Masuk“Kalian semua, hentikan! Apa-apaan ini?!”Suara berat dan lantang itu memecah kegaduhan di pekarangan rumah Bening. Pak RW melangkah cepat membelah kerumunan, didampingi tiga anggota Linmas berpakaian seragam hijau.Melihat kedatangan pengurus desa, wanita paruh baya yang tadinya menjambak rambut Bening akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Bening terhuyung ke depan, meringis kesakitan seraya memegangi kulit kepalanya yang berdenyut nyeri. Hairpin yang ia kenakan sudah terlepas, membuat rambutnya yang setengah basah oleh air kotor terurai acak-acakan.“Ada apa ini ramai-ramai? Kenapa sampai main hakim sendiri begini?” tegur Pak RW tegas, menatap warga desa yang berkumpul di halamannya dengan raut wajah gusar.“Pak RW jangan pura-pura tidak tahu!” celetuk seorang ibu-ibu berbadan tegap sambil menunjuk muka Bening. “Wanita ini yang bikin kampung kita tercemar! Dia baru pulang saja sudah bikin kotor suasana desa!”“Betul, Pak RW!” sahut pria paruh baya di sebelahnya, menyilang
Suasana di rumah duka masih dipenuhi lalu lalang para pelayat. Namun, Bu Retno—ibu Banyu—segera meminta putranya untuk mengantar Bening kembali ke hotel agar bisa beristirahat. Selain karena kerabat yang datang makin ramai, Bu Retno tak ingin Bening makin terpukul dan juga sedih mendengar bisik-bisik tajam dari berbagai sudut ruangan rumah itu.Setiap satu tatapan ke arah Bening akan diikuti dengan cibiran, cemoohan.“Gara-gara Bening batalin nikah, Mamanya Tara jadi drop...” “Iya, padahal kelihatannya saja lugu, tapi diam-diam main belakang sama sepupunya sendiri.”Selentingan omongan itu terus mengudara. Padahal, di tengah pusaran duka yang berat ini, orang yang paling hancur dan patah hati tentu saja Tara.Begitu sampai di lorong hotel, Bening menahan langkah Banyu. “Mas Banyu, sebaiknya Mas segera kembali ke rumah Dokter Tara. Dia pasti butuh orang untuk menemaninya sekarang.”“Sudah ada saudara yang lain di sana, Ning. Tapi nanti aku juga balik lagi. Kamu tenang saja...” jawab B
Banyu perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Sambungan telepon dari Tara baru saja terputus, membiarkan keheningan yang amat pekat membungkus kamar hotel itu.Bening menatap Banyu dengan napas tertahan, memburu jawaban dari raut wajah pria di depannya. Namun, yang ia dapati di mata Banyu hanyalah sorot duka yang begitu dalam.“Ganti bajumu, Ning. Kita langsung ke rumah Budhe,” kata Banyu dengan suara serak yang bergetar pelan. “Kita bantu siapkan kedatangan jenazah dan urus pemakamannya. Budhe tidak punya siapa-siapa lagi di sini selain Tara dan keluarga kita... Anaknya yang satu masih di luar negeri.”Bening tidak sanggup mengeluarkan patah kata pun. Tangannya yang gemetar hebat langsung meraih pakaian ganti, menuruti instruksi Banyu secara mekanis. Pikirannya benar-benar kacau dan hancur.Mama Tara benar-benar telah tiada.Selama ini, wanita paruh baya itu sangat baik padanya, selalu menyambutnya dengan hangat dan menganggapnya seperti putri sendiri. Bening bahkan belum sempat
“Nunggu apa, Ning? Kamu gak takut aku keburu jadi kakek-kakek?” tanya Banyu dengan suara serak menahan tawa.Bening menyunggingkan senyum kecil. Kelopak matanya sudah terasa sangat berat untuk terus terbuka. “Ya tidak apa-apa kalau memang jodohnya sudah kakek-kakek...”“Jangan, Ning. Aku yang tidak kuat menahan rindu. Sekarang saja rasanya aku mau gila. Kalau tidak menikah denganmu, aku tidak akan pernah menikah,” sahut Banyu mantap.“Kok begitu?” tanya Bening pelan, nyaris berbisik.“Karena cintaku padamu jauh lebih besar, Ning, daripada cintamu padaku,” aku Banyu jujur.Pria itu perlahan membalikkan tubuh Bening agar menghadap ke arahnya. Kini posisi mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, hingga hembusan napas hangat keduanya saling berbenturan di remangnya lampu kamar.Sebenarnya, bukan karena cinta Bening yang tidak besar. Hanya saja, Bening memiliki alasan lain yang tersimpan rapat—alasan yang ia pikir adalah jalan terbaik untuk semua orang saat ini.Banyu membel
Bening berjalan menjauh dari lorong kamar rawat, memilih berdiri di ujung koridor yang agak sepi. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap kosong ke luar jendela lantai atas rumah sakit seraya menata napasnya yang masih terasa sesak.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Banyu berhenti tepat di samping Bening.“Tara bilang, kamu kembali saja ke hotel. Besok kamu bisa datang ke sini lagi. Ayo, aku antar,” ucap Banyu pelan.Bening menoleh dengan mata yang masih agak sembab. “Sekarang Dokter Tara ada di mana?”“Sepertinya sedang menemani Budhe di dalam. Lagipula sebentar lagi Mama, Papa, dan Nawang akan sampai. Kasihan kamu, sepertinya kamu sudah capek banget,” gumam Banyu lembut.Bening mengangguk pasrah. Tubuh dan pikirannya memang sudah terlalu lelah untuk berdebat. Banyu merangkul bahu Bening seraya membimbingnya berjalan menuju area parkir.Sepanjang perjalanan, Bening tak mampu lagi menahan kantuk. Karena fisiknya yang terlanjur terkuras, ia akhirnya tertidur lelap di kur
“Kenapa, Ning? Kenapa tiba-tiba bilang tidak mau menikah?” bisik Mama Tara lirih dari balik masker oksigennya.Bening mematung di samping ranjang VIP. Suara lemah wanita paruh baya itu terasa lebih menyayat hati dibanding bentakan marah sebelumnya.Mama Tara menatap Bening dengan matanya yang masih sayu dan redup. “Mama cuma kaget... Semua rencana sudah matang, tinggal menentukan tanggal. Apa Tara sudah bikin ulah? Apa dia menyakiti kamu, Ning?”Bening menggeleng cepat, air mata menyenggol pipinya tanpa sanggup ia tahan. Ia menggenggam tepi selimut Mama Tara dengan jemari yang gemetar.“Tidak, Ma... Tidak sama sekali. Dokter Tara sangat baik,” tutur Bening seraya berusaha menata suaranya agar tidak bergetar hebat. “Semenjak kami bersama, Mas Tara tidak pernah sekalipun menyakiti Bening. Mas Tara pria yang sangat menghargai dan menjaga Bening...”Dahi Mama Tara berkerut makin dalam. Kebingungan yang besar terpancar jelas dari raut wajahnya yang pucat pasi.“Kalau Tara tidak berbuat sal
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu







