Se connecterSeusai makan siang, Bu Soraya yang sangat menyukai Alissa mengajak wanita muda itu berbincang ringan di ruang tamu.
"Kapan kamu siap untuk dinikahi Noah, Alissa?" tanya Bu Soraya santai sambil tersenyum hangat, menggenggam jemari Alissa yang ia ajak duduk di sebelahnya.
"Noah bilang kalian sudah cukup lama saling mengenal. Sebaiknya tidak menunda lagi, apalagi kamu sudah memutuskan pulang ke Jakarta ini, bukan?" tambah Mami Noah itu menatap netra Alissa penuh harap.
"T-tapi, Tante... s-saya..." Alissa sangat gugup. Jantung di dalam rongga dadanya bergemuruh hebat, bingung harus menjawab apa atas pertanyaan dari wanita baik hati di depannya.
"Kami sudah mengetahuinya. Maksud Tante, Om dan Tante sudah tahu kalau kamu memiliki putri. Sungguh, kami tidak masalah dengan statusmu, Nak. Noah cerita bagaimana kamu berjuang keras di London..."
Alissa makin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Putrimu butuh sosok Papa, dan Noah bisa memberikannya. Om dan Tante tidak peduli siapa ayah kandung dari putrimu. Karena dia tidak bertanggung jawab pada kalian, maka kami bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu dan putrimu."
Alissa tidak bisa menahan laju air matanya lagi. Tetesannya meluncur bebas membasahi wajahnya hingga jatuh ke atas punggung tangan Bu Soraya yang terus menggenggam jemarinya.
"Tante berikan kamu waktu untuk berpikir selama sebulan. Tapi, sering-seringlah datang ke mari dan bawa putrimu. Boleh Tante tahu siapa namanya?"
"Zoya, Tan. Zoya Sutardji," sahut Alissa dengan suara bergetar.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Noah dan Pak Hadi yang baru turun dari ruang kerja menuju ruang tamu. Bu Soraya segera meraih tisu di atas meja dan memberikannya pada Alissa untuk mengusap sisa air mata di wajah wanita muda itu.
"Terima kasih banyak, Tante dan Om, sudah mengundang saya makan siang. Saya permisi dulu."
Sambutan hangat dari kedua orang tua Noah sempat mengikis sedikit kecemasan di dada Alissa. Namun, setiap kali bayangan wajah Elijah dengan sorot mata tajamnya terlintas di pikiran Alissa, jantung di dalam rongga dadanya mendadak mengerut seolah dicengkeram tangan tak kasat mata.
"Sepertinya aku belum pernah bertemu atau melihatnya. Tapi, kenapa tatapannya begitu intens padaku?" gumam Alissa di dalam hati.
"Sweetheart, kamu melamun?"
Noah yang sudah duduk di balik kemudi menoleh pada Alissa. Pandangan wanitanya itu tampak tidak fokus menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
"Uhm, eh! Kamu bilang sesuatu?" tanya Alissa tergagap saat Noah mencolek lembut lengannya.
"Tadi Mami bicara apa denganmu? Apakah ada sesuatu yang menyinggung perasaanmu?" tanya Noah lembut sambil meraih telapak tangan Alissa untuk ia genggam, sementara tangannya yang lain mengendalikan setir kemudi mobil.
Alissa berusaha mengulas senyum tipis, "Hanya mengobrol ringan. Mami dan Papimu sangat baik. Terima kasih sudah mengajakku berkenalan dengan mereka..."
Noah menoleh dan tersenyum di sela-sela memperhatikan jalanan, "Mereka akan segera menjadi Mami dan Papimu juga, Sweetheart. Sudah kubilang, kan? Mami dan Papi pasti menerima wanita pilihanku," kekeh Noah bangga.
"Kita langsung ke apartemen atau Zoya diajak Odet main ke luar? Sekalian mau kita jemput?"
Alissa mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ada pesan dari Odette, adik angkatnya, yang mengabarkan bahwa ia membawa Zoya bermain ke pusat perbelanjaan.
"Mereka lagi main di tempat bermain di pusat perbelanjaan..." ucap Alissa memberitahu Noah yang melambatkan laju mobil, lalu melirik sekilas ke layar ponsel kekasihnya itu untuk melihat lokasi Odette mengajak Zoya bermain.
"Kamu tidak kembali ke rumah sakit?" tanya Alissa.
