Share

Bab 5: Arung Tower

Penulis: Ayusqie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-17 01:47:06

Keesokan harinya..,

Dengan menaiki bus lalu aku teruskan dengan naik ojek online, akhirnya siang ini aku sampai di Priok, tepat pada alamat yang aku tuju. Sesuai dengan petunjuk yang kudapat dari Galih tadi malam.  

Lalu sekarang, aku berdiri canggung di tepi jalan raya. Matahari terik kota Jakarta hampir mencapai titik kulminasinya, membuatku terpaksa menyipitkan mata.

Kepalaku menengadah, menatap sebuah gedung tinggi nan megah dengan pucuknya yang tampak menusuk langit.

Dua puluh lima lantai, kurang lebih, inilah dia, gedung yang bernama Arung Tower. Jendela-jendela kantornya yang persegi tampak tersusun simetris dari atas ke bawah, juga dari kanan ke kiri.

Aku kemudian melangkah menuju gedung Arung Tower itu. Sembari berjalan aku membetulkan posisi tas selempangku, sembari meyakinkan diri bahwa sepucuk surat yang terbungkus amplop untuk Pak Wisnu Wibisono telah berada di dalamnya sejak aku pergi dari rumah tadi. 

“Permisi, selamat siang, Pak,” sapaku pada seorang petugas sekuriti, yang kebetulan sedang berada di lobi depan gedung.

“Ya, selamat siang. Ada apa?” Sahut sang sekuriti dengan ramah.

“Maaf mengganggu, Pak. Apa betul ini kantornya Pak Wisnu Wibisono?”

“Hemm, ya, betul. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau bertemu dengan Pak Wisnu, bisa Pak?”

Aneh! Mendengar permintaanku ini tiba-tiba wajah petugas sekuriti berubah. Rautnya tidak lagi ramah. Berubah menjadi masam, mengeras, dan menatapi aku dengan penuh kecurigaan.

“Maaf, Bapak siapa?” Tanya sang sekuriti.

Karena sering kesal dengan penyebutan nama ‘Mojo’ yang selalu salah, maka aku menyebutkan nama belakangku

“Jaya, nama saya Jaya.”    

“Ada perlu apa?” Tanya dia lagi menyelidik.

Mungkin dia menakar aku dari penampilan diriku yang tidak meyakinkan ini. Berkemeja kotak-kotak, bercelana katun sederhana, dan bersepatu sneaker bulukan yang warnanya telah berubah dari putih ke abu-abu akibat debu.

Lalu, dengan semua yang ada pada diriku ini, aku mau menemui seorang CEO, atau direktur perusahaan besar yang sangat dihormati oleh seluruh karyawan dan orang-orang di sekitarnya??

“Eee.., anu Pak, saya mau mengantarkan sebuah surat untuk Pak Wisnu.”

“Surat? Surat dari siapa?”

“Dari Abah Anom.”

“Abah Anom, siapa itu?”

Aku mulai gugup.

“Emm, maaf Pak. Tanpa bermaksud untuk tidak sopan. Pak Wisnu pasti tahu kok. Beliau pasti mengenal dengan baik siapa itu Abah Anom.”

“Ya sudah, sini suratnya. Biar nanti saya sampaikan ke atas.”

“Aduh, sekali lagi mohon maaf, Pak. Saya diperintah untuk langsung memberikan surat ini kepada Pak Wisnu.”

Mendengar jawabanku ini wajah sang sekuriti semakin tidak ramah saja. Masih dengan gerak-gerik yang curiga ia lantas membimbingku menuju ke bagian dalam gedung.

Aku berjalan membuntut di belakangnya, melewati sebuah pintu kaca nan besar, lalu menyusuri semacam lobi yang cukup luas hingga kemudian berhenti di depan front desk, atau  resepsionis.

Aku disuruh duduk untuk menunggu. Sementara sang sekuriti langsung melangkah ke balik front desk. Hingga kemudian aku hanya bisa melihat sedikit kepalanya yang menunduk.

