Share

8

Author: fridayy
last update Last Updated: 2025-10-12 11:38:15

Sepanjang jalan, Layla terus mengedarkan pandangannya mencari sosok Ibra. Namun tidak di ruangan acara, dan di luar, ia tak menemukan anaknya itu. Layla mencoba menyusuri deretan pedagang yang berjajar di sepanjang jalan masuk hingga parkiran, hingga diujung gerbang, Layla menemukan sosok Raffa yang tengah duduk di bawah pohon mangga yang rindang. Di hadapannya terdapat seorang pedagang mainan dan kolam ikan mainan dan Ibra yang sedari tadi dicarinya tengah duduk asik memancing ikan di pinggir kolam.

Layla menghembuskan nafas lega, ia lantas melanjutkan langkahnya mendekati Ibra. Sang anak yang menyadari kehadirannya seketika bersorak sembari mengangkat pancingan yang terdapat ikan di kailnya.

"Bu... Ikan, bu!!" sorak Ibra begitu senang umpannya ditangkap ikan meskipun itu hanya ikan mainan.

Layla tersenyum lalu berjongkok di samping Ibra yang kembali melepaskan ikannya dan memasukkan umpannya ke dalam kolam lagi.

"Ibra, kamu kemana aja sih? Ibu cari Ibra, tahu!" tutur Layla gemas karena anaknya kembali mengabaikannya dan asik memancing. Ibra terlihat fokus mengarahkan kail magnetnya ke mulut ikan yang terdapat pakunya sehingga jika didekatkan akan menempel.

Meskipun terlihat gampang, namun Ibra masin kesusahan mendapatkan ikannya. Layla pun jadi ikut asik memperhatikan kegiatan memancing itu, tanpa sadar ada mata yang terus memperhatikan sejak ia datang.

"Tenang bu, anaknya anteng sama ayahnya disini." sahut si pemilik kolam mainan.

Layla tersentak mendengar ucapan itu, matanya menatap Raffa yang tersenyum singkat dan mata yang berkilat geli.

"Saya cuma teman ibunya, pak." tutur Raffa dengan manik yang terfokus memandang Layla. Hal itu membuat Layla salah tingkah dan memilih mengalihkan pandangannya kepada Ibra lagi.

"Wah, kirain mas bapaknya anak ini."

Tak sadar, Layla melamun beberapa detik, hingga cipratan air mengenai beberapa titik kerudungnya. Layla tersentak kala Ibra berteriak seraya bangkit dan berjalan ke arah Raffa. "Ayah! Mau es krim!"

Raffa terkekeh seraya menyodorkan sesendok es krim yang telah mencair. "Es krim nya sudah cair, kamu habiskan sekarang ya?" Ibra mengangguk mendengar perintah Raffa dan menerima setiap suapan yang diberikan lelaki dewasa itu.

Setelah habis, Ibra kembali menghampiri ibunya dan duduk di kursi untuk kembali memancing. Tersenyum bahagia menatap ibunya karena hal kecil yang ia rindukan tengah ia rasakan.

"Ibra, kenapa manggil Om Raffa ayah?!" tanya Layla lembut, hatinya merasakan cubitan kecil kala Ibra begitu bahagia mendapat perhatian dari lelaki dewasa seperti Raffa. Mau mengelak bagaimanapun, Layla tahu Ibra pasti merindukan sosok ayahnya.

"Ibra mau ayah!" uca Ibra dengan tatapan polosnya. Rasa sedih sontak menyelimuti perasaannya menatap mata sang anak yang berkaca-kaca.

Layla menghembuskan nafas perlahan, tangannya mengusap kepala Ibra dengan sayang, "Ibra gak boleh bicara sembarangan, sayang. Ayah Ibra kan sudah di surga."

"Ibra mau ayah!" ucap Ibra sedikit keras, sedikit nada marah terselip dalam suaranya. Kakinya berlari kembali mendekati Raffa dan menghambur ke dalam pangkuannya.

