Share

Bab 4

Penulis: Airey
Lampu merah di atas ruang operasi menyala terang, menusuk hati siapa pun yang melihatnya.

Carol berdiri kaku di depan pintu. Dia terlalu mengenal Alden. Anak itu melompat dari gedung demi menghentikan orang-orang yang terus menghina ibunya.

Dadanya sesak hingga hampir tak bisa bernapas. Dia telah gagal melindungi Alden.

Dokter melepas masker, lalu memintanya pergi membayar biaya operasi terlebih dahulu.

"Gimana keadaan anakku?"

Dalam sekejap, dia seolah menua sepuluh tahun. Jiwanya seolah-olah telah keluar dari raganya.

Dokter menghela napas. "Tulang betisnya patah dan luka di lengan yang putus itu kembali robek. Silakan selesaikan pembayaran dulu."

Sambil membawa lembar tagihan menuju loket pembayaran, Carol melihat Brad datang. "Kamu datang untuk menjenguk Alden?"

Prilly lebih dulu menjawab, "Bukan. Ada beberapa bagian dari partitur ini yang nggak kupahami. Pak Brad baik hati, jadi dia sekalian mengantarku kemari untuk bertanya padamu."

Prilly adalah murid Brad. Kalau ada yang tidak dipahami, kenapa tidak bertanya langsung kepada Brad, malah mencarinya?

Sambil berbicara, Prilly mengulurkan partitur itu. Carol menunduk melihatnya.

Pada detik itu juga, darah di seluruh tubuhnya seakan membeku.

Itu adalah komposisi orisinal terakhir yang dia ciptakan sebelum menikah. Karya itu memiliki arti yang sangat penting baginya. Partitur tersebut selama ini disimpan di brankas pribadinya dan tidak pernah dipublikasikan.

"Siapa yang mengizinkanmu membongkar brankasku?"

Carol mengangkat tangan. Tepat ketika tamparannya hampir mengenai wajah Prilly, Brad menahannya dengan satu tangan. "Aku yang mengizinkannya."

Brad melepaskan tangannya, lalu berkata dengan nada datar, "Kamu adalah istriku. Segala milikmu, termasuk dirimu dan semua karyamu, aku berhak mengaturnya."

Atas dasar apa dia membongkar barang pribadinya tanpa izin? Atas dasar apa dia memaksa istri sahnya sendiri mengajari pelakor memainkan hasil jerih payahnya?

Prilly mengintip dari balik punggung Brad sambil tersenyum.

"Kalau begitu, terima kasih ya, Kak Carol."

Memanfaatkan saat Brad melepaskan pegangannya, Carol melampiaskan seluruh rasa sakit, amarah, dan penghinaan yang selama ini dipendam. Tamparan yang seharusnya sudah diberikan sejak lama akhirnya mendarat keras di wajah Prilly.

Suara tamparan yang nyaring bergema di sepanjang lorong.

"Brad, sampai mati pun aku nggak akan mengajarinya!"

Bekas telapak tangan tampak jelas di wajah Prilly. Tatapan Brad yang semula tenang langsung berubah suram. "Kamu berani menyentuh orangku?"

"Bawa orang ke sini. Gunakan hukuman keluarga. Ajari dia sampai dia menurut."

Para pengawal di belakang segera menerima perintah dan memaksa Carol berlutut di lantai. "Nyonya, maafkan kami!"

Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Carol bahkan tidak tahu sudah berapa kali dia ditampar. Rasa sakit itu begitu hebat hingga dia tidak sanggup menahannya lagi. Dengan suara lirih, dia memohon, "Aku bersedia ... aku bersedia mengajari Prilly."

Brad memberi isyarat kepada para pengawal untuk melepaskannya. Carol langsung terkulai di lantai, nyaris tak sadarkan diri.

Brad menatapnya. Di matanya sempat terlintas sedikit rasa iba yang nyaris tak terlihat. "Partiturmu bisa dimainkan oleh Prilly adalah keberuntungan bagi karya itu, sekaligus keberuntungan bagimu."

