MasukSementara di sisi lain, Fitri yang telah menyelesaikan pekerjaannya kini tengah terdiam di pintu lobi mall tempatnya bekerja. Tak sadar ia melamun di tengah khalayak umum dimana orang-orang berlalu lalang keluar masuk mall.
Suara deru kenalpot menghampiri tempat Fitri berdiri. Suaranya begitu bising ditambah dengan asap yang mengepul membuat orang-orang di sekitar menatap pengendara motor itu dengan kesal. "Fit... Fitriyanii.... Fitriyani Cahyadi!!" teriak Riko dari atas motor saat Fitri tak kunjung muncul kesadarannya. Lelaki yang mengendarai motor trail itu nampak melambai-lambaikan tangannya ke hadapan wajah temannya. Teriakan itu sontak membuat Fitri tersadar seketika. Ia menatap sebal pada Riko yang berteriak tak tahu situasi. "Berisik kamu, jangan sebut-sebut bapakku bisa?!" "Makanya jangan ngelamun. Nanti kesambet ani-ani mall, eh hantu mall!" ujarnya serampangan diiringi gelak tawanya yang menggelagar. Fitri sendiri hanya mendelik melihat Riko yang tertawa seperti kerasukan. Setelah menyelesaikan tawanya, dengan santai Riko mengusap air mata di sudut matanya yang basah. Lalu menyerahkan helm kepada Fitri. Sebagai perempuan yang tak mau hijabnya rusak, Fitri pun memakai helm dengan hati-hati. Namun karena Riko yang usil, tangannya dengan sengaja menekan helm yang sudah rapi terpasang agar lebih menempel di kepala perempuan berhijab itu. "Pake yang bener!" ujarnya seraya cengengesan melihat mata tajam yang siap mengulitinya hidup-hidup. Dengan sebal, Fitri kembali membuka helmnya dan membetulkan ujung hijabnya yang berantakan. "Napa sih, cewek ribet amat. Perkara pake helm aja kudu aestethic. Lu itu cantik mau di gimanain juga. Gak usah ribet lah." "Bodo amat. Yang pake siapa? Kamu?" sungut Fitri yang tak terima dengan ocehan Riko. "Dibilangin..." Riko menatap heran kepada anak Pak Cahyadi yang masih sibuk membenahi penampilannya. "Yaudah cepet, kita cari makan dulu, biar Abang Riko yang traktir." "Gak biasanya." Fitri menatap lekat kepada Riko yang terlihat serius hingga Riko terlihat salah tingkah. "Orang lagi dermawan harusnya bersyukur, bukannya masang wajah curiga gitu." gumamnya sembari terkekeh, lalu menstater motornya yang sempat mati. Fitri mendelik sebal, karena tak biasanya lelaki itu mau berbaik hati mentraktirnya. Sudah lama mereka berteman dekat, dan yang Fitri ingat, kebanyakan Riko selalu mengganggunya meski hanya untuk meminta makanan. Padahal setahu Fitri, Riko mempunyai kehidupan yang tercukupi. Orang tuanya pemilik lahan perkebunan kopi paling luas di desanya. Namun Riko selalu terlihat kelaparan setiap datang kepadanya. "Iya deh, tapi yang mahalan dikit makanannya ya?" pinta Fitri tak mau menyia-nyiakan ajakan temannya itu. "Diihh... Ngelunjak!" sungut Riko. "Dermawan kok perhitungan!" "Budgetnya cuma gocap buat berdua, sepuasnya!" "50 ribu mana puass!" protes Fitri melihat Riko yang banyak alasan. Mereka terus berdebat tanpa menyadari orang-orang memperhatikan mereka. Riko yang menyadari lebih cepat langsung menarik lengan Fitri mendekat dan menyuruhnya untuk segera menaiki motornya, "Udahlah, jangan banyak bacot, cepetan naik." "Ini motor kapan digantinya sih? Ribet tau naiknya!" ujar Fitri yang masih menggerutu kesal. Ia memegang pundak Riko yang tinggi untuk membantunya duduk di jok belakang. Motor yang dikendarai Riko adalah jenis motor trail yang sering digunakan nge-track di dalam hutan. Fitri selalu merusuh dalam hati, mentang-mentang punya badan gede, motor pun sukanya bawa yang gede! Riko terbahak, "Dasar