"Ibra..." ucap Layla tertahan, entah sejak kapan anak itu begitu lengket dengan lelaki itu. Bagai perangko yang sudah distempel dengan erat.

Layla berdiri memandang resah ke arah anaknya itu.

Suara Raffa mengalihkan perhatiannya, "Duduk di sini, Layla." ajak Raffa.

Namun Layla ragu, ia ingin mendekati anaknya, tapi tidak dengan sosok laki-laki itu. Mengingat dirinya yang tengah menghindar dan tak mau berurusan dengan Raffa, namun sepertinya takdir berkata lain.

Layla mengalah, egonya ia singkirkan dulu untuk mendekati anaknya yang merajuk.

Ia pun duduk di samping Raffa dengan sedikit jarak yang memisahkan mereka. Layla menatap helai rambut sang anak yang bersembunyi dalam dekapan Raffa. "Maaf mas... Sudah merepotkan." lirih Layla menatap lurus ke depan, enggan bersitatap dengan Raffa yang nyata tengah memperhatikannya.

"Gak repot..."

"Saya senang menemani Ibra, tak usah meminta maaf." ucap Raffa dengan senyum tipisnya. Jemarinya mengusap-usap rambut Ibra yang masih bersembunyi.

Layla terdiam tak merespon, perasaannya tengah berkecamuk memikirkan kejadian ini.

"Ibra, ikut ibu yuk. Kita masuk lagi ke dalam." ucap Layla riang mencoba membujuk, namun Ibra menggeleng tanpa menoleh ke arah sang ibu, membuat hatinya mencelos seketika.

"Gak mau! Mau mancing!" kekeuh Ibra dengan nada marahnya. Namun Layla sedikit tersenyum melihat kini Ibra diam-diam mengintipnya di sela lengan Raffa.

"Beneran gak mau ikut ibu?" Ibra mengangguk sembari mengeratkan pegangannya di kemeja Raffa, seakan takut akan pelukannya akan terlepas jika pegangannya mengendur.

Raffa yang sedari tadi dia mengamati akhirnya berbicara, "Kamu pergi saja kalau mau ke dalam. Biar Ibra disini sama saya."

Layla menggeleng, ia tak mau merepotkan Raffa lagi. "Mas saja yang ke dalam. Saya yang jaga Ibra disini."

Raffa terdiam sejenak, sebelum kemudian membuat keputusannya. "Baiklah, Ibra... Om masuk ke dalam dulu ya? Ibra mancing di sini sama ibu." ucap Raffa memberitahu. Nadanya begitu lembut dan perhatian.

Namun sepertinya Ibra sangat keras kepala. Bukan memancing yang ia inginkan saat ini, melainkan kehadiran Raffa yang bagai sesosok ayah yang ia rindukan. "Ayaahh!! Gak boleh!"

Ibra berkata seraya mendongak menatap penuh permohonan dengan air mata bercucuran.

Layla yang melihatnya merasa sedih sekaligus kesal, entah apa yang dilakukan Raffa hingga Ibra begitu nempel padanya.

"Ibra, kenapa kamu seperti ini sih? Jangan panggil ayah terus, Om Raffa gak nyaman." suara Layla sedikit meninggi dengan nada tak suka yang kentara, membuat Raffa menatapnya lekat. Layla jelas sekali tak suka jika anaknya dekat dengan dirinya.

"ibra mau ikut ayah... Mau sama ayah..." gumam Ibra menatap ibunya lalu menatap sedih kepada Raffa yang seolah akan meninggalkannya.

Layla tertunduk, kepalanya memikirkan berbagai cara untuk menenangkan Ibra, tanpa mengandalkan Raffa. Ia juga tak habis pikir mengapa Ibra sekeras kepala ini ingin bersama Raffa.

'Astagfirulloh... Apa yang sudah dilakukan Raffa sampai-sampai Ibra begitu nempel sama dia? Apalagi sampai manggil-manggil dia ayah?!'