Ia terlibat pembicaraan yang serius dengan dua petugas resepsionis di balik front desk itu. Ya, aku mendengar suara bisik-bisik ‘ssstt-sssstt-sssstt’, begitu.

Akhirnya, salah satu petugas resepsionis, seorang wanita tiga puluhan, bangkit dari kursinya. Ia menoleh dan segera menatapku.

“Pak Jaya?” Panggilnya.

“Ya.” Aku pun bangkit, berjalan ke arah mejanya.    

“Mohon maaf ya, Pak,” katanya dengan raut prihatin. “Karena satu dan lain hal, Pak Wisnu tidak dapat ditemui.”

Aku langsung lemas.

“Jadi, kira-kira, kapan saya bisa menemui Pak Wisnu, Bu? Atau saya harus membuat janji bertemu lebih dulu?”

“Emm, untuk itu, saya tidak bisa memastikan. Tapi kalau hanya untuk mengantarkan surat, Bapak bisa menitipkan di saya.”

Seperti yang kuutarakan pada sekuriti tadi, aku pun berkeras bahwa aku harus menyampaikan surat dari Abah Anom ini ke tangan Pak Wisnu langsung.

Wajah bertemu wajah, dan tangan bersambut tangan. Apa pun rintangannya, dan bagaimana pun keadaannya. Karena memang begitulah yang diamanahkan Abah Anom padaku.  

Petugas resepsionis kembali ke balik front desk. Sebentar kemudian ia terlibat perbincangan bisik-bisik lagi dengan seorang rekannya, juga petugas sekuriti yang pertama tadi.

“Aneh!” Kataku dalam hati.

Ada yang tak wajar dengan semua sikap karyawan di sini, dan aku terus menduga-duga gerangan apakah itu.

Berikutnya, aku melihat petugas resepsionis itu mengambil telepon intercom dan melakukan panggilan, entah kepada siapa. Suaranya di telepon lirih sekali hingga aku tak bisa mencuri dengar.

Usai bertelepon itu petugas resepsionis kembali menghadapku. Penuh hati-hati ia kemudian berbicara.

“Begini ya, Pak. Dengan berat hati saya harus memberi tahu Bapak, bahwa Pak Wisnu.., sudah tiada.”

Aku terkejut setengah mati.

“Ti.., ti.., tiada, maksudnya, sudah meninggal?”

“Iya, Pak.” Jawab si resepsionis, dengan roman wajah yang mendadak kelabu.

Tanpa sadar aku menempelkan tapak tangan ke dadaku. Rasa prihatin segera mengisi hatiku, dan begitu pula sikap tubuhku.

“Kalau boleh saya tahu, kapan meninggalnya, Bu?”

“Sudah lama, sekitar sembilan bulan yang lalu.”

Sembilan bulan yang lalu, berarti ketika itu aku sedang berada di dalam penjara. Aku pun menarik nafas dalam-dalam, sadar pada kegagalanku menjalankan amanah ini. Sungguh, aku kecewa sekali.

Aku menunduk, memandangi sneaker bututku yang seakan tak menjejak lantai. Aku lantas menoleh ke kanan, pada satu pojok di mana pintu lift berada.

Suara denting dari lift itu menimbulkan sensasi yang begitu hening di dalam hatiku. Orang-orang yang keluar masuk dari lift itu juga membuatku gamang.

Aku segera sadar, bahwa aku masih mempunyai amanah yang kedua. Yaitu, menjaga putri Pak Wisnu itu, sampai nanti dia menikah. Ya, aku tidak boleh lupa pada amanah yang kedua itu.  

Lagipula, menurut pemikiranku, selayaknya hukum waris, maka surat yang sedianya untuk Pak Wisnu ini mesti juga aku berikan kepada istrinya, atau anaknya.

“Ka.., ka.., kalau..,” kataku terbata-bata.

