MasukAku membuang kertas putih itu ke atas lantai apartemen dengan pergerakan tangan kasar. Aku sama sekali tidak mau lagi menjadi boneka permainan bagi orang-orang kaya ini.
"Kamu yakin berani nolak perintahku pagi ini, Nara?" Felicia sama sekali tidak terlihat marah melihat penolakan mentah-mentah dariku barusan. Wanita ini justru menggeser layar ponselnya dan memutar sebuah video pendek.
"Hadi sempat retas laptop lama Argan sebelum dia masuk sel tahanan polisi kemarin. Dia nemuin
Aku membuang kertas putih itu ke atas lantai apartemen dengan pergerakan tangan kasar. Aku sama sekali tidak mau lagi menjadi boneka permainan bagi orang-orang kaya ini."Kamu yakin berani nolak perintahku pagi ini, Nara?" Felicia sama sekali tidak terlihat marah melihat penolakan mentah-mentah dariku barusan. Wanita ini justru menggeser layar ponselnya dan memutar sebuah video pendek."Hadi sempat retas laptop lama Argan sebelum dia masuk sel tahanan polisi kemarin. Dia nemuin video rekaman CCTV lorong rumah sakit lima tahun lalu yang sangat menarik."Felicia menyodorkan layar ponselnya agar aku bisa melihat tayangan video tersebut. Mataku langsung membulat sempurna melihat sosok bapakku di dalam layar terang itu.Bapakku terlihat sedang memasukkan tumpukan uang tunai seratus ribuan ke dalam tas ransel hitam. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat jelas sedang tersenyum lebar melihat uang lima ratus juta tersebut.Bapakku bahkan sempat bersalam
Aku berdiri perlahan dan berjalan mendekati pintu utama kayu yang tertutup rapat.Layar interkom di dinding menyala menampilkan sosok wanita modis berkacamata hitam. Felicia berdiri di depan pintu apartemen ini dengan senyuman yang terlihat sangat mengerikan. Wanita ini mengangkat sebuah map plastik bening tepat ke arah lensa kamera keamanan.Map itu terlihat sangat persis dengan tempat penyimpanan dokumen salinan asliku. Aku menekan tombol bicara pada layar interkom dengan telapak tangan yang sedikit gemetar."Ngapain kamu datang ke apartemen ini pagi-pagi, Kak Felicia? Pak Argan lagi nggak ada di rumah sekarang."Aku menegur mantan kekasih suamiku itu melalui lubang suara interkom dinding. Wanita itu memajukan wajahnya sedikit mendekati arah lensa kamera luar."Buka pintu ini sekarang juga kalau kamu masih mau lihat ibumu hidup tenang, Nara."Felicia memberikan ancaman yang langsung menghentikan aliran darah di tubuhku. Wanita ini selalu m
Sinar matahari pagi akhirnya menembus masuk melalui celah tirai kaca apartemen yang besar. Aku membuka kedua mataku perlahan dan bangun dari atas kasur empuk ini. Argan ternyata belum kembali ke apartemen ini sejak kepergiannya tadi malam.Suasana unit mewah ini terasa sangat sepi dan juga sedikit mencekam telingaku. Aku berjalan keluar kamar dan duduk di depan meja kerja sudut ruang tamu. Laptop baru pemberian Argan masih menyala menampilkan halaman awal portal kampus fakultasku."Aku harus cari cara buat ngubungin orang luar pakai portal jaringan kampus ini."Aku berbicara pelan kepada diriku sendiri di tengah keheningan pagi. Tanganku menggerakkan kursor tetikus untuk membuka menu perpustakaan digital fakultas kedokteran.Mataku langsung tertuju pada fitur obrolan langsung antar mahasiswa di pojok kanan layar. Fitur ini biasanya dipakai untuk diskusi tugas kelompok secara daring dari rumah. Aku langsung mengetik nama Fika di kolom pencarian daftar tema
Argan merangkul bahuku dan memaksaku memegang kertas foto USG tersebut."Aku nggak mau unggah kebohongan ini ke akun media sosial pribadiku, Pak. Teman-teman kampusku pasti tahu kalau aku belum hamil sama sekali bulan ini."Aku menolak perintahnya sambil meletakkan kembali kertas itu ke atas permukaan meja kaca."Cuti kuliah kamu udah aku urus tuntas sampai pertengahan tahun depan. Kamu nggak bakal ketemu teman kampusmu lagi sampai bayi bohongan ini waktunya lahir ke dunia."Argan langsung mematahkan alasanku dengan fakta cuti paksa yang dia urus di belakang punggungku. Aku hanya bisa diam menelan ludah karena semua kehidupanku benar-benar sudah dikunci rapat olehnya.Dokter wanita itu segera membereskan semua peralatannya dan langsung pamit pulang meninggalkan apartemen. Ruang tamu luas ini kembali menjadi sangat sepi hanya menyisakan kami berdua saja malam ini."Bapak beneran mau kurung aku di apartemen ini selama sembilan bulan penuh?"
Pria bertopi hitam itu meludah tepat ke arah ujung sepatu kulit mahal milik Argan.Argan hanya mengangguk pelan memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya di sana. Pengawal itu langsung mendaratkan satu pukulan keras tepat di perut pria bertopi hitam tersebut. Pria malang itu langsung terbatuk parah dan mengeluarkan sedikit cairan darah segar dari bibirnya."Bapak jangan siksa dia lagi! Dia udah luka parah kayak gitu dari semalam!"Aku mencoba turun dari mobil untuk menolongnya, tetapi Argan langsung mendorong bahuku kembali ke dalam."Kalau kamu mau dia tetap hidup, kamu yang harus bujuk dia buat sebutin letak dokumen itu, Nara."Argan memberikan pilihan yang sangat menyudutkan posisi mentalku pada malam hari ini. Pria ini sangat menikmati posisinya sebagai penguasa yang memegang kendali atas nyawa orang lain."Tolong kasih tahu aja letak tas itu sekarang. Aku beneran nggak mau kamu mati murni gara-gara bantuin urusanku."Aku m
Pria itu memberikan instruksi langsung kepada sopir yang duduk membelakangi kami di depan.Sopir berjaket hijau itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu patah kata pun malam ini. Mobil ini langsung melaju meninggalkan area kawasan apartemen mewah milik keluarga Argan. Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi sambil memejamkan kedua mataku sejenak.Namun, mobil ini tiba-tiba berbelok tajam ke arah sebuah gang gelap yang lumayan sempit. Laju kendaraan ini langsung berhenti total di tengah jalan buntu tersebut tanpa alasan jelas. Aku langsung membuka mataku karena merasa sangat panik dan juga sangat kebingungan."Pak Sopir, kenapa kita malah berhenti di gang buntu yang gelap ini? Ini sama sekali bukan jalan ke arah gerbang tol luar kota kan?"Aku bertanya dengan nada suara yang bergetar hebat menahan rasa takut di kerongkongan.Sopir berjaket hijau itu mematikan mesin mobil dan mencabut kunci kontaknya secara perlahan. Dia menoleh ke belakang da
Kedua tangan Hadi berusaha melepaskan cengkeraman tangan Argan, namun tenaganya kalah jauh dibandingkan tenaga Argan yang sedang dikuasai emosi.Meskipun dalam posisi terdesak dan terhimpit, Dokter Hadi masih sempat menyunggingkan senyum mengejek yang sangat provokatif. Bibirnya bergerak-g
"Konflik batin seperti apa yang membuat kamu merasa sangat kebingungan sebagai seorang penulis novel romantis?" selidik Pak Argan meminta elaborasi lebih mendalam mengenai rancangan jalan ceritaku."Kedua tokoh fiksi saya itu memiliki perbedaan status sosial yang terlampau sangat jauh di d
"Hanya kamu yang bisa bilang begitu setelah melihat saya mengamuk, Nara," balas Argan dengan senyum getir."Karena saya tahu Bapak yang sebenarnya. Bapak yang merawat saya saat sakit dan mencucikan baju saya," sahutku mengingatkannya pada sisi lembutnya yang lain.Argan tersenyum le
Aku merasakan tubuh Argan kembali menegang dalam pelukanku saat mendengar suara itu. Namun, kali ini dia tidak meledak seperti tadi. Argan melepaskan pelukannya perlahan dari tubuhku, lalu memutar badannya menghadap ke arah Dokter Hadi.Argan menatap pria itu dengan pandangan dingin yang m