Meskipun Noah kini jarang turun tangan langsung di bidang medis, ia menjabat sebagai Direktur di rumah sakit milik keluarga Wiraatmadja tersebut.
"Hari ini aku cuti. Jadi, waktuku seharian ini milikmu dan Zoya," sahut Noah lembut seraya memutar arah menuju pusat perbelanjaan besar tempat Zoya dan Odette berada.
**
"Mama...!"
Seorang gadis kecil bermata hitam legam baru saja meluncur turun dari papan seluncuran, lalu berlari kecil menghampiri Alissa di depan pintu masuk arena bermain.
Alissa bergegas berjongkok, merentangkan kedua lengan untuk menyambut dekapan putri kecilnya yang tertawa riang saat dihujani ciuman.
"Zoya masih mau bermain? Sudah makan siang belum, Sayang?" tanya Alissa lembut seraya menciumi pipi gempal putrinya yang menggemaskan.
Zoya mengangguk antusias, "Sudah! Tadi Oya sama Tante Odet makan puding sama pasta."
Tak lama kemudian, Odette melangkah mendekat seraya mengulas senyum lega ke arah Alissa.
"Kalau begitu, Oya sudah lelah belum bermainnya? Mau jalan-jalan sama Om Noah beli boneka atau mainan baru?" Noah ikut berjongkok di samping Alissa, bertanya lembut dengan menyebut nama panggilan kesayangan gadis kecil itu.
"Oya mau jalan-jalan, tapi kaki Oya capek..." keluh Zoya memasang wajah memelas manja.
Noah terkekeh renyah. Tanpa ragu, ia langsung meraih Zoya dan menggendongnya dengan nyaman di samping tubuhnya.
Noah berjalan di depan, menuruti keinginan dan arah tunjuk Zoya dengan senyum bahagia. Sementara Alissa dan Odette berjalan menyusul di belakang.
Odette mencolek lengan Alissa dan berbisik pelan, "Bagaimana tadi, Kak? Keluarga Mas Noah kaya raya banget, ya? Apakah mereka baik?"
Alissa mengangguk pelan, "Ya, mereka sangat kaya dan sangat baik," sahutnya lirih.
Namun, ingatan akan tatapan tajam Elijah kembali melintas dalam pikirannya, membuat degup jantung Alissa berpacu aneh.
"Tadi Ayah telepon..." lanjut Odette berbisik pelan, "Ayah cemas mendengar Kakak mau ketemu keluarga Mas Noah. Beliau memintaku untuk tinggal sementara di sini bareng Kakak."
Alissa mengangguk cepat, lalu meremas jemari adik angkatnya itu dengan erat, "Iya, tinggallah di sini. Noah juga sedang mengusahakan pekerjaan untukku. Besok pagi aku diminta datang ke kantor saudaranya. Nanti kita cari daycare yang bagus untuk Zoya, lalu kamu juga bisa mulai cari pekerjaan di sini. Tidak usah pulang ya, nanti aku telepon Ayahmu."
Alissa menatap Odette hangat, lalu menambahkan, "Tahun depan, Kakak usahakan mendaftarkanmu kuliah."
Odette adalah putri sulung dari Pak Sutardji di kampung halaman tempat Alissa dibesarkan. Pria baik hati itu bahkan memberikan nama belakangnya untuk Alissa ketika nenek yang mengasuh Alissa hendak mendaftarkannya sekolah dulu.
Bagi Pak Sutardji dan warga kampung, Alissa yang ditemukan di tempat pembuangan sampah sudah dianggap seperti anak mereka bersama, meskipun nenek yang mengasuh Alissa telah meninggal lima tahun lalu, tepat setelah Alissa lulus kuliah di London dengan predikat terbaik.
"Om Noah, Oya mau boneka beruang besar itu!" pekik Zoya antusias dari dalam gendongan Noah, menunjuk ke sebuah toko mainan yang memajang boneka beruang berukuran besar di etalasenya.
"Siap, Tuan Putri Kecil. Mari kita beli boneka beruang besarnya!" sahut Noah ceria sambil melangkah masuk ke dalam toko.
Alissa sudah menyiapkan kartu pembayarannya ketika Noah meminta staf toko mengambilkan boneka beruang tersebut.
"Simpan uangmu, Sweetheart. Sudah kukatakan, hari ini aku milikmu dan Zoya, termasuk keuanganku," bisik Noah seraya meraih kartu pembayaran di atas meja kasir dan mengembalikannya ke tangan Alissa.
"Kamu terlalu memanjakannya. Nanti dia makin tidak tahu diri meminta banyak hal padamu," lirih Alissa seraya mendesah pelan.
Noah melirik ke arah Zoya yang sedang tertawa memeluk beruang besar didampingi Odette, lalu berbisik di dekat telinga Alissa, "Kalau bukan Zoya dan kamu yang kumanjakan, siapa lagi? Jangan terlalu dipikirkan, sebentar lagi Zoya juga resmi menjadi anakku. Sebenarnya aku bisa menghidupi kalian meskipun kamu tidak bekerja."
Alissa selalu kehabisan kata setiap kali berdebat dengan Noah. Sejak mereka memutuskan menjalin hubungan serius, pria itu memang selalu memanjakan dan menuruti apa pun keinginan Zoya.
"Sungguh, aku ingin kamu tidak perlu repot bekerja. Cukup temani Mami dan membantunya menghabiskan uang setiap hari," ucap Noah seraya menyerahkan kartu pembayarannya kepada kasir.
"Tapi, aku tidak mau egois. Kamu sangat berbakat. Seperti yang kukatakan tadi di rumah, aku lebih tidak suka melihatmu bosan," pungkas Noah seraya menekan PIN pada mesin EDC.
"Sekarang, mari kita beli pakaian kerja untukmu besok. Kamu akan bertemu Elijah. Penampilanmu harus memukau sehingga dia tidak punya alasan untuk menolakmu," bisik Noah seraya melingkarkan lengannya di pinggang ramping Alissa.
"Kamu membuatku tak bisa menolak..." lirih Alissa mengulas senyuman tipis melirik Noah yang juga balas tersenyum mendekatkan wajah berbisik dekat telinganya.
"Kalau begitu, jangan menolak, Sweetheart."
Noah yakin keahlian Alissa akan sangat berguna, dan calon istrinya itu mungkin lebih makin bersemangat bekerja di perusahaan Elijah yang bergerak di bidang properti dan konstruksi. Noah sama sekali tak memiliki firasat jika niat baik yang ia susun dengan manis itu justru menjadi langkah awal yang menghancurkan jalan cintanya bersama Alissa.
Usai sarapan bubur, Elijah kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta menuju sebuah mall mewah. Sementara itu, Alissa duduk di kursi penumpang, fokus merampungkan uji coba simulator desain 3D pada gawai milik pria di sampingnya."Kita sudah sampai. Ayo turun," ajak Elijah singkat, begitu menghentikan mobilnya di parkiran basement.Elijah langsung membuka pintu dan melangkah keluar mobil, tanpa menunggu Alissa yang sedang fokus mengerjakan game 3D diponselnya. Alissa buru-buru menyimpan progres pengerjaannya game 3D-nya, lalu menyusul tergesa-gesa saat mendengar langkah kaki Elijah sudah mulai menjauhi mobil dan tak lama kemudian bunyi kunci otomatis terdengar nyaring dari remot dalam genggaman tangan bosnya itu.Elijah langsung membawa Alissa menuju bespoke tailor langganannya. Kedatangan mereka disambut seorang pria muda, yang kemudian mempersilakan Elijah masuk ke ruang ganti, dan tak lama kemudian bos tampan Alissa itu muncul kembali mengenakan setelan celana, rompi-ve
Alissa memesan bubur dan minuman langsung di kasir, meninggalkan Elijah yang tampak sibuk memeriksa simulator desain pada tablet yang baru dikerjakan Alissa sebagian.Melalui pesan singkat, Alissa mengabari Odette serta Noah bahwa dirinya sudah mulai bekerja hari ini di Wiraatmadja Group.[Wah, Elijah benar-benar terpesona padamu, Sweetheart! Oke, selamat bekerja kekasihku. Kalau mau dijemput, kabari ya. Aku segera meluncur!] balas pesan dari Noah masuk lebih dulu yang juga pria ceria itu mengirimkan emoticon ciuman, pelukan dan cinta untuk Alissa. Tanpa sadar, Alissa menarik napas panjang setelah ia membaca balasan pesan dari Noah. [Baik, Kak Al. Selamat bekerja ya. Jangan khawatirkan Zoya, dia baru saja tidur. Tadi kami habis membaca buku dongeng bersama.] sebaliknya, balasan pesan dari Odette membuat Alissa mengembuskan napas lega.Tak lama kemudian, Alissa melangkah masuk kembali ke ruangan privat tepat saat Elijah baru saja menurunkan ponsel dari telinganya dengan wajah datar.
