共有

Sentuhan Pertama

作者: Strawberry
last update 公開日: 2026-07-23 17:13:58

Sepeninggal Tara, keheningan koridor perlahan berganti dengan kesibukan malam rumah sakit. Bening duduk termenung di sudut bangku koridor, menatap pintu kamar rawat yang tertutup rapat.

Tak lama kemudian, seorang perawat melangkah mendekati mereka sambil mendorong meja kecil berisi baskom air hangat dan selembar waslap bersih.

“Keluarga Pak Banyu... Ada yang mau menemani saya membersihkan tubuh pasien?” tanya perawat itu ramah.

Saat ini Bu Retno sudah pulang ke rumah untuk beristirahat karena
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Cessyta Tanod
Semoga cpt pulih pak lurah
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Udara yang Menipis

    “Mas Banyu... jangan bercanda, ini di kamar mandi rumah sakit!” bisik Bening tercekat, mencoba memindahkan jemarinya yang dipaksa Banyu menempel tepat di lingkar pinggang celana pasien pria itu.Banyu tidak bergerak sedikitpun. Bukannya melepaskan, genggaman tangannya di atas jemari Bening justru makin mengerat. Pria itu menyandarkan dada bidangnya ke punggung Bening, membiarkan bobot tubuhnya dan kehangatan kulitnya mengunci wanita itu sepenuhnya di depan wastafel.“Siapa yang bercanda, Ning?” gumam Banyu parau. Helaan napas panasnya berhembus teratur di ceruk leher Bening, mengirimkan gelombang getaran langsung ke tubuh wanita itu. “Aku benar-benar butuh bantuanmu... atau kamu mau aku mengompol di sini?”Bening menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia tahu betul Banyu sedang memanfaatkannya, namun posisi tubuh mereka yang begitu dekat membuat pertahanannya melorot drastis. Sentuhan jari-jari Banyu di atas jemarinya terasa sangat nyata dan membakar.Dengan mata terpejam erat dan rona

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Bantu Aku, Ning....

    “Bening, kamu nggak usah khawatir... mereka tidak akan berani mengganggumu lagi,” ucap Banyu menenangkan, suaranya terdengar hangat begitu koridor kembali sepi.“Tapi surat itu nggak bener kan, Mas?” tanya Bening cemas. Matanya masih menatap ragu pada saku kemeja Banyu tempat kertas itu disimpan.Banyu menggeleng pelan. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan amplop coklat itu, lalu mengulurkannya pada Nawang yang berdiri di dekat mereka.“Nawang, kamu kan anak hukum. Ini anggap saja kasus pertamamu,” ujar Banyu mantap. “Coba kamu selidiki keaslian dokumen ini dan kemungkinan lain yang bisa membuat para pria itu nekat tidak berani mengganggu Bening lagi.”Nawang menerima amplop itu dengan ragu. Keningnya berkerut dalam saat membaca selintas garis besar isinya. “Bang... ini... aku kan baru semester lima. Gimana kalau—”“Kamu kan anak hukum, anggap saja latihan. Kasus pertamamu!” potong Banyu tak mau dibantah, namun nada suaranya menyuntikkan rasa percaya diri.Nawang menghela napas pasrah, la

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Gertakan Banyu

    “Bening harus ikut kami pulang ke Desa Luri hari ini!” tegas Darto mendadak memotong penjelasan Pak RW yang belum selesai. Suaranya tinggi, mencoba menutupi rasa canggung di hadapan Pak Lurah.Banyu terkekeh sinis, lalu menggeleng pelan. “Tidak! Saya tidak mengizinkan.”Darto mengepalkan tangan, dadanya menyebung. “Pak Lurah, kami ini sangat menghormati Bapak di desa. Tapi tolong... jangan ikut campur urusan internal keluarga kami!”“Keluarga yang mana, Kang Darto?” Banyu melayangkan tatapan menusuk, membuat Darto tersentak pelan. “Suami Bening sudah meninggal. Sejak almarhum Pram berpulang, saya kira Bening sudah tidak ada urusan apa-apa lagi dengan Kang Darto.”“Tapi ini tentang wasiat mendiang suami Bening, Pak Lurah!” sela Juragan Broto dengan suara beratnya, mencoba ikut menekan Banyu menggunakan wibawa sebagai juragan kaya.Banyu beralih menatap Juragan Broto. Pandangannya dingin dan meneliti. “Wasiat itu tidak sah karena dibuat secara sepihak tanpa ada persetujuan dari Bening s

