LOGIN"Bapak kamu justru sangat bersyukur karena aku udah nyelamatin nyawa keluargamu dari amukan warga desa. Beliau malah nitipin kamu ke aku buat dijaga baik-baik seumur hidup."
Penjelasan Argan barusan langsung membuat seluruh tenagaku hilang seketika. Pria ini menggunakan keluargaku sebagai alat penahan kebebasanku secara penuh.
"Sekarang orang tuamu mikir kalau aku ini suami dan pahlawan penyelamat keluarga kalian. Kamu nggak bakal bisa lari ke kampung lagi buat minta perlindunga
Beberapa mahasiswa di lorong kampus menatap kami berdua dengan ekspresi wajah beragam.Mereka masih berbisik pelan membicarakan skandal viral yang melibatkan kami berdua. Namun, tidak ada satu pun mahasiswa yang berani melabrakku secara langsung pagi ini.Buku nikah yang sudah diakui polisi benar-benar menjadi perisai sosial yang kuat. Orang-orang Indonesia sangat menghormati status pernikahan resmi di atas kertas hukum."Aku langsung masuk ke ruang dosen sekarang. Kamu pergi ke perpustakaan aja buat nyari buku referensi bab dua skripsimu.""Baik, Pak. Nanti siang aku tunggu Bapak di area kantin fakultas aja ya."Argan berjalan menjauh dan masuk ke dalam gedung ruang dosen utama. Aku segera memutar arah langkah kakiku menuju gedung perpustakaan kampus.Fika tiba-tiba muncul dari arah persimpangan lorong dan langsung menepuk bahu kananku. Teman satu kelasku itu menatap wajahku dengan senyuman yang sangat lebar."Nara! Kamu beneran udah
"Bapak beneran pria paling jahat yang pernah aku kenal. Aku sangat benci sama Bapak sekarang."Aku menjawab ancamannya dengan suara yang sangat parau. Air mataku terus menetes membasahi lantai marmer di bawah lututku."Benci saja terus sesuka hatimu, Nara. Rasa benci kamu sama sekali nggak bakal ngerubah status hukum kita berdua."Argan melepaskan cengkeraman tangannya dari kedua bahuku secara pelan. Pria berotot itu berdiri tegak dan merapikan kemeja kerjanya yang sedikit kusut."Aku pilih diam dan turutin semua kemauan Bapak di rumah ini. Tolong jangan pernah laporin bapak sama ibuku ke kantor polisi."Aku akhirnya menyerah pada keadaan dan menuruti paksaan dari dosen pembimbingku. Keputusan ini murni aku ambil demi menyelamatkan masa tua kedua orang tuaku."Itu baru istri penurut yang sangat pintar. Aku pasti bakal jamin kehidupan orang tuamu di rumah Puncak sana."Argan tersenyum lebar mendengar jawaban pasrah dari dalam mulutku b
"Bapak nggak usah ngalihin pembicaraan! Jadi beneran Bapak yang udah nabrak Mas Bayu sampai mati lima tahun lalu?!"Aku menunjuk lurus ke arah wajah tampannya dengan jari telunjuk kanan yang gemetar. Amarahku benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi melihat sikap santainya ini."Itu murni kecelakaan lalu lintas biasa di malam hari yang hujan sangat deras, Nara."Argan menjawab tuduhanku sambil menyilangkan kedua lengannya tepat di depan dada bidangnya."Kakak kamu tiba-tiba nyeberang jalanan gelap tanpa lihat kanan kiri. Mobil sportku melaju lumayan kencang dan remnya nggak sempat menahan ban tepat waktu."Pria ini menjelaskan kronologi kejadian mematikan itu tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Wajahnya tetap datar saat menceritakan proses hilangnya nyawa kakak kandungku."Terus kenapa Bapak kabur dan bayar orang tuaku buat tutup mulut?! Kenapa Bapak nggak tanggung jawab secara hukum di kantor polisi hari itu juga?!"Aku berteriak h
Aku mengangguk patuh dan langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar utama bangunan ini.Badanku memang terasa sangat lengket dan butuh guyuran air hangat secepatnya. Aku membersihkan diri di dalam kamar mandi kamar utama selama kurang lebih setengah jam.Setelah selesai mandi, aku memakai setelan kaus santai dan celana kain pendek yang nyaman. Aku berjalan perlahan mendekati meja rias untuk menyisir rambut panjangku yang masih basah. Tiba-tiba, ponsel pintarku di atas kasur berdering nyaring menampilkan panggilan suara dari nomor asing.Aku menekan tombol hijau dan menempelkan benda elektronik itu lurus ke telinga kiriku."Halo, ini dengan siapa ya sore-sore begini?""Kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah nikah sama pria yang udah ngebunuh kakak kandungmu sendiri, Nara Anindya?""Maksud kamu apa ngomong soal kakak kandungku sore-sore begini?" tanyaku dengan tangan yang langsung gemetar hebat.Jantungku berdetak sangat kenc
Felicia berteriak keras sambil menggebrak meja kaca menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan. Suara gebrakan itu membuat kedua bahuku sedikit terlonjak naik karena merasa kaget."Aku udah bilang, jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku lagi. Hapus rekaman itu sekarang atau bapakmu bakal kena serangan jantung lihat perusahaannya hancur total siang ini."Argan memberikan pilihan yang sangat sulit dan menekan bagi wanita di depannya ini. Pria itu menyodorkan tabletnya semakin dekat ke arah letak duduk Felicia.Felicia menatap layar tablet itu dengan napas dada yang memburu sangat cepat. Tangannya gemetar menahan amarah yang sudah meledak tidak terkendali di dalam dadanya. Wanita ini akhirnya mengambil ponselnya sendiri dan menghapus fail rekaman suara tersebut di depan mata kami."Udah aku hapus rekaman aslinya dari hape aku sekarang! Puas kamu, Argan?!""Bagus. Jangan pernah coba-coba ganggu kehidupan istriku lagi mulai detik ini,
"Kita harus temuin wanita gila itu di restoran daerah Jakarta Selatan sekarang juga. Masuk ke dalam mobil dan jangan banyak tanya lagi, Nara."Argan memberikan perintah tegas sambil menyusul duduk di kursi penumpang belakang. Sopir pribadinya langsung melajukan mobil hitam ini keluar dari area parkir kampus. Aku menyandarkan punggungku ke kursi kulit mobil dengan tubuh yang terus gemetar.Nasibku benar-benar dipermainkan oleh perseteruan mantan pasangan kekasih ini."Kalau rekaman itu viral, polisi pasti bakal tangkap Bapak hari ini juga. Status pernikahanku juga pasti bakal langsung dibatalin sama pihak pengadilan agama negara.""Aku nggak bakal biarin rekaman itu bocor ke tangan polisi atau netizen Indonesia, Nara. Kamu tenang aja dan percayain semuanya sama langkahku siang ini."Argan menjawab kekhawatiranku dengan wajah yang masih terlihat sangat percaya diri. Pria berotot ini langsung mengetik rentetan pesan panjang ke nomor asisten pribadinya
Tanpa menunggu Argan bicara lagi, aku langsung berdiri dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Rasanya sulit sekali untuk berjalan tegak karena bagian intimku terasa sangat sensitif dan berdenyut nyeri setiap kali aku melangkah. Aku berjalan cepat menuju pintu keluar, menahan rasa malu dan mara
Posisi kami sekarang benar-benar intim dan berbahaya. Aku duduk mengangkang di atas paha Argan, lututku berada di sisi kiri dan kanan pinggulnya, sementara wajah kami sejajar dengan jarak yang sangat tipis. Aku bisa merasakan panas tubuhnya menembus kain celana kami yang sama-sama tipis."Pak... i-
Tangan Argan yang tadinya di pinggang kini turun meremas bokongku, meremasnya dengan gemas seolah dia ingin menelanku bulat-bulat. Sentuhan itu menjadi pemicu terakhir bagi pertahananku yang sudah retak."Ahhh! Pak Argan..."Desahan itu akhirnya lolos juga. Keras, panjang, dan sangat tidak sopan. A
Pak Argan tidak bergerak, dia masih berdiri di sana memegang piring pasta. Namun, perlahan tatapan matanya berubah. Dari tatapan kaget, turun ke arah kakiku yang masih gemetar, lalu naik lagi ke wajahku yang berkeringat. Jakunnya bergerak naik turun saat dia menelan ludah dengan susah payah."Kamu.







