แชร์

Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya
Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya
ผู้แต่ง: Minnie

Bab 1

ผู้เขียน: Minnie
Sudah lima tahun Cherish menjalani hubungan rahasia dengan adik laki-laki sahabatnya. Dengan bermodalkan stamina dan pesona yang melimpah, pria itu selalu menyeretnya untuk bermesraan di berbagai tempat.

Baru saja Cherish masuk ke toilet, Aldrich sudah menarik pinggang rampingnya dan menekannya di atas wastafel.

Dengan tatapan linglung, Cherish berbisik, "Aldrich, pelan sedikit ...."

Aldrich tersenyum tipis, menunduk ke dekat telinganya dan berkata dengan nada menggoda, "Kakak sudah nggak tahan? Ini baru mulai lho."

Gelombang kenikmatan menyerbu, membuat Cherish tak mampu lagi berkata apa-apa dan hanya menikmati semuanya dalam diam.

Selama bertahun-tahun ini, dia telah menemani Aldrich menciptakan kenangan di banyak tempat. Namun, dia tidak mampu mengimbangi energi pria yang seolah tak ada habisnya itu.

Baru sekarang dia paham. Lelaki yang lebih muda memang memiliki stamina luar biasa dan selalu punya banyak cara untuk membuat suasana makin panas.

Aldrich menyipitkan mata. Tangannya terus membelai pinggang Cherish, enggan melepaskan.

"Kenapa pinggang Kakak selembut ini? Setiap kali kusentuh rasanya selalu bikin aku gila, kayak kena sihir. Aku nggak bisa berhenti. Mulai sekarang Kakak nggak boleh disentuh pria lain ya, cuma boleh buat aku."

Cherish tahu, sejak dahulu Aldrich memang posesif. Dia tersenyum, lalu mengecup bibir pria itu. "Kamu tahu sendiri, aku cuma milikmu."

Setelah beberapa kali bermesraan, Aldrich akhirnya benar-benar puas. Dia merapikan ikat pinggangnya yang berantakan dan kembali menunjukkan sikap bebas dan liarnya.

Melihat pria itu hendak pergi, Cherish segera meraih tangannya. "Tahun depan aku sudah 30 tahun. Keluarga terus mendesak aku untuk menikah. Aku tahu kamu belum mau mengumumkan hubungan kita, jadi aku nggak pernah bilang ke mereka kalau aku punya pacar."

"Mereka bahkan sudah kenalin aku dengan beberapa pria buat dijodohkan. Menurutmu gimana?"

Langkah Aldrich terhenti. Dia berbalik, mengecup sudut bibir Cherish dengan lembut, lalu menenangkannya. "Tunggu sebentar lagi ya. Aku sudah mulai mempersiapkan lamaran."

Hati Cherish yang gelisah pun akhirnya tenang. Melihat sosoknya menghilang di ujung lorong, dia mengenakan kembali pakaian yang berserakan di lantai, mengambil tasnya, lalu berjalan perlahan menuju ruang VIP untuk melanjutkan pesta yang belum selesai.

Namun, baru sampai di depan pintu, dia mendengar gelak tawa dari dalam.

"Aldrich, hebat juga kamu. Suaranya sampai kedengaran dari luar. Kakak itu memang bikin mabuk. Suaranya tadi ... ck, ck, dengarnya saja bikin lemas!"

"Lihat saja tubuh Cherish, terutama pinggangnya. Mana mungkin nggak ketagihan? Di kalangan kita banyak yang incar dia, tapi dia nggak pernah tertarik sama pria mana pun."

"Cuma Aldrich yang punya pesona sebesar itu sampai bisa menaklukkan bidadari seperti dia. Tapi kalian sudah pacaran bertahun-tahun, pengalamanmu pasti sudah cukup, 'kan?"

Pengalaman? Pengalaman apa? Tubuh Cherish langsung terasa dingin. Dia sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan mereka.

Tampaknya masih ada orang di dalam yang juga tidak tahu cerita sebenarnya, sehingga bertanya terus terang.

"Pengalaman apa lagi? Aldrich suka sama adik kelasnya sejak SMA. Kami semua nyuruh dia kejar gadis itu. Dengan wajah gantengnya, siapa yang nggak bakal jatuh cinta? Tapi dia nggak berani macam-macam."

"Katanya dia nggak punya pengalaman ngejar perempuan, belum pernah pacaran, apalagi pengalaman di ranjang. Dia ingin kasih yang terbaik untuk adik kelasnya, jadi selama beberapa tahun ini dia mencari seseorang untuk dijadikan latihan."

"Sekarang adik kelasnya juga mau pulang ke tanah air. Aldrich, setelah latihan bertahun-tahun dengan Cherish, kalian harusnya sudah putus, 'kan? Kenapa tadi malah main sama dia lagi? Jangan-jangan kamu betulan jatuh cinta?"

