Share

Bab 3

Penulis: Minnie
Selesai menerima infus, Cherish langsung diajak pulang oleh Aldrich.

Baru tiba di area parkir, di melihat Garcia yang sedang menunggu di depan.

Saat melihatnya, Aldrich seketika melepaskan tangan Cherish. "Garcia, kok kamu masih belum pulang?"

Garcia baru hendak menjawab, tetapi kemudian melihat Cherish. Dia sempat tertegun. Senyum di wajahnya pun sedikit memudar.

"Aku ada urusan denganmu, Kak. Kakak ini ... siapa?"

Karena sejak awal mereka sudah sepakat menjalani hubungan diam-diam, Aldrich menjawab seperti biasanya tanpa ragu.

"Dia sahabat kakakku. Dia lagi sakit, jadi Kak Adeline minta aku temani dia ke rumah sakit."

Mendengar jawaban Aldrich, dada Cherish terasa sesak seolah ada sesuatu yang membelitnya.

Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah mengerti mengapa hubungan mereka harus dirahasiakan. Awalnya, dia mengira Aldrich takut Adeline mengetahuinya.

Baru sekarang dia mengerti, selama lima tahun mereka berhubungan dan menyembunyikan hubungan mereka dari begitu banyak orang, sebenarnya Aldrich hanya ingin menyembunyikannya dari satu orang, yaitu Garcia.

Dia tidak ingin Garcia mengetahuinya.

Cherish menarik sudut bibirnya dan berkata pelan, "Halo, namaku Cherish."

Mendengar itu, senyum Garcia kembali mengembang. Dia memperkenalkan diri, lalu menyampaikan tujuan kedatangannya.

"Teman-temanku mengadakan pesta penyambutan buat aku. Kak, aku ingin undang kamu. Kak Cherish juga ikut saja biar lebih ramai, anggap saja sekalian kenalan sama teman-teman baru."

Secara refleks, Cherish hendak menolak. Namun, Aldrich lebih dahulu menyetujuinya.

Melihat pintu mobil yang sudah terbuka, Cherish hanya bisa membungkuk dan masuk. Sepanjang perjalanan, Aldrich terus mencari bahan obrolan dan mengenang berbagai hal bersama Garcia.

"Kak, ternyata kamu masih nyimpan permen stroberi di mobil. Masih ingat pertunjukan Tahun Baru pas SMA? Aku gugup banget karena harus naik panggung main piano. Waktu itu kamu tanya apa yang bisa membuatku lebih tenang, terus aku bilang ingin makan permen stroberi."

"Kamu langsung menerobos hujan untuk beliin aku permen stroberi. Setelah itu, setiap kali bertemu denganku, kamu selalu kasih aku dua permen stroberi."

"Eh, pajangan ini kok terasa familier ya? Bukannya ini Doraemon yang pernah aku bilang suka lewat pesan? Nggak nyangka kamu juga beli."

"Kak, parfum yang kamu pakai harum sekali. Dulu aku cuma asal bilang kalau cowok yang pakai parfum seperti ini terkesan sangat menarik, ternyata sekarang kamu benar-benar pakai ...."

Cherish mendengarkan semuanya dalam diam.

Barulah dia menyadari bahwa Aldrich yang selama ini selalu terlihat santai dan cuek di hadapannya, ternyata ketika benar-benar menyukai seorang gadis, juga bisa bersikap seperti remaja yang baru merasakan cinta pertama.

Sampai diam-diam berusaha menyenangkan hati orang yang disukainya.

Cherish mengangkat kepala dan melihat ke kaca spion. Telinga Aldrich tampak merah. Setelah sekian lama berlalu, dia masih bisa berdebar seperti itu?

Wajar saja. Bagaimanapun, Garcia adalah cinta pertama yang selalu tersimpan di dalam hatinya.

