LOGINSuasana di dalam mobil cukup hening beberapa saat. Raffa menatap Layla lekat, menuntut kejelasan dari apa yang sebelumnya ia ucapkan. Berharap perempuan itu mau sedikit terbuka kepadanya dan menceritakan semua perasaannya.
Cukup lama Layla terdiam, menatap lurus ke depan ke arah pohon rambutan yang tengah berbuah dan melambai-lambai tertiup angin. Pohon itu seakan menjadi saksi bisu keraguan dan kesedihan yang Layla rasakan. Akhirnya, dengan suara lirih dan terbata-bata, Layla mengungkapkan semua beban yang selama ini bertumpuk di hatinya. "Sekarang mas mengerti kan, kenapa aku menghindar terus? Aku lagi menghindari fitnah. Aku gak mau namaku dianggap buruk dengan statusku saat ini. Orang-orang dan bahkan ibu mertua sendiri menganggap aku murahan karena sudah berani dekat-dekat dengan lelaki lain, sementara suamiku baru saja meninggal." "Orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya tahu apa yang mereka lihat saja, meskipun hanya sekilas saja. Dan kejadian tadi saja sudah menimbulkan prasangka-prasangka buruk terhadapku." Raffa tertegun, ucapan Layla begitu terdengar menyakitkan. Namun Raffa tahu rasa sakit itu hanya mampu dirasakan Layla sendiri. "Saya tahu Layla, saya menyadari resiko semua yang telah saya lakukan ini. Mungkin terdengar egois, namun perasaan saya benar-benar tak dapat saya kendalikan. Perasaan ingin memiliki dan menjadi pelindung untuk dirimu dan juga Ibra, itu seakan sudah tertanam dalam hati dan otak saya." Ada jeda sebelum Raffa kembali berbicara. "Saya minta maaf... Jika sikap saya hari ini terlalu berlebihan." "Tapi saya juga tidak tega saat melihat Ibra menangis sendirian, tidak ada yang menenangkan. Saat itu ada pamannya yang mau mengajaknya, tapi Ibra menolak dan malah menghampiri saya." jelas Raffa dengan seulas senyum kala mengingat wajah Ibra yang sumringah kala melihat dirinya ditengah kebingungan yang melanda anak kecil itu. "Saya juga tidak menyangka akan sedekat ini sama Ibra, saya tidak menghasutnya apalagi memaksanya untuk memanggil saya ayah, entah kenapa tiba-tiba saja kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya saat menyapa saya. Mungkin, Ibra merindukan sosok ayahnya..." ucap Raffa menambahkan, tidak melebih-lebihkan perkataannya. Terdengar helaan nafas yang berat dikeluarkan dari mulut Layla. Ia lantas menatap Raffa dengan perasaan berkecamuk. Namun Kali ini rasa bersalah lebih mendominasinya, kejadian hari ini memang tidak sepenuhnya salah Raffa. "M-maaf sudah berpikir buruk tentang mas. Mohon dimaklum juga semua perkataan dan sikap Ibra hari ini." "Tak apa..." 'Saya menyukainya.' Lanjutnya dalam hati. Raffa menghela nafas gusar, tangannya ingin lancang mengusap pipi mulus kemerahan itu, mencegah tetesan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Namun ia harus menahan diri untuk tidak terlalu agresif kali ini. Ia tak mau Layla semakin menjauhinya. "Sudah, jangan menangis. Saya antar pulang sekarang. Tapi nanti kita mampir dulu ke toko mainan. Saya sudah ada janji sama Ibra." "Gak usah mas, merepotkan. Lagian Ibra juga tidur." ucap Layla sungkan. "Gak papa, janji harus ditepati. Nanti Ibra marah sama saya." Layla hendak menolak lagi, namun geliat Ibra di pangkuannya menghentikannya, "Sepertinya Ibra kebangun." gumam Raffa menatap Ibra yang setengah membuka matanya. "Bu..." ucap Ibra pelan, namun matanya kembali menutup, seolah hanya memastikan ibunya ada didekatnya dan kembali melanjutkan tidur setelahnya. "Kenapa? Masih ngantuk? Tidur aja lagi." gumam Raffa, tak sadar tangannya mengusap kepala Ibra sayang. Raffa terlalu menghayati dan lama, hingga