เข้าสู่ระบบLayar ponsel Banyu kembali gelap setelah sambungan telepon terputus sepihak. Keheningan kamar villa mendadak terasa sedikit berbeda, tak lagi sepenuhnya didominasi sisa kehangatan usai bercinta. Bening bergeser pelan, menyandarkan pipinya di dada Banyu seraya menatap garis rahang calon suaminya yang tampak mengeras.“Kenapa Om Hanung mendadak mencari kita, Mas?” tanya Bening pelan, jemarinya mengusap lembut dada bidang Banyu.Banyu menghembuskan napas panjang. Ia menunduk, merengkuh bahu polos Bening agar makin rapat dalam pelukannya. “Bukan hal penting paling, Ning. Paling cuma mau pamitan atau membahas rencana kepindahannya ke rumah Tara.”“Tapi suara Nawang tadi kelihatan panik sekali,” gumam Bening ragu.“Nawang memang selalu heboh kalau ada apa-apa,” balas Banyu tenang. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Bening, merapikan helai yang menempel di dahi basah wanita itu. “Kamu masih capek?”Bening tersenyum tipis, menggeleng samar. “Sudah agak mendingan. Tapi kita ben
Guncangan di atas tempat tidur makin tak terkendali. Banyu mempercepat tempo dorongannya, menghantam titik-titik sensitif di dalam tubuh Bening tanpa memberi jeda sedikit pun. Setiap kali pinggul mereka bertabrakan rapat, Bening hanya bisa pasrah memeluk leher Banyu, meremas kulit punggung calon suaminya yang licin oleh keringat.“Mas... Banyu... ahh, pelan... sedikit,” rintih Bening tersekat-sekat. Napasnya pendek-pendek, matanya berembun menahan kenikmatan melimpah yang terus-menerus menumpuk di perut bawahnya.Banyu tidak menuruti permintaan itu. Ia justru makin menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Bening seraya terus memacu pinggulnya dengan ketukan yang dalam dan bertenaga. Napasnya yang panas menghembus langsung ke wajah Bening.“Tidak bisa, Ning... kamu sempit sekali,” bisik Banyu serak di depan bibir Bening. “Pegang aku yang erat.”Banyu menyusupkan kedua tangannya ke bawah pinggul Bening, mengangkatnya lebih tinggi agar posisinya makin menancap dalam. Gesekan yang makin int
Banyu merebahkan tubuh Bening perlahan di tengah ranjang king size yang empuk. Ia langsung mengikis jarak, mengungkung Bening di bawah tubuhnya tanpa membiarkannya memiliki celah untuk melarikan diri.Deru napas Banyu terdengar kencang dan berat di telinga Bening. Matanya menatap Bening lurus, penuh desakan gairah yang sudah tidak mampu disembunyikan lagi.“Mas... gordennya belum ditutup,” bisik Bening terbata-bata. Matanya melirik canggung ke arah jendela kaca besar di samping ranjang yang memperlihatkan deretan pohon pinus di luar.Tanpa beranjak dari atas tubuh Bening, Banyu meraih remote di atas nakas. Dalam hitungan detik, gorden kain tebal bergerak otomatis menutup rapat seluruh pemandangan luar, menyisakan lampu gantung redup bertekstur hangat yang menerangi kamar.“Sudah,” kata Banyu rendah. Tangannya kembali mendarat di pinggang Bening, menahan gerak nya. “Tidak ada alasan lagi, Ning.”Banyu menundukkan kepala, kembali mempagut bibir Bening dengan remasan lembut di tengkukny
“Kenapa, Ning? Dia seperti itu cuma sama kamu saja, kok…” Bening memukul-mukul dada Banyu pelan, dan Banyu malah tersenyum menggoda. “Jangan banyak gerak…kamu gak takut…?Namun, ucapan Banyu tidak sinkron dengan apa yang dilakukan, ia sama sekali tidak berniat mundur. Ia justru menghentakkan pinggulnya tipis ke atas, sengaja membuat Bening merasakan reaksi alami tubuhnya yang makin tak terkontrol. Desahan rendah lolos dari tenggorokan Banyu tepat di ceruk leher Bening.“Mas Banyu... nakal banget, sih!” bisik Bening tersekat, meremas bahu Banyu saat ciumannya merambat makin berani turun ke area tulang selangkanya yang terbuka.“Nakal sama calon istri sendiri, tidak apa kan, Ning?” balas Banyu serak, suaranya berat penuh gairah.Tangan Banyu yang berada di bawah cardigan Bening bergerak makin berani. Jemari kokohnya merayap naik menelusuri pinggang, meremas lembut kurva pinggul Bening yang terasa begitu kenyal dan pas di genggamannya. Setiap remasan Banyu di area sensitif itu membua
Banyu tak menyahut lagi dengan kata-kata. Sorot matanya melunak, dipenuhi kehangatan yang jujur. Ia mengangkat tangan Bening yang berada di dalam genggamannya, membawa punggung jemari wanita itu ke bibirnya. Kecupan hangat yang bertahan cukup lama di sana membuat Bening terenyak, merasakan desiran halus yang mendadak merambat cepat memenuhi dadanya. Gedung utama kedai kopi itu terletak cukup jauh di belakang mereka. Gazebo kayu yang mereka tempati berdiri terisolasi di antara deretan pohon pinus tinggi, dinaungi atap jerami tebal yang menutupi area duduk dari pandangan luar. Hembusan angin pegunungan yang berhembus pelan membawa hawa dingin yang makin menusuk kulit.Banyu bangkit dari posisi duduknya di seberang meja. Ia berpindah tepat ke samping Bening, mengikis jarak hingga paha mereka bersentuhan rapat tanpa celah. “Dingin, Ning?” tanya Banyu rendah, suaranya berat dan serak menyatu dengan deru angin di sekitar mereka.Bening mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. “Iy
Suara deru mesin mobil yang merapat di pelataran rumah memutus tatapan Bening dari punggung Hanung. Banyu keluar dari balik kemudi, penampilannya masih rapi dengan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Iasempat bertukar sapa singkat dengan Hanung di teras sebelum pandangannya menyapu area taman samping dan mengunci sosok Bening yang berdiri kaku di dekat bangku kayu.Banyu melangkah menghampiri Bening yang masih duduk di bangku taman. Ada kerutan tipis di dahinya yang menunjukkan rasa ingin tahu.“Kamu dari tadi di sini?” tanya Banyu, suaranya rendah dan mengikis keheningan taman.Bening mengulas senyum tipis. “Iya, Mas. Tadi cuma merapikan tanaman Mamanya Mas Banyu sebentar. Banyak daun yang mulai menguning…”Banyu mengamati raut wajah Bening dengan tatapan menyelidik. Ia menangkap ada sedikit gestur canggung yang berusaha disembunyikan wanita itu, terlebih setelah melihat interaksinya dengan Hanung dari kejauhan tadi.“Om Hanung bilang apa saja ke kamu?” selidi
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan







