Teilen

Dusta Bening

last update Veröffentlichungsdatum: 30.07.2026 19:24:56

“Ini... bekas apa di lehermu?” tanya Tara pelan, nadanya berubah berat dan penuh selidik saat matanya menatap tajam jejak kemerahan di ceruk leher Bening.

Bening langsung diam membisu. Telapak tangannya refleks terangkat, menutupi lehernya dengan gerakan cepat yang terkesan buru-buru. Jantungnya berdegup gila-gilaan di dalam dada, berkejaran dengan rasa panik yang merayap hingga ke ujung jari.

“Kelihatan ya, Mas? Tadi... tadi gatal sekali, jadi aku garuk terus,” alibi Bening terbata-bata, berus
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Mengurai Satu per Satu

    Bu Retno menutup mulutnya, menahan tangis. Bening yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan itu dengan hati teriris. Ada perasaan tidak enak, karena membuat Banyu melawan kehendak orang tuanya. Banyu melangkah mendekati kedua orang tuanya, berlutut pelan di hadapan sang ayah. “Maafkan Banyu, Pa. Tapi Banyu janji, Banyu yang akan mengurus agunan aset ke bank minggu ini untuk menutup utang perusahaan. Banyu tidak akan biarkan perusahaan Papa jatuh.”Harjanto menatap Banyu cukup lama, lalu menepuk bahu putranya pelan dengan napas berat. “Papa hargai prinsipmu, Nak... tapi jalan kita ke depan bakal sangat berat.”“Papa jangan khawatir. Aku akan atur semuanya, ada beberapa kenalan mungkin bisa bantu memberikan advice dan jalan keluar. Tidak semua krisis harus ditutupi dengan investasi” tambah Banyu.Banyu berdiri, lalu melangkah menghampiri Bening. Ia menggenggam erat jemari Bening yang terasa dingin, mengusapnya penuh ketenangan.“Kamu sabat, ya Ning! Aku janji akan penuhi janjik

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tegas

    “Banyu... setelah selama ini kami membiarkan kamu dengan pilihanmu, tidak bisakah Nak kali ini saja melakukannya demi perusahaan keluarga?” pinta Bu Retno, suaranya parau menahan rasa cemas.“Mama...” panggil Banyu pelan, pandangannya beralih menatap Bening yang hanya diam menunduk di sisinya. “Hubunganku dan Bening sudah sangat jauh. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Bu Retno terduduk lemas di sofa, menatap Banyu dengan pandangan tak percaya. “Kamu gegabah, Banyu!” celeguk Bu Retno, suaranya gemetar menahan amarah dan keputusasaan. “Bagaimana kamu bisa bayar utang miliaran rupiah dalam waktu singkat? Pakai gaji ASN-mu? Mau sampai puluhan tahun juga tidak akan cukup!”Banyu tidak langsung menjawab. Ia menuntun Bening untuk berdiri di sampingnya, lalu menatap ibunya dengan ketenangan yang mantap.“Banyu punya aset yang belum pernah Banyu sentuh, Ma. Rumah dan tanah peninggalan Kakek di Surabaya atas nama Banyu pribadi akan Banyu agunkan ke bank. Tambahan modal dari tabungan investasi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jalan Buntu

    “Lagian kan Papa dan Mama dari awal kamu mendaftar ASN sudah bilang kalau perusahaan butuh kamu...” tutur Bu Retno, suaranya parau menahan emosi. “Papamu sudah tua, Banyu. Sudah tidak sanggup lagi mengurus masalah seberat ini sendirian!”Suasana ruang tamu langsung terasa sunyi. Banyu berdiri kokoh memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara Bu Retno menatap putranya dengan wajah memohon yang campur aduk.Banyu menggeleng tegas, sama sekali tidak goyah oleh desakan ibunya. “Banyu punya tanggung jawab di tempat kerja Banyu, Ma. Dan Banyu tetap bisa selesaikan masalah perusahaan tanpa harus ada yang berkorban.”Bu Retno membuang napas kasar, melempar pandangannya ke luar jendela sekilas sebelum kembali menatap Banyu. “Bagaimana? Kamu sudah ada cara?”“Banyu akan pikirkan!” sahut Banyu cepat.“Tapi waktu kita tidak banyak, Banyu!” potong Bu Retno, nadanya naik satu tingkat. “Papamu dan dua tamu kita sudah menunggu di luar. Kamu temui mereka dulu ya... bicara baik-baik.”