boncel! Dikasih tumpangan juga udah syukur!" "Siapa suruh suka jemput." gumam Fitri yang masih menyimpan kekesalan kepada Riko. Setelah duduk dengan tenang, Riko mulai melajukan motornya keluar dari area mall yang ramai. Semilir angin sore berhembus menyejukkan mengiringi mereka. Riko mengendarai motornya dengan santai, lalu menyalip dengan lihai beberapa pengendara mobil yang melaju di depannya. Fitri yang sudah terbiasa dengan cara Riko mengendarai motor hanya terdiam dengan tangan menggenggam erat ujung hoodie hitam di depannya, tak lupa ia juga merapalkan do'a yang tak putus-putus setiap ia menaiki motor bersama Riko. "Mau makan dimana nih?" teriak Riko yang merasa sepi karena Fitri tak kunjung membuka suara. Lama tak ada jawaban, Riko kembali bersuara, "Sate Pak Jamal aja ya? Lumayan 25 dapet nasi plus sate sepuluh tusuk plus teh manis." "Iya deh..." "Nanti kalau abang gajian, abang traktir yang mahal-mahal. Mau sushi? Steak? Hot pot~" Fitri yang sebal dengan semua penawaran itu, mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengarahkan mulutnya ke telinga kiri Riko dan berteriak, "Berisik, pengangguran nungguin gajian dari mana?" "Dari BLT wkakaka..." sahut Riko sambil berteriak, keduanya terbahak. Terlebih Fitri yang merasa lucu dengan lelucon lelaki itu. "Dari ayahanda dong, muka borjuis kaya gini gak level nungguin BLT cair." Sambung Riko setelah menyelesaikan tawanya. "Borjuis bapakmu!" Riko tertawa, lalu menimpal dengan wajah seriusnya meskipun Fitri tak dapat melihatnya. "Fitriyani... Denger, kalau bapak lu kaya, otomatis semua harta warisannya bakal jadi milik lu semua, dan itu juga berlaku buat gue nanti." "Hmm, aku do'a in kamu cepet sadar dan bisa ngelola aset warisanmu itu sebelum beralih ke kamu dan kamu cuma bisa ngabisinnya aja." "Aamiin... Makasih bestie." ucap Riko dengan suara alay-nya. Hal itu membuat Fitri mual mendengarnya. "Diihh, najis!" Keduanya lantas terdiam, menikmati semilir angin sore yang berhembus. Riko menghentikan laju motornya saat mendapati lampu lalu lintas berwarna merah. Di belakang sana, Fitri meregangkan tangannya yang pegal, lantas merogoh tas selempangnya dan mengambil uang receh untuk diberikan kepada pengamen jalanan. Tak lama menunggu, lampu kembali berwarna hijau, motor kembali melaju membelas jalanan bersama kawanan lainnya. "Fit..." Riko kembali menyapa, dan Fitri hanya berdehem menanggapi. "Udah punya gebetan baru belum?" tanya Riko dengan nada serius. Dahi Fitri mengkerut, tak biasanya Riko menanyakan perihal cowok yang dekat dengannya. "K-kenapa?" "Nanya aja." "Gak ada." jawab Fitri jujur. Sudah beberapa waktu ini ia menjomblo dan tak mempunyai gebetan sama sekali. Terakhir pacaran mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Itupun tidak berlangsung lama karena si laki-laki terlalu cemburu akan kehadiran Riko yang selalu membuntutinya. Saat itu Fitri marah besar kepada Riko. Gara-gara dia, cowok yang selama ini dikaguminya memutuskannya secara sepihak. Padahal selama pacaran ia berusaha untuk membatasi komunikasi dan pertemuannya dengan Riko bahkan dengan teman lelaki lainnya. Namun dengan segala cara, lelaki itu selalu berhasil menemukannya. Sepertinya Riko memang sengaja ingin menghancurkan hubungan asmara yang baru seumur jagung itu. Sialan memang! Padahal selama ini Fitri tidak pernah mengganggu hubungannya dengan cewek lain yang hitungannya melebihi angka 4. Ia tidak mau ikut campur dan ambil pusing dengan urusan Riko yang satu itu. "Gue mau deketin cewe nih, tapi bingung gimana