“Kalau saya bertemu dengan Ibu Wisnu, atau anaknya Pak Wisnu, bisa Mbak? Boleh saya minta alamatnya?”

Wajah kelabu sang resepsionis sekarang bercampur dengan mimik cemberut. Permintaanku ini sepertinya sedikit merepotkan bagi dia.  

“Kalau Ibu Wisnu, maaf, dia tidak berada di sini. Tetapi, anaknya, yang sekarang memegang kepemimpinan perusahaan ini, emmh.., sepertinya Bapak harus membuat janji terlebih dulu.”

“Boleh, boleh, Bu. Saya akan menunggu.”

“Tunggu sebentar ya.”

Petugas resepsionis kemudian kembali duduk di kursinya. Ia melakukan panggilan lagi melalui telepon intercom.

Kepada seseorang yang ada si seberang sana ia menjelaskan perihal kedatanganku ini, bersama sepucuk surat dari Abah Anom.

“Bersyukurlah Bapak, karena Ibu Widya sedang tidak ada agenda siang ini,” kata resepsionis seusai bertelepon itu.

Aku langsung menarik nafas lega.

“Ibu Widya bisa menerima Bapak sekarang di ruangannya.”

Ibu Widya? Batinku kemudian. Oh, jadi, putri Pak Wisnu itu bernama Widya.

Sungguh aku berharap dia sudah menikah. Sehingga dengan demikian maka gugurlah amanah yang kedua dari Abah Anom itu.

Aku diberi sebuah name tag atau ID card oleh petugas resepsionis, berisi keterangan yang berbunyi; Pengunjung. Aku pun memakai name tag itu, melingkarkan talinya ke leher.

“Terima kasih, Bu.”

Selanjutnya aku menuruti arahan dari petugas resepsionis, berjalan memasuki lift dan menuju lantai teratas gedung ini.

Sepanjang perjalanan di dalam lift aku mengkhayal, tentang rencana-rencana untuk masa depanku. Yaitu, jika urusan dengan keluarga Wibisono ini selesai, aku akan pergi ke Riau, menuju satu kawasan transmigrasi untuk mengklaim tanah warisan dari almarhum ibuku.

“Di tanah itu aku akan bertanam melon.” Tekadku dalam hati.

“Aku akan menjadi petani..,”

“Melupakan semua kepahitan di dalam hidupku..,”

“Melupakan cinta terpendamku pada Ceu Lena..,”

“Dan menjalani hari-hariku bersama Iroh, tambatan hatiku saat ini..,”

Ting! Lift berdenting, pintunya terbuka dan ada orang lain yang masuk.

Ting! Lagi, ada yang masuk, disusul ada pula yang keluar. Begitu terus hingga aku sampai pada lantai teratas gedung Arung Tower ini.

Keluar dari lift aku mengambil jalan ke kanan. Menyusuri semacam lorong yang kanan-kirinya diapit oleh ruang-ruang perkantoran. Beberapa tanaman hias indoor tampak terpajang di salah satu sudutnya.

Di ujung, ternyata masih ada meja resepsonis lagi. Sedikit berbeda dengan yang di bawah. Di sini suasananya lebih dingin dan suram.

Aku pun segera mengutarakan maksudku pada seorang karyawati yang ada di balik meja itu. Sebentar bertanya jawab denganku, sang karyawati pun menelepon seseorang.

“Pak Jaya sudah di sini, Bu.” Katanya di telepon itu.

Oh, dia menelepon Ibu Widya, pikirku.  

Usai menelepon sang karyawati bangkit, lalu mengarahkan aku pada satu ruangan di pojok dengan pintu yang tertutup. Di pintu itu terdapat sebuah label dengan tulisan berbunyi ‘CEO’.

Aih, aku langsung gugup.

“Silahkan, Pak.” Katanya padaku, sekaligus membukakan pintu ruang CEO itu.

“Terima kasih.”