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Bukan Drama

    Denting cangkir yang beradu dengan tatakan kaca menjadi satu-satunya suara di ruang tamu utama rumah keluarga Hardjono. Bu Retno menyandarkan punggungnya di sofa, menatap Banyu dan Bening yang duduk berdampingan tanpa niat melepas genggaman tangan mereka.Dua tamu dari Jakarta yang dibawa Bu Retno tadi pagi baru saja dipersilakan menuju teras depan, memberi ruang untuk pembicaraan internal keluarga yang sempat tertunda.“Banyu, Bening... Mama mau kalian mendengarkan ini baik-baik tanpa emosi,” pancing Bu Retno, suaranya pelan namun sarat beban.Banyu menatap ibunya datar, jemarinya makin erat meremas tangan Bening. “Langsung ke poin intinya saja, Ma. Siapa sebenarnya mereka dan apa tujuannya datang jauh-jauh dari Jakarta?”Bu Retno memegang jemarinya sendiri di atas pangkuan, mencoba mencari kata-kata yang pas. “Perusahaan Papamu sedang di ujung tanduk, Banyu. Ada kebocoran dana besar yang ditinggalkan pengurus lama, dan kalau dalam bulan ini tidak ada suntikan modal baru, aset utam

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Membicarakan Pernikahan

    Kepergian taksi yang membawa Om Hanung menyisakan hening di pekarangan rumah. Nawang melangkah kembali ke teras dengan wajah agak lesu, namun begitu matanya menangkap posisi Banyu dan Bening yang berdiri makin rapat, dahinya mendadak berkerut.“Mas Banyu sama Mbak Bening dari mana saja, sih?” tanya Nawang seraya bersedekap di ambang pintu. “Urusan apa yang sampai bikin Mas lupa waktu begini?”Banyu membetulkan letak jam tangannya dengan tenang. “Urusan penting. Soal persiapan pernikahan kami yang harus disegerakan.”Mata Nawang seketika membelalak lebar. Tangannya terlepas dari dada, menatap Banyu dan Bening bergantian dengan raut tidak percaya.“Apa kalian bilang? Kalian mau menikah? Secepat itu?” pekik Nawang, suaranya meninggi satu oktav. “Bang... Abang benar-benar serius?”Saat matanya beradu dengan pandangan Bening, Nawang langsung membuang muka seraya mendesah canggung. Ada sorot serba salah yang berusaha ia sembunyikan—Nawang mengira hubungan abangnya dan Bening hanya sebatas p

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Pernikahan

    Layar ponsel Banyu kembali gelap setelah sambungan telepon terputus sepihak. Keheningan kamar villa mendadak terasa sedikit berbeda, tak lagi sepenuhnya didominasi sisa kehangatan usai bercinta. Bening bergeser pelan, menyandarkan pipinya di dada Banyu seraya menatap garis rahang calon suaminya yang tampak mengeras.“Kenapa Om Hanung mendadak mencari kita, Mas?” tanya Bening pelan, jemarinya mengusap lembut dada bidang Banyu.Banyu menghembuskan napas panjang. Ia menunduk, merengkuh bahu polos Bening agar makin rapat dalam pelukannya. “Bukan hal penting paling, Ning. Paling cuma mau pamitan atau membahas rencana kepindahannya ke rumah Tara.”“Tapi suara Nawang tadi kelihatan panik sekali,” gumam Bening ragu.“Nawang memang selalu heboh kalau ada apa-apa,” balas Banyu tenang. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Bening, merapikan helai yang menempel di dahi basah wanita itu. “Kamu masih capek?”Bening tersenyum tipis, menggeleng samar. “Sudah agak mendingan. Tapi kita ben

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perut Saya, Mbak!

    "Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Lurah Tampan

    "Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status