deheman Layla menyadarkan Raffa dan segera menjauhkan tangannya dari sana. Ibra sendiri sepertinya begitu menikmati usapan itu, terlihat begitu usapan menghilang, ia kembali membuka matanya dan menatap kepada Raffa, "Yah... mau mobil..." Raffa tertawa canggung dengan tangan yang mengusap rambutnya acak. Ia begitu malu dan kesal karena pasti Layla beranggapan dirinya lancang karena spontanitas tangannya itu, meskipun tujuannya hanya mengusap kepala Ibra. "Kita pergi sekarang." ujar Raffa kaku sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Di perjalanan, keduanya sama-sama terdiam. Alunan sholawat yang diputar menciptakan ketenangan. Layla menikmati perjalanannya dengan nyaman meskipun pada awalnya ia masih canggung dan tak nyaman. Matanya menjelajah disetiap objek yang dilaluinya. Hidup di kota kecil tak mampu membuat mereka harus menahan sabar karena kemacetan. Suasana jalanan terasa begitu lengang meskipun waktu menunjukkan jam istirahat. Dalam hatinya, Layla begitu menyadari bahwa Raffa adalah sosok berkharisma. Dilihat sekilas dari penampilannya saja, Raffa memiliki aura yang tak bisa diabaikan begitu saja. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, dengan kulit kecoklatan yang menawan. Wajahnya yang simetris dengan rahang tegas yang dihiasi bulu-bulu halus di sekitarnya. Ditambah lagi nilai akademis yang nyaris sempurna dimiliki lelaki itu, berbagai prestasi telah ia raih dimasa sekolahnya dulu, bahkan sampai sekarang dimana ia menjadi seorang dosen ternama. Layla tahu itu semua, itu karena berkat temannya yang cerewet yang selalu menceritakan kisah pamannya. Dan Layla tak menyangka, dimasa sekarang, dimana dirinya yang telah menjadi janda, secara mengejutkan Raffa datang dan mengatakan bahwa ia menyukainya dan ingin memiliki hubungan yang terikat dengannya. Layla tidak membenci Raffa secara personal, ia hanya tidak menyukai cara Raffa mendekatinya. Terkesan agresif dan terlalu terburu-buru. Dan mengenai jawaban perasaannya, ia tak tahu bagaimana menyikapinya, yang pasti saat ini ia belum siap untuk kembali menjalin hubungan dengan lawan jenis, entah sampai kapan, atau bahkan tidak ada kesempatan. Layla hanya ingin menjalani hidup dengan tenang bersama Ibra, ia hanya berpasrah kepada Alloh akan kehidupan yang ditakdirkan untuknya. Setelah beberapa menit menempuh sisa perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota. Raffa telah memasuki area parkir yang dipenuhi oleh kendaraan roda empat. Layla menatap Raffa yang langsung keluar begitu mesin dimatikan. Ia menghampiri pintu seberang dan membukanya. Layla memandang keluar dengan ragu, ia merasa takut akan bertemu seseorang yang dikenal atau mengenalinya. Ia sendiri merasa saat ini mereka seperti pasangan selingkuh yang diam-diam ingin berkencan di tempat terbuka. "Ayo turun, biar Ibra saya gendong. Dia masih ngantuk." ucap Raffa menawarkan bantuannya. Ia melihat Ibra yang kembali bangun meskipun matanya masih sayu. Dengan berat hati Layla menyerahkan Ibra, namun ia tak kunjung turun dari mobil membuat Raffa memandang bertanya-tanya. "Hmm mas, Layla tunggu di mobil saja." ungkap Layla melihat wajah Raffa yang heran. "Loh, kenapa? Nanti kalau Ibra nanya-in kamu gimana? Kalau kamu bosan nunggu bagaimana? Bisa saja nanti kita lama di dalam sana." Layla meringis mendengar berbagai kemungkinan yang diucapkan Raffa, namun ada kekhawatiran sendiri terhadap dirinya dan lingkungan sekitar. "Terlalu riskan mas." "Kamu itu seperti ketakutan ketahuan selingkuh saja." ujar Raffa sembari terkekeh ringan. "Kalau kamu gak nyaman, saya akan jaga jarak." Lanjutnya memberi