Aku memasuki ruangan. Daun pintu ditutup kembali oleh karyawati dengan lembut. Sebentar aku berdiri canggung di ruangan CEO yang ternyata amat mewah ini.

Sekilas aku memperhatikan keadaan. Ada satu set sofa di sisi kanan, sementara di sisi kiri ada lemari kaca yang penuh dengan barang pajangan.

Di ujung sana, ada sebuah jendela besar yang menampilkan view jalanan raya, dengan ujungnya yang tampak samar-samar yaitu teluk Jakarta.

Ibu Widya, sang CEO anak Pak Wisnu itu, sedang duduk di kursinya, kursi putar yang yang juga mewah. Ia memakai busana semacam jas, dan memakai kacamata berbentuk persegi.

Dari posisiku berdiri ia menghadap ke samping, sehingga aku tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya.

Ia rupanya sedang mencermati lembaran berkas yang beberapa saat masih ia bolak-balik di atas meja kerjanya.

“Silahkan duduk, Pak,” kata Ibu Widya itu, seraya memutar posisi kursinya menghadapku.

Bersamaan dengan tangannya yang menutup berkas, ia pun menoleh dan menatap aku.

Jegerrr..! Aku terkejut bukan kepalang. Ternyata, dia adalah..,

           

********

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 241: Rencana Busuk

    **“Kalian bertiga, bekerja untuk siapa?”Pak Charles tersenyum sebentar. Senyum yang begitu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya.Ujarnya kemudian, “Bagaimana kalau pertanyaan itu nanti saja saya jawabnya.”“Saya mau jawaban sekarang. Kalian bekerja untuk siapa?” Ulang Gending bertanya, dengan nada yang dalam tapi mengancam.“Begini, Gending..,” Belum selesai Pak Charles berbicara langsung dipotong oleh Gending.“Pertanyaan terakhir, dan kalau setelah ini aku tidak mendapat jawaban maka leher kamu akan langsung aku patahkan. Kalian bekerja untuk siapa?”Pak Charles menelan ludah kecut. Akhirnya, ia menjawab.“Un.., untuk Mr. Robert.”“Mr. Robert. Siapa itu?”“Kamu mau bertemu dengan dia?” Balas Pak Charles dengan pertanyaan pula.“Kenapa tidak? Kapan? Di mana? Tapi jawab dulu, siapa itu Mr. Robert?&rd

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 240: Batang Leher

    **Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pukul sembilan pagi, Pak Charles menelepon Gending ketika ia baru saja menerima satu bundel dokumen dari Pak Bisma.“Halo, Gending?”“Ya, halo.”Gending berjalan pelan-pelan di lorong kantor, menuju ke lift.“Dokumen dari Pak Bisma sudah kamu terima?”“Sudah.”“Buang saja dokumen itu. Toh tidak berguna juga.”Nah! Benar dugaan Gending kemarin. Dokumen, bandara Sukarno Hatta, dan semua yang terkait dengan ini adalah akal-akalan Pak Charles.Sejak beberapa hari yang lalu dia pasti tetap berada di Jakarta ini, dan tidak sedang di luar kota atau luar negeri.“Oke,” sahut Gending berusaha tenang.“Sekarang, saya mesti ke mana? Ke suatu hotel di dekat bandara Sukarno Hatta? Atau..,”“Oh, tidak, tidak. Sekarang, emm.., kamu disuruh bawa mobil sendiri, bersama dengan Pak

