Share

Bab 61

Author: Nayyarara
last update publish date: 2026-08-25 00:42:24

Malam merayap makin larut saat suara mesin mobil Elang akhirnya terdengar memasuki halaman rumah. Suara mesin yang dimatikan disusul langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa di atas lantai marmer.

Alina berdiri di dekat meja makan, merapikan letak mangkuk sup hangat yang baru saja disiapkannya. Wajahnya dipasang raut polos dan hangat, menyembunyikan rapat-rapat tatapan dingin yang sebelumnya membakar matanya.

Pintu depan terbuka. Elang melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah berantaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 123

    "Betul," sahut Rian. "Alina adalah istri sah dari seorang pria bernama Elang. Mereka menikah sekitar tiga tahun lalu." Dinda terhenyak di atas sofanya. Otaknya memproses informasi mengejutkan tersebut dengan sudut pandang yang sudah sangat terdistorsi oleh rasa cemburu. "Elang? kok namanya kayak ngga asing," gumam Dinda. "Dia punya suami... tapi dia berdua-duaan sama Dewa di rumah sakit?" bisik Dinda, senyum sinis dan puas perlahan mengembang di bibirnya. "Wanita ini sudah punya suami, tapi dia memanfaatkan Dewa buat mengurus hidupnya? Luar biasa..." "Din, dari laporan yang aku dapat, Alina ini sebenarnya korban," potong Rian mencoba meluruskan. "Suaminya yang bernama Elang itu main fisik dan punya banyak utang, makanya Dewa..." "Cukup, Rian!" potong Dinda tegas, mengibaskan tangannya di udara. "Aku tidak butuh analisis morilmu. Yang penting fakta hukumnya jelas: Alina ini masih istri sah orang lain!" Dinda menggenggam lembaran kertas tersebut kuat-kuat hingga pinggiranny

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 122

    "Siapa lagi kalau bukan Dewa dan tim hukumnya!" teriak Elang frustrasi, menghantamkan kepalan tangannya ke sofa. "Dewa itu benar-benar mau menghancurkan bisnisku! Semua jalur pendanaan ditutup sama dia!" Tiba-tiba pintu depan rumah terbuka kencang. Hadisti, wanita simpanan Elang, melangkah masuk dengan wajah cemberut dan gaya angkuh seperti biasanya. Ia menghentakkan tas mewahnya ke atas meja. "Mas Elang!" cerca Hadisti tanpa basa-basi. "Kenapa kartu kredit tambahan yang kamu kasih ke aku tiba-tiba diblokir, hah?! Aku mau bayar tas tadi di mall jadi malu setengah mati di depan kasir!" Elang menatap Hadisti dengan pandangan sharp penuh emosi. "Kamu bisa diam tidak?! Rumah tanggaku lagi hancur, bisnisku mau bangkrut, dan kamu cuma mikirin tas mewah?!" "Lho! Kamu kok malah membentak aku?!" balas Hadisti tidak terima, matanya melotot. "Kamu janji mau mencukupi semua kebutuhan hidupku waktu minta aku tinggalkan pekerjaanku dulu! Sekarang kamu malah memotong uang bulanan dan memblok

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 121

    Waktu terus bergulir hingga menunjukkan pukul lima sore di Rumah Sakit Medika. Cahaya matahari barat membiaskan warna jingga kemerahan yang tembus melalui celah jendela kamar rawat nomor 402. Pintu kamar ketuk pelan tiga kali sebelum terbuka. Dua orang pria berpenampilan rapi dengan membawa koper dokumen tebal melangkah masuk. Mereka adalah tim kuasa hukum yang ditunjuk langsung oleh Dewa untuk menangani kasus hukum Alina. "Selamat sore, Pak Dewa, Bu Alina," sapa pengacara senior bernama Pak Kusuma seraya membungkukkan badan sopan. Dewa berdiri dari kursinya dan menyalami kedua pengacara tersebut. "Selamat sore, Pak Kusuma. Terima kasih sudah datang tepat waktu." Alina mencoba membetulkan posisi duduknya agar lebih tegap, menyambut kedatangan tim hukum tersebut dengan raut wajah yang serius. Pak Kusuma duduk di kursi yang telah disiapkan di samping ranjang, lalu mengeluarkan beberapa tumpuk berkas bertuliskan logo lembaga hukum terkemuka dari dalam kopernya. "Bu Alina, ses

