Compartir

Chapt. 53

Autor: Miss E
last update Fecha de publicación: 2026-10-27 15:50:06

Bau kertas dokumen dan aroma kopi hitam pekat langsung menyambut langkah tegap Anton begitu ia mendorong pintu kaca ruang kerjanya di lantai paling atas firma hukum.

Pria itu melepas jasnya, melemparnya begitu saja ke atas sofa kulit, lalu mendudukan dirinya di kursi kerja megah berbahan kulit hitam.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menekan tombol interkom di atas meja mahoni untuk memanggil asisten pribadinya.

Tidak sampai dua menit, pintu ruang kerja berderit pelan. Harry, asisten prib
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 56

    Pintu kamar suite mewah tertutup rapat dengan bunyi klik otomatis yang menandakan dunia luar kini benar-benar terisolasi dari mereka berdua.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulit, berpadu sempurna dengan aroma essential oil berteknologi tinggi yang awalnya diciptakan untuk menenangkan saraf.Namun, ketenangan semu itu seketika hancur berkeping-keping oleh hantaman gelombang gairah yang membara liar di antara dinding-dinding kayu jati.Anton langsung merengkuh pinggang ramping Maya begitu langkah mereka melewati ambang pintu.Dengan gerakan penuh otoritas yang tak memberikan ruang bagi wanita itu untuk menghindar, Anton mendorong tubuh Maya perlahan hingga punggungnya membentur dinding kamar yang empuk berlapis panel kayu jati mewah.Tanpa basa-basi sedikit pun, Anton melumat bibir Maya dalam sebuah ciuman yang luar biasa brutal, menuntut, dan mendominasi kesadaran.Maya sempat terkesiap, bibirnya terbuka karena terkejut, namun celah itu langsung dimanfaatkan ole

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 55

    Angin laut malam berembus lembut, membawa serta kesejukan Samudra Pasifik yang berpadu sempurna dengan aroma panggangan wagyu dan mentega lemon yang menggugah selera.Di bawah naungan langit Hawaii yang bertabur bintang gemintang, meja makan pualam putih itu menjadi satu-satunya sumber cahaya hangat yang menerangi teras terbuka vila privat mereka.Maya kembali menyuapkan sepotong kecil daging wagyu yang lembut ke dalam mulutnya.Sensasi gurih bercampur juicy yang meleleh seketika di lidahnya membuat wanita muda itu tanpa sadar memejamkan mata sejenak, menikmati kelezatan kuliner mewah yang seumur hidup baru pertama kali ia rasakan.Melihat ekspresi polos dan kepuasan yang terpancar di wajah Maya, Anton menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.Pria tegap itu meletakkan serbet kain di atas pangkuannya, lalu menegakkan tubuhnya yang terbalut kemeja linen gelap."Kamu menghabiskannya seperti anak kecil yang kelaparan, Maya," ucap Anton datar, namun ada nada geli yang terselip dala

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 54

    Angin sore Honolulu berembus semakin kencang, membawa aroma garam laut yang khas serta kesegaran tropis yang langsung membuai indra penciuman.Maya masih berdiri terpaku di dekat tangga pesawat, menikmati setiap detik transisi dari dunia suram dan penuh teror di Jakarta menuju hamparan surga dunia yang kini terbuka lebar di hadapannya."Ayo, Maya," suara bariton Anton memecah lamunan wanita muda itu.Pria tegap itu tidak membiarkan Maya berlama-lama terbuai dalam kekagumannya.Tangan kekar Anton menggenggam jemari Maya dengan erat, menuntunnya menuruni sisa anak tangga terakhir menuju mobil limousine hitam ber-AC dingin yang sudah bersiap menjemput mereka di landasan privat tersebut.Di dalam mobil mewah yang berfurnitur kulit lembut, Maya duduk berdampingan dengan Anton.Jendela kaca digelapkan, namun pemandangan jalanan pesisir Hawaii yang disinari mentari senja masih terlihat begitu memesona dari balik kaca.Maya menempelkan pipinya ke kaca jendela, menatap takjub deretan pohon pal

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 53

    Bau kertas dokumen dan aroma kopi hitam pekat langsung menyambut langkah tegap Anton begitu ia mendorong pintu kaca ruang kerjanya di lantai paling atas firma hukum.Pria itu melepas jasnya, melemparnya begitu saja ke atas sofa kulit, lalu mendudukan dirinya di kursi kerja megah berbahan kulit hitam.Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menekan tombol interkom di atas meja mahoni untuk memanggil asisten pribadinya.Tidak sampai dua menit, pintu ruang kerja berderit pelan. Harry, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaannya, melangkah masuk membawa tablet dan beberapa berkas laporan."Pagi, Pak Anton," sapa Harry sembari berdiri tegak di depan meja kerja. "Ada dokumen penting yang harus ditandatangani pagi ini sebelum jadwal sidang pukul sepuluh."Anton mendongak, manik matanya menatap tajam sang asisten. "Simpan dulu berkas itu, Harry. Ada instruksi lain yang jauh lebih penting untuk kamu kerjakan sekarang."Harry mengernyitkan keningnya, bersiap mendengarkan. "Baik, Pak.

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 52

    "Apa itu, Om?" desak Maya dengan nada bicara yang tergesa-gesa.Jemari lenturnya meremas tepi meja pualam makin kencang, matanya membelalak lebar memancarkan rasa ingin tahu yang membakar."Sesuatu apa yang disembunyikan Ibu Desi? Apa ada hubungannya sama alasan Riko kecelakaan malam itu?"Namun, bukannya memberikan jawaban, Anton justru kembali bungkam.Pria tegap itu menarik tubuhnya sedikit ke belakang, menyandarkan punggungnya pada kursi makan seraya menatap Maya yang sedang diliputi kecemasan.Manik mata kelamnya menelusuri setiap inci wajah wanita muda itu secara perlahan, sebuah tatapan dalam dan penuh rahasia yang sengaja membiarkan pertanyaan Maya menggantung hampa di udara.Maya yang merasa tak tahan di bawah tatapan itu akhirnya menelan ludahnya pelan. "Om, kenapa diam saja? Cerita sama aku.”Anton menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, sebuah senyum dingin yang seketika mengalihkan fokus pembicaraan mereka."Daripada kamu pusing memikirkan ucapan Desi..." suara bar

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 51

    Dentum keras cangkir keramik yang diletakkan kembali ke atas permukaan meja pualam memecah keheningan ruang makan.Kopi hitam di dalamnya terpercik tipis, menciptakan riak hitam yang pekat.Anton menarik napas pendek, namun tatapan matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Maya yang duduk tenang di seberangnya.Manik mata kelam pria itu menatap tajam, menguliti setiap detail ekspresi di wajah wanita muda yang mengenakan mini dress ketat tersebut."Sikapmu yang berubah jadi berani dan menantang ini..." suara bariton Anton bergema rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang menusuk, "...terjadi begitu saja setelah saya menolak memberitahu apa isi pembicaraan saya dengan Desi semalam, benar begitu, Maya?"Maya tidak langsung menjawab.Ia menarik napas pelan, menundukkan pandangannya sesaat ke arah jemarinya sendiri sebelum kembali mendongak menatap lurus manik mata sang paman ipar.Wanita muda itu memilih diam, membiarkan asumsi Anton menggantung di udara yang panas.Anton menyungging

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status