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Keributan di Koridor Rumah Sakit

    “Mas Pram tidak akan pernah melakukan itu!” sergah Bening dengan suarategas. Matanya menatap tajam dokumen di tangan Darto, menggeleng keras membantah kenyataan di depannya. “Mas Pram pria yang baik! Dia tidak mungkin menjual atau menjaminkan saya seperti barang dagangan!”Darto justru mencibir geli, mendengus melihat kepolosan mantan adik iparnya itu.“Lho, Ning... Ning! Kamu itu naif sekali!” cibir Darto dengan nada merendahkan. “Adikku itu otaknya bisnis! Dia itu pengusaha, mana ada pengusaha yang mau rugi? Meskipun bapakmu dulu punya jasa, bukan berarti pas dia bikin masalah besar di perkebunan Pram diam saja tanpa bikin perhitungan! Wajar kalau Pram minta jaminan atas kerugian itu!”Darto menunjuk wajah Bening tanpa ragu. “Jangan merasa dirimu itu terlalu berharga sampai-sampai Pram tak tega menjadikan kamu jaminan!”Dada Bening naik-turun menahan sesak. Batinnya berteriak menolak mentah-mentah tuduhan itu.“Enggak! Itu cuma alasan buatan Mas Darto!” sergah Bening, suaranya berge

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tidak Percaya

    Bening menggeleng tegas, matanya menatap tajam ke arah tiga pria di depannya tanpa ada keraguan sedikit pun.“Maaf... saya tidak percaya sama sekali. Kalimat ini sama sekali tidak masuk di logika saya,” tolak Bening dingin.Darto menggeram pelan, tidak menyangka Bening akan menolak secara terang-terangan di depan umum.“Lho... Ning! Ngapain kami capek-capek memalsukan surat wasiat? Kurang kerjaan sekali!” sergah Darto lalu menoleh ke samping, sengaja meminta dukungan penuh dari sang ketua RW. “Pak RW sendiri yang jadi saksi kalau kami datang baik-baik membawa dokumen ini!”Bening menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan kepedihan. “Harta peninggalan Mas Pram... tentu itu tujuannya, kan?”Wajah Darto seketika memerah padam. Merasa harga dirinya terinjak oleh tuduhan Bening, umpatannya lolos begitu saja.“Bening! Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu balas budi! Kalau dulu bukan karena ditolong Pram, kamu itu cuma perempuan miskin dan gembel yang nggak punya masa depan!”Kata-kat

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Wasiat

    “Mbak... maaf ya tadi aku masuk tanpa mengetuk pintu. Sumpah, aku nggak lihat apa-apa!” ucap Nawang langsung heboh begitu menyusul Bening di koridor, wajahnya memampang cengiran jahil tanpa dosa.Pipi Bening seketika memerah, membakar hingga ke ujung telinga. Ia mengepalkan tangan, menahan rasa malu yang membuncah setengah mati. Kenapa juga hal semalu itu harus dibahas lagi? Rasanya Bening ingin meliuk dan menghilang masuk ke dalam celah keramik rumah sakit saat ini juga.“Nawang, tolong... jangan dibahas lagi,” cicit Bening lirih, berpaling muka sambil pura-pura merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah tertutup rapi.Nawang justru makin jadi. Ia menyenggol lengan Bening jahil, matanya berbinar-binar penuh godaan. “Cieee... Mbak Bening! Aduh, jujur ya Mbak, aku tuh seneng banget kalau Mbak Bening beneran balikan sama Mas Banyu. Berarti sebentar lagi Mbak Bening resmi jadi kakak iparku, kan? Aku tuh welcome banget, Mbak! Dari dulu memang cuma Mbak Bening yang pas buat Mas Banyu

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perut Saya, Mbak!

    "Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Lurah Tampan

    "Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status