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 120

    Dewa membuka matanya, melangkah pelan mendekati ranjang Alina. Wajahnya yang semula tegang perlahan melunak saat menatap Alina. "Maafkan aku, Lin," ucap Dewa dengan nada penuh penyesalan. Ia duduk di kursi kayu samping ranjang. "Aku tidak menyangka Dinda bakal bertindak senekat ini sampai menyewa orang buat melacak keberadaanmu. Ini sepenuhnya kesalahanku karena kurang ketat mengawasi pergerakannya." Alina menggelengkan kepala lambat. "Bukan salahmu, Wa. Cuma... dari tatapan matanya tadi, dia kelihatan sangat tajam memusuhiku." Dewa mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. "Dinda itu dari dulu terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Dia menganggap posisinya di dekatku tidak boleh tersaingi oleh siapa pun. Tapi kamu tidak usah memikirkan ucapan atau tatapannya, Lin. Dinda tidak tahu apa-apa soal masalahmu, dan aku tidak akan biarkan dia mengganggumu lagi." Alina menyandarkan kepalanya pada bantal, menatap lurus pada deretan selang infus. "Aku makin merasa menjadi b

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 119

    Lantai empat Rumah Sakit Medika terasa sepi saat langkah kaki Dinda bergeser mendekati pintu kamar nomor 402. Derap tumit sepatu hak tingginya sengaja ia pelankan, mengendap di atas lantai hospital-grade yang licin. Dua pria berjas hitam yang semula berada di depan pintu kamar tampak bergeser beberapa langkah ke kanan, salah satunya membelakangi pintu untuk memeriksa kiriman berkas dari perawat di meja jaga. Dinda memanfaatkan momentum singkat itu. Dengan gerakan cekatan dan ekspresi wajah yang dipasang senatural mungkin, ia memutar gagang pintu kamar VIP tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Pintu kayu tebal itu berbunyi klik halus saat menutup kembali. Aroma antiseptik dan cairan infus mendadak menyeruak memenuhi indra penciumannya. Kamar rawat inap nomor 402 itu terasa dingin dan hening. Di atas ranjang medis bergaya modern, Alina terbaring menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal putih. Wajahnya yang pucat tanpa riasan menoleh seketika saat mendengar derit pintu. Ke

  • Jangan Bilang Suamiku, Aku Milik Adiknya    Bab 118

    Dewa tersenyum tipis, menggelengkan kepala. "Pekerjaan kantor bisa ditangani sama sekretaris dan wakil direktur. Lagi pula, berkas-berkas penting sudah dikirim lewat surel dan bisa aku cek dari laptop di sini." "Tapi kasihan kamu," cicit Alina. "Kamu pasti lelah sekali. Tidurmu semalam cuma sebentar di sofa." "Aku tidak apa-apa, Lin," sahut Dewa tenang. "Dulu waktu kita masih kecil dan tinggal di lingkungan yang sama, kamu sering bantu aku kalau aku lagi dimarahi sama keluarga Elang. Sekarang anggap saja ini balasan atas kebaikanmu yang dulu." Alina tersenyum samar, kenangan masa kecil mereka yang polos mendadak terlintas singkat. Namun kenangan indah itu cepat tergerus oleh kenyataan pahit bahwa hidupnya kini hancur di tangan Elang, pria yang justru merupakan saudara seayah Dewa sendiri. "Mas Elang berubah banget ya, Wa," gumam Alina pelan, pandangannya meredup menatap potongan apel di tangannya. "Dulu waktu awal kenal, dia tidak pernah bersikap kasar. Tapi begitu bisnisnya m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status