opsi. Layla merasa tak masalah dengan opsi itu, akhirnya ia menyetujuinya. "Ya sudah, makasih mas." Mereka memasuki mall sesuai dengan perkataan Raffa, Layla berjalan di depannya beberapa langkah lebih jauh dari posisi Raffa saat ini. Sesekali Ibra akan memanggil sang ibu karena berjalan terlalu jauh darinya. Orang-orang mengira bahwa mereka adalah suami istri yang tengah berselisih dan memaksakan pergi jalan-jalan demi anaknya yang disayangi. Hal itu membuat Layla menggeleng-geleng kepala merasa malu sendiri. Nyatanya keputusannya kali ini salah besar. Ingin sekali ia kembali ke parkiran dan menunggu di sana. Namun ia kini sudah terlanjur jauh berjalan dan tengah menaiki eskalator menuju lantai dua. "Kenapa harus ke mall, mas? Kita bisa cari toko mainan yang ada di pinggir jalan." ucap Layla tak sadar menggerutu kepada Raffa yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Kebetulan saya juga ada yang perlu dibeli di sini." jawabnya enteng. "Bukan cuma alasan Mas Raffa aja, kan?" tuduh Layla tanpa sadar mengeluarkan ekspresinya saat ini. Raffa tersenyum merasa senang dengan sikap Layla saat ini. Hubungan mereka jadi tidak sekaku sebelumnya. "Bukan, tapi saya senang dengan alasan ini. Dengan begitu, waktu saya bersama kamu akan lebih lama." jawabnya jujur. Membuat Layla menahan dirinya untuk tersipu. "Gak usah gombal mas." geram Layla. "Enggak Layla, saya hanya mengungkapkan perasaan saya saat ini." Jawaban Raffa membuat Layla terdiam tak berkutik. **** Sesampainya di lantai dua, mereka berjalan menuju toko mainan besar yang terlihat dari ujung tangga eskalator. Kali ini Layla memilih berjalan di belakang dan sesekali memperhatikan sekitar. Entah kenapa ia masih takut ada orang yang dikenalinya menemukan keberadaannya saat ini. Saat memasuki toko, terdengar suara pramuniaga yang menyambut kedatangan mereka. Layla yang berada di belakang belum menyadari dan masih memperhatikan area luar. "Selamat datang di toko kami, ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga kepada Raffa. "Kami mau mencari mobil mainan remot, mbak." jawab Raffa ramah. Ibra sendiri saat ini suda kembali bangun dari tidurnya dan terlihat sangat bersemangat menatap deretan mainan yang dipajang. "Baik, mobilnya ada di rak belakang sebelah kanan, mari." ujar pramuniaga itu sembari mengarahkan Raffa ke lorong yang berisi mainan yang dicari. Layla yang sedari tadi hanya diam mendengarkan berjalan mengikuti langkah Raffa, hingga sebuah sapaan dari arah samping membuat Layla menoleh seketika. "Eh Layla? Cari mainan?" tanya seorang perempuan yang memakai seragam yang sama seperti pramuniaga tadi. "Fitri? I-iya nih.. ternyata kamu kerja di sini ya, aku gak ngeuh." balas Layla disaat berhasil mengendalikan keterkejutannya. Ternyata perempuan itu adalah Fitri, salah satu teman sekelasnya di Aliyah dulu. Mereka tidak terlalu dekat, namun hubungan mereka selalu baik dan sesekali bersapa ketika bertemu. "Sama siapa tuh? Om-nya Ibra?" tanya Fitri penasaran menatap punggung Raffa yang semakin jauh memasuki toko. Layla mengikuti arah pandang dan mengangguk ragu kala Fitri menatapnya menunggu jawabannya. Layla sendiri bingung hendak menjawab apa, alhasil ia hanya mengangguk meng-iyakan. "Udah lama kerja di sini?" tanya Layla basa-basi. Membiarkan Ibra bersama Raffa memilih mainannya. "Udah setengah tahunan." jawab Fitri kemudian. Lalu terjadi keheningan, Layla yang kurang pandai basa-basi, akhirnya memilih mengakhiri percakapan tersebut, "Aku ke sana dulu, ya. Kapan-kapan kita ketemuan sama Aleea..." ujarnya sebelum berbalik dan berjalan menuju ke arah lorong yang