Share

9

Author: fridayy
last update Last Updated: 2025-10-13 11:37:07

Suasana di dalam mobil cukup hening beberapa saat. Raffa menatap Layla lekat, menuntut kejelasan dari apa yang sebelumnya ia ucapkan. Berharap perempuan itu mau sedikit terbuka kepadanya dan menceritakan semua perasaannya.

Cukup lama Layla terdiam, menatap lurus ke depan ke arah pohon rambutan yang tengah berbuah dan melambai-lambai tertiup angin.

Pohon itu seakan menjadi saksi bisu keraguan dan kesedihan yang Layla rasakan.

Akhirnya, dengan suara lirih dan terbata-bata, Layla mengungkapkan semua beban yang selama ini bertumpuk di hatinya.

"Sekarang mas mengerti kan, kenapa aku menghindar terus? Aku lagi menghindari fitnah. Aku gak mau namaku dianggap buruk dengan statusku saat ini. Orang-orang dan bahkan ibu mertua sendiri menganggap aku murahan karena sudah berani dekat-dekat dengan lelaki lain, sementara suamiku baru saja meninggal."

"Orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya tahu apa yang mereka lihat saja, meskipun hanya sekilas saja. Dan kejadian tadi saja sudah menimbulkan prasangka-prasangka buruk terhadapku."

Raffa tertegun, ucapan Layla begitu terdengar menyakitkan. Namun Raffa tahu rasa sakit itu hanya mampu dirasakan Layla sendiri. "Saya tahu Layla, saya menyadari resiko semua yang telah saya lakukan ini. Mungkin terdengar egois, namun perasaan saya benar-benar tak dapat saya kendalikan. Perasaan ingin memiliki dan menjadi pelindung untuk dirimu dan juga Ibra, itu seakan sudah tertanam dalam hati dan otak saya."

Ada jeda sebelum Raffa kembali berbicara. "Saya minta maaf... Jika sikap saya hari ini terlalu berlebihan."

"Tapi saya juga tidak tega saat melihat Ibra menangis sendirian, tidak ada yang menenangkan. Saat itu ada pamannya yang mau mengajaknya, tapi Ibra menolak dan malah menghampiri saya." jelas Raffa dengan seulas senyum kala mengingat wajah Ibra yang sumringah kala melihat dirinya ditengah kebingungan yang melanda anak kecil itu.

"Saya juga tidak menyangka akan sedekat ini sama Ibra, saya tidak menghasutnya apalagi memaksanya untuk memanggil saya ayah, entah kenapa tiba-tiba saja kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya saat menyapa saya. Mungkin, Ibra merindukan sosok ayahnya..." ucap Raffa menambahkan, tidak melebih-lebihkan perkataannya.

Terdengar helaan nafas yang berat dikeluarkan dari mulut Layla. Ia lantas menatap Raffa dengan perasaan berkecamuk. Namun Kali ini rasa bersalah lebih mendominasinya, kejadian hari ini memang tidak sepenuhnya salah Raffa. "M-maaf sudah berpikir buruk tentang mas. Mohon dimaklum juga semua perkataan dan sikap Ibra hari ini."

"Tak apa..." 'Saya menyukainya.' Lanjutnya dalam hati.

Raffa menghela nafas gusar, tangannya ingin lancang mengusap pipi mulus kemerahan itu, mencegah tetesan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Namun ia harus menahan diri untuk tidak terlalu agresif kali ini. Ia tak mau Layla semakin menjauhinya. "Sudah, jangan menangis. Saya antar pulang sekarang. Tapi nanti kita mampir dulu ke toko mainan. Saya sudah ada janji sama Ibra."

"Gak usah mas, merepotkan. Lagian Ibra juga tidur." ucap Layla sungkan.

"Gak papa, janji harus ditepati. Nanti Ibra marah sama saya."

Layla hendak menolak lagi, namun geliat Ibra di pangkuannya menghentikannya, "Sepertinya Ibra kebangun." gumam Raffa menatap Ibra yang setengah membuka matanya.

"Bu..." ucap Ibra pelan, namun matanya kembali menutup, seolah hanya memastikan ibunya ada didekatnya dan kembali melanjutkan tidur setelahnya.

