Share

Hasil Test

Penulis: Strawberry
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 17:13:34

“Tante... ini hasilnya.”

Tara mengulurkan selembar kertas hasil tes urine, lengkap dengan catatan rekam medis dari bidan ke hadapan Bu Retno. “Bening gak hamil,” ucap Tara tegas.

Bening seketika mendongak. Dia menatap Tara dengan tatapan tidak percaya yang bercampur baur dengan rasa syok. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin? Jelas-jelas beberapa hari lalu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri dua garis biru samar di alat tes mandirinya. Kenapa sekarang hasil dari laboratorium rum
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tidak Bisa Tanpamu

    “Ning...” bisik Banyu parau.Bening menarik napas panjang, mencoba mengurai sesak yang mendadak menghimpit dadanya. Ia memalingkan wajah sejenak, mengibaskan tangannya pelan. “Lupakan, Mas. Enggak usah dibahas sekarang. Yang penting Mas Banyu fokus pulih dulu.”“Aku tidak bisa melihatmu bersama Tara, Ning.”Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Banyu. Suaranya memang lemah, tetapi ketetapan hati di dalamnya terdengar begitu nyata dan jujur.Napas Bening langsung tertahan, air mata Bening meleleh, menetes melewati pipinya tanpa bisa dibendung. Pertanyaan, rasa bersalah, serta ingatan akan kepedihan masa lalu seolah berkumpul menjadi satu ledakan emosi.‘Sebenarnya, aku juga begitu, Mas Banyu. Tapi, saat itu aku harus segera ambil keputusan agar Mamamu berhenti menuduhku’ sahut Bening namun hanya dalam hati.Melihat lelehan air mata itu, Banyu menggerakkan tangannya yang terbebas dari infus secara perlahan. Dengan gerakan yang begitu hati-hati dan penuh kehangatan, jemarinya yang dingin

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dua Pilihan Sulit

    “Mbak Bening... Apa Mbak Bening dan Bang Tara memang serius? Tidak bisakah pertunangan kalian dibatalkan?” tanya Nawang pelan.Pertanyaan itu terdengar sangat egois. Bening tersenyum tipis meresponsnya, menahan gejolak di dadanya. Walau bagaimanapun, Tara adalah pria yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Cintanya memang untuk Banyum tapi apa itu artinya dia bisa bersikap seenaknya?Dan, tidakkah Nawang memikirkan bagaimana perasaan Tara jika pertunangan itu mendadak dibatalkan? Bening berusaha bersikap adil dan tidak terpancing.“Kasihan Abangku, Mbak... Dia sangat membutuhkan Mbak Bening,” ujar Nawang lagi, menatap Bening dengan pandangan memohon.Bening masih memilih diam. Tanpa diminta oleh siapa pun, Bening sebenarnya tidak akan keberatan menjaga Banyu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa keadaannya sekarang sudah jauh berbeda. Ada komitmen dan harga diri pria lain yang harus ia jaga.“Aku mengerti” ucap Bening singkat dan padat, dia berbalik sebelum Nawang menarik len

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Yang Terlewatkan

    “Mas, sudah... jangan bicara dulu,” potong Bening lembut namun tegas.Ia tidak membalas permohonan maaf itu dengan kata-kata. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Bening menggunakan tangan kirinya untuk menekan tombol panggil perawat di kepala brankar, sementara tangan kanannya tetap menggenggam jemari Banyu yang dingin.“NKondisi Mas Banyu belum stabil. Kita bahas semuanya nanti kalau kamu sudah membaik,” bisik Bening seraya mengusap dahi Banyu dengan kain waslap hangat, menenangkan pria itu hingga matanya yang kuyu perlahan terpejam kembali karena pengaruh sisa obat penenang.Dua hari berlalu tanpa jeda yang berarti. Suasana di kamar rawat VIP itu perlahan menemukan ritme barunya.Bening hampir tidak pernah meninggalkan ruangan. Dari mengusap tubuh Banyu setiap pagi, memastikan posisi selang makanan tidak terganggu, hingga mengoleskan pelembab di bibir Banyu yang pecah-pecah—semua ia kerjakan sendiri dengan ketelatenan.Bu Retno yang duduk di sofa sudut ruangan memperhatikan bagaim