"Setiap hari kamu hanya tinggal di rumah mengurus anak, terjebak dalam urusan dapur dan rumah tangga. Kalau partitur itu tetap berada di tanganmu, hanya akan terbuang sia-sia. Justru Prilly yang memberi karya-karya lama itu kesempatan untuk kembali bersinar."

Dia menunduk menatap Carol. Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.

"Aku akan menanggung seluruh biaya pengobatan Alden. Aku juga sudah memecat pembantu di rumah. Mulai besok, tugasmu adalah mengajari Prilly memainkan partitur itu sekaligus menyiapkan tiga kali makan setiap hari."

"Kalau kamu patuh, Alden bisa menjalani pengobatan dengan tenang."

Carol tidak membantah. Dia juga tidak memiliki hak untuk membantah.

Brad benar-benar tahu titik terlemahnya. Demi Alden, dia tidak punya pilihan selain mengalah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 19

    Levi tidak pergi. Dia menemukan rumah keluarga Carol dan berjaga di depan rumah semalaman.Malam itu, London yang biasanya jarang turun salju justru diguyur salju.Pagi-pagi sekali, saat Alden sudah berpakaian rapi dan bersiap bermain salju, dia melihat Brad meringkuk di depan pintu dalam keadaan tertidur lelap."Papa?" panggil Alden pelan.Brad berusaha membuka matanya. Dia mengernyit. "Alden?""Papa kenapa datang ke sini?"Brad baru hendak menjawab, tetapi kemudian melihat lengan Alden yang kini kosong. Alden membawa semua mainannya dengan satu tangan, tampak sedikit kesulitan. Dia meletakkan mainan-mainannya di lantai, lalu kembali menatap Brad.Brad mengulurkan tangan hendak menggandengnya, tetapi Alden mundur dua langkah dan menghindarinya."Alden, lenganmu .... Papa minta maaf padamu ...."Betapa inginnya Brad menampar dirinya yang dulu. Kalau saja saat itu dia memberikan pesawatnya kepada Alden, lengan Alden pasti masih bisa disambung kembali.Alden tahu apa yang membuatnya mera

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 18

    Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam dengan transit, Brad akhirnya tiba di London.Sejak melihat berita kemarin hingga sekarang, dia tidak memejamkan mata sedikit pun. Begitu mengetahui teater tempat Carol bekerja, dia langsung menuju ke sana setelah mendarat.Saat ini, London sedang memasuki musim dingin yang menusuk. Karena datang terburu-buru, dia bahkan tidak sempat membawa pakaian untuk musim dingin. Di tubuhnya hanya ada setelan jas hitam yang dikenakannya saat pertunjukan.Dia menunggu tepat lima jam di depan teater hingga tubuhnya kaku karena kedinginan dan ujung hidungnya memerah. Satpam di pintu menyarankannya masuk untuk menunggu, tetapi Brad menggeleng dan menolak.Dia tidak ingin masuk tanpa izin Carol. Dia takut Carol marah.Setelah menunggu dua jam lagi, hari mulai gelap. Akhirnya, dia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Hanya saja, di belakang sosok itu kini ada seorang pria yang tubuhnya lebih tinggi dan besar darinya.Pria itu menggenggam tangan kecil Caro

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 17

    Setelah mengetahui bahwa dirinya telah diceraikan sepihak, Brad mengurung diri di rumah dan menghabiskan hari-harinya dengan minum untuk melupakan kesedihan.Dia sering menatap layar ponselnya sambil termenung.Ibu Brad, Isti, beberapa kali datang. Melihat putranya yang dulu penuh semangat kini terpuruk seperti ini, tentu saja hatinya terasa sangat sakit."Brad, kapan kamu akan melupakan Carol? Pertunjukanmu untuk pensiun dari dunia seni sudah ditunda dua kali. Para penggemarmu menunggu penjelasan darimu.""Pada hari lengan Alden putus, aku pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Aku kira Carol sengaja membiarkan lengan Alden putus agar kamu lebih memusatkan perhatian pada keluarga. Aku bahkan memarahinya, mengatakan dia adalah ibu yang kejam ...."Nada suara Isti dipenuhi penyesalan. "Baru setelah itu aku tahu, ternyata kamu yang menahan pesawatnya dan mengadakan pesta perayaan untuk murid kesayanganmu.""Waktu dia bilang ingin menceraikanmu, aku nggak nyangka Carol benar-benar tega. D