"Saya cuma tenangin Ibra yang menangis, jangan su'udzon sama saya, Layla." ucap Raffa seolah bisa membaca isi pikiran Layla.

"Dan bukan saya yang menyuruh Ibra panggil saya ayah, Ibra sendiri yang menginginkannya." penuturan Raffa membuat hati Layla tercubit begitu mendengarnya.

"Ibra mau ikut sama om?"

Ibra mengangguk, tersenyum senang karena sosok yang dianggap ayahnya itu mau mengajaknya.

"Kalau begitu jangan menangis lagi." ucap Raffa seraya mengusap air mata Ibra. Ibra sendiri mengangguk patuh dan langsung mengajak Raffa berdiri.

"Ayah, ayo."

Sebelum benar-benar pergi, Raffa menatap Layla dan mengatakan keinginan yang tersirat, "Kalau mau bawa Ibra pulang nanti, kamu cari saya atau telepon nomor saya.."

****

Suasana acara pernikahan berlangsung meriah saat Raffa memasuki ruangan, akad yang dilangsungkan dengan resepsi itu telah mencapai acara hiburan dimana sebuah grup marawis tengah melantunkan sholawat yang begitu merdu di atas panggung. Sementara di pelaminan, pasangan pengantin tengah menyalami para tamu yang mendatangi mereka. Berbagai ucapan selamat dan do'a menyertai awal dari kehidupan pernikahan mereka.

Raffa mendapati sang bapak tengah duduk di kursi paling depan bersama seorang pria yang ia kenal sebagai paman Ibra.

Raffa pun berjalan menghampirinya dan duduk kembali di kursi kosong yang tadi ia duduki.

Pak Dirman yang tengah asik mengobrol merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, dan sosok itu adalah Raffa, anak bungsunya. Ia pun menoleh ke belakang untuk berbicara kepada anaknya.

"Kamu dari tadi menghilang, datang lagi sudah bawa anak orang! Anak siapa itu?" tanya Sudirman dengan tatapan penasaran.

Arman yang ikut menoleh menyela, "Kebetulan itu keponakan saya, Pak Dirman. Dia anak almarhum Raihan." ujar Arman sebelum pergi ke pelaminan karena sesi foto bersana keluarga.

Arman sebenarnya ingin bertanya kepada Raffa, ia penasaran ada hubungan apa adik iparnya dengan Raffa sehingga Ibrahim begitu dekat dengannya? Setahunya, Raihan tidak berteman dekat dengan Raffa semasa hidupnya.

"Cucunya Usman?" tanya Sudirman memastikan. Matanya menatap kepergian Arman yang sudah menjauh.

Raffa mengangguk mendengar pertanyaan bapaknya.

Kemudian Sudirman menatap Ibrahim lekat, berusaha mengumpulkan memorinya untuk mengenali anak kecil beserta kedua orang tuanya.

Sudirman ingat, Usman memberitahunya bahwa menantunya, Raihan meninggal dunia karena kecelakaan motor. Ia juga bertakziah ke kediaman almarhum sebagai orang yang mengenal dekat keluarga besar disana. Namun yang namanya sudah tua, ia sedikit lupa apalagi dengan sosok Ibra yang sedang masanya pertumbuhan.

"Lalu, kemana ibunya?" tanya Sudirman penasaran. Entah angin apa yang merasuki anaknya sehingga membuatnya mau repot-repot membawa anak orang.

"Ada di sana. Ibra sendiri yang mau ikut sama saya, pak." jelas Raffa sembari menunjuk kursi tempat para wanita di seberang.

"Dasar kamu, cari-cari kesempatan ya?!" ucap Sudirman penuh tuduhan, namun terselip candaan dari raut wajahnya.

Raffa hanya terkekeh tak memberi jawaban. Namun keterdiaman Raffa serta raut wajahnya yang sumringah merupakan jawaban tersendiri yang hanya bisa ia ketahui.

Sudirman kemudian menatap Ibra lembut seraya mengulurkan tangannya memberi salam. "Hei Ibra, kenalin, calon kakek kamu!"

Ibra terdiam menatap Sudirman dengan mata bulatnya, namun ia patuh saat melihat tangan yang terulur itu membalas salamnya seraya menciumnya takzim.

Sudirman tersenyum takjub, anak kecil itu sudah mengerti adab dan sopan santun kepada orang tua.

"Bapak, memangnya saya sudah bicara, saya tertarik sama ibunya Ibra?" sanggah Raffa mendengar sang bapak mengakui dirinya calon kakek Ibra. Ia belum pernah membicarakan rasa tertariknya pada Layla kepada siapapun, kecuali Aleea dan Layla sendiri.

"Sudah kelihatan. Kamu kan anak bapak." jawab sang bapak tak terbantahkan.

"Jadi, bapak setuju sama pilihan Raffa?" tanya Raffa menunggu jawaban pasti.

Sudirman menatap Raffa yang memiliki keteguhan kuat. Ada kilat sungguh-sungguh yang dipancarkan matanya, dan ia tidak mungkin tidak setuju akan keinginan anaknya itu. "Kenapa enggak? Nanti bapak dapat mantu plus cucu yang sholeh seperti Ibra ini, ya kan nak?"

"Sudah dari dulu bapak ingin kamu mengenalkan perempuan kepada bapak."

Sudirman nampak begitu sumringah mendengar penyataan Raffa, bahwa saat ini ia sudah memiliki tambatan hatinya. Sudah lama sekali ia mengharapkan anak bungsunya itu menikah dan memiliki keluarga harmonis.

Selama ini, harapan di sisa hidupnya hanyalah menyaksikan pernikahan Raffa sebelum ajal mendatanginya.

"Tapi Raffa belum mengenalkannya kepada bapak."

"Nanti kamu ajak dan kenalkan langsung sama bapak. Secepatnya!"

Raffa tersenyum simpul, mengangguk dengan janji yang ia ikrarkan dalam hati. "Do'akan saja supaya dia mau terima Raffa." ucap Raffa penuh pengharapan.

Dalam hati, Sudirman meng-amin kan ucapan anaknya. "Pasti diterima."

"Bapak mau pulang sekarang?" tanya Raffa memperhatikan bapaknya yang sudah bersiap.

"Iya, Mang Jajang sudah di depan. Kamu diam disini sampai acaranya selesai. Sana ajak Ibra makan, yang lain sudah pada makan."

"Kenapa minta jemput sama Mang Jajang? Raffa juga tidak akan lama lagi disini." ucap Raffa memprotes.

Sudirman berdiri perlahan dengan bantuan tongkatnya, ia menatap Raffa jengkel, "Bapak dari tadi cari kamu, ditelepon gak diangkat. Ya sudah bapak telepon saja Mang Jajang. Bapak gak mau lama-lama di sini."

"Orangnya sudah kelihatan, bapak pulang dulu. Ibra, kakek pulang dulu, kapan-kapan main ke rumah kakek ya?" pamit Sudirman. Ia melangkah keluar didampingi Raffa yang masih memangku Ibra.

Orang-orang menatapnya terheran, dan beberapa diantara yang mengenalnya, menyapanya ramah dengan wajah penuh tanda tanya.

"Hati-hati, pak." ucap Raffa sebelum Sudirman menutup pintu mobilnya.

****

Pukul 1 siang, acara pernikahan yang disambung resepsi itu telah usai, para tamu satu persatu keluar membubarkan diri dari acara tersebut.

Layla yang sedari tadi terdiam duduk di kursinya kini mulai beranjak meninggalkan tempat duduknya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Raffa, namun ia tak kunjung menemukannya. Lantas ia pun masuk ke dalam rumah Umi Sarah untuk mengambil tas yang dibawanya saat menginap kemarin. Sebelum pergi, Layla juga berpamitan kepada tuan rumah dan juga pengantin baru yang sedang istirahat di ruang tengah.

