Share

Bab 62

Penulis: Nayyarara
last update Tanggal publikasi: 2026-08-25 00:42:27

Alina menatap punggung Elang yang berjalan menjauh menuju lantai atas. Senyum sinis yang amat dingin terukir di bibirnya.

Di dalam kamar utama, suasana terasa hening dan canggung. Elang sedang duduk di tepi tempat tidur, menyandarkan kepalanya pada kedua telapak tangannya. Begitu Alina masuk dan menutup pintu, Elang mendongak.

Pria itu berdiri, melangkah mendekati Alina dengan tatapan yang sarat akan beban pikiran dan tuntutan fisik. Beban berat yang menumpuk seharian membuat Elang membutuh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Hari Bahagia Alina dan Dewa

    Pagi yang cerah menyelimuti sebuah area vila bernuansa alam di daerah pegunungan yang sejuk. Angin berembus pelan membawa aroma kesegaran rumput dan bunga-bunga segar. Hari ini, tempat itu disulap menjadi lokasi janji suci dan resepsi pernikahan bernuansa putih dan krem yang sangat anggun. Di dalam kamar rias utama, Alina berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pernikahan berwarna putih bersih dengan potongan elegan dan aksen renda halus yang menjuntai cantik. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati kecil yang menyebarkan aroma harum. Raut wajah Alina terlihat sangat tenang. Tidak ada lagi rasa cemas atau ketakutan yang dulu pernah mengikis jiwanya. Cermin di hadapannya kini memantulkan sosok wanita yang tangguh, bahagia, dan penuh rasa syukur. Pintu kamar rias terbuka pelan. Dewa melangkah masuk dengan setelan jas pernikahan berwarna hitam klasik yang sangat pas di tubuhnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu, terpana menatap Alin

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Kebersamaan dan Kejutan Manis

    Sore hari di halaman belakang rumah Alina terasa begitu hangat. Cahaya matahari yang mulai menyengat lembut berwarna keemasan menerobos celah daun-daun pohon kamboja, memantulkan bayangan indah di atas rumput hijau yang baru dipangkas.Alina duduk di kursi kayu teras, memegang sebuah buku sketsa kecil di pangkuannya. Jemarinya sibuk menggerakkan pensil, menggoreskan garis demi garis untuk merancang tata letak galeri seni milik almarhum ibunya yang akan kembali dibuka bulan depan.Suara langkah kaki yang pelan menghentikan fokus Alina. Ketika ia mendongak, Dewa sudah berjalan mendekat dari arah samping rumah. Pria itu menanggalkan jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam santai. Di tangan kanannya, Dewa membawa sebuah kotak kayu berukir klasik yang cukup besar."Masih sibuk menggambar, Lin?" tanya Dewa lembut seraya mengulas senyum hangat.Alina menutup buku sketsanya dan meletakkannya di atas meja kecil. "Cuma coretan

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Kekecewaan yang Tak Beralasan

    Suasana kamar tidur yang mewah di kawasan perumahan elite itu terasa sangat menggepit. Pecahan kaca dari cangkir porselen berserakan di atas karpet bulu tebal, berdampingan dengan beberapa majalah busana yang koyak.Dinda berdiri di dekat meja rias dengan napas memburu. Kedua tangannya gemetar hebat, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Di layar ponsel yang tergeletak di atas kasur, panggilan telepon dari mamanya baru saja terputus beberapa detik lalu.Suara mamanya masih terngiang jelas di telinganya, menyampaikan kabar yang meruntuhkan seluruh harga diri dan harapannya. Dewa, pria yang selama ini selalu ia kejar dan ia anggap akan menjadi milik penuhnya, telah resmi melamar Alina."Tidak mungkin," bisik Dinda dengan suara parau. "Ini tidak mungkin terjadi!"Dinda menyapu seluruh botol parfum mahal dan alat rias di atas meja hingga jatuh membentur lantai dengan suara gaduh. Air mata kemarahan dan kekecewaan meluncur deras menelusuri pipinya.Selama ini Dinda meras

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Dekapan Hangat Pria Milik Alina

    Sinar matahari pagi merambat perlahan melewati celah dedaunan pohon kamboja tua di halaman depan. Kelopak-kelopak bunga melati yang bermekaran di sepanjang jalan setapak menebarkan aroma harum yang lembut, terbawa angin sepoi-sepoi yang berembus pelan. Rumah peninggalan orang tua Alina kini berdiri anggun dengan balutan cat putih yang bersih. Suasana sepi yang menenangkan menyelimuti setiap sudut tempat itu. Alina berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan kedua lengannya pada pembatas besi yang dingin. Jemarinya mengusap permukaan besi itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa begitu lapang saat menghirup udara pagi. Rasa cemas yang biasa menekan impitan dadanya setiap kali mendengar langkah kaki atau suara pintu kini telah sepenuhnya menguap. Dari arah dalam, terdengar derap langkah kaki yang teratur menapak tangga kayu. Alina tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Bau harum teh melati hangat yang familier lebih dulu menyapa penci

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bukan Pria Sembarangan

    Suasana Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan penuh sesak oleh awak media dan pengunjung. Kamera pers berkali-kali menyala, menyorot dua terdakwa yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat pasi. Elang dan Hadisti duduk berdampingan, namun tidak ada lagi interaksi hangat di antara mereka. Sepanjang persidangan, keduanya justru saling lempar tuduhan demi menyelamatkan diri masing-masing.Alina duduk tenang di barisan kursi pengunjung depan bersama Dewa. Tangannya berada dalam genggaman erat Dewa yang hangat. Alina memperhatikan bagaimana Elang tampak berantakan dengan kemeja putih yang kusut dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Ketampanan dan keangkuhan yang dulu membumbung tinggi kini sirna tanpa sisa.Hakim Ketua mengetukkan palu kayu tiga kali, memutus kebisingan di ruang sidang."Memutuskan, menyatakan Terdakwa Satu, Elang Wiraatama, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana KDRT, penggelapan dana perusahaan, serta tindak pidana

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Hak Alina yang dikembalikan

    Alina berdiri di samping Dewa di bawah naungan pohon kamboja tua halaman depan. Gulungan dokumen kepemilikan tanah dan bangunan yang sah berada dalam dekapan Alina. Matanya menatap bangunan bergaya klasik itu dengan rasa haru yang membuncah. Rumah yang selama dua tahun ini dijadikan ajang pamer oleh Elang dan ibunya kini sepenuhnya telah kembali ke tangan pemilik aslinya."Semua kunci pintu depan, samping, dan belakang sudah selesai diganti, Bu Alina," ujar kepala petugas keamanan seraya memberikan seikat kunci baru kepada Alina."Terima kasih banyak, Pak," balas Alina tulus. Ia menerima seikat kunci tersebut dengan jemari yang bergetar pelan."Bagaimana dengan sisa barang pribadi Elang di dalam, Lin?" tanya Dewa lembut seraya merangkul pelan bahu Alina. "Petugas sudah mengemas semuanya ke dalam beberapa kardus rapi di teras.""Biarkan saja di teras, Dewa. Aku tidak ingin ada satu pun barang milik pria itu tersisa di dalam rumah orang tuaku," sahut Alina datar.Belum sempat Dewa memba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status