เข้าสู่ระบบSaat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya
Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da
Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah
Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit
Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur
Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti







