ANMELDENTiba-tiba, ponsel pintarku yang ada di dalam saku celana bergetar cukup keras. Argan memang sudah mengembalikan ponsel itu kepadaku sejak pagi tadi setelah memeriksanya tuntas. Aku mengambil benda elektronik itu dan melihat layar utamanya yang menyala terang.
Fika, teman satu kelasku, mengirimkan puluhan pesan singkat secara beruntun di aplikasi pesan.
"Nara! Kamu harus buka aplikasi TikTok sekarang juga! Masalah kamu belum kelar sama sekali!"
Aku membaca pesan peringatan
"Bapak beneran pria paling jahat yang pernah aku kenal. Aku sangat benci sama Bapak sekarang."Aku menjawab ancamannya dengan suara yang sangat parau. Air mataku terus menetes membasahi lantai marmer di bawah lututku."Benci saja terus sesuka hatimu, Nara. Rasa benci kamu sama sekali nggak bakal ngerubah status hukum kita berdua."Argan melepaskan cengkeraman tangannya dari kedua bahuku secara pelan. Pria berotot itu berdiri tegak dan merapikan kemeja kerjanya yang sedikit kusut."Aku pilih diam dan turutin semua kemauan Bapak di rumah ini. Tolong jangan pernah laporin bapak sama ibuku ke kantor polisi."Aku akhirnya menyerah pada keadaan dan menuruti paksaan dari dosen pembimbingku. Keputusan ini murni aku ambil demi menyelamatkan masa tua kedua orang tuaku."Itu baru istri penurut yang sangat pintar. Aku pasti bakal jamin kehidupan orang tuamu di rumah Puncak sana."Argan tersenyum lebar mendengar jawaban pasrah dari dalam mulutku b
"Bapak nggak usah ngalihin pembicaraan! Jadi beneran Bapak yang udah nabrak Mas Bayu sampai mati lima tahun lalu?!"Aku menunjuk lurus ke arah wajah tampannya dengan jari telunjuk kanan yang gemetar. Amarahku benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi melihat sikap santainya ini."Itu murni kecelakaan lalu lintas biasa di malam hari yang hujan sangat deras, Nara."Argan menjawab tuduhanku sambil menyilangkan kedua lengannya tepat di depan dada bidangnya."Kakak kamu tiba-tiba nyeberang jalanan gelap tanpa lihat kanan kiri. Mobil sportku melaju lumayan kencang dan remnya nggak sempat menahan ban tepat waktu."Pria ini menjelaskan kronologi kejadian mematikan itu tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Wajahnya tetap datar saat menceritakan proses hilangnya nyawa kakak kandungku."Terus kenapa Bapak kabur dan bayar orang tuaku buat tutup mulut?! Kenapa Bapak nggak tanggung jawab secara hukum di kantor polisi hari itu juga?!"Aku berteriak h
Aku mengangguk patuh dan langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar utama bangunan ini.Badanku memang terasa sangat lengket dan butuh guyuran air hangat secepatnya. Aku membersihkan diri di dalam kamar mandi kamar utama selama kurang lebih setengah jam.Setelah selesai mandi, aku memakai setelan kaus santai dan celana kain pendek yang nyaman. Aku berjalan perlahan mendekati meja rias untuk menyisir rambut panjangku yang masih basah. Tiba-tiba, ponsel pintarku di atas kasur berdering nyaring menampilkan panggilan suara dari nomor asing.Aku menekan tombol hijau dan menempelkan benda elektronik itu lurus ke telinga kiriku."Halo, ini dengan siapa ya sore-sore begini?""Kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah nikah sama pria yang udah ngebunuh kakak kandungmu sendiri, Nara Anindya?""Maksud kamu apa ngomong soal kakak kandungku sore-sore begini?" tanyaku dengan tangan yang langsung gemetar hebat.Jantungku berdetak sangat kenc
