Share

Kegatelan

Penulis: Strawberry
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 10:34:08

"Pak Lurah... ini bagaimana? Mau diberi waterproof juga tidak di bagian semennya?"

Teriakan lantang tukang dari atas rangka atap kamar itu mengejutkan Bening dan Banyu.

Bening langsung menarik tangannya dengan panik. Banyu melepaskan cengkeramannya, walau kulit kasarnya sempat bergesekan pelan di pergelangan tangan Bening sebelum benar-benar terlepas.

"Sa-saya... saya ambilkan minum dulu untuk tukangnya, Mas Banyu," ucap Bening terbata-bata. Dia menunduk dalam, sama sekali tidak berani melihat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Malu Banget

    Langkah Banyu tertahan di dekat gerbang kantor desa. Dia berpapasan dengan Pak RW yang tampaknya baru saja kembali dari sawah."Pagi, Pak RW. Bagaimana keadaan Mbak Bening pagi ini?" tanya Banyu, langsung pada intinya tanpa basa-basi.Pak RW tampak terkejut. Gurat wajahnya mendadak berubah bingung dan salah tingkah. Dia berdehem beberapa kali, mencoba menghindari tatapan menyelidik Banyu. Pria paruh baya itu tentu saja memilih mengubur rapat kelakuan minus istrinya semalam yang sudah memaki Bening habis-habisan."Eh... pagi, Pak Lurah. Itu... semalam saya dan istri akhirnya pulang, Pak. Soalnya Bening sendiri yang bilang kalau dia sudah baikan dan bisa ditinggal sendirian. Jadi, ya... kami tinggal," jawab Pak RW dengan senyum kaku.Alis Banyu seketika bertaut tajam. Kaget sekaligus heran. "Ditinggal sendiri? Dokter bilang semalam itu pengaruh obatnya masih kuat, Pak. Punggungnya juga cedera.""Tapi anaknya memang maksa, Pak Lurah. Katanya tidak apa-apa," kilah Pak RW lagi, buru-buru b

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tangis Bening

    Banyu mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Dia duduk di bangku lorong puskesmas yang sepi, tepat di luar kamar tempat Bening dirawat. Perasaannya kacau luar biasa.Bisa-bisanya aku bilang 'saudara'? rutuknya dalam hati.Jelas-jelas dadanya bergemuruh hebat setiap kali dekat dengan wanita itu. Jelas-jelas dia kalap berkendara membelah kota hanya karena takut kehilangan Bening. Tapi begitu kesempatan ada di depan mata, lidahnya mendadak kelu dan malah melontarkan kata sialan itu. Posisi sebagai Lurah benar-benar mengikat akal sehatnya terlalu ketat."Malam, Pak Lurah."Sebuah teguran membuyarkan lamunan Banyu. Dia mendongak, mendapati Ketua RW berjalan mendekat bersama istrinya."Bapak istirahat dulu, biar istri saya yang jagain Bening di dalam," lanjut Pak RW sopan.Banyu bangkit berdiri, merapikan kemeja dinasnya yang kusut. "Oh, malam, Pak, Bu. Baik kalau begitu. Saya titip Mbak Bening, ya, Bu? Cederanya lumayan parah di punggung dan kepala. Mungkin dia butuh dibantu

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hanya Anggap Saudara

    Bening membuka matanya perlahan, mengernyit saat cahaya lampu mulai menusuk matanya—silau. Aroma antiseptik yang menyeruak membuatnya reflek bergerak untuk bangun, namun rasa nyeri yang hebat di punggung dan kepalanya membuat tubuhnya lemas dan jatuh kembali ke kasur."Mbak Bening, jangan dipaksa bangun dulu." Sebuah tangan kekar, hangat dan kokoh, dengan sigap menahan bahunya, menuntun tubuh Bening kembali ke bantal dengan sangat lembut.Sentuhan itu mengejutkan Bening. Dia menoleh dan mendapati Banyu sudah duduk di kursi sebelah ranjangnya. Kemeja dinas pria itu tampak sedikit kusut, dan gurat kelelahan sekaligus kecemasan tercetak jelas di wajah tampannya."Lho... saya di mana ini?" tanya Bening bingung, suaranya parau dan kering."Mbak Bening ada di puskesmas. Tadi Mbak pingsan," jawab Banyu, suaranya terdengar sangat rendah dan menenangkan."Pingsan?" Bening memegangi kepalanya yang berdenyut, mencoba merangkai kembali ingatan terakhirnya. Hantaman keras. Tubuhnya yang ambruk me

