Share

Kritis

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-08-14 08:01:50

“Suster, tolong izinkan saya masuk!”

Bening memohon setengah histeris saat pintu ruang ICU terbuka sedikit, menampilkan riuhnya para tenaga medis yang sibuk menangani tubuh Tara di atas ranjang. Bunyi bip-bip alat pemantau detak jantung berbunyi tak beraturan dan kian melemah, menyayat keheningan koridor bagai sembilu

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Batasan Yang Kejam

    Mobil Bagas berhenti tepat di depan teras. Begitu mesin mati, derap langkah kaki kecil langsung terdengar mendekat dari balik pintu depan.Nawang turun lebih dulu sambil membawa tas kerjanya. Baru saja kakinya menapak di lantai teras, pintu utama sudah terbuka lebar.“Mbaakk Nawaang!”Suara nyaring Lily menyambut. Balita itu berlari kecil dengan piyama bergambar kelinci, langsung menubruk kaki Nawang dengan tangan terentang lebar. Rasa lelah yang menumpuk di kepala Nawang sejak dari kantor seketika buyar. Aroma Lily seperti memberikan ketenangan tersendiri. ‘Apakah semua aroma anak kecil seperti ini?’ batinnya.Nawang berlutut, menyambut tubuh mungil Lily ke dalam pelukannya. “Lily belum tidur? Kan sudah malam, Sayang.”“Nungguin Mbak Nawang... tadi Lily mau dibacain cerita sama Mbak,” bisik Lily sambil menyembunyikan wajahnya di leher Nawang. Tangannya mengalung erat, seolah takut Nawang akan pergi lagi.Dari belakang, Bagas melangkah masuk, menaruh kunci mobil dan tas dokumen di ata

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dua Jalan

    Bening baru saja menutup buku catatan kecilnya saat lampu sorot mobil Banyu menerangi kaca jendela depan. Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya sebentar agar raut cemasnya berganti senyum hangat sebelum membukakan pintu. Pintu terbuka, menampilkan Banyu yang tampak kelelahan dengan kemeja dinas yang sedikit kusut di bagian lengan. Pria itu menyunggingkan senyum tipis begitu melihat istrinya sudah menunggu.“Banyak banget masalah belakangan, semenjak dana desa dikurangi, masalah berdatangan” Banyu berkeluh kesah begitu masuk ke dalam rumah.“Paster capek banget, ya?” sapa Bening lembut seraya mengulurkan tangan untuk menyalami suaminya.Banyu menyambut tangan itu, menaruh kunci mobil di atas meja konsol dekat pintu, lalu mencium kening Bening cukup lama. “Lumayan, Ning. Selain masalah-masalah itu, berkas di kantor desa lagi menumpuk sekali hari ini.”Banyu melepas baju dinasnya, menggantungnya di kapstok, lalu mengekor di belakang Bening menuju dapur. Ia mendudukkan diri di kurs

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah    Hati Yang Bimbang

    Percakapan antara Nawang dan Bening berlanjut beberapa menit. Bening tidak menceritakan apa-apa mengenai masalah yang sedang ia dan Banyu hadapi. Begitu panggilan berakhir, Bening menatap jendela. Matahari sudah agak tinggi. Ia memutuskan untuk tidak berlama-lama di rumah. Ada yang harus dia lakukan.Sementara itu, di kota, Nawang menatap layar komputer di mejanya untuk kesekian kali tanpa benar-benar membaca. Berkas kasus perceraian yang diberikan Mbak Lisa sejak pagi masih terbuka di tab browser, tapi pikirannya melayang ke percakapan dengan Bagas kemarin di mobil.Buat kamu hanya panggilan, tapi nggak buat Lily.Kalimat itu masih terasa dingin di telinga.Jam menunjukkan pukul sebelas lebih. Mbak Lisa sudah pergi ke lantai atas untuk menyerahkan dokumen. Ruang kerja tengah sepi. Nawang baru saja hendak berdiri mengambil air ketika pintu ruang Bagas terbuka.Pria itu keluar dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada kantung mata tip