caranya." "Cewe mana lagi yang mau kamu jadiin mainan hah? Gak kapok apa sama kejadian kemaren? Dikekar-kejar minta tanggung jawab?" Riko ingat akan kejadian mengenaskan yang dialaminya 3 bulan yang lalu. Saat itu ia sedang asyik main ps di dalam kamarnya setelah bolos kuliah. Lalu tiba-tiba bapaknya menggedor-gedor pintu kamarnya dengan keras bahkan hampir membukanya dengan paksa kalau ia tak segera bertindak. Bapaknya marah bukan tanpa sebab. Di luar sana, sang ibu tengah meraung dengan tangis yang menyayat hati di pelukan Fitri yang ikutan menangis tersedu-sedu. Riko keluar diseret oleh bapaknya dan bingung melihatnya. 'Drama apalagi kali ini?' pikirannya berkecamuk. Lalu sudut matanya menangkap sosok perempuan yang tak asing tengah duduk bersimpuh tengah mengais seorang bayi yang ikutan menangis. Perempuan itu Fani, salah satu mantan kekasihnya. Riko mencoba mencerna kejadian yang dilihatnya. Namun, belum sempat ia menjelaskan, sang bapak menendangnya dan berkata kalau perempuan yang membawa bayi itu adalah anaknya yang telah ia telantarkan. Riko melamun, membayangkan ia memiliki anak diusianya yang masih belia. Berbagai bayangan buruk menghantuinya kala ia harus mengurus bayi tak berdosa itu. "Tapi kan itu bayi bukan punya gue. Gue juga belum pernah ngerasain wikwik, enak aja ujug-ujug harus ngasih nafkah anak jantan lain." ujar Riko setelah kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Untung saja saat itu otaknya kembali berfungsi dengan cepat. Ia menghadap bapaknya, menggeleng dan menolak mengakui bahwa bayi itu anaknya. Segala cara Riko lakukan untuk membuktikan bahwa bayi itu bukan miliknya. Hingga pada akhirnya Riko benar. Dan perempuan itu hanya mencari kesempatan untuk menjadikan Riko sebagai ayah dari bayinya. "Makanya pacaran itu jangan sampai kebablasan! Kerasa kan?" geram Fitri menggurui. Waktu itu Fitri merasa marah karena kejadian itu. Namun baiknya, kini Riko lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dan mimilih kekasih. "Kagak, Fitriyani. Gue masih perjaka ting ting, percaya sama gue!" Fitri mencebik, "Iya, kemaren-kemaren cuma nyelup ujungnya doang, gitu?!" tanya Fitri sarkas. Dengan gemas Riko menggeplak paha kiri Fitri sedikit keras, "Astagfirulloh enggak, fitnah ya lu. Otak lu udah ngeres ih, ketularan siapa coba??!" "Kamu, bego!" balas Fitri menggeplak pundak kanan Riko. "Pinterr..!" serunya terbahak keras. Ia sangat suka jika sudah beradu mulut dengan perempuan di belakangnya ini. "Tapi kali ini gue gak main-main, dia bukan cewe yang gak boleh dimainin." lanjut Riko setelah menghentikan tawanya. Kali ini suasana pembicaraan kembali serius. "Terus?" "Gue mau serius, sama dia." ujar Riko mantap. Fitri kembali menggeplak pundak Riko spontan, "Yang bener aja!" "Kuliah kamu aja gak pernah diseriusin, tiba-tiba pengen seriusin anak orang!" cerocosnya tak terima. "Ya kan semuanya juga butuh proses, Fit." Fitri menghela nafas lelah, "Ya dari pada kamu seriusin anak orang, sementara kamu juga belum upgrade diri kamu, mending kamu fokus dulu sama kuliah kamu, bangun karir kamu dari sekarang. Kamu itu sebenarnya gak bodo-bodo amat, cuma males aja. Mentang-mentang punya bapak kaya, kamu cuma mau tumpang kaki ngerasain enaknya aja." "Gue lagi nunggu waktu, Fit." balas Riko dengan tatapan menerawang. "Waktu apa lagi sih?" "Gue mau buktiin kalau gue punya pendirian yang teguh. Kalau gue gak mau masuk hukum, ya jangan maksa gue ambil jurusan hukum! Gue lagi berontak sekarang." Fitri menghela nafas, jadi ini alasan Riko