Felicia berteriak keras sambil menggebrak meja kaca menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan. Suara gebrakan itu membuat kedua bahuku sedikit terlonjak naik karena merasa kaget."Aku udah bilang, jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku lagi. Hapus rekaman itu sekarang atau bapakmu bakal kena serangan jantung lihat perusahaannya hancur total siang ini."Argan memberikan pilihan yang sangat sulit dan menekan bagi wanita di depannya ini. Pria itu menyodorkan tabletnya semakin dekat ke arah letak duduk Felicia.Felicia menatap layar tablet itu dengan napas dada yang memburu sangat cepat. Tangannya gemetar menahan amarah yang sudah meledak tidak terkendali di dalam dadanya. Wanita ini akhirnya mengambil ponselnya sendiri dan menghapus fail rekaman suara tersebut di depan mata kami."Udah aku hapus rekaman aslinya dari hape aku sekarang! Puas kamu, Argan?!""Bagus. Jangan pernah coba-coba ganggu kehidupan istriku lagi mulai detik ini,
"Kita harus temuin wanita gila itu di restoran daerah Jakarta Selatan sekarang juga. Masuk ke dalam mobil dan jangan banyak tanya lagi, Nara."Argan memberikan perintah tegas sambil menyusul duduk di kursi penumpang belakang. Sopir pribadinya langsung melajukan mobil hitam ini keluar dari area parkir kampus. Aku menyandarkan punggungku ke kursi kulit mobil dengan tubuh yang terus gemetar.Nasibku benar-benar dipermainkan oleh perseteruan mantan pasangan kekasih ini."Kalau rekaman itu viral, polisi pasti bakal tangkap Bapak hari ini juga. Status pernikahanku juga pasti bakal langsung dibatalin sama pihak pengadilan agama negara.""Aku nggak bakal biarin rekaman itu bocor ke tangan polisi atau netizen Indonesia, Nara. Kamu tenang aja dan percayain semuanya sama langkahku siang ini."Argan menjawab kekhawatiranku dengan wajah yang masih terlihat sangat percaya diri. Pria berotot ini langsung mengetik rentetan pesan panjang ke nomor asisten pribadinya
Tiba-tiba, ponsel pintarku yang ada di dalam saku celana bergetar cukup keras. Argan memang sudah mengembalikan ponsel itu kepadaku sejak pagi tadi setelah memeriksanya tuntas. Aku mengambil benda elektronik itu dan melihat layar utamanya yang menyala terang.Fika, teman satu kelasku, mengirimkan puluhan pesan singkat secara beruntun di aplikasi pesan."Nara! Kamu harus buka aplikasi TikTok sekarang juga! Masalah kamu belum kelar sama sekali!"Aku membaca pesan peringatan Fika dengan dahi yang berkerut menahan rasa bingung. Tanganku langsung menekan tautan video yang baru saja dia kirimkan padaku barusan. Layar ponselku otomatis menampilkan potongan video dari acara siniar tadi malam.Felicia sedang berbicara di depan mikrofon rekaman bersama seorang pembawa acara artis terkenal. Namun, video tayangan ini adalah bagian potongan akhir yang belum aku tonton sebelumnya."Buku nikah yang diakuin polisi semalam itu emang asli produk negara, Mas. Tapi pr
Felicia mengenakan dress pendek selutut berwarna putih yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, dipadukan dengan sepatu hak tinggi stileto merah yang senada dengan mobilnya. Rambut panjangnya yang bergelombang tergerai indah, kacamata hitam branded bertengger di hidungnya, dan dia menenteng
Aku segera mencari file naskah bab revisi yang sudah aku unggah pagi tadi. Argan berjalan mendekat dan berdiri di belakang sofa tempatku duduk. Dia membungkuk sedikit dan menumpukan satu tangannya di sandaran sofa, tepat di samping kepalaku. Tangan satunya lagi bergerak lincah mengoperasikan touchp
Sesi penenangan itu berlangsung entah berapa lama, mungkin sepuluh menit, mungkin setengah jam. Rasanya waktu melambat saat kami saling bersentuhan di kursi dosen itu. Argan tidak melakukan lebih dari sekadar petting dan ciuman leher, tapi intensitasnya jauh lebih menguras emosi daripada lari kelil
"Jangan cuma berdiri di situ seperti patung selamat datang, Nara, sini mendekat!""Pak, ini beneran aman? Kalau ada dosen lain yang ketuk pintu gimana? Atau kalau ada mahasiswa bimbingan lain yang mau masuk?" tanyaku was-was sambil melirik gagang pintu yang terkunci rapat."Di luar pintu sudah saya