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Sabar

    "Ning, dapat pesan dari Mbak Mira. Katanya kamu disuruh langsung ke rumah mertuamu!" tegur seorang ibu tetangga yang kebetulan sedang melintas di halaman saat Bening turun dari mobil dinas Banyu.Ibu itu kemudian mengangguk sopan menyapa Banyu sebelum melanjutkan langkahnya. Bening hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyum tipis yang dipaksakan."Mas... saya langsung ke sana, ya?" pamit Bening, menatap Banyu dengan binar mata yang masih redup."Mau saya antar?" tawar Banyu cepat."Sebaiknya jangan, Mas. Nanti malah jadi salah paham lagi." Bening membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah."Mbak Bening..." panggil Banyu pelan namun tegas.Langkah Bening terhenti. Dia kembali berbalik dan mendapati Banyu sedang menatapnya lekat, seolah ada dinding besar yang menahan pria itu untuk mengatakan sesuatu yang lebih dalam."Mbak Bening harus melawan. Jangan mau dimanfaatkan," ucap Banyu serius. "Saya akan bantu Mbak Bening kalau mereka macam-macam."Dada Bening seketika berdesir hangat. ‘Apaka

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tidak Ada Harapan

    "Mas Banyu, terima kasih banyak sudah menolong saya lagi..." ucap Bening akhirnya dengan kepala tertunduk dalam. Jari-jarinya bergerak gelisah, meremas-remas ujung tunik barunya. "Mas Banyu tadi mau belanja apa? Biar saya antar cari tokonya."Pertanyaan itu meluncur pelan, setelah Mira dan Darto meninggalkan mereka. Banyu menatap wanita di hadapannya, lalu tersentak kecil sebelum tersenyum samar. Andai saja Bening tahu bahwa dia tidak sedang mencari barang apa pun, melainkan berkendara dengan kalap membelah jalanan hanya untuk mencarinya, bagaimana reaksi wanita itu? Tapi, Banyu memilih menyimpan kenyataan itu rapat-rapat. Biarlah Bening percaya bahwa pertemuan mereka murni sebuah kebetulan yang menyelamatkan."Mm... itu. Saya mau cari selimut," jawab Banyu asal, mencari barang pertama yang terlintas di kepalanya.Bening mendongak, alisnya bertaut samar karena bingung. "Selimut? Katanya tadi untuk kebutuhan kantor kelurahan, Mas?"Banyu berdehem kecil, merasa sedikit konyol dengan k

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Untung Tepat Waktu

    "Mbak Bening!" panggil Banyu lantang sambil berjalan cepat menghampiri mereka.Suara bariton Banyu membuat Mira dan Darto yang sedang menggiring Bening tersentak ragu. Mereka berhenti dan wajah keduanya langsung berubah gugup dan bingung melihat kehadiran sang Lurah yang tiba-tiba."Pak... Pak Lurah? Kebetulan sekali bisa ketemu di sini?" ucap Mira dengan senyum terpaksa menutupi kepanikannya.Banyu menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Jujur, otaknya sendiri sempat berputar mencari alasan masuk akal kenapa dia bisa berada di sini. Bagaimanapun, dia adalah seorang Lurah. Mengejar seorang janda warganya sampai ke kota tentu akan memicu desas-desus liar jika dia tidak berhati-hati. Dia tidak boleh seterus terang itu karena bisa membuat posisi Bening semakin sulit dan terpojok di kampung.Banyu melirik Bening. Wanita itu tampak bernapas lega, sorot mata sayunya memancarkan secercah harapan besar padanya. Banyu bersumpah harus bisa membawa Bening lepas dari situasi ini secara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status