dimasuki Raffa tadi. "Iya, aku juga mau ke belakang lagi. Kamu pilih-pilih aja mainannya." Dengan tergesa, Layla berjalan meninggalkan Fitri yang masih diam memperhatikan. Hingga saat di lorong ynag dituju, ia tak melihat sosok Raffa bersama anaknya. Layla kebingungan dan kembali mencari dengan menelusuri setiap lorong. Hingga saat di ujung lorong paling kiri, ia akhirnya menemukan Ibra yang tengah berdiri memilih mainan didampingi Raffa di sisinya. Raffa yang menyadari kehadirannya tersenyum dan melambaikan tangan agar Layla menghampiri mereka. Layla dengan ragu berjalan sembari memperhatikan interaksi kedua lelaki berbeda usia itu dengan cermat. Saat ini Ibra terlihat sangat senang dan banyak berceloteh kepada Raffa mengenai mainan-mainan di hadapannya. Raffa pun tampak sangat menikmati percakapannya dan bisa membuat Ibra nyaman. "Siapa tadi? Teman kamu?" tanya Raffa mengingat Layla sempat disapa dan berbincang beberapa saat. "Teman waktu Aliyah, mas. Teman Aleea juga." Raffa mengangguk paham mendengar jawaban Layla. Dan Raffa sekarang mengerti kenapa raut wajah serta gerak geriknya terlihat gelisah dan tidak nyaman. Namun Raffa ingin egois, ia ingin menikmati momen disaat ia bisa berdekatan dengan Layla. "Ibra, ambil mainannya satu aja ya?" pinta Layla melhat Ibra hendak mengambil lagi sebuah mainan disaat tangan kirinya sudah menenteng sebuah mobil-mobilan yang ukurannya lumayan besar. Layla merasa pusing apalagi setelah melihat price tag-nya. Ia tak punya uang sebanyak itu untuk membeli kedua mainan tersebut. "Mau dua." ujar Ibra dengan mata memelas. Namun Layla menggelengkan kepala menolak keinginan Ibra. Bukan hanya soal harga, akan tetapi kedisiplinan untuk mengatur jumlah mainan yang dimilikinya. Di rumah, Ibra sudah memiliki banyak mainan. Dan ia sering kali merasa bosan hingga banyak mainan yang dicampakkan dan berakhir rusak. Layla tidak mau menumpuk banyak barang rongsokkan dan juga tidak mau menyimpan barang tak terpakai lebih lama. "Gak papa, Layla, saya yang bayar." sela Raffa tak ingin melihat ibu dan anak berselisih lebih lama. "Tapi, mas~" "Tenang Layla, saya ajak Inra kemari, berarti saya sanggup untuk membelikan mainan keinginannya." "Tapi gak sebanyak itu." protes Layla tak terima. Ia juga tak enak hati jika Raffa yang membayar semua mainan itu. "Sudah, itu hadiah dari saya buat Ibra." ucapnya demikian. Hal itu membuat Layla diam tak berkutik. "Sudah pilih yang ini saja?" tanya Raffa memastikan dan langsung dianggukki Ibra. Nampak wajah Ibra kini berseri kembali bahkan berjalan terlebih dahulu meninggalkan dua orang dewasa di belakangnya menuju meja kasir. Layla hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu. **** Setelah selesai membeli mainan, mereka keluar dari toko dan menyusuri area di lantai dua. Hingga saat di belokan dekat lift, Layla tak sadar berpapasan dengan seorang pria berhoodie hitam, menatapnya sejenak merasa mengenali sosok berhijab itu. Namun karena posisi Layla yang membelakangi, membuat pria itu tidak mengetahuinya dan lanjut kambali berjalan. Mereka kemudian berbelok ke sebuah toko pakaian pria dengan label brand lokal ternama. Layla berhenti di depan toko memandang ragu ke pintu kaca transparan. "Mas, mau beli pakaian?" Raffa mengangguk memberi jawaban. Ia ingin membeli pakaian yang diminta oleh ayahnya beberapa waktu lalu. "Kalau begitu Layla tunggu di luar aja sama Ibra." lanjut Layla. Kening Raffa mengernyit heran, "Loh, kenapa?" "Gak kenapa-napa. Mas masuk aja sendiri, Layla tunggu di sini sama Ibra." "Ayo ikut saja." ajak Raffa kemudian, ia tak tega jika harus meninggalkan