"Kenapa? Masih ngantuk? Tidur aja lagi." gumam Raffa, tak sadar tangannya mengusap kepala Ibra sayang. Raffa terlalu menghayati dan lama, hingga deheman Layla menyadarkan Raffa dan segera menjauhkan tangannya dari sana.

Ibra sendiri sepertinya begitu menikmati usapan itu, terlihat begitu usapan menghilang, ia kembali membuka matanya dan menatap kepada Raffa, "Yah... mau mobil..." Raffa tertawa canggung dengan tangan yang mengusap rambutnya acak. Ia begitu malu dan kesal karena pasti Layla beranggapan dirinya lancang karena spontanitas tangannya itu, meskipun tujuannya hanya mengusap kepala Ibra.

"Kita pergi sekarang." ujar Raffa kaku sebelum menghidupkan mesin mobilnya.

Di perjalanan, keduanya sama-sama terdiam. Alunan sholawat yang diputar menciptakan ketenangan. Layla menikmati perjalanannya dengan nyaman meskipun pada awalnya ia masih canggung dan tak nyaman.

Matanya menjelajah disetiap objek yang dilaluinya. Hidup di kota kecil tak mampu membuat mereka harus menahan sabar karena kemacetan. Suasana jalanan terasa begitu lengang meskipun waktu menunjukkan jam istirahat.

Dalam hatinya, Layla begitu menyadari bahwa Raffa adalah sosok berkharisma. Dilihat sekilas dari penampilannya saja, Raffa memiliki aura yang tak bisa diabaikan begitu saja. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, dengan kulit kecoklatan yang menawan. Wajahnya yang simetris dengan rahang tegas yang dihiasi bulu-bulu halus di sekitarnya.

Ditambah lagi nilai akademis yang nyaris sempurna dimiliki lelaki itu, berbagai prestasi telah ia raih dimasa sekolahnya dulu, bahkan sampai sekarang dimana ia menjadi seorang dosen ternama.

Layla tahu itu semua, itu karena berkat temannya yang cerewet yang selalu menceritakan kisah pamannya. Dan Layla tak menyangka, dimasa sekarang, dimana dirinya yang telah menjadi janda, secara mengejutkan Raffa datang dan mengatakan bahwa ia menyukainya dan ingin memiliki hubungan yang terikat dengannya.

Layla tidak membenci Raffa secara personal, ia hanya tidak menyukai cara Raffa mendekatinya. Terkesan agresif dan terlalu terburu-buru.

Dan mengenai jawaban perasaannya, ia tak tahu bagaimana menyikapinya, yang pasti saat ini ia belum siap untuk kembali menjalin hubungan dengan lawan jenis, entah sampai kapan, atau bahkan tidak ada kesempatan.

Layla hanya ingin menjalani hidup dengan tenang bersama Ibra, ia hanya berpasrah kepada Alloh akan kehidupan yang ditakdirkan untuknya.

Setelah beberapa menit menempuh sisa perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota. Raffa telah memasuki area parkir yang dipenuhi oleh kendaraan roda empat.

Layla menatap Raffa yang langsung keluar begitu mesin dimatikan. Ia menghampiri pintu seberang dan membukanya. Layla memandang keluar dengan ragu, ia merasa takut akan bertemu seseorang yang dikenal atau mengenalinya. Ia sendiri merasa saat ini mereka seperti pasangan selingkuh yang diam-diam ingin berkencan di tempat terbuka.

"Ayo turun, biar Ibra saya gendong. Dia masih ngantuk." ucap Raffa menawarkan bantuannya. Ia melihat Ibra yang kembali bangun meskipun matanya masih sayu.

Dengan berat hati Layla menyerahkan Ibra, namun ia tak kunjung turun dari mobil membuat Raffa memandang bertanya-tanya.

"Hmm mas, Layla tunggu di mobil saja." ungkap Layla melihat wajah Raffa yang heran.

"Loh, kenapa? Nanti kalau Ibra nanya-in kamu gimana? Kalau kamu bosan nunggu bagaimana? Bisa saja nanti kita lama di dalam sana."

Layla meringis mendengar berbagai kemungkinan yang diucapkan Raffa, namun ada kekhawatiran sendiri terhadap dirinya dan lingkungan sekitar. "Terlalu riskan mas."

"Kamu itu seperti ketakutan ketahuan selingkuh saja." ujar Raffa sembari terkekeh ringan.