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 239: Roti Isi Daging Tuna

    **“Lalu yang kedua, saya sedang gugup.”“Gugup? Gugup kenapa?” Tanya Miss Widya penasaran.Gending tak segera menjawab. Jujur, perintah Miss Widya tadi untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada Pak Charles membuat ia tiba-tiba merasa gelisah, dan ya, gugup.Ia sadar bahwa pertemuannya dengan Pak Charles nanti akan mengandung suatu bahaya. Menunggu sampai besok, menunggu sampai nanti bertemu dengan Pak Charles itu tak pelak membuat ia tidak tenang.Ini mirip dengan perumpamaannya seperti seseorang yang akan menghadapi hukuman. Semakin diulur maka semakin membuat deg-degan.Jika ia boleh memilih, ingin sekali ia menghadapi apa pun bahaya itu sekarang juga. Tidak harus menunggu sampai besok.Anehnya di sini, inisiatif yang muncul pada diri Gending adalah, bahwa satu porsi es krim bisa meredakan kegugupannya, seperti kebiasaan Misss Widya selama ini.Is it work—manjur? Entahlah, Gending belum merasa. A

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 238: Es Krim Rasa Coklat

    **Miss Widya memanggil. Ada apakah?Ternyata tidak ada apa-apa. Ia hanya meminta untuk diantar pulang. Masih pukul lima kurang, tapi sang CEO muda itu ingin pulang cepat. Gending langsung tanggap. Ia memberesi ruangan kantor Miss Widya seperti biasa. Sembari melakukan itu ia juga menghubungi Pak Murad untuk menyiapkan mobil di lobi bawah.“Mari, Miss.” Ujar sang ajudan, membimbing dan mengawal bossnnya ini turun ke lantai dasar. Ia juga membawakan tas kerja Miss Widya yang berisi laptop dan beberapa dokumen.Sewaktu di dalam lift, Miss Widya berinisiatif membuka percakapan.“Besok, saya tidak ada agenda apa-apa kan?”“Tidak ada, Miss.”“Oke, besok saya minta tolong. Kamu pergi ke Sutta. Kamu antarkan satu dokumen yang sudah disiapkan oleh Pak Bisma.”“Sutta yang Miss maksud ini, apakah bandara Sukarno Hatta?”&l

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 237: Venus Minta Jatah

    **“Tidak usah, biar Ibu sendiri saja.”“Tapi, Bu..,”“Sudah, Gending, tidak apa-apa kok. Kamu istirahatlah.”Beberapa saat kemudian Gending masih termangu, menatap arah kepergian Ibu Suri yang kembali ke rumah besar dengan kursi rodanya.Ia kemudian menunduk, berjalan membawa ponselnya sembari menatap sekali lagi jumlah nominal yang masuk ke rekeningnya. Sampai di teras ia kembali menempati kursinya yang tadi.Guk..!Venus menyalak lembut meminta perhatian darinya.“Apa?” Tanya Gending seakan mau berbicara pada Venus.Guk..!“Kamu minta jatah? Minta bagian?”Gukk..!“Ogah!”Gukk..!“Tidak mau, uang ini untuk aku.”Guk, gukk..!“Oke, oke. Besok kamu aku belikan roti lapis isi daging tuna. Tapi, dengan satu syarat, kamu harus bisa merespon suara suitanku dulu.”Gukk.

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 236: Lima Puluh Juta

    **“Gending Atma Jaya..,”Mendengar nama lengkap itu tiba-tiba Ibu Suri terkejut. Telinganya menegang dan matanya terpaku pada sebuah nama yang secara otomatis kemudian tertampil di layar tabletnya.“Gending..,” Ibu Suri menggumam pelan-pelan.“Atma..,”“Jaya..,”“Iya, Bu.” Sahut Gending kikuk.“Ini.., ini nama kamu? Nama lengkap?”“Betul, Bu.”“Tapi, Widya bilang, nama kamu Gending saja. Hanya satu kata, Gending.”Nah, di sinilah muncul sebuah dilema bagi Gending. Selama ini ia memang tidak pernah bermaksud menyembunyikan jati diri yang sebenarnya kepada keluarga Wibisono.Miss Widya saja yang selalu menutupi hal itu, dan ia melakukan itu karena alasan yang sentimentil terkait dengan surat Abah Anom perihal perjodohan dengan Mojo alias Gending.Gending pun teringat di hari pertama ia datang ke rumah Acrop

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status