Setelah selesai berpamitan, Layla keluar dan kembali mencari-cari Raffa yang membawa anaknya. Banyak orang yang masih lalu lalang di area tenda pernikahan membuat Layla sedikit kesusahan mencarinya. Ditambah kini para santri keluar dan ikut berbaur bersama para tamu yang lain.

Karena tak kunjung menemukannya, Layla akhirnya terpaksa membuka ponselnya dan menghubungi Raffa. Dan pada deringan pertama, telepon berhasil diangkat oleh Raffa. "Halo Mas Raffa? Saya mau pulang, tolong bawa Ibra keluar. Saya tunggu di samping rumah Ustadz Arifin." ucap Layla tanpa memberi jeda memberitahukan posisinya berada saat ini.

"Kamu tunggu saja di parkiran depan. Saya akan ke sana." jawab Raffa kemudian. Layla hanya meng-iya kan lalu menutup panggilannya segera karena tak mau berlama-lama bercakap dengan Raffa, entah kenapa perasaannya begitu mudah berubah jika berhadapan dengan lelaki itu. Kadang marah, kesal, malu, gugup dan juga ada debar yang jelas Layla tak mau memikirkannya.

Layla pun berjalan menuju area parkir di halaman depan. Disana masih terdapat beberapa mobil yang terparkir rapi.

Ia mengedarkan pandangannya mencari Raffa, namun lelaki itu tak kunjung ia temui.

Layla mendesah kesal, ia pun berjalan ke belakang parkiran mobil dan menghubungi kembali Raffa. Namun sebuah suara menghentikan jarinya yang hendak menelepon.

Ia melihat Firda yang datang dari samping mobilnya yang terparkir di dekat Layla berdiri. Pandangannya menunjukkan rasa tak suka yang nyata dan juga nada bicaranya penuh cibiran.

"Kamu ngapain disini? Nungguin si Raffa? Pulang bareng heh? Sudah Umi tebak kalian memang ada sesuatu. Berani juga kamu berdekatan di depan umum. Gak tahu malu kamu?"

Layla menatap Firda getir, tak menyangka ibu mertuanya akan berbicara seperti ini di tempat umum.

"Umi, sepertinya salah paham, saya tidak ada hubungan apapun dengan Mas Raffa, kebetulan saja Ibra dekat dengan beliau."

Namun sepertinya Firda tak mendengarkan perkataan Layla, wanita paruh baya itu masih memandang Layla dengan tatapan menyela, "Sejak kapan? Sejak kamu tinggal di rumah bapakmu kan? Merasa lebih leluasa? Umi sekarang tahu kenapa kamu menolak untuk tinggal di rumah Umi lagi, itu karena kamu kecentilan, mau cari suami baru hah?"

Layla menghembuskan nafas, merasa jengah dengan mertuanya yang tak mempercayainya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Firda menyimpan ketidak sukaannya terhadap menantu yang satu ini. Kini, setelah anaknya meninggal, Firda semakin jelas memperlihatkan rasa ketidak sukaannya itu.

"Kalau Umi masih mau berbaik hati sama Layla, kenapa tidak biarkan Layla tetap di rumah dan membiarkan rumah Layla ditempati anak Umi yang lain? Kalau Umi masih menganggap Layla anak, meskipun hanya menantu dan Ibra cucu Umi, kenapa harus mengusir kami dari rumah kami sendiri? Merasa berhak atas tanah dari rumah itu? Bukannya Mas Raihan sudah bicara akan melunasinya? Bahkan Mas Raihan sudah membayarnya separuh, Mi. Layla juga tidak akan tinggal diam, Layla akan melunasinya! ... tapi itu dulu, sebelum Umi menyuruh Layla keluar dari rumah itu!" jelas Layla dengan nada tertahan, bibirnya bergetar menahan gemuruh yang selama ini ia pendam.

"Sekarang Layla tidak akan berharap apapun sama rumah itu. Tapi suatu saat nanti, Layla akan menuntut hak untuk anak Layla sendiri, untuk anak Mas Raihan!"

Tatapan Layla penuh ketegasan, ia sedang tidak mengalah, ia hanya mengulur waktu untuk mengambil apa yang menjadi miliknya kembali.

Firda memandang sinis Layla, menantunya yang satu ini memang suka membangkang dan tak pernah memenuhi kriterianya. "Kalau kamu nurut sama Umi, Umi tidak akan sekesal ini sama kamu! Apa susahnya tinggal sama Umi dibanding rumah orang tua kamu yang sempit itu!"

Layla menggeleng tegas, rasanya ia tak sudi jika harus kembali serumah dengan orang yang jelas-jelas menginginkannya pergi menjauh. "Tidak lagi, Umi... Maaf."

"Layla permisi, Assalamu'alaikum."

Layla pergi tanpa memberi celah untuk Firda merespon, ia sudah tak sanggup lagi mendengar kalimat pedas yang hanya menimbulkan kegaduhan. Ia ingat bahwa dirinya masih berada di tempat umum dan tak mau ada orang lain yang mengetahui perselisihannya.

Hingga diantara deretan mobil itu, tepat saat Layla akan berbelok, ia mendapati Raffa terdiam seolah menunggu kedatangannya di sana. Tatapan Raffa seolah menanti suatu penjelasan dari apa yang telah ia dengarkan.

Sontak saja Layla merubah raut wajahnya yang sempat sedih dan menatap Raffa seolah ia baik-baik saja. "Mas dari mana saja? Layla susah carinya." keluh Layla dengan senyum yang tersungging, namun sorot kesedihan tak bisa dia sembunyikan dari manik matanya.

Raffa menatap lekat beberapa saat, sebelum menjawab, "Mas habis ngobrol sebentar sama alumni sini, kebetulan dulunya satu organisasi di kampus."

"Makasih Mas sudah jaga Ibra." Layla tersenyum simpul. Tangannya hendak meraih Ibra di pangkuan Raffa.

"Ibra, ayo pulang sama ibu."

Ibra yang setengah mengantuk menoleh ke arah sang ibu dan merentangkan tangannya minta digendong. Layla pun membawa Ibra ke pangkuannya, menyisakan ruang kosong dalam diri Raffa ketika Ibra berpindah tangan.

"Kamu ikut saya saja, saya antar pulang." ucap Raffa memperhatikan jika wanita itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik. Ia juga teringat akan janjinya kepada Ibra tadi untuk membelikannya mobil mainan yang baru.

Layla menggeleng, menolak usulan itu. Terlalu sungkan apalagi jika harus kembali berduaan bersama Raffa. "Gak usah mas, Layla naik angkutan umum saja."

"Kamu gak kasihan sama Ibra? Dia kelihatan ngantuk, kasihan kalau harus nunggu dulu angkutan umum ataupun jemputan."

"Mas, tolong... Layla tidak mau seperti ini." ucap Layla tertekan.

"Seperti ini? Kenapa?"

"Kita bicarakan di dalam mobil... Ayo..." ajak Raffa sedikit memaksa melihat tidak akan lama lagi Layla seperti ingin menangis. Raffa yang melihat situasi dirinya berada, segera membawa Layla ke tempat yang lebih tertutup.

Dengan terpaksa Raffa menarik lengan Layla dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

Air mata yang sejak tadi menggenang kini meluncur bebas membasahi pipinya.

"Seharusnya saya gak disini, berduaan sama Mas Raffa." ucap Layla bergetar. Sebelah tangannya mengusap air mata yang sempat terjatuh tadi.

"Ada Ibra, kan?"

Layla menggeleng menyalahkan pertanyaan sepele itu, sepatutnya Raffa bisa lebih mempertimbangkan semua perkataan dan sikapnya.

Anak sekecil Ibra belum mengerti apa yang benar dan salah dalam situasi ini.