"Kalau kamu gak nyaman, saya akan jaga jarak." Lanjutnya memberi opsi. Layla merasa tak masalah dengan opsi itu, akhirnya ia menyetujuinya.

"Ya sudah, makasih mas."

Mereka memasuki mall sesuai dengan perkataan Raffa, Layla berjalan di depannya beberapa langkah lebih jauh dari posisi Raffa saat ini. Sesekali Ibra akan memanggil sang ibu karena berjalan terlalu jauh darinya.

Orang-orang mengira bahwa mereka adalah suami istri yang tengah berselisih dan memaksakan pergi jalan-jalan demi anaknya yang disayangi.

Hal itu membuat Layla menggeleng-geleng kepala merasa malu sendiri. Nyatanya keputusannya kali ini salah besar. Ingin sekali ia kembali ke parkiran dan menunggu di sana.

Namun ia kini sudah terlanjur jauh berjalan dan tengah menaiki eskalator menuju lantai dua.

"Kenapa harus ke mall, mas? Kita bisa cari toko mainan yang ada di pinggir jalan." ucap Layla tak sadar menggerutu kepada Raffa yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kebetulan saya juga ada yang perlu dibeli di sini." jawabnya enteng.

"Bukan cuma alasan Mas Raffa aja, kan?" tuduh Layla tanpa sadar mengeluarkan ekspresinya saat ini.

Raffa tersenyum merasa senang dengan sikap Layla saat ini. Hubungan mereka jadi tidak sekaku sebelumnya. "Bukan, tapi saya senang dengan alasan ini. Dengan begitu, waktu saya bersama kamu akan lebih lama." jawabnya jujur. Membuat Layla menahan dirinya untuk tersipu.

"Gak usah gombal mas." geram Layla.

"Enggak Layla, saya hanya mengungkapkan perasaan saya saat ini."

Jawaban Raffa membuat Layla terdiam tak berkutik.

****

Sesampainya di lantai dua, mereka berjalan menuju toko mainan besar yang terlihat dari ujung tangga eskalator.

Kali ini Layla memilih berjalan di belakang dan sesekali memperhatikan sekitar. Entah kenapa ia masih takut ada orang yang dikenalinya menemukan keberadaannya saat ini.

Saat memasuki toko, terdengar suara pramuniaga yang menyambut kedatangan mereka. Layla yang berada di belakang belum menyadari dan masih memperhatikan area luar.

"Selamat datang di toko kami, ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga kepada Raffa.

"Kami mau mencari mobil mainan remot, mbak." jawab Raffa ramah.

Ibra sendiri saat ini suda kembali bangun dari tidurnya dan terlihat sangat bersemangat menatap deretan mainan yang dipajang.

"Baik, mobilnya ada di rak belakang sebelah kanan, mari." ujar pramuniaga itu sembari mengarahkan Raffa ke lorong yang berisi mainan yang dicari.

Layla yang sedari tadi hanya diam mendengarkan berjalan mengikuti langkah Raffa, hingga sebuah sapaan dari arah samping membuat Layla menoleh seketika.

"Eh Layla? Cari mainan?" tanya seorang perempuan yang memakai seragam yang sama seperti pramuniaga tadi.

"Fitri? I-iya nih.. ternyata kamu kerja di sini ya, aku gak ngeuh." balas Layla disaat berhasil mengendalikan keterkejutannya.

Ternyata perempuan itu adalah Fitri, salah satu teman sekelasnya di Aliyah dulu. Mereka tidak terlalu dekat, namun hubungan mereka selalu baik dan sesekali bersapa ketika bertemu.

"Sama siapa tuh? Om-nya Ibra?" tanya Fitri penasaran menatap punggung Raffa yang semakin jauh memasuki toko. Layla mengikuti arah pandang dan mengangguk ragu kala Fitri menatapnya menunggu jawabannya.

Layla sendiri bingung hendak menjawab apa, alhasil ia hanya mengangguk meng-iyakan.

"Udah lama kerja di sini?" tanya Layla basa-basi. Membiarkan Ibra bersama Raffa memilih mainannya.

"Udah setengah tahunan." jawab Fitri kemudian.

Lalu terjadi keheningan, Layla yang kurang pandai basa-basi, akhirnya memilih mengakhiri percakapan tersebut,

"Aku ke sana dulu, ya. Kapan-kapan kita ketemuan sama Aleea..." ujarnya sebelum berbalik dan berjalan menuju ke arah lorong yang dimasuki Raffa tadi.

"Iya, aku juga mau ke belakang lagi. Kamu pilih-pilih aja mainannya."

Dengan tergesa, Layla berjalan meninggalkan Fitri yang masih diam memperhatikan. Hingga saat di lorong ynag dituju, ia tak melihat sosok Raffa bersama anaknya. Layla kebingungan dan kembali mencari dengan menelusuri setiap lorong. Hingga saat di ujung lorong paling kiri, ia akhirnya menemukan Ibra yang tengah berdiri memilih mainan didampingi Raffa di sisinya.

Raffa yang menyadari kehadirannya tersenyum dan melambaikan tangan agar Layla menghampiri mereka.

Layla dengan ragu berjalan sembari memperhatikan interaksi kedua lelaki berbeda usia itu dengan cermat. Saat ini Ibra terlihat sangat senang dan banyak berceloteh kepada Raffa mengenai mainan-mainan di hadapannya. Raffa pun tampak sangat menikmati percakapannya dan bisa membuat Ibra nyaman.

"Siapa tadi? Teman kamu?" tanya Raffa mengingat Layla sempat disapa dan berbincang beberapa saat.

"Teman waktu Aliyah, mas. Teman Aleea juga." Raffa mengangguk paham mendengar jawaban Layla. Dan Raffa sekarang mengerti kenapa raut wajah serta gerak geriknya terlihat gelisah dan tidak nyaman. Namun Raffa ingin egois, ia ingin menikmati momen disaat ia bisa berdekatan dengan Layla.

"Ibra, ambil mainannya satu aja ya?" pinta Layla melhat Ibra hendak mengambil lagi sebuah mainan disaat tangan kirinya sudah menenteng sebuah mobil-mobilan yang ukurannya lumayan besar.

Layla merasa pusing apalagi setelah melihat price tag-nya. Ia tak punya uang sebanyak itu untuk membeli kedua mainan tersebut.

"Mau dua." ujar Ibra dengan mata memelas. Namun Layla menggelengkan kepala menolak keinginan Ibra. Bukan hanya soal harga, akan tetapi kedisiplinan untuk mengatur jumlah mainan yang dimilikinya. Di rumah, Ibra sudah memiliki banyak mainan. Dan ia sering kali merasa bosan hingga banyak mainan yang dicampakkan dan berakhir rusak. Layla tidak mau menumpuk banyak barang rongsokkan dan juga tidak mau menyimpan barang tak terpakai lebih lama.

"Gak papa, Layla, saya yang bayar." sela Raffa tak ingin melihat ibu dan anak berselisih lebih lama.

"Tapi, mas~"

"Tenang Layla, saya ajak Inra kemari, berarti saya sanggup untuk membelikan mainan keinginannya."

"Tapi gak sebanyak itu." protes Layla tak terima. Ia juga tak enak hati jika Raffa yang membayar semua mainan itu.

"Sudah, itu hadiah dari saya buat Ibra." ucapnya demikian. Hal itu membuat Layla diam tak berkutik.

"Sudah pilih yang ini saja?" tanya Raffa memastikan dan langsung dianggukki Ibra. Nampak wajah Ibra kini berseri kembali bahkan berjalan terlebih dahulu meninggalkan dua orang dewasa di belakangnya menuju meja kasir. Layla hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu.

****

Setelah selesai membeli mainan, mereka keluar dari toko dan menyusuri area di lantai dua. Hingga saat di belokan dekat lift, Layla tak sadar berpapasan dengan seorang pria berhoodie hitam, menatapnya sejenak merasa mengenali sosok berhijab itu.

Namun karena posisi Layla yang membelakangi, membuat pria itu tidak mengetahuinya dan lanjut kambali berjalan.

Mereka kemudian berbelok ke sebuah toko pakaian pria dengan label brand lokal ternama. Layla berhenti di depan toko memandang ragu ke pintu kaca transparan.

"Mas, mau beli pakaian?" Raffa mengangguk memberi jawaban. Ia ingin membeli pakaian yang diminta oleh ayahnya beberapa waktu lalu.