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Langkah yang Tak Boleh Mundur

    Makan malam berlangsung lebih tenang daripada yang Bening bayangkan. Banyu terus menyuapinya dengan sabar, sesekali mengusap sudut bibirnya yang berlumur kuah, seolah berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang sempat menggenang di pelupuk mata istrinya. Mereka tidak banyak bicara tentang hasil pemeriksaan. Banyu sengaja mengalihkan topik ke hal-hal sepele—cuaca desa yang mulai kering, laporan administrasi yang harus dia selesaikan minggu depan, bahkan keluhan tentang kursi di kantor desa yang sudah goyang.Bening hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Di dalam hatinya, kata-kata Mbak Lastri masih berputar-putar seperti jarum yang menusuk pelan. ‘Sampai kapan kamu bisa sembunyikan rasa kecewamu, Mas?’Usai makan, Banyu mencuci piring sendiri. Ia menolak bantuan Bening dengan tegas. “Malam ini kamu istirahat. Biar Mas yang bereskan.”Bening duduk di kursi ruang tengah, memeluk lutut. Pandangannya mengikuti gerakan punggung tegap Banyu yang masih memakai celemek merah muda yang kekecila

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah    Ada atau Tidak Ada Anak

    “Janji seorang pria itu tidak bisa dipercaya seratus persen, Ning! Perasaan manusia bisa berubah kapan saja, makanya anak itu tetap penting dalam perniakhan!” omel Mbak Lastri tegas sambil menuangkan teh hangat untuk Bening di ruang tamunya.Bening hanya menunduk, mendengarkan curhatan hatinya sendiri yang kini dibalas nasehat tajam dari kakak sepupunya itu.“Bukan Mbak mau bikin kamu makin terpuruk,” tambah Lastri, melembutkan suaranya sedikit. “Tapi Mbak ingin kamu punya semangat! Berjuang biar bisa dapat anak.”Bening mendongak pelan. “Jadi... aku harus ambil pengobatan dan terapi yang disarankan dokter kemarin ya, Mbak?”“Benar! Dan tidak cuma itu, buat suamimu nyaman terus di rumah jadi dia tidak mikir macam-macam.”“Macam-macam bagaimana, Mbak?” tanya Bening polos.“Ya ampun, Bening... ya macam-macam!” Lastri menepuk paha Bening gemas. “Setahun dua tahun tanpa anak mungkin masih baik-baik saja. Tapi menginjak tahun ketiga, tidak ada yang bisa menjamin. Saat pria seumuran dia sud

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Harapan Yang Tertunda

    Huekk! Huekk!Bening buru-buru menyingkap selimut dan berlari ke kamar mandi. Perutnya mendadak mulas dan mual hebat.Suara mual itu membangunkan Banyu. Ia langsung meloncat dari kasur dan berlari menyusul Bening, memijat lembut tengkuk Bening di depan wastafel dengan raut panik bercampur binar bahagia.“Ning... Kenapa? Mual banget, ya?” tanya Banyu, tak bisa menyembunyikan pendar gembira di matanya. Di pikirannya, doa dan usaha keras mereka semalam serta malam-malam sebelumnya seolah langsung berbuah hasil.Bening membasuh mulutnya, tubuhnya terasa lemas. “Iya, Mas... Tiba-tiba mual sekali, perutku mulas tidak enak, apa masuk angin ya?.”Banyu tersenyum lebar, merengkuh bahu Bening hangat. “Jangan-jangan... Usaha kita berhasil, Ning? Kamu hamil?”Bening menatap suaminya, merasa ragu namun tak tega mematahkan binar bahagia di wajah Banyu. “Masa secepat itu, Mas? Tapi tidak tahu juga... Bagaimana kalau kita periksa saja ke klinik Dokter Tara?”Senyum Banyu seketika memudar saat mendeng

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status