Share

Magnet Kuat

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-06-30 20:00:24

“Apa arti diammu, Bening?”

Bening menyerah. Dia tidak bisa menghadapi tatapan tajam mata elang Banyu yang membuatnya lupa di mana bumi berpijak. Dia berusaha membuang muka, tapi Banyu menahan dagunya, tak membiarkannya menghindar.

“Kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, bukan?”

“Mas Banyu….”

Bening benar-benar merasa terpojok. Tentu saja dia memiliki perasaan yang sama, tapi apa dia bisa mengakuinya secara blak-blakan? Banyu adalah seseorang yang tidak boleh dia angankan. Mengingat kal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Batas Yang Ditarik

    Nawang tertegun. Perubahan nada suara Bagas yang mendadak dingin serasa menyiramkan air es tepat ke mukanya. Pria yang beberapa menit lalu begitu lembut dan canggung, kini mendadak memasang tembok tebal yang tak tersentuh.“Maksud Mas Bagas apa?” tanya Nawang pelan, mencoba menetralkan suasana.Bagas tidak membalas tatapan Nawang. Jemarinya mencengkram lingkar kemudi sedikit lebih erat dari biasanya. Matanya fokus menatap lurus ke jalanan kota yang mulai merayap padat oleh kendaraan.“Dari bayi Lily tidak piranha memiliki Ibu, dia sering bertanya kenapa ibunya tidak mau menjemput dan mengantarnya ke sekolah,” ujar Bagas dengan nada datar, kehilangan kehangatan yang biasanya selalu ada. “Kalau dia membiasakan diri memanggil kamu 'Bunda', dia akan berharap lebih. Dan ketika masa magang kamu selesai lalu kamu pergi, Lily yang bakal paling terluka.”Nawang tersentak. Setiap kata yang keluar dari mulut Bagas terasa menohok, seolah menyindir posisi Nawang yang memang hanya orang asing di hi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hanya Panggilan

    Pintu mobil dibuka dari luar, dan aroma minyak kayu putih bercampur wangi bedak bayi langsung menyambut hidung Nawang. Entah kenapa, Nawang tiba-tiba menyukai aroma ini ketimbang aroma parfum favoritnya sendiri.Di depan sana, gedung sekolah PAUD bercat warna-warni mulai ramai oleh bising riuh anak-anak serta deretan orang tua yang sibuk merapikan tas atau mengusap ingus buah hati mereka.Bagas keluar lebih dulu dari balik kemudi, lalu berputar untuk membukakan pintu belakang. Saat pria itu membungkuk hendak melepaskan sabuk pengaman car seat, Nawang sudah lebih dulu mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh mungil Lily.Tangan mereka tak sengaja bersentuhan, Bagas menarik duluan, dia mengangguk dan tersenyum sebagai ungkapan minta maaf. Akan tetapi bagi Nawang itu seperti bukan hal yang besar.“Biar aku saja, Mas,” potong Nawang halus.Gerakan Bagas terhenti tepat di atas bahu Nawang. Wajah mereka berjarak begitu dekat—cukup dekat hingga Nawang bisa menghirup aroma sabun man

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Salah Panggil

    Aroma nasi goreng margarin dan celupan teh hangat memenuhi ruang makan lantai dasar, berpadu dengan suara denting sendok yang beradu pelan. Lily duduk di kursi khusus balita di samping Nawang, sibuk mengunyah potongan sosis dengan gaya mengunyahnya yang lucu sambil dia mengayun-ayunkan kakinya.Bagas baru saja menuruni tangga dengan kemeja putih berpipa rapi yang lengan panjangnya digulung hingga sebatas siku. Celana bahan berwarna gelap membalut kakinya yang jenjang. Penampilan sederhananya tanpa jas kerja justru makin menonjolkan aura matang khas pria berkulit sawo matang itu.“Lily, kalau makan gak boleh goyangin kaki begitu, ya…” Bagas mengingatkan saat melihat putrinya makan sambil mengayun-ayunkan kakinya.Lily memanyunkan bibirnya, tapi kemudian tersenyum dan mengangguk. Lily bocah yang manis dan penurut dalam pandangan Nawang yang sebenarnya kurang suka anak kecil. “Bu Asih, terima kasih sarapannya,” sapa Bagas ramah seraya menarik kursi tepat di hadapan Nawang.“Nggih, Mas B

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perasaan Hangat

    Tidur di tempat baru selalu menjadi hal yang sulit bagi Nawang. Sejak fajar menyingsing, ia sudah terjaga. Ketimbang berdiam diri di kamar, Nawang memilih keluar dan membantu Bu Asih menyiapkan sarapan di dapur sebisanya.Saat melintas di dekat tangga, langkah Nawang terhenti melihat Lily yang baru terbangun dari tidurnya. Balita kecil itu melangkah sempoyongan seraya mengucek matanya yang masih sembap, memeluk boneka kelinci kesayangannya dengan erat. Nawang tersenyum lembut. Dengan telaten, ia membimbing Lily duduk di sofa ruang tengah, lalu mengambil sisir dan ikat rambut berwarna merah muda yang ada di meja.Sementara itu, Bagas baru saja keluar dari kamarnya dengan napas agak memburu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya—merasa kesiangan karena ketiduran usai menyiapkan berkas hingga larut malam. Pria itu buru-buru menuruni tangga, berniat memandikan dan menyiapkan putrinya agar tidak terlambat masuk ke sekolah PAUD.Namun, langkah Bagas terhenti seketika di ambang pin

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Obrolan Larut Malam

    “Kamu sudah sampai? Syukurlah…selamat istirahat ya…” pesan dari Bening terlihat pop up di layar ponselnya. Nawang tersenyum tipis.“Ya..Mbak juga…segera kasih aku ponakan lucu!” balas Nawang terkekeh sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Kehangatan pancuran air hangat di kamar mandi berhasil meluruhkan sisa-sisa rasa canggung dan pegal usai perjalanan panjang. Nawang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu mengenakan setelan piyama kain katun berwarna krem lembut yang terkesan sopan namun nyaman. Pipinya yang tadi sempat memerah padam akibat insiden telepon salah sambung itu perlahan mulai kembali normal.Sebenarnya bukan salah sambung, sih….Nawang keluar dari kamar, berniat membawa cangkir kosong ke dapur. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendapati Bagas sudah berada di ruang makan kecil yang menyatu dengan dapur bersih.Pria itu tampak jauh lebih segar. Rambut hitamnya yang pendek masih sedikit lembab usai mandi, tersisir rapi ke belakang tanpa tata gaya yang berlebi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dasar Pengantin Baru

    “Kita sudah sampai...”Sebuah usapan halus di bahu menyadarkan Nawang dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya dengan remang lampu garasi. Di sampingnya, Bagas sedang menatapnya lembut dengan senyum tipis di bibir.Nawang buru-buru menegakkan posisi duduknya. “Ah... Sudah sampai, ya, Mas? Biar aku yang menggendong Lily,” tawarnya merasa agak sungkan.“Tidak usah. Biar aku yang menidurkan Lily di kamarnya dulu. Setelah itu baru aku tunjukkan kamar kamu,” sahut Bagas tenang.Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat mereka sampai di kediaman Bagas. Perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena Bagas sengaja menahan laju kendaraan demi kenyamanan Lily yang tertidur sepanjang jalan.Nawang mengangguk patuh. Ia turun dari mobil, mengambil kopernya dari bagasi lalu melangkah mengekor di belakang Bagas menuju pintu depan. Begitu Bagas menekan bel, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya—mungkin berusia lima puluhan—m

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status