"Kalau begitu Layla tunggu di luar aja sama Ibra." lanjut Layla.

Kening Raffa mengernyit heran, "Loh, kenapa?"

"Gak kenapa-napa. Mas masuk aja sendiri, Layla tunggu di sini sama Ibra."

"Ayo ikut saja." ajak Raffa kemudian, ia tak tega jika harus meninggalkan Layla dan Ibra di luar. Merasa keadaan tengah berpihak padanya, kini Ibra merengek untuk ikut masuk ke dalam bersama Raffa. "Ibu... Ikut..."

Hal itu membuat Layla diam-diam mencebik melihat tingkah anaknya itu. Seolah ia takut ditinggal Raffa pergi saja.

"Hmm kamu saja yang ikut... Tapi kamu jalan kaki, kasihan Om Raffa keberatan karena gendong kamu."

"Mau sama ibu..." rengek Ibra membuat Layla menahan kesal. Tidak tahu apa jika ibunya itu sedang menghindari agar tidak terlalu berdekatan dengan lelaki itu?! Kenapa juga Ibra terus-terusan menempel kepada Raffa yang notabenenya adalah orang asing?!

Melihat keduanya yang lengket membuat Layla menggeram menahan amarah. Yang satu kenyamanan, yang satu lagi memanfaatkan!

"Ya sudah, ayo." geram Layla berjalan mendahului Raffa yang terkekeh senang.

Mereka-pun akhirnya memasuki toko pakaian khusus lelaki dengan merk ternama. Di dalamnya kebanyakan model pakaian casuan dan formal, cocok untuk para pegawai yang mencari busana pekerjaan.

"Kalau kamu pegal, duduk saja di kursi sana." ucap Raffa begitu masuk ke dalam.

Layla menatap sofa panjang di samping kaca besar disana, lalu berjalan kesana meninggalkan Raffa yang terdiam menatapinya. Namun setelahnya ia berlalu bersama Ibra ke arah deretan kemeja di tengah.

Layla menunggu sembari duduk mengamati seisi toko yang lumayan sepi. Pencahayaan yang terang dan udara yang sejuk dari pendingin ruangan membuatnya rilex dan bahkan membuatnya ngantuk. Apalagi ruangan tersebut diiringi dengan musk jazz yang mengalun pelan dan lembut.

Hal itu membuat Layla semakin ingin cepat sampai dan tidur setelah semalam ia begadang membantu menyiapkan acara pernikahan.

Layla pun memutuskan untuk beranjak dan berjalan-jalan sembari mencari keberadaan Ibra. Karena jika terus berdiam, ia takut akan ketiduran di sofa nyaman itu.

Setelah selesai belanja pakaian yang menghabiskan cukup banyak waktu, akhirnya mereka keluar sembari berjalan beriringan.

"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Raffa tiba-tiba, ia ingin menawarkan sesuatu untuk dibeli wanita itu.

Layla menggeleng, "Enggak ada mas. Kalau bisa kita pulang sekarang."

"Kalau saya belikan, boleh?"

Layla mendelik kesal, "Apa sih? Gak usah mas. Aku gak mau orang-orang nganggap kita ada apa-apa."

"Yaa... jangan dikasih tahu."

Layla berdecak, "Mas... Bukan gitu konsepnya." Ia tahu Raffa mengerti maksud derkataannya, namun sepertinya lelaki itu tengah mempermainkannya.

Layla takut jika menerima pemberian dari seorang lelaki akan menimbulkan permasalahan. Ia juga tidak mau menimbulkan harapan lebih jika menerima pemberian dari Raffa.

"Pokoknya aku gak mau terima barang apapun dari mas dan dari lelaki manapun. Tolong pengertiannya, mas."

****

Setelah menempuh jarak yang lumayan panjang, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Pak Usman. Langit telah menunjukkan jingganya di ufuk barat. Burung-burung nampak terbang melintas cakrawala.

Layla menatap pemandangan sawah di halaman depan rumahnya. Langit yang berwarna oranye keemasan itu memancarkan cahaya lembut yang menyinari segala sesuatu di sekitarnya. Bayang-bayang pepohonan dan bangunan mulai memanjang, menciptakan kontras yang menarik antara cahaya dan bayangan. Suasana menjadi semakin romantis dan damai, seolah alam sedang menunjukkan keindahannya yang paling memukau. Cahaya senja yang hangat ini membawa rasa tenang dan tenteram, membuat siapa pun yang menyaksikannya merasa damai dan bersyukur.