Di tengah tatapan penasaran semua orang, Aldrich meletakkan gelas anggurnya dengan santai. "Jatuh cinta? Apa kalian bakal jatuh cinta sama mainan yang dipakai buat latihan?"

Nada bicaranya yang begitu acuh tak acuh terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Cherish. Dalam sekejap, darah di seluruh tubuhnya seolah mengalir ke kepala.

Rasa sakit yang menghancurkan menjalar di dadanya hingga hampir membuatnya tak mampu berdiri. Namun, sebelum sempat tenggelam dalam kesedihan, dia mendengar orang-orang di dalam bercanda sambil bersiap ke luar.

Karena takut ketahuan, dia buru-buru berbalik sambil berpegangan pada dinding dan pergi dengan langkah sempoyongan.

Usianya hampir 30 tahun, tetapi dia masih menangis seperti ini. Memikirkannya saja terasa memalukan.

Saat ini, Cherish berjalan sendirian di tengah hujan deras tanpa tujuan. Pikirannya kacau balau.

Pertama kali Cherish bertemu Aldrich adalah saat tahun pertama kuliah. Dia diterima di universitas di Kota Utara dan bertemu sahabat terbaiknya selama masa kuliah, Adeline.

Karena sering bermain ke rumah sahabatnya itu, lama-kelamaan dia pun mengenal adik laki-laki Adeline, yaitu Aldrich.

Kesan pertamanya hanya satu, tampan. Sangat tampan. Selain itu, tidak ada pikiran lain.

Bagaimanapun juga, dia empat tahun lebih tua dari Aldrich. Selain itu, Aldrich adalah adik Adeline, jadi selama ini dia selalu menganggapnya seperti adik sendiri.

Setelah lulus kuliah, Cherish tidak pulang ke kampung halaman. Dia ingin lepas dari bantuan keluarga dan mencoba hidup mandiri dengan mencari pekerjaan di Kota Utara.

Karena parasnya yang cantik, dia sering menjadi sasaran perhatian pria. Suatu kali saat menghadiri acara bisnis, dia diberi obat. Dia bersembunyi di hotel dan awalnya ingin menelepon Adeline agar menjemputnya.

Karena salah menekan nomor, yang datang justru Aldrich. Saat Aldrich tiba, Cherish ingin memintanya memanggil dokter. Namun, pria itu hanya menatapnya dengan mata indahnya sebelum melepas kausnya.

Malam itu, pemuda yang baru saja beranjak dewasa itu menjadi penyelamatnya.

Keesokan harinya, wajah Cherish merah merona. Bukan karena malu, melainkan karena merasa bersalah. Dengan panik, dia bersiap pergi. Dia berharap semua itu bisa dianggap tidak pernah terjadi.

Namun, Aldrich memeluknya dari belakang dan mengecupnya pelan. "Kak, habis tidur sama aku, mau kabur begitu saja? Nggak mau tanggung jawab?"

Sejak saat itu, Cherish berusaha menghindar dengan segala cara. Namun, Aldrich terus mengejarnya.

Pada akhirnya, Aldrich berhasil mendapatkan hatinya. Mereka menjalin hubungan diam-diam tanpa diketahui siapa pun. Selama lima tahun, mereka begitu cocok baik secara emosional maupun batin. Kasih sayang mereka pun seolah tak pernah berubah.

Cherish selalu berpikir bahwa pada akhirnya mereka akan menikah dan hidup bahagia. Dia terus menantikan lamaran Aldrich. Namun, Aldrich tidak pernah menunjukkan tanda-tanda apa pun.

Karena terus didesak keluarganya, dia akhirnya memberanikan diri menanyakan hal itu secara halus. Tak disangka, ternyata sejak awal Aldrich tidak pernah berniat memiliki masa depan bersamanya. Pria itu sudah memiliki seseorang yang dicintainya.

Sedangkan dirinya, dari awal sampai akhir, hanyalah alat latihan!

Dengan pikiran kosong, Cherish pulang ke rumah. Dia meringkuk di sudut ruangan, memeluk tubuhnya yang dingin sambil termenung.

Entah sudah berapa lama berlalu, tiba-tiba dering ponsel memecah keheningan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol jawab.

Suara kedua orang tuanya yang serius terdengar dari seberang sana. "Cherish, sekarang sudah setengah bulan. Kamu sudah pertimbangkan baik-baik soal perjodohan itu belum?"

Menatap foto peringatan lima tahun hubungannya dengan Aldrich yang terpajang di meja, Cherish menarik napas dalam-dalam. "Sudah. Aku bersedia dijodohkan."

Mulai saat ini, dia akan memulai hidup yang baru, sedangkan Aldrich akan mengejar cinta pertamanya. Kehidupan mereka tidak akan pernah saling bersinggungan lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status