เข้าสู่ระบบ"Ah... Tuan..."
Rintih Maya tertahan di dalam keremangan kamar. Julian bilang ini hanya pelukan, tetapi dekapan lengan kekar yang melilit erat pinggangnya terasa seperti sebuah ungkapan kerinduan yang amat sangat mendalam. Maya bisa merasakannya. Kehangatan dada bidang Julian yang menempel tanpa jarak di dadanya seperti menyerap seluruh duka yang ia simpan sendirian.
Kenapa pelukan Julian membuatnya luluh? Kenapa rasa takut yang alami hadir akibat sentuhan pria asing mendadak sirna begitu saja saat bersama pria ini? Apakah janji-janji yang diucapkan Julian tadi memberikan kenyamanan murni? Ataukah... ada hal lain yang belum sanggup ia pahami?
Tanpa sadar, Maya menarik tubuhnya lebih dalam ke dalam dekapan Julian, membiarkan kehangatan pria itu membungkusnya secara utuh. Bibirnya kembali terbuka, bersenandung lirih dengan nada paling lembut yang ia miliki.
"Tidurlah, Tuan..." ucap Maya pelan, menyuarakan intonasi menenangkan layaknya membujuk seorang anak kecil.
Hembusan napas Julian yang perlahan teratur menyapu lembut permukaan kulit wajah Maya, memberikan sensasi kenyamanan yang sudah lama ia dambakan selama bertahun-tahun.
Perlahan, kedua kelopak mata Maya kian berat. Didera kelelahan emosional dan fisik yang luar biasa, Maya pun akhirnya terlelap dalam buaian tangan Julian.
Namun, di tengah iringan desing halus pendingin ruangan yang menusuk kulit, tidur nyenyak Maya mendadak terganggu. Ia merasakan ada sentuhan halus, hangat, dan mengambang di area kakinya.
Dengan beban berat di kelopak matanya, Maya berusaha membuka mata. Dalam remang malam, pandangannya menangkap sosok Julian yang sudah bergeser ke ujung ranjang. Pria itu menunduk, mencium jemari kakinya satu per satu dengan ketelitian yang penuh pemujaan.
Maya terperanjat, berusaha menarik kakinya. "T-Tuan Julian... apa yang Anda lakukan?"
Julian tidak melepaskannya. Pria itu menengadah, menatap Maya dengan sepasang iris mata yang membara pekat. "Maya... kaki indah ini. Kaki indah ini yang selalu aku ingat... Dia menari anggun di atas panggung, berjalan lincah, dan memukauku sejak lama."
Maya mengernyit bingung. Kalimat Julian terdengar kacau dan tidak masuk akal. Tuan Julian menyukai kakiku? Semacam fetish? Mengerikan! jerit Maya hysteria dalam hati.
Maya mencoba menendang, tetapi tubuhnya seolah lumpuh total. Ia tidak dapat bergerak sama sekali dari posisinya, sepertinya seluruh sarafnya terkunci rapat di atas permukaan kasur empuk ini. Napas panas Julian merayap naik, menyapu setiap inci kulit kakinya tanpa ampun.
"Ah... Tuan... jangan begini, kumohon..." Maya memohon dengan suara bergetar saat cara Julian mencium kulitnya berubah agresif—layaknya ular yang menjilati setiap inci permukaan kakinya dari pergelangan hingga naik ke betis.
Ini benar-benar menakutkan. Julian terus bergerak naik. Pria itu mengangkat sebelah kaki Maya semakin tinggi, menekuknya hingga terangkat ke atas bahu Julian. Lidah dan bibir Julian berhenti di pangkal paha Maya, bertahan agak lama di sana, mengirim sengatan panas yang membakar seluruh sistem sarafnya.
Maya refleks mengangkat pinggulnya, berusaha menahan guncangan reaksi aneh di dasar perutnya.
Julian mendongak, napasnya memburu di atas celah paha Maya. "Maya... apakah salah aku mencintaimu?"
Maya menggeleng panik di atas bantal. "Cinta? Tuan, Anda ini gila... tidak mungkin ini cinta! Kita baru saja bertemu!"
"Kamu benar..." bisik Julian rendah, suaranya parau memabukkan. "Tapi aku mencintai aroma tubuhmu..."
Bulu kuduk Maya meremang hebat. Ujung hidung mancung Julian bergerak di balik kain tipis celana dalam yang melapisi area sensitifnya. Sentuhan mengintimidasi itu memicu reaksi tubuh yang sangat alami sebagai seorang wanita dewasa.
Maya tahu bagaimana tubuhnya merespon, ia tidak menolak. Hanya bibirnya yang menyuarakan penolakan, tetapi tidak dengan refleks fisiknya.
Jari-jari kaki Maya mencengkeram sprei ranjang erat-erat, sementara sebelah kakinya kini bertengger pasrah di atas bahu Julian dengan gaun sutra yang sudah tersingkap sempurna hingga ke pinggang. Tidak ada lagi yang bisa Maya tutupi, tetapi herannya, ia tak sanggup bergerak menepis.
Hidung mancung Julian menyentuh langsung area paling sensitifnya di balik kain tipis, dan kontak singkat itu sudah cukup membuat Maya merasa gila dan frustasi. Ia ingin berteriak keras memperingatkan Julian tentang janjinya untuk tidak menyentuhnya sampai ia merasa nyaman, tetapi bibirnya hanya bergerak tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
"Maya... kamu menyukainya?" tanya Julian dengan suara parau yang menuntut.
Jemari Julian bergerak mengambang di atas are kewanitaannya, mengusap lembut di atas kain tipis seolah memegang tongkat sihir yang menciptakan percikan gairah mematikan. Sentuhan itu menyihir seluruh kesadaran Maya. Kenapa di dalam hatinya, Maya justru merasa ingin Julian menyentuhnya lebih dalam?
Tanpa peringatan, Julian menyibak kain tipis itu ke samping. Jemari panjangnya yang panas menyusup basah, menembus langsung masuk ke dalam liang kemaluan Maya.
"Ngggh... Tuan...!" Maya mendesah keras, kepalanya mendongak drastis.
Julian mulai menggerakkan jemarinya di dalam sana—mendesak keluar masuk dengan ritme yang teratur, cepat, dan sangat dalam.
Ibu jarinya tak berhenti memainkan titik peka di bagian atas, memijat dan menekannya penuh pengalaman.
Gesekan panas itu mengirimkan gelombang kenikmatan gila yang membuat dinding dalam kewanitaan Maya mencengkeram jari Julian sangat kuat. Dinding kewanitannya memeras rapat, memproduksi cairan alami yang kian melicinkan pergerakan jemari Julian.
"Ah... ah! Tuan... cukup... ah!" Maya memekik pasrah, pinggulnya bergoyang liar mengikuti ketukan jemari Julian yang makin agresif memberikan kepuasan puncak. Sensasi nikmat itu memuncak hingga meledak hebat di seluruh tubuhnya, membuat Maya bergetar kejang dalam pelepasan yang membakar.
Detik dimana denyut kenikmatan itu mencapai puncaknya—
Maya tersentak hebat dan mendadak membuka mata lebar-lebar.
Napasnya memburu kasar. Dadanya naik-turun cepat. Maya mendapati dirinya masih terbaring utuh di samping Julian di atas ranjang. Tidak ada piyama yang tersingkap, tidak ada paha yang terangkat. Julian berada tepat di sisinya, menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Maya... kamu mimpi buruk?" tanya Julian, suaranya terdengar sangat khawatir saat melihat tubuh Maya bersimbah keringat dingin.
Sentuhan tangan Julian di bahunya membuat Maya tersengat panik. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Maya langsung menyibak selimut, turun dari tempat tidur dengan terburu-buru, dan lari tunggang-langgang masuk ke dalam kamar mandi.
TAK! Maya menutup pintu dari dalam.
Ia mencengkeram pinggiran wastafel dengan kedua tangan yang gemetar hebat, menatap lurus pada refleksi dirinya yang berantakan di depan cermin. Pipi dan dadanya merona merah pekat, dan di antara kedua pahanya, ia bisa merasakan kebasahan nyata akibat sensasi mimpi tadi.
"Kenapa... kenapa aku bermimpi aneh seperti itu?" bisik Maya frustasi pada bayangannya di cermin.
Tiba-tiba, suara engsel pintu berderit halus. Maya tersentak kaku—ia lupa mengunci pintu dari dalam.
Dari balik cermin, refleksi Julian muncul tepat di belakangnya. Pria itu berdiri bertelanjang dada, menatap basah di antara kedua paha Maya melalui pantulan kaca dengan sorot mata yang pekat dan berbahaya.
Julian memiringkan kepalanya, lalu berbisik dingin tepat di samping telinga Maya.
"Tubuhmu gemetar dan basah, Maya... Apa di dalam mimpimu, aku melakukan hal yang sangat menyiksamu?"
"Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p
"Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,
"Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi
Ancaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl
"Tidak... aku tidak mungkin hamil!"Suara serak itu tertahan di dalam tenggorokan, bergetar bersamaan dengan deru air pancuran yang masih menyala di balik pintu kamar mandi kaca. Maya mencengkeram tepi wastafel marmer dengan buku-buku jari yang memutih, sementara isi perutnya teraduk hebat hingga memaksa cairan asam naik ke kerongkongan.Setelah gelombang mual itu mereda, ia menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin besar; wajahnya pucat pasi, matanya menyisakan jejak lelah yang teramat dalam, dan napasnya memburu tidak teratur.Kejadian pagi ini datang beruntun tanpa memberinya ruang untuk sekadar bernapas. Belum selesai kepalanya dipusingkan oleh bayangan pernikahan paksa yang dijadwalkan hari ini, tubuhnya justru mengirimkan sinyal-sinyal asing yang langsung memicu paranoid akut di dalam dadanya.Trauma masa lalu menghantam benaknya seketika. Maya pernah mengalami kehilangan hal serupa di masa lalu, sebuah pengalaman kelam yang meninggalkan luka batin mendalam dan membuat gagasa
"Jangan pernah berpikir kamu bisa bernapas lega di tempat ini, Maya."Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telibga Maya, berpadu dengan dinginnya sinar matahari pagi yang merangsek masuk melalui celah tirai otomatis yang belum sempat tertutup sempurna, menyoroti lantai marmer kamar utama dengan garis-garis cahaya yang tajam. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma khas malam sebelumnya—campuran parfum maskulin yang pekat, keringat, dan sisa ketegangan yang menguap lambat.Maya membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, sementara sekujur tubuhnya linu seolah habis dihantam truk beban berat. Ia mendengus pelan saat mencoba menggerakkan lengan, menyadari ada beban hangat di pinggangnya. Julian sedang berbaring di sampingnya, sebelah tangannya melingkar erat di perut Maya, mengunci wanita itu dalam dekapan posesif yang tidak memberi ruang untuk beranjak.Julian sudah bangun. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah langit-langit kamar, seolah sedang merencanakan sesu