Layla sudah menghabiskan lima menit di dalam mobil sejak kendaraan itu berhenti. Ia ingin segera beranjak dari sana, namun Raffa mencegahnya dan sedari tadi masih terdiam belum menyampaikan apa yang ingin diucapkannya.

"Kalau gak ada apa-apa, aku pergi dulu. Terima kasih atas tumpangan dan hadiahnya~"

"Layla... Mengenai perkataan saya beberapa waktu lalu, tolong dipertimbangkan lagi." sela Raffa memotong perkataan Layla tergesa. Sedari tadi ia memikirkan cara bagaimana menyampaikan keinginannya yang masih terpendam itu.

"Saya serius." lanjut Raffa meyakinkan. Dadanya bergemuruh seolah ada angin badai yang menerpa organ tubuhnya.

"Saya tahu ini lancang, tapi gak bisa menahannya terlalu lama lagi."

"Dan kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Saya tidak terburu-buru. Masih banyak waktu untuk kita saling mengenal satu sama lain." ujar Raffa sedikit terengah seolah ada beban yang menghimpit tenggorokannya, keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal mesin pendingin udara masih bekerja dengan baik. Ia menunggu dengan cemas respon Layla yang saat ini masih terdiam.

"Maaf mas... Layla enggak bisa." Kalimat itu meluncur begitu tajam, langsung menohok ulu hati Raffa yang terluka.

"Kita bisa pelan-pelan, Layla..." lirih Raffa putus asa melihat gelengan kepala yang Layla lakukan diiringin dengan dentuman keras pintu mobil mengiringi langkah kaki Layla yang berjalan jauh bersama Ibra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   35

    Setelah sholat subuh berjamaah, Layla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang tertunda akibat bangun kesiangan tadi. Layla keluar beberapa menit kemudian dengan memakai gamis sederhana dengan rambut yang basah sehabis keramas. Sambil menghadap cermin, Layla mengeringkan rambut sepinggangnya menggunakan hair dryer. Suara nyaring dari benda tersebut menyamarkan suara pintu yang terbuka sehingga kala tatapannya bersibobrok dengan Raffa, Layla terjengkit kaget dan hampir saja menjatuhkan hair dryernya. Di belakang sana, tepat di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Raffa berdiri sembari menatap Layla tanpa berkedip, membuat Layla sedikit lebih gugup. Pasalnya baru kali ini ia dilihat tanpa hijab oleh Raffa karena malam-malam sebelumnya ia selalu memakai hijab meskipun sedang saat tidur. "Kamu yang beresin semua barangnya?" tanya Raffa memecah keheningan.Layla kemudian menoleh, lantas mengangguk membenarkan. "M

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   34

    Pukul 9 malam, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Raffa setelah berjam-jam lamanya diperjalanan. Perjalanan panjang dan melelahkan yang membuat beberapa kali terhenti hanya untuk sekedar istirahat.Raffa menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya yang terlihat terang. Selama kepergiannya, ada petugas keamanan yang memastikan keamanan serta lampu yang sengaja dinyalakan di malam hari. Raffa membuka tali sabuk pengamannya lalu menoleh ke arah Layla yang masih tertidur. Bibirnya tersungging tipis menyadari bahwa perempuan itu lebih banyak tertidur selama perjalanan.Di belakang, dengan semangat Aleea turun dari mobil bersama Ibra yang sudah terbangun. Bocah itu pun ikut kegirangan melihat tantenya bersorak senang saat keluar dari kendaraan beroda empat itu, mereka langsung berjalan memasuki rumah setelah sebelumnya Raffa yang memberikan sendiri kunci rumahnya kepada Aleea.Sementara di dalam mobil, berkali-kali Raffa membangunkan Layla dengan suara pe