Layla dan Ibra di luar. Merasa keadaan tengah berpihak padanya, kini Ibra merengek untuk ikut masuk ke dalam bersama Raffa. "Ibu... Ikut..." Hal itu membuat Layla diam-diam mencebik melihat tingkah anaknya itu. Seolah ia takut ditinggal Raffa pergi saja. "Hmm kamu saja yang ikut... Tapi kamu jalan kaki, kasihan Om Raffa keberatan karena gendong kamu." "Mau sama ibu..." rengek Ibra membuat Layla menahan kesal. Tidak tahu apa jika ibunya itu sedang menghindari agar tidak terlalu berdekatan dengan lelaki itu?! Kenapa juga Ibra terus-terusan menempel kepada Raffa yang notabenenya adalah orang asing?! Melihat keduanya yang lengket membuat Layla menggeram menahan amarah. Yang satu kenyamanan, yang satu lagi memanfaatkan! "Ya sudah, ayo." geram Layla berjalan mendahului Raffa yang terkekeh senang. Mereka-pun akhirnya memasuki toko pakaian khusus lelaki dengan merk ternama. Di dalamnya kebanyakan model pakaian casuan dan formal, cocok untuk para pegawai yang mencari busana pekerjaan. "Kalau kamu pegal, duduk saja di kursi sana." ucap Raffa begitu masuk ke dalam. Layla menatap sofa panjang di samping kaca besar disana, lalu berjalan kesana meninggalkan Raffa yang terdiam menatapinya. Namun setelahnya ia berlalu bersama Ibra ke arah deretan kemeja di tengah. Layla menunggu sembari duduk mengamati seisi toko yang lumayan sepi. Pencahayaan yang terang dan udara yang sejuk dari pendingin ruangan membuatnya rilex dan bahkan membuatnya ngantuk. Apalagi ruangan tersebut diiringi dengan musk jazz yang mengalun pelan dan lembut. Hal itu membuat Layla semakin ingin cepat sampai dan tidur setelah semalam ia begadang membantu menyiapkan acara pernikahan. Layla pun memutuskan untuk beranjak dan berjalan-jalan sembari mencari keberadaan Ibra. Karena jika terus berdiam, ia takut akan ketiduran di sofa nyaman itu. Setelah selesai belanja pakaian yang menghabiskan cukup banyak waktu, akhirnya mereka keluar sembari berjalan beriringan. "Kamu mau beli sesuatu?" tanya Raffa tiba-tiba, ia ingin menawarkan sesuatu untuk dibeli wanita itu. Layla menggeleng, "Enggak ada mas. Kalau bisa kita pulang sekarang." "Kalau saya belikan, boleh?" Layla mendelik kesal, "Apa sih? Gak usah mas. Aku gak mau orang-orang nganggap kita ada apa-apa." "Yaa... jangan dikasih tahu." Layla berdecak, "Mas... Bukan gitu konsepnya." Ia tahu Raffa mengerti maksud derkataannya, namun sepertinya lelaki itu tengah mempermainkannya. Layla takut jika menerima pemberian dari seorang lelaki akan menimbulkan permasalahan. Ia juga tidak mau menimbulkan harapan lebih jika menerima pemberian dari Raffa. "Pokoknya aku gak mau terima barang apapun dari mas dan dari lelaki manapun. Tolong pengertiannya, mas." **** Setelah menempuh jarak yang lumayan panjang, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Pak Usman. Langit telah menunjukkan jingganya di ufuk barat. Burung-burung nampak terbang melintas cakrawala. Layla menatap pemandangan sawah di halaman depan rumahnya. Langit yang berwarna oranye keemasan itu memancarkan cahaya lembut yang menyinari segala sesuatu di sekitarnya. Bayang-bayang pepohonan dan bangunan mulai memanjang, menciptakan kontras yang menarik antara cahaya dan bayangan. Suasana menjadi semakin romantis dan damai, seolah alam sedang menunjukkan keindahannya yang paling memukau. Cahaya senja yang hangat ini membawa rasa tenang dan tenteram, membuat siapa pun yang menyaksikannya merasa damai dan bersyukur. Layla sudah menghabiskan lima menit di dalam mobil sejak kendaraan itu berhenti. Ia ingin segera beranjak dari sana, namun Raffa mencegahnya dan sedari tadi masih terdiam belum menyampaikan apa yang ingin diucapkannya. "Kalau gak ada apa-apa, aku pergi dulu. Terima kasih atas tumpangan dan hadiahnya~" "Layla... Mengenai perkataan saya beberapa waktu lalu, tolong dipertimbangkan lagi." sela Raffa memotong perkataan Layla tergesa. Sedari tadi ia memikirkan cara bagaimana menyampaikan keinginannya yang masih terpendam itu. "Saya serius." lanjut Raffa meyakinkan. Dadanya bergemuruh seolah ada angin badai yang menerpa organ tubuhnya. "Saya tahu ini lancang, tapi gak bisa menahannya terlalu lama lagi." "Dan kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Saya tidak terburu-buru. Masih banyak waktu untuk kita saling mengenal satu sama lain." ujar Raffa sedikit terengah seolah ada beban yang menghimpit tenggorokannya, keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal mesin pendingin udara masih bekerja dengan baik. Ia menunggu dengan cemas respon Layla yang saat ini masih terdiam. "Maaf mas... Layla enggak bisa." Kalimat itu meluncur begitu tajam, langsung menohok ulu hati Raffa yang terluka. "Kita bisa pelan-pelan, Layla..." lirih Raffa putus asa melihat gelengan kepala yang Layla lakukan diiringin dengan dentuman keras pintu mobil mengiringi langkah kaki Layla yang berjalan jauh bersama Ibra.Ijab qabul telah diucapkan, suasana nampak riuh dengan beberapa obrolan serta ucapan do'a yang dipanjatkan. Pengantin wanita muncul ke depan menyita perhatian seluruh orang. Raffa tak bisa menyembunyikan senyum gugupnya kala menatap wajah Layla yang begitu cantik dengan balutan gaun putih dan hijab yang sederhana. Wajahnya menunduk, tak berani mendongak karena rasa malu yang menghantuinya, namun Raffa tak peduli, nyatanya Layla terlihat cantik meskipun wanita itu berusaha menyembunyikannya.Kini Layla berdiri di hadapan Raffa, semakin tertunduk dan canggung enggan menatap wajah di sekitarnya. Hingga sentuhan lembut di punggung tangannya menyentak dirinya dan membuat dirinya menatap sosok di hadapannya.Layla melihatnya, sorot tulus dan senyum bahagia Raffa yang diam-diam menyusupkan debarag asing di dadanya. Tak lama, Raffa mendekat, mencondongkan tubuhnya seraya menarik belakang kepala Layla lembut, bibirnya melafalkan do'a di puncak kepala sang istri.Layal tak bisa menahan debaran
Beberapa saat yang laluKeadaan rumah Pak Usman masih terasa tegang, meskipun kemarahan dan kepanikan mulai mereda. Beberapa pria duduk berkumpul, membahas nasib Layla yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ustadz Khairil hadir kembali, menatap serius ke arah para warga yang berdiskusi dengan nada tinggi."Jadi gimana bapak-bapak? Apa sanksi yang setimpal untuk Layla?" Nisa memotong dengan amarah, suaranya bergetar."Diam Nisa, kita tidak akan gegabah. Suami kamu menghilang, dan Layla belum sadar," Pak Usman menimpali, mencoba membela anaknya.Nisa mendengus, "Tapi saya gak ridho kalau dia hidup tenang! Dia harus diberi pelajaran.""Lalu apa yang harus Layla terima? Kalau terbukti berzina, biarkan suami kamu yang bertanggung jawab," ucap Pak RT menyela."Saya tidak setuju!" Raffa menolak keras jika Layla dinikahkan dengan Reza. "Kalau status jandanya Layla jadi masalah, maka saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menikahi Layla." ujar Raffa lantang, mengejutkan semua orang yang