"Orang-orang akan semakin percaya saya punya hubungan sama Mas Raffa kalau terus berdekatan seperti ini. Dan saya akan terus dihujat karena sudah berkhianat kepada almarhum suami saya." jelas Layla dengan suara tertahan.

Raffa menatap sendu Layla yang tengah menahan isak tangisnya. Rasa ingin melindungi dan menenangkannya timbul secara luar biasa hingga ia sedikit kesulitan mengontrolnya.

Tangannya terulur hendak meraih lengan Layla, namun dengan cepat Layla menghindarinya. "Mereka tidak tahu tentang semua yang terjadi diantara kita~" gumam Raffa.

"Memang orang-orang gak tahu semuanya mas, yang orang tahu cuma aku yang kecentilan karena sudah mendapatkan laki-laki baru! Layla yang mendapatkan cibiran jelek orang-orang, bukan Mas Raffa!"

"Saya minta maaf... Namun sepertinya ibu mertua kamu terlalu objektif dan mengambil kesimpulan dari sudut pandangnya saja dalam menilai sesuatu."

"Maksud mas apa?"

"Saya mendengarnya Layla, omongan mertua kamu, semuanya..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   35

    Setelah sholat subuh berjamaah, Layla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang tertunda akibat bangun kesiangan tadi. Layla keluar beberapa menit kemudian dengan memakai gamis sederhana dengan rambut yang basah sehabis keramas. Sambil menghadap cermin, Layla mengeringkan rambut sepinggangnya menggunakan hair dryer. Suara nyaring dari benda tersebut menyamarkan suara pintu yang terbuka sehingga kala tatapannya bersibobrok dengan Raffa, Layla terjengkit kaget dan hampir saja menjatuhkan hair dryernya. Di belakang sana, tepat di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Raffa berdiri sembari menatap Layla tanpa berkedip, membuat Layla sedikit lebih gugup. Pasalnya baru kali ini ia dilihat tanpa hijab oleh Raffa karena malam-malam sebelumnya ia selalu memakai hijab meskipun sedang saat tidur. "Kamu yang beresin semua barangnya?" tanya Raffa memecah keheningan.Layla kemudian menoleh, lantas mengangguk membenarkan. "M

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   34

    Pukul 9 malam, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Raffa setelah berjam-jam lamanya diperjalanan. Perjalanan panjang dan melelahkan yang membuat beberapa kali terhenti hanya untuk sekedar istirahat.Raffa menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya yang terlihat terang. Selama kepergiannya, ada petugas keamanan yang memastikan keamanan serta lampu yang sengaja dinyalakan di malam hari. Raffa membuka tali sabuk pengamannya lalu menoleh ke arah Layla yang masih tertidur. Bibirnya tersungging tipis menyadari bahwa perempuan itu lebih banyak tertidur selama perjalanan.Di belakang, dengan semangat Aleea turun dari mobil bersama Ibra yang sudah terbangun. Bocah itu pun ikut kegirangan melihat tantenya bersorak senang saat keluar dari kendaraan beroda empat itu, mereka langsung berjalan memasuki rumah setelah sebelumnya Raffa yang memberikan sendiri kunci rumahnya kepada Aleea.Sementara di dalam mobil, berkali-kali Raffa membangunkan Layla dengan suara pe

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   33

    Di dalam ruangan yang gelap, terlihat kilatan petir yang menyambar dari jendela kamar yang terbuka, menghembuskan angin kencang yang menyejukkan ruangan. Rintik basah nampak menciprat lantai kamar dan perlahan menjadi genangan. Namun sosok yang duduk di hadapannya hanya terdiam, memandang rintikan air seolah sengaja membiarkannya.Hingga suara ketukan diiringi teriakan menggema di balik pintu. Namun sosok itu masih terdiam membisu, membiarkan air hujan yang semakin deras masuk dan membasahi tubuhnya. "Ko... Riko!!!" sahut suara perempuan di luar. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras kala sang pemilik kamar tak kunjung menjawab."Ibu kamu nyuruh aku masuk kalau rumah masih pada gelap. Kamu masih tidur, Ko? Bangun napa, masa dari pagi kamu tidur terus!""Kok, masih idup kan?" Terselip nada khawatir dalam pertanyaannya."Aku masuk nih!"Tak lama, suara decit pintu yang macet sedikit terbuka, Fitri yang berkunjung itu memasukkan kepalanya terlebih dahulu guna memastikan keberad