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Sentuhan Pertama

    Sepeninggal Tara, keheningan koridor perlahan berganti dengan kesibukan malam rumah sakit. Bening duduk termenung di sudut bangku koridor, menatap pintu kamar rawat yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, seorang perawat melangkah mendekati mereka sambil mendorong meja kecil berisi baskom air hangat dan selembar waslap bersih.“Keluarga Pak Banyu... Ada yang mau menemani saya membersihkan tubuh pasien?” tanya perawat itu ramah.Saat ini Bu Retno sudah pulang ke rumah untuk beristirahat karena kondisinya yang drop, menyisakan Nawang yang duduk di sebelah Bening. Bening refleks menoleh ke arah Nawang. Mengerti kebingungan Mbaknya, Nawang tersenyum tipis lalu mengangguk pelan—memberikan dorongan dan izin penuh untuk Bening.Bening menarik napas panjang, lalu berdiri dan mengikuti langkah perawat masuk ke dalam kamar rawat Banyu.Begitu pintu tertutup, ruangan itu menyambut mereka dengan aroma khas antiseptik dan irama beep... beep... beep... dari monitor medis. Tatapan Bening langsung t

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Kebesaran Hati Tara

    “Bening, mundur! Biar dokter yang tangani!”Suara Tara memotong histeris Bening. Pria berkacamata yang memang belum melangkah jauh itu langsung melesat masuk, disusul Bu Retno yang berlari panik dengan wajah pucat pasi.“Banyu! Banyu! Ya, ampun..!” jerit Bu Retno saat matanya menangkap garis lurus hijau di layar monitor dan suara nada panjang yang memekakkan telinga.Tanpa membuang waktu, Tara melangkah cepat menekan tombol call button darurat di samping brankar, seraya langsung memeriksa denyut nadi di leher Banyu serta memastikan jalur pernapasannya. Tak sampai satu menit, pintu kamar kembali terdorong kasar. Tim medis darurat dan dokter spesialis anestesi berhamburan masuk membawa peralatan penanganan kritis.“Keluarga tolong keluar dulu! Mohon tunggu di luar!” tegas salah seorang perawat sambil mengarahkan semua orang yang ada di sana untuk meninggalkan ruangan.Pintu kembali tertutup rapat. Lampu indikator tindakan di luar kamar rawat menyala.Waktu di luar koridor rumah sakit ter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jodoh Terbaik

    “Terima kasih, Bening... Apa yang kamu lakukan barusan membuatku semakin menyayangimu. Aku semakin yakin kamu perempuan yang tepat untukku,” ungkap Tara begitu pintu kamar rawat inap itu tertutup rapat, menyisakan mereka di dalam ruangan yang seketika berubah hening. Bening menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca menatap pria berkacamata di hadapannya.“Dokter Tara... Aku tidak sebaik itu. Tolong jangan mengatakan itu karena itu membuatku merasa sangat bersalah,” bisik Bening dengan suara bergetar.Tara tertegun sejenak. Dia menatap Bening yang kini menunduk dalam, menyembunyikan raut penyesalan yang begitu besar di wajahnya. Tara tahu betul apa yang ada di dalam pikiran Bening saat ini. Bening sedang bertarung hebat dengan hatinya sendiri. Cintanya masih tertambat utuh pada Banyu, namun rasa bersalahnya kepada Tara yang begitu tulus dan baik padanya seakan terus mencekik. Pujian dari Tara barusan justru terasa seperti beban berat yang semakin menyiksa.Tara menghela napas lembut. Dia

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perut Saya, Mbak!

    "Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Lurah Tampan

    "Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status