Masuk“Syarat apa?”Banyu melempar pertanyaan itu dengan nada dingin. Posisinya masih berdiri tegap, memblokir pandangan Hanung agar tidak bisa leluasa menatap Bening yang ada di belakangnya.Hanung tidak langsung menjawab. Pria itu dengan santai membuka buku cek di tangannya, memutar tutup pena, lalu menuliskan nominal angka di atas kertas berharga tersebut sebelum menyandarkan punggungnya di tepi meja.“Saya lunasi seluruh utang perusahaan Mas Harjo ke bank hari ini juga, tanpa bunga, tanpa batas waktu pengembalian yang mencekik,” ujar Hanung seraya mengangkat pandangannya, menatap Banyu lurus. “Tapi Bening harus bekerja di bawah perusahaan saya di Jakarta selama dua tahun.”Ruang tamu itu seketika hening. Bu Retno terperangah, sementara Nawang yang berdiri di dekat pintu langsung membelalakkan mata.“Ben-Bening…kenapa Bening? Ada Nawang yang bisa…” pertanyaan Bu Retno itu seperti ditujukan pada dirinya sendiri.“Maksud Om apa?” Banyu maju satu langkah, suaranya makin menekan. “Bening pu
“Maksud Om Hanung apa?” tanya Bening. Rasa tidak nyaman menjalar di tengkuknya. Ia mundur satu langkah ke belakang, menatap Hanung dengan dahi berkerut dalam.Hanung tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar, merapikan kerah kemejanya sendiri sebelum berbalik berjalan menuju pintu keluar butik.Tangan Bening mengepal kaku di atas meja kasir. Ia menatap punggung Hanung yang masuk ke dalam mobil milik Tara, lalu melaju pergi menyusuri jalan raya. Ucapan pria yang umurnya hanya beda beberapa tahun dari Banyu dan Tara itu terasa seperti ancaman terselubung yang merusak ketenangannya.Sore harinya, Banyu datang ke butik. Pria itu melangkah masuk dengan bahu meluruh dan wajah yang amat lelah. Tanpa mengeluarkan patah kata pun, Banyu berjalan mendekati Bening yang sedang merapikan beberapa design yang tercecer di atas meja mesin jahit, lalu langsung memeluk wanita itu dari belakang dan menyandarkan dahinya di bahu Bening.Bening menghentikan tangannya. Ia mengusap lengan Banyu yang melingkar
“Seharusnya pria seperti Banyu bisa membelikanmu gedung butik yang lebih luas dari ini.”Suara Hanung terdengar santai, memecah denting lonceng pintu yang baru saja ia dorong. Bening menoleh dan sedikit terkejut, “Om Hanung?” Pria matang itu melangkah masuk dengan tangan kanan menyusup ke saku celana, matanya mendatangi sekeliling ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Bening.Bening tertegun. Pagi ini Hanung datang mengendarai mobil milik Tara. Sebelum menuju klinik tempat Tara bekerja, pria itu mendadak mampir tanpa mengabari lebih dulu.“Tempat ini sudah lebih dari cukup untuk saya, Om,” balas Bening sopan seraya mengulas senyum tipis. “Ada yang bisa saya bantu?”“Masa sih istri Banyu butiknya sempit begini” ucapnya “Seharusnya sih tidak, ya? Banyu punya banyak aset. At least di kawasan kelas atas seharusnya”Bening tidak menanggapi. Sebagai keluarga dekat Banyu, pasti Hanung tahu keadaan keuangan keluarga Banyu. Dia memilih diam.Hanung berjalan mendekati rak gantung d
Bu Retno menutup mulutnya, menahan tangis. Bening yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan itu dengan hati teriris. Ada perasaan tidak enak, karena membuat Banyu melawan kehendak orang tuanya. Banyu melangkah mendekati kedua orang tuanya, berlutut pelan di hadapan sang ayah. “Maafkan Banyu, Pa. Tapi Banyu janji, Banyu yang akan mengurus agunan aset ke bank minggu ini untuk menutup utang perusahaan. Banyu tidak akan biarkan perusahaan Papa jatuh.”Harjanto menatap Banyu cukup lama, lalu menepuk bahu putranya pelan dengan napas berat. “Papa hargai prinsipmu, Nak... tapi jalan kita ke depan bakal sangat berat.”“Papa jangan khawatir. Aku akan atur semuanya, ada beberapa kenalan mungkin bisa bantu memberikan advice dan jalan keluar. Tidak semua krisis harus ditutupi dengan investasi” tambah Banyu.Banyu berdiri, lalu melangkah menghampiri Bening. Ia menggenggam erat jemari Bening yang terasa dingin, mengusapnya penuh ketenangan.“Kamu sabat, ya Ning! Aku janji akan penuhi janjik
“Banyu... setelah selama ini kami membiarkan kamu dengan pilihanmu, tidak bisakah Nak kali ini saja melakukannya demi perusahaan keluarga?” pinta Bu Retno, suaranya parau menahan rasa cemas.“Mama...” panggil Banyu pelan, pandangannya beralih menatap Bening yang hanya diam menunduk di sisinya. “Hubunganku dan Bening sudah sangat jauh. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Bu Retno terduduk lemas di sofa, menatap Banyu dengan pandangan tak percaya. “Kamu gegabah, Banyu!” celeguk Bu Retno, suaranya gemetar menahan amarah dan keputusasaan. “Bagaimana kamu bisa bayar utang miliaran rupiah dalam waktu singkat? Pakai gaji ASN-mu? Mau sampai puluhan tahun juga tidak akan cukup!”Banyu tidak langsung menjawab. Ia menuntun Bening untuk berdiri di sampingnya, lalu menatap ibunya dengan ketenangan yang mantap.“Banyu punya aset yang belum pernah Banyu sentuh, Ma. Rumah dan tanah peninggalan Kakek di Surabaya atas nama Banyu pribadi akan Banyu agunkan ke bank. Tambahan modal dari tabungan investasi
“Lagian kan Papa dan Mama dari awal kamu mendaftar ASN sudah bilang kalau perusahaan butuh kamu...” tutur Bu Retno, suaranya parau menahan emosi. “Papamu sudah tua, Banyu. Sudah tidak sanggup lagi mengurus masalah seberat ini sendirian!”Suasana ruang tamu langsung terasa sunyi. Banyu berdiri kokoh memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara Bu Retno menatap putranya dengan wajah memohon yang campur aduk.Banyu menggeleng tegas, sama sekali tidak goyah oleh desakan ibunya. “Banyu punya tanggung jawab di tempat kerja Banyu, Ma. Dan Banyu tetap bisa selesaikan masalah perusahaan tanpa harus ada yang berkorban.”Bu Retno membuang napas kasar, melempar pandangannya ke luar jendela sekilas sebelum kembali menatap Banyu. “Bagaimana? Kamu sudah ada cara?”“Banyu akan pikirkan!” sahut Banyu cepat.“Tapi waktu kita tidak banyak, Banyu!” potong Bu Retno, nadanya naik satu tingkat. “Papamu dan dua tamu kita sudah menunggu di luar. Kamu temui mereka dulu ya... bicara baik-baik.”
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu







