LOGIN"Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p
"Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,
"Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi
Ancaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl
"Tidak... aku tidak mungkin hamil!"Suara serak itu tertahan di dalam tenggorokan, bergetar bersamaan dengan deru air pancuran yang masih menyala di balik pintu kamar mandi kaca. Maya mencengkeram tepi wastafel marmer dengan buku-buku jari yang memutih, sementara isi perutnya teraduk hebat hingga memaksa cairan asam naik ke kerongkongan.Setelah gelombang mual itu mereda, ia menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin besar; wajahnya pucat pasi, matanya menyisakan jejak lelah yang teramat dalam, dan napasnya memburu tidak teratur.Kejadian pagi ini datang beruntun tanpa memberinya ruang untuk sekadar bernapas. Belum selesai kepalanya dipusingkan oleh bayangan pernikahan paksa yang dijadwalkan hari ini, tubuhnya justru mengirimkan sinyal-sinyal asing yang langsung memicu paranoid akut di dalam dadanya.Trauma masa lalu menghantam benaknya seketika. Maya pernah mengalami kehilangan hal serupa di masa lalu, sebuah pengalaman kelam yang meninggalkan luka batin mendalam dan membuat gagasa
"Jangan pernah berpikir kamu bisa bernapas lega di tempat ini, Maya."Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telibga Maya, berpadu dengan dinginnya sinar matahari pagi yang merangsek masuk melalui celah tirai otomatis yang belum sempat tertutup sempurna, menyoroti lantai marmer kamar utama dengan garis-garis cahaya yang tajam. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma khas malam sebelumnya—campuran parfum maskulin yang pekat, keringat, dan sisa ketegangan yang menguap lambat.Maya membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, sementara sekujur tubuhnya linu seolah habis dihantam truk beban berat. Ia mendengus pelan saat mencoba menggerakkan lengan, menyadari ada beban hangat di pinggangnya. Julian sedang berbaring di sampingnya, sebelah tangannya melingkar erat di perut Maya, mengunci wanita itu dalam dekapan posesif yang tidak memberi ruang untuk beranjak.Julian sudah bangun. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah langit-langit kamar, seolah sedang merencanakan sesu