tidak pernah lulus, karena ia sengaja! Fitri pusing dengan cara kerja otak orang kaya Riko, sengaja kuliah ngambil hukum buat kelihatan nurut sama orang tua, tapi nyatanya ia sedang membangun strategi untuk memberontak. Sekarang Fitri tahu kenapa studi Riko tidak pernah selesai, karena Riko sengaja! Ia sengaja menghabiskan uang orang tuanya yang ingin sekali anaknya memiliki gelar sarjana hukum. Namun Riko tak mau. Mungkin Riko lebih memilih menyandang gelar sarjana ilmu mengejar cinta sejati seperti di bio akun facebooknya waktu SD. "Ngeyel, dari dulu kamu batu banget, tau gak sih?" "Tau." "Percuma juga aku ngasih saran kalau kamu masih keras kepala juga." "Kalau saran kali ini agak masuk akal, gue bakal pertimbangin." "Emang siapa cewek yang kamu incer sekarang?" tanya Fitri penasaran. Sepengetahuannya, selama ini Riko tidak pernah serius dalam berpacaran. Ia hanya iseng dan ingin mengisi waktu kosongnya dengan memacari anak orang. "Ada lah..." gumamnya sambil tersenyum tipis. "Ya siapa?!" "Lo udah tau orangnya." gumam Riko misterius.Setelah sholat subuh berjamaah, Layla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang tertunda akibat bangun kesiangan tadi. Layla keluar beberapa menit kemudian dengan memakai gamis sederhana dengan rambut yang basah sehabis keramas. Sambil menghadap cermin, Layla mengeringkan rambut sepinggangnya menggunakan hair dryer. Suara nyaring dari benda tersebut menyamarkan suara pintu yang terbuka sehingga kala tatapannya bersibobrok dengan Raffa, Layla terjengkit kaget dan hampir saja menjatuhkan hair dryernya. Di belakang sana, tepat di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Raffa berdiri sembari menatap Layla tanpa berkedip, membuat Layla sedikit lebih gugup. Pasalnya baru kali ini ia dilihat tanpa hijab oleh Raffa karena malam-malam sebelumnya ia selalu memakai hijab meskipun sedang saat tidur. "Kamu yang beresin semua barangnya?" tanya Raffa memecah keheningan.Layla kemudian menoleh, lantas mengangguk membenarkan. "M
Pukul 9 malam, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Raffa setelah berjam-jam lamanya diperjalanan. Perjalanan panjang dan melelahkan yang membuat beberapa kali terhenti hanya untuk sekedar istirahat.Raffa menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya yang terlihat terang. Selama kepergiannya, ada petugas keamanan yang memastikan keamanan serta lampu yang sengaja dinyalakan di malam hari. Raffa membuka tali sabuk pengamannya lalu menoleh ke arah Layla yang masih tertidur. Bibirnya tersungging tipis menyadari bahwa perempuan itu lebih banyak tertidur selama perjalanan.Di belakang, dengan semangat Aleea turun dari mobil bersama Ibra yang sudah terbangun. Bocah itu pun ikut kegirangan melihat tantenya bersorak senang saat keluar dari kendaraan beroda empat itu, mereka langsung berjalan memasuki rumah setelah sebelumnya Raffa yang memberikan sendiri kunci rumahnya kepada Aleea.Sementara di dalam mobil, berkali-kali Raffa membangunkan Layla dengan suara pe
Di dalam ruangan yang gelap, terlihat kilatan petir yang menyambar dari jendela kamar yang terbuka, menghembuskan angin kencang yang menyejukkan ruangan. Rintik basah nampak menciprat lantai kamar dan perlahan menjadi genangan. Namun sosok yang duduk di hadapannya hanya terdiam, memandang rintikan air seolah sengaja membiarkannya.Hingga suara ketukan diiringi teriakan menggema di balik pintu. Namun sosok itu masih terdiam membisu, membiarkan air hujan yang semakin deras masuk dan membasahi tubuhnya. "Ko... Riko!!!" sahut suara perempuan di luar. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras kala sang pemilik kamar tak kunjung menjawab."Ibu kamu nyuruh aku masuk kalau rumah masih pada gelap. Kamu masih tidur, Ko? Bangun napa, masa dari pagi kamu tidur terus!""Kok, masih idup kan?" Terselip nada khawatir dalam pertanyaannya."Aku masuk nih!"Tak lama, suara decit pintu yang macet sedikit terbuka, Fitri yang berkunjung itu memasukkan kepalanya terlebih dahulu guna memastikan keberad
Suasana jalanan nampak lengang di pagi menuju siang setelah kepulangan mereka dari rumah Pak Usman. Keadaan di dalam mobil nampak hening dan hanya terdengar suara serial anak yang ditampilkan di layar tab milik Raffa. Lelaki itu sengaja memberikan perhatian lain kepada Ibra saat kejadian di rumah kakeknya tadi.Kini mereka bergerak kembali menuju kediaman Pak Sudirman untuk membawa barang bawaan sekaligus Aleea yang hendak ikut menemani perjalanan mereka. Perempuan itu akan kembali ke rutinitasnya di asrama setelah beberapa pekan menghabiskan waktunya di rumah sang kakek.Dalam keheningan itu, beberapa kali Raffa menoleh, berusaha memastikan perempuan itu baik-baik saja. "Mengenai laki-laki tadi...""Dia cuma teman, kemarin dia yang nolongin aku." lirih Layla pelan, hampir tak terdengar."Nolongin kenapa?" tanya Raffa ingin tahu."Ada hal lain yang terjadi sebelum kejadian kemarin?" tanya Raffa disaat belum mendapatkan jawaban dari Layla.Raffa kembali menoleh saat Layla masih saja te
Siang hari, Raffa bersama Layla, Ibra, dan Aleea telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, namun sebelum itu mereka berkunjung kembali ke rumah Pak Usman untuk berpamitan. Layla memeluk ibunya dengan tangisan pilu yang menggetarkan hati. Pak Usman yang memangku Ibra berdiri di samping mereka mengusap punggung Layla menenangkan. "Sudah nangisnya nak, insyaalloh kehidupan kamu akan jauh lebih baik di Jogja nanti."Pelukan terurai, Raffa kemudian berkata, "Bu, pak, saya izin pamit bersama Layla dan Ibra untuk pergi ke Jogja. Bukan maksud saya untuk menjauhkan Layla dan Ibra dari ibu dan bapak, hanya saja, saat ini saya ada tuntutan kerja dan saya merasa Layla lebih baik untuk ikut dan berada di tempat yang jauh dan aman setidaknya untuk menenangkan diri dari kejadian kemarin."Pak Usman mengangguk terharu sembari menahan air mata yang ingin keluar dari kedua sudut matanya. "Bapak dan ibu mengerti, Mas Raffa. Terima kasih sudah mau menjadi penyelamat bagi kami, jika tidak ada Mas Raf
Keesokan paginya, Layla bangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat, penglihatannya sedikit buram dan harus menunggu penyesuaian beberapa saat.Sebuah sosok yang tengah duduk bersila di lantai dan membelakanginya nampak khusuk tak menyadari pergerakan di belakangnya.Layla yang mengetahui pria itu adalah Raffa memilih untuk diam dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan. Di dalam kamar mandi, Layla menghembuskan nafas gusar, entah harus bersikap bagaimana nanti di depan Raffa, terutama di hadapan keluarganya. Perasaannya berkecamuk, terlebih saat kembali mengingat perkataan Salma semalam.Layla tahu, Salma kecewa dengan pernikahan adiknya ini, namun Layla juga tak bisa mencegahnya karena desakan dari berbagai sisi dan juga permasalahan yang ia sendiri tak pernah dilakukan.Mencoba melupakan sejenak permasalahannya, Layla memilih beranjak ke kamar mandi dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Di dalam kamar mandi, Layla termenung memikirkan bagaimana cara menghadapi ha