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 16

    Setelah keluar dari rumah sakit, Carol tanpa sengaja menerima pesan dari pengacaranya.[ Bu Carol, Pak Brad sudah mengambil akta cerainya. Kondisinya terlihat sangat terpuruk. ]Bagaimana mungkin Brad merasa terpuruk? Dia memiliki Prilly yang bisa memberinya gairah dan pengalaman baru, juga karier yang sangat dicintainya.Carol merasa, ada atau tidak adanya dirinya tidak pernah benar-benar penting bagi Brad. Toh dulu saat menikah dengannya, Brad memang dipaksa.Usia mereka sama-sama sudah cukup untuk menikah dan perjodohan itu hanya membuat hubungan mereka terikat lebih erat.Carol menatap layar ponselnya yang dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Dia hanya merasa cinta yang datang terlambat itu tak ubahnya kotoran. Dia menarik napas panjang, lalu memblokir semua nomor dan kontak Brad.Belakangan, Brad berkali-kali menelepon Arya dan Zara, tetapi mereka sama sekali tidak mengangkatnya."Untuk apa baru menyesal sekarang?" Zara menggenggam tangan Carol sambil menghiburnya. "Carol, t

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 15

    Saat semua bukti yang menunjukkan setiap perbuatan yang telah menyakiti Carol terbentang di hadapan Prilly, dia langsung terpaku."Nggak ada penjelasan yang bisa kamu berikan?" kata Brad. Dia merasa dirinya sudah bersikap sebaik mungkin terhadap Prilly. "Aku nggak akan menuntutmu, asal kamu nggak terus menggangguku.""Prilly, kita cuma guru dan murid. Kuharap kamu bisa menjaga diri."Prilly tidak menyangka Brad akan bersikap sedingin ini kepadanya. Kalau begitu, apa arti semua kenangan di antara mereka selama ini?Akal sehatnya perlahan mulai runtuh."Brad! Jadi di hatimu aku cuma seorang murid? Jangan bercanda! Mana ada orang yang pakai foto profil pasangan dengan muridnya? Pakai baju pasangan, bahkan sampai menulis sendiri pidato untuk pertunjukan kecilku yang hanya dihadiri sepuluh orang?""Sekarang Carol menghilang, baru kamu tahu arti menghargainya dan ingin menjauh dariku. Apa nggak terlambat? Semua orang tahu hubungan kita nggak biasa. Walaupun nggak pernah selingkuh secara fisi

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 14

    "Belum, Pak. Semua pengawal dan detektif swasta yang kita kirim, pulang dengan tangan kosong. Keberadaan Nyonya sepertinya sengaja dihapus.""Satu-satunya petunjuk adalah mobil yang ditumpangi Nyonya saat dibawa pergi."Brad mengambil foto dari tangan asistennya dan melihatnya sekilas. "Selidiki. Istriku sudah hilang lebih dari 24 jam. Laporkan ke polisi."Asisten itu mengangguk, tetapi tampak masih ingin mengatakan sesuatu."Ada apa?""Masih ada beberapa berkas lagi. Ini mengenai Nyonya dan putra Bapak."Begitu mendengar itu, Brad segera merebut berkas itu dan membukanya. Dia menunduk. Sorot matanya dipenuhi ketegangan, bahkan kedua tangannya gemetar."Lengan Tuan Alden nggak pernah ditemukan. Hari itu hujan badai melanda Kota Handir dan memang nggak ada penerbangan kedua menuju Kota Handir.""Selain itu, alasan Tuan Alden melompat dari gedung adalah karena dihasut oleh teman Bu Prilly. Temannya bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Setelah klarifikasi dipublikasikan, dia langsung m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status