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   32

    Suasana jalanan nampak lengang di pagi menuju siang setelah kepulangan mereka dari rumah Pak Usman. Keadaan di dalam mobil nampak hening dan hanya terdengar suara serial anak yang ditampilkan di layar tab milik Raffa. Lelaki itu sengaja memberikan perhatian lain kepada Ibra saat kejadian di rumah kakeknya tadi.Kini mereka bergerak kembali menuju kediaman Pak Sudirman untuk membawa barang bawaan sekaligus Aleea yang hendak ikut menemani perjalanan mereka. Perempuan itu akan kembali ke rutinitasnya di asrama setelah beberapa pekan menghabiskan waktunya di rumah sang kakek.Dalam keheningan itu, beberapa kali Raffa menoleh, berusaha memastikan perempuan itu baik-baik saja. "Mengenai laki-laki tadi...""Dia cuma teman, kemarin dia yang nolongin aku." lirih Layla pelan, hampir tak terdengar."Nolongin kenapa?" tanya Raffa ingin tahu."Ada hal lain yang terjadi sebelum kejadian kemarin?" tanya Raffa disaat belum mendapatkan jawaban dari Layla.Raffa kembali menoleh saat Layla masih saja te

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   31

    Siang hari, Raffa bersama Layla, Ibra, dan Aleea telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, namun sebelum itu mereka berkunjung kembali ke rumah Pak Usman untuk berpamitan. Layla memeluk ibunya dengan tangisan pilu yang menggetarkan hati. Pak Usman yang memangku Ibra berdiri di samping mereka mengusap punggung Layla menenangkan. "Sudah nangisnya nak, insyaalloh kehidupan kamu akan jauh lebih baik di Jogja nanti."Pelukan terurai, Raffa kemudian berkata, "Bu, pak, saya izin pamit bersama Layla dan Ibra untuk pergi ke Jogja. Bukan maksud saya untuk menjauhkan Layla dan Ibra dari ibu dan bapak, hanya saja, saat ini saya ada tuntutan kerja dan saya merasa Layla lebih baik untuk ikut dan berada di tempat yang jauh dan aman setidaknya untuk menenangkan diri dari kejadian kemarin."Pak Usman mengangguk terharu sembari menahan air mata yang ingin keluar dari kedua sudut matanya. "Bapak dan ibu mengerti, Mas Raffa. Terima kasih sudah mau menjadi penyelamat bagi kami, jika tidak ada Mas Raf

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   30

    Keesokan paginya, Layla bangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat, penglihatannya sedikit buram dan harus menunggu penyesuaian beberapa saat.Sebuah sosok yang tengah duduk bersila di lantai dan membelakanginya nampak khusuk tak menyadari pergerakan di belakangnya.Layla yang mengetahui pria itu adalah Raffa memilih untuk diam dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan. Di dalam kamar mandi, Layla menghembuskan nafas gusar, entah harus bersikap bagaimana nanti di depan Raffa, terutama di hadapan keluarganya. Perasaannya berkecamuk, terlebih saat kembali mengingat perkataan Salma semalam.Layla tahu, Salma kecewa dengan pernikahan adiknya ini, namun Layla juga tak bisa mencegahnya karena desakan dari berbagai sisi dan juga permasalahan yang ia sendiri tak pernah dilakukan.Mencoba melupakan sejenak permasalahannya, Layla memilih beranjak ke kamar mandi dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Di dalam kamar mandi, Layla termenung memikirkan bagaimana cara menghadapi ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status