เข้าสู่ระบบ“Kalau bulan ini masih gagal juga... Mas menyesal tidak menikah sama aku?”Pertanyaan pelan Bening di ruang tunggu klinik spesialis fertility itu membuat Banyu trenyuh. Banyu menghentikan usapan jemarinya di punggung tangan Bening, lalu menoleh cepat dengan tatapan tajam tak suka.“Bicara apa kamu, Ning?” tegur Banyu dengan suara rendah namun dalam. “Jangan pernah ulang kalimat itu lagi. Mas menikah sama kamu bukan cuma buat nyari anak.”Bening menunduk, meremas kain roknya. Ucapan tajam Mbak Yuni semalam masih terngiang membakar telinganya. Rasa insecure itu terus menggerogoti dadanya sejak dia divonis sulit hamil.Banyu menarik napas panjang, merengkuh kedua tangan Bening dan menggenggamnya makin erat. “Mas tidak peduli orang mau bilang apa. Yang Mas mau itu kamu. Mau seberapa lama pun prosesnya, kita tanggung sama-sama.”Bening menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan, mengangguk pelan. Kehangatan sikap Banyu sedikit mengurangi beban di kepalanya.Tak lama, pintu ruang praktik t
Suasana di meja makan masih terasa canggung meskipun sesekali masih terdengar ocehan Lily dengan papanya.Nawang pura-pura sibuk menuangkan air dari dispenser ke gelas plastik Lily, mencoba menata detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Sensasi sentuhan jemari Bagas di pergelangan tangannya seakan masih membekas, memicu kepanikan kecil yang susah payah ia sembunyikan.Nawang membawa gelas itu kembali ke meja makan, menyerahkannya pada Lily tanpa menatap Bagas sedikit pun. Rasanya memang aneh, sebelumnya mereka biasa saja sekarang jadi canggung."Ini minumnya, Lily," ujar Nawang pelan."Makasih, Mbak Nawang!" celetuk Lily riang, langsung meminum airnya sampai kandas.Bagas menghabiskan sisa kopinya. Pandangan mata Bagas sempat tertuju pada punggung tangan Nawang yang meremas apron, sebelum akhirnya Bagas mengalihkan pandangan dan melirik jam di pergelangan tangannya."Saya berangkat ke kantor agak siang hari ini. Mau pastikan kondisi Lily benar-benar stabil dulu," kata Bagas, meme
Bagas tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bisikan yang terlepas dari bibirnya di kamar Lily terus mengiang, menyatu dengan hening malam yang memendam gejolak. Tiga tahun membiarkan hatinya dingin pasca ditinggal mendiang istrinya, malam ini rasa haus akan kehadiran seorang wanita kembali membakar tanpa permisi.Bagas melangkah keluar dari kamar anaknya, menyusuri koridor rumah yang sepi. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar Nawang. Pintunya tertutup rapat, tak ada celah sinar lampu yang keluar. Bagas menatap pintu kayu itu lama, mengepal jemarinya kuat-kuat sebelum akhirnya berbalik kembali ke kamarnya sendiri, sadar ia tak boleh melangkah lebih jauh malam ini.Sementara itu, di balik pintu kamar, Nawang masih mematung. Punggungnya masih menempel pada daun pintu yang dingin. Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam, sensasi genggaman jemari Bagas di pinggangnya seolah terulang kembali, mengirim pendar hangat yang merambat hingga ke ceruk lehernya."Nawang... sadar," bisiknya
Di rumah Bagas, malam merambat semakin larut. Setelah pintu kamar Lily tertutup rapat, Nawang masih berdiri mematung di sisi ranjang. Kata-kata Bagas sebelum pergi tadi terus berputar di kepalanya. Sentuhan hangat di pelipisnya terasa seolah masih tertinggal, meninggalkan sensasi halus yang membuat dadanya tak kunjung tenang.“Nawang….ingat Nawang..ingat…kamu gak boleh memelihara perasaanmu itu buat Mas Bagas!” Nawang mengingatkan dirinya sendiri.Nawang menghela napas pelan. Ia menarik kursi kayu dekat meja belajar Lily, lalu duduk di sana. Tatapannya tertuju pada gadis kecil berusia tiga tahun yang kini tertidur pulas dengan napas teratur. Nawang mengoleskan sedikit minyak telon ke telapak kaki Lily, memastikan anak itu tetap hangat. Ia mendapatkan tips itu dari Tara.Pukul dua dini hari, pintu kamar kembali berdecit pelan.Nawang yang setengah mengantuk langsung tersentak tegak. Di ambang pintu, Bagas berdiri. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polos hitam longgar dan c
Brak! Brak! Brak!Bening tersentak hebat di atas ranjang. Kepalanya yang masih pening mendadak berdenyut sewaktu gedoran kasar menghantam pintu depan rumahnya. Ia hampir saja melompat dari tempat tidur karena kaget, kalau saja tangan Banyu tidak cepat menahan bahunya.“Tetap di sini, Ning. Biar Mas yang lihat,” bisik Banyu tegas. Raut wajahnya berubah keruh. Ia merapikan letak selimut Bening sebelum bergegas keluar kamar.Brak! Brak!“Bening! Keluar kamu!” Suara teriakan wanita dari luar memecah sepi malam.Banyu menyusuri koridor, memutar kunci dengan cepat, lalu menarik pintu utama.Di ambang pintu, Yuni—janda mendiang Pram—berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Mukanya merah padam, napasnya terengah bagai orang yang siap mengajak bertengkar.“Ada apa, Mbak Yuni? Malam-malam menggedor pintu rumah orang seperti ini? Ini jam orang istirahat, lho!” tanya Banyu dingin, berdiri menghadang di depan pintu.Yuni mendengus kencang. “Saya tidak ada urusan sama kamu, meskipun kamu lur
Perjalanan pulang dari puskesmas berlangsung begitu hati-hati. Banyu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan amat pelan, tak ingin ada guncangan sedikit pun yang membuat perut Bening bergejolak dan mual kembali.Sesampainya di rumah, Banyu tidak membiarkan Bening memijakkan kaki di ubin. Didekapnya tubuh rapuh itu hingga ke dalam kamar utama, lalu dibaringkan di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia menyelimuti Bening sampai sebatas dada, mengusap helai-helai rambut yang menempel di dahi Bening dengan rasa bersalah yang masih tersisa. “Mas buatkan bubur sebentar, ya? Jangan banyak bergerak dulu,” bisik Banyu lembut, mengecup kening Bening hangat.Bening hanya mengangguk tipis. Kepalanya masih agak berat, namun hangatnya sapuan tangan Banyu di pipinya memberikan kedamaian yang sudah dua hari ini hilang.Di dapur, Banyu berdiri di depan kompor, mengaduk panci berisi bubur halus dengan cermat. Tak ada lagi Banyu yang egois dengan amarahnya. Tiap adukan di panci itu dipenuhi
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat