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   33

    Di dalam ruangan yang gelap, terlihat kilatan petir yang menyambar dari jendela kamar yang terbuka, menghembuskan angin kencang yang menyejukkan ruangan. Rintik basah nampak menciprat lantai kamar dan perlahan menjadi genangan. Namun sosok yang duduk di hadapannya hanya terdiam, memandang rintikan air seolah sengaja membiarkannya.Hingga suara ketukan diiringi teriakan menggema di balik pintu. Namun sosok itu masih terdiam membisu, membiarkan air hujan yang semakin deras masuk dan membasahi tubuhnya. "Ko... Riko!!!" sahut suara perempuan di luar. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras kala sang pemilik kamar tak kunjung menjawab."Ibu kamu nyuruh aku masuk kalau rumah masih pada gelap. Kamu masih tidur, Ko? Bangun napa, masa dari pagi kamu tidur terus!""Kok, masih idup kan?" Terselip nada khawatir dalam pertanyaannya."Aku masuk nih!"Tak lama, suara decit pintu yang macet sedikit terbuka, Fitri yang berkunjung itu memasukkan kepalanya terlebih dahulu guna memastikan keberad

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   32

    Suasana jalanan nampak lengang di pagi menuju siang setelah kepulangan mereka dari rumah Pak Usman. Keadaan di dalam mobil nampak hening dan hanya terdengar suara serial anak yang ditampilkan di layar tab milik Raffa. Lelaki itu sengaja memberikan perhatian lain kepada Ibra saat kejadian di rumah kakeknya tadi.Kini mereka bergerak kembali menuju kediaman Pak Sudirman untuk membawa barang bawaan sekaligus Aleea yang hendak ikut menemani perjalanan mereka. Perempuan itu akan kembali ke rutinitasnya di asrama setelah beberapa pekan menghabiskan waktunya di rumah sang kakek.Dalam keheningan itu, beberapa kali Raffa menoleh, berusaha memastikan perempuan itu baik-baik saja. "Mengenai laki-laki tadi...""Dia cuma teman, kemarin dia yang nolongin aku." lirih Layla pelan, hampir tak terdengar."Nolongin kenapa?" tanya Raffa ingin tahu."Ada hal lain yang terjadi sebelum kejadian kemarin?" tanya Raffa disaat belum mendapatkan jawaban dari Layla.Raffa kembali menoleh saat Layla masih saja te

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   31

    Siang hari, Raffa bersama Layla, Ibra, dan Aleea telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, namun sebelum itu mereka berkunjung kembali ke rumah Pak Usman untuk berpamitan. Layla memeluk ibunya dengan tangisan pilu yang menggetarkan hati. Pak Usman yang memangku Ibra berdiri di samping mereka mengusap punggung Layla menenangkan. "Sudah nangisnya nak, insyaalloh kehidupan kamu akan jauh lebih baik di Jogja nanti."Pelukan terurai, Raffa kemudian berkata, "Bu, pak, saya izin pamit bersama Layla dan Ibra untuk pergi ke Jogja. Bukan maksud saya untuk menjauhkan Layla dan Ibra dari ibu dan bapak, hanya saja, saat ini saya ada tuntutan kerja dan saya merasa Layla lebih baik untuk ikut dan berada di tempat yang jauh dan aman setidaknya untuk menenangkan diri dari kejadian kemarin."Pak Usman mengangguk terharu sembari menahan air mata yang ingin keluar dari kedua sudut matanya. "Bapak dan ibu mengerti, Mas Raffa. Terima kasih sudah mau menjadi penyelamat bagi kami, jika tidak ada Mas Raf

  • Janda Cantik Milik Pak Dosen   30

    Keesokan paginya, Layla bangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat, penglihatannya sedikit buram dan harus menunggu penyesuaian beberapa saat.Sebuah sosok yang tengah duduk bersila di lantai dan membelakanginya nampak khusuk tak menyadari pergerakan di belakangnya.Layla yang mengetahui pria itu adalah Raffa memilih untuk diam dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan. Di dalam kamar mandi, Layla menghembuskan nafas gusar, entah harus bersikap bagaimana nanti di depan Raffa, terutama di hadapan keluarganya. Perasaannya berkecamuk, terlebih saat kembali mengingat perkataan Salma semalam.Layla tahu, Salma kecewa dengan pernikahan adiknya ini, namun Layla juga tak bisa mencegahnya karena desakan dari berbagai sisi dan juga permasalahan yang ia sendiri tak pernah dilakukan.Mencoba melupakan sejenak permasalahannya, Layla memilih beranjak ke kamar mandi dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Di dalam kamar mandi, Layla termenung memikirkan bagaimana cara menghadapi ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status