แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Minnie
Ayah dan Ibu Cherish tidak menyangka putri mereka akan menyetujui secepat ini. Keduanya cukup terkejut.

"Kamu benar-benar sudah mikirin matang-matang? Kalau begitu, kapan kamu pulang? Pernikahannya biar kami yang atur. Atau kamu mau pulang dulu buat ketemu calon pasanganmu?"

Cherish sudah tidak punya tenaga untuk memikirkan semua itu. Dia asal menjawab, "Terserah Ayah Ibu saja. Setelah urusanku di sini beres, aku akan segera pulang."

Ayah dan ibunya menangkap kelelahan dalam suaranya. Setelah berpesan beberapa hal lagi, mereka pun menutup telepon.

Ruangan kembali sunyi. Cherish memaksakan diri berdiri dan masuk ke kamar mandi.

Saat keluar lagi, begitu membuka pintu, pandangannya langsung bertemu dengan Aldrich yang sedang duduk di sofa.

"Kenapa Kakak pulang duluan dan nggak bilang apa-apa?"

Napas Cherish tercekat. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang merah. "Ponselku kehabisan baterai, jadi aku pulang dulu."

Ketika mendengar alasan yang diberikan secara asal-asalan itu, Aldrich tampak tidak terlalu peduli. Dia menarik Cherish ke dalam pelukan. Dengan sekali tarikan ringan, ikat pinggang jubah mandi Cherish pun terlepas.

Namun, Cherish tidak memberinya kesempatan. Dia langsung menggenggam tangan Aldrich yang hendak menyentuhnya.

"Di kelab tadi kita sudah melakukannya beberapa kali, 'kan? Baru juga beberapa jam lalu."

Aldrich seolah tidak menangkap penolakan dalam nada bicaranya. Dia malah menggenggam balik tangan Cherish dan menyelipkan jemarinya di antara jemari Cherish.

"Kalau begitu, sudah lama dong? Kamu tahu sendiri, setiap kali lihat kamu, aku selalu sulit menahan diri. Kak, aku sangat menyukaimu."

Mendengar kata-kata manis yang sengaja diucapkan untuk menggodanya, Cherish hanya merasa itu begitu ironis.

Menyukainya? Bukankah dia hanya bahan latihan? Lima tahun. Ribuan kali. Masih belum cukup?

Cherish memalingkan wajah dan menghindari ciuman yang hendak mendarat di bibirnya. "Oh ya? Kalau suatu hari nanti kamu nggak bisa nyentuh aku lagi, gimana?"

Aldrich akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Dia tertegun sesaat. "Kamu cinta aku, aku juga cinta kamu. Kita saling mencintai. Mana mungkin aku nggak bisa menyentuhmu lagi?"

Saling mencintai. Betapa indahnya kata itu.

Cherish tidak menjawab. Hanya ada lengkungan tipis di sudut bibirnya saat dia diam-diam mengalihkan topik. "Aku cuma asal bicara. Tadi aku kehujanan waktu pulang, sekarang jadi nggak enak badan. Aku mau istirahat dulu."

Melihat wajahnya yang pucat, Aldrich tidak memaksanya lagi. Dia menunduk dan mengecup kening Cherish beberapa kali sebelum berniat menggendongnya ke kamar.

Namun, sebelum sempat berdiri, ponsel di meja tiba-tiba berdering. Dia mengambilnya dan membuka pesan itu. Dari sudut matanya, Cherish melihat nama kontak yang tertera. Garcia.

[ Kak, aku sudah pulang ke tanah air. Tapi hujannya deras sekali di luar, aku nggak bisa dapat taksi. Aku harus gimana? ]

Setelah membaca pesan itu, Aldrich langsung melepaskan Cherish dari pelukannya dan berdiri. "Kak, ada urusan mendadak. Istirahat saja dulu, nggak usah nunggu aku."

Saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu sudah tertutup dengan keras. Tatapan Cherish sedikit bergetar. Dia kembali ke kamar tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah mengeringkan rambut, dia membenamkan diri ke dalam selimut dan mematikan lampu. Meskipun memejamkan mata, tidurnya tidak nyenyak. Berbagai kenangan selama bertahun-tahun bersama Aldrich terus muncul dalam benaknya.

Aldrich pernah membeli kalung bernilai puluhan miliar di rumah lelang dan memasangkannya sendiri di leher Cherish sambil berjanji akan membelikannya berlian seumur hidup.

Dia pernah menyalakan pesta kembang api selama tiga hari tiga malam di tepi pantai untuk merayakan ulang tahun Cherish, lalu berkata sambil tersenyum bahwa dia akan memberikan yang terbaik untuk Cherish.

Dia pernah membuat permohonan saat hujan meteor yang konon hanya muncul sekali dalam lima miliar tahun, lalu berjanji akan menemani Cherish sampai dunia berakhir dan tidak akan pernah melepaskan tangannya.

Janji-janji itu masih terngiang di telinganya. Namun, kini dia baru tahu bahwa semua kata-kata itu hanyalah kebohongan untuk menenangkannya. Sejak awal, Aldrich tidak pernah berniat menghabiskan hidup bersamanya.

Dalam keadaan setengah sadar, tubuh Cherish mulai terasa panas. Hawa dingin yang menusuk seolah meresap hingga ke tulang, membuatnya tak henti-hentinya menggigil.

Semalaman berlalu. Keringat dingin membasahi seluruh tempat tidur. Saat Aldrich pulang dan melihat wajah Cherish yang memerah karena demam, rasa kantuknya langsung lenyap.

Dengan panik, dia menggendong Cherish dan membawanya ke rumah sakit. Baru saja tiba di lobi, Cherish yang setengah sadar perlahan membuka mata.

"Kenapa aku ada di sini?"

"Kamu demam. Aku bawa kamu buat diperiksa. Kamu sudah sebesar ini, kenapa masih nggak bisa jaga diri?"

Nada bicara Aldrich dipenuhi kecemasan dan kasih sayang. Dia membantu Cherish duduk di kursi, lalu berbalik hendak mengantre.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia melihat Garcia. Wajahnya langsung dipenuhi keterkejutan. "Garcia? Kok kamu ada di sini? Bukannya aku baru saja antar kamu pulang?"

Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana. Dia tampak polos, lembut, dan rapuh. "Setelah sampai rumah aku mau masak bubur, tapi tanganku kena air panas. Jadi aku ke rumah sakit untuk berobat."

Melihat punggung tangannya yang memerah, ekspresi Aldrich langsung berubah. Dalam sekejap, urusan Cherish terlupakan begitu saja.

Dia segera menemani Garcia mendaftar, menjalani pemeriksaan, dan mengambil obat. Tak lama kemudian, dia benar-benar melupakan apa yang tadi hendak dilakukannya.

Cherish hanya memandangi punggung mereka yang makin menjauh. Dia tahu Aldrich tidak akan kembali.

Dengan senyuman penuh ejekan untuk dirinya sendiri, dia memaksakan diri berdiri dan mulai mengantre seorang diri.

Setelah diperiksa dokter, Cherish pergi ke ruang infus. Dia harus duduk di sana selama tiga jam. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk bertahan sehingga di tengah-tengah itu dia tertidur.

Karena tidak ada yang memperhatikan, darah dari pembuluhnya mengalir balik ke selang infus hingga cairan di dalamnya ikut memerah.

Perawat buru-buru berlari menghampiri dan membangunkannya. "Kenapa kamu datang ke rumah sakit sendirian? Nggak ada yang menemani? Keluargamu mana? Pacarmu mana?"

Cherish menatap punggung tangannya yang membiru. "Keluargaku nggak tinggal di kota ini. Kalau pacar ... aku nggak punya pacar."

Detik berikutnya, Aldrich berjalan cepat menghampiri. "Cherish!"

Perawat mengganti botol infus yang baru, lalu berkata, "Jadi kamu pacarnya? Kenapa nggak jaga dia di sini? Tadi darahnya mengalir balik dan sudah naik ke selang infus. Untung cepat ketahuan. Kalau nggak, bisa jadi masalah."

Melihat tangan Cherish yang membengkak, Aldrich segera menggenggamnya.

"Maaf. Tadi aku ketemu teman, jadinya ngobrol dulu. Aku sampai lupa urusan penting. Waktu balik, kamu sudah nggak ada. Aku lama juga karena cari kamu."

Cherish tidak membongkar kebohongannya. Dia hanya mengangguk pelan. "Ya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status