing dengan deru mesin dan bising kendaraan lain. “Terus gue pegangan di mana?!” balas Jihan tak kalah keras. “Jaket gue! Atau pinggang gue kalau lo beneran takut jatuh!” Jihan mendengus. Modus banget, pikirnya. Namun, saat motor itu melakukan pengereman mendadak karena ada angkot yang berhenti sembarangan, tubuh Jihan terdorong ke depan hingga menabrak punggung Jagad. Secara refleks, kedua tangannya melingkar di pinggang cowok itu. Jagad sedikit tersentak. Melalui kaca spion, Jihan bisa melihat mata Jagad yang sedikit melebar, sebelum akhirnya cowok itu kembali fokus ke jalan dengan senyum tipis yang tak terlihat oleh Jihan. Sepanjang perjalanan, tidak ada dialog panjang. Hanya ada keheningan yang anehnya tidak terasa canggung. Jihan mulai memperhatikan detail-detail kecil: cara Jagad memainkan kopling, bagaimana bahu cowok itu tetap tegak meskipun terlihat lelah, dan aroma jaket Jagad yang perlahan membuatnya merasa... nyaman. “Rumah lo yang cat pagar putih itu, kan?” tanya Jagad saat mereka memasuki sebuah perumahan kelas menengah yang asri. “Kok lo tahu?” Jihan terkejut. “Gue Ketua OSIS, Jihan. Gue punya data alamat semua murid di sekolah,” jawab Jagad sombong, meski sebenarnya dia hanya mengingat alamat Jihan karena sering tanpa sengaja melihat berkas pendaftaran beasiswa prestasi milik Jihan di ruang guru. Motor berhenti tepat di depan rumah Jihan. Jihan segera turun dan melepas helmnya dengan sedikit terburu-buru. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore. “Makasih,” ucap Jihan singkat sambil menyerahkan helm ke Jagad. Jagad menerima helm itu, tapi ia tidak langsung pergi. Ia menatap Jihan intens. “Soal taruhan tadi... gue serius, Han. Gue pengen lo menang. Bukan cuma buat anggaran, tapi supaya lo punya alasan buat tetep sombong di depan gue.” Jihan tertegun. Kalimat Jagad barusan terdengar lebih seperti dukungan daripada ejekan. “Gue nggak butuh tantangan lo buat jadi juara, Gad. Tapi... makasih buat tumpangannya.” Saat Jagad hendak memutar motornya, sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas pelan di depan mereka. Kaca mobil itu tertutup rapat, tapi Jagad tampak membeku sesaat. Itu adalah mobil ayahnya. Kegembiraan kecil di wajah Jagad hilang seketika, digantikan oleh ekspresi datar yang dingin. “Gue balik duluan,” kata Jagad tanpa melihat Jihan lagi. Ia menarik gas motornya dengan kencang, meninggalkan Jihan yang berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan. Malam itu, di rumahnya yang megah namun sepi, Jagad duduk di meja belajarnya. Alih-alih mengerjakan soal olimpiade, ia justru menatap sebuah gantungan kunci kecil berbentuk piano yang tadi jatuh dari tas Jihan saat di motor. Ia memutarnya pelan dengan jari. Di ruang sebelah, terdengar suara bentakan ayahnya yang sedang berbicara di telepon soal saham dan kegagalan. Jagad menghela napas, memakai headphone-nya, dan menyetel sebuah rekaman piano klasik. Ia menutup mata, mencoba mencari ketenangan di tengah kekacauan dunia—sama seperti Jihan yang mencari suara di tengah kebisingan lapangan basketnya.Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah
Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik
Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu
Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba
Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu
Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB. Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan, menyisakan hawa dingin yang lembap pasca hujan rintik semalam. Di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman keluarga Rayyan, Galang sedang berjongkok sambil sesekali melirik jam tangan digitalnya yang berkedip. Napasnya terlihat menguap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Bagas dan dua orang anggota tim basket lainnya, Rio dan Danu, sedang menutupi sebuah tangga lipat aluminium dengan beberapa karung goni bekas agar terlihat seperti tumpukan sampah taman."Lo yakin ini bakal berhasil, Lang?" bisik Bagas, suaranya sedikit gemetar karena adrenalin. "Kalau kita ketahuan, bukan cuma Jagad yang pindah sekolah. Kita semua bisa kena skorsing permanen karena ngerusak properti orang.""Diem, Gas. Fokus ke sinyal," jawab Galang tegas, meski ia sendiri merasakan jantungnya berdegup sekeras drum perkusi. "Jagad bakal kasih sinyal lewat lampu senter kecil dari jendela kamarnya tepat jam enam. Begitu lam