Sesampainya di bar, Cherish memilih duduk di sudut ruangan. Sementara Aldrich secara refleks duduk di samping Garcia dan melepas jaketnya untuk menutupi kaki gadis itu. Sekelompok orang di ruang privat langsung bersorak heboh.

"Lima tahun nggak ketemu, Aldrich masih saja se-gentleman ini ya? Nanti kalau Garcia kalah minum, langsung dituang ke gelasmu saja, 'kan?"

"Jelas dong! Aldrich juga nggak punya pacar, nggak ada yang bakal awasi dia. Asal Garcia bilang satu kata saja, hari ini Aldrich pasti rela minum sampai tumbang."

Mendengar itu, Aldrich tanpa sadar melirik ke arah Cherish. Cherish sedang menunduk melihat ponsel, seolah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

Namun tetap saja, hatinya sedikit gelisah. Dia tak kuasa menahan diri untuk mengirimkan pesan padanya.

[ Kak, mereka nggak tahu hubungan kita, jadi cuma bercanda. Jangan dimasukkan ke hati. Hari ini pesta penyambutan Garcia, kurang pas kalau bahas hal itu. Kalau nanti ada kesempatan, aku akan umumkan hubungan kita kepada semua orang. ]

Kesempatan? Tidak akan ada kesempatan seperti itu lagi.

Tak lama kemudian, permainan pun dimulai. Pada putaran pertama, Cherish langsung kalah. Hukumannya adalah minum tiga gelas alkohol.

Aldrich mengulurkan tangan hendak menggantikannya, tetapi langsung dicegah oleh yang lain.

"Eh, aturan kami kalau mau gantiin orang minum itu harus mendapat persetujuan orangnya dulu! Kak Cherish sudah hampir 30 tahun, 'kan? Sudah biasa menemani bos minum. Masa cuma tiga gelas saja nggak sanggup?"

Mendengar mereka sengaja menyinggung usianya, hati Cherish terasa tertusuk. Dia juga tidak ingin lagi berutang apa pun kepada Aldrich sebelum pergi, jadi dia langsung mengangkat gelasnya.

Setelah menahan rasa tidak nyaman dan menghabiskan semuanya, tepuk tangan dan sorakan langsung bergema di seluruh ruangan.

Pada putaran kedua, Garcia kalah. Dia melirik Aldrich dan semua orang langsung paham, lalu menuangkan alkohol ke gelas pria itu.

Tanpa ragu sedikit pun, Aldrich menghabiskannya dalam sekali teguk.

Beberapa putaran berikutnya, Garcia terus kalah. Akibatnya, gelas Aldrich hampir tidak pernah kosong.

Tak lama kemudian, Aldrich mabuk berat dan pergi ke toilet.

Sepuluh menit berlalu. Karena Aldrich belum juga kembali, Cherish meninggalkan ruangan dan menemukannya di tangga darurat.

Begitu melihatnya, Aldrich langsung menariknya ke dalam pelukan dan bergumam pelan, "Garcia, aku senang banget. Akhirnya kamu kembali. Seumur hidupku, aku cuma ingin bersamamu. Aku nggak ingin kamu punya pengalaman buruk apa pun. Apa yang dimiliki orang lain, kamu juga harus memilikinya."

"Karena itu aku belajar selama lima tahun. Sekarang aku sudah tahu cara membahagiakan pacar, tahu hadiah apa yang harus disiapkan, tahu gimana cara berciuman. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, membuatmu jadi wanita paling bahagia di dunia."

"Maukah kamu bersamaku? Aku benar-benar ... benar-benar menyukaimu ...."

Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang mengiris hati Cherish hingga berdarah.

Cherish menatap wajah di depannya tanpa berkedip. Matanya dipenuhi kesedihan dan rasa sakit yang tak mampu disembunyikan. Dia menggigit bibirnya hingga sobek. Rasa asin darah memenuhi mulutnya.

Pada akhirnya dia tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Aldrich, sebenarnya ... apa posisiku di dalam hatimu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status