Sebelumnya, Layla tak pernah merasakan malam yang begitu mencekam. Namun malam ini, terasa berbeda. Ada hal yang ditunggunya bersama beberapa orang di rumahnya, sebuah bukti untuk mengeluarkannya dari jerat fitnah yang menimpanya.Layla pasti yakin, foto tersebut hasil rekayasa semata. Karena bagaimana pun ia sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut. Berfoto dalam busana tertutup pun ia jarang lakukan, apalagi berfoto tanpa busana dengan senyum lebar dengan tatapan menggoda. Layla tak seberani itu.Entah apa yang dilakukan Reza sehingga dengan tega memfitnahnya, bahkan setelah sebelumnya mencoba melecehkannya. Layla merasa hancur, terlebih ketika orang-orang meragukannya dan lebih mempercayai tuduhan lelaki itu.Dalam sujudnya, Layla berdo'a, memohon dalam sujudnya agar permasalahan ini segera menemukan titik terangnya.Setelah menyelesaikan ibadahnya, Layla segera beranjak lalu menyimpan kembali mukena putihnya dengan rapi. Nafasnya masih tera
"Assalamu'alaikum, Pak Usman, ada apa ramai seperti ini?" tanya Raffa yang sejak kedatangannya di rumah Pak Usman dilanda penasaran karena hadirnya banyak orang. Terlebih akan suara jeritan yang menyayat hati bagi yang mendengarnya.Kedatangannya sebagai salam perpisahan dengan Layla menjadi berubah saat ia melihat sosok yang dicintainya berada dalam kondisi yang memprihatinkan.Layla terlihat lebih kurus dengan penampilan yang sangat berantakan. Wajah sembab dengan lingkaran hitam di sekitar mata, serta hijabnya yang acak-acakkan membuat hati Raffa mencelos seketika."Ada apa, Di?" tanya Raffa kepada Ardi disaat tak ada yang menjawab pertanyaannya.Dengan ragu, Ardi menyerahkan ponsel Nisa yang masih berada di tangannya, "Bang Raffa.. bisa perhatikan apa foto ini asli atau editan?"Raffa menatap ponsel tersebut, lalu matanya membulat tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Dalam hati, ia mengucap istigfar dengan benak yang mencelos mendengar isak Layla yang tak jauh darinya.
Di depan sana, muncul Nisa yang dengan wajah penuh amarahnya menghampiri Pak Usman yang terkejut. Perempuan itu tanpa mengucapkan salam dan malah meneriaki nama anaknya langsung menerobos masuk tanpa sopan santun.Ustadz Khairil yang saat itu tenga berbincang ringan dengan Pak Usman ikut terkejut dan melihat kembali perempuan yang waktu itu ada dalam kejadian yang menimpa menantunya."Ada apa kamu datang kesini langsung marah-marah?!" tanya Usman berang. Usman yang sudah tahu akan kejadian yang menimpa anaknya merasa marah karena Nisa datang mengacau disaat kondisi Layla masih terpuruk.Fatma dan Firda terlihat jeluar dari kamar untuk mengetahui penyebab kegaduhan terjadi."Mana anak perempuan bapak yang sok suci itu?! Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan gatal itu!""Bicara apa kamu?! Mulut kotormu tidak pantas mengata-ngatai anakku!" ujar Usman dengan dada yang naik turun pertanda tengah emosi."Mulut kotorku jauh lebih
Sudah dua hari Raffa menghabiskan waktunya di rumah sakit. Kondisi bapaknya yang belum sadar membuatnya begitu khawatir dan berharap sang bapak segera sadar. Hari ini seharusnya ia kembali ke Jogja untuk kembali melakukan rutinitas mengajarnya disana. Namun karena keadaan darurat seperti ini, Raffa bersama Aleea memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa hari. Saat ini Raffa tengah sendirian menunggu Sudirman di ruang rawatnya. Aleea sendiri saat ini masih berada di rumah sebelum siang nanti ia datang dan mengganti Raffa berjaga sementara pamannya itu beristirahat di rumah. Raffa menghela nafas gusar, entah kenapa ia merasa gelisah tanpa alasan. Lelaki itu kemudian menatap bapaknya yang terbaring di atas ranjang, mungkin karena sang bapak yang belum juga sadar, menjadikan perasaannya semakin gelisah tak menentu. Tak lama, pintu diketuk, lalu terbuka menampakkan dua orang yang dikenalnya. Salma, sang kakak nampak berjalan menghampiri ranjang bapaknya. Anak pertama Sudirm