Sambil duduk di sofa, Alissa mengedarkan pandangan, diam-diam mengamati ruang kerja Elijah yang sangat luas. Dinding kaca raksasanya memperlihatkan lanskap pencakar langit Jakarta dari ketinggian.Di balik meja marmer hitam yang megah, Elijah duduk tenang sambil membubuhkan tanda tangan di beberapa dokumen. Pria itu mengenakan kemeja putih berpotongan body-fit tanpa dasi, dengan kedua lengan yang tergulung acak hingga siku.Tak lama kemudian, Jody masuk membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat serta camilan ringan, lalu meletakkannya di meja depan Alissa."Terima kasih," lirih Alissa yang jantung di dalam rongga dadanya berdegup semakin kencang.Elijah menyerahkan dokumen yang telah ditandatanganinya kepada Jody sebelum sekretarisnya itu undur diri dan keluar dari ruangan, membuat pintu otomatis terkunci rapat, mengisolasi Alissa hanya berdua saja dengan Elijah.Netra hitam pekat Elijah memandang Alissa yang menundukkan wajah. Jemari wanita itu tampak meremas cemas map kaku yang
Alissa baru saja selesai menyuapkan sarapan untuk Zoya ketika bel apartemennya berbunyi nyaring."Mas Noah sudah datang, Kak. Cepatlah bersiap-siap, biar nanti aku yang membuatkan susu untuk Zoya," bisik Odette pelan pada Alissa setelah mengintip dari lubang pengintip di pintu.Alissa mencium puncak kepala Zoya lembut, "Mama mau pergi mencari pekerjaan dulu ya, Sayang. Nanti tidur siang, jangan lupa makan dan nurut sama Tante Odet, hm?"Zoya mengangguk-angguk antusiasm "Ya, Mama. Nanti Oya boleh ajak Tante Odet main di playground?""Boleh, tapi tidak boleh nakal dengan anak-anak lain, ya..." pesan Alissa seraya menggoyangkan ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Zoya."Uhm!" sahut gadis kecil itu cepat.Odette membukakan pintu apartemen untuk Noah yang sudah tampil rapi hendak pergi ke rumah sakit."Sebenarnya kamu tidak perlu menjemput dan mengantarku..." ucap Alissa merasa agak sungkan karena telah merepotkan Noah yang pasti jauh lebih sibuk."Sudahlah, aku sudah di sini.
Seusai makan siang, Bu Soraya yang sangat menyukai Alissa mengajak wanita muda itu berbincang ringan di ruang tamu."Kapan kamu siap untuk dinikahi Noah, Alissa?" tanya Bu Soraya santai sambil tersenyum hangat, menggenggam jemari Alissa yang ia ajak duduk di sebelahnya."Noah bilang kalian sudah cukup lama saling mengenal. Sebaiknya tidak menunda lagi, apalagi kamu sudah memutuskan pulang ke Jakarta ini, bukan?" tambah Mami Noah itu menatap netra Alissa penuh harap."T-tapi, Tante... s-saya..." Alissa sangat gugup. Jantung di dalam rongga dadanya bergemuruh hebat, bingung harus menjawab apa atas pertanyaan dari wanita baik hati di depannya."Kami sudah mengetahuinya. Maksud Tante, Om dan Tante sudah tahu kalau kamu memiliki putri. Sungguh, kami tidak masalah dengan statusmu, Nak. Noah cerita bagaimana kamu berjuang keras di London..."Alissa makin menundukkan kepalanya dalam-dalam."Putrimu butuh sosok Papa, dan Noah bisa memberikannya. Om dan Tante tidak peduli siapa ayah kandung dar
Mobil Mercedes-Benz hitam yang dikemudikan Noah membelah jalanan Jakarta yang mulus menuju kawasan elit Menteng. Di kursi penumpang, Alissa terpaku memandangi lalu lintas di balik jendela, sementara jemarinya saling meremas kuat di atas pangkuan.Telapak tangan Alissa telah basah oleh keringat dingin gugup.Noah mengalihkan pandangannya sejenak dari jalanan, lalu menggenggam lembut jemari Alissa yang gemetar. "Tenang, sweetheart," bisik Noah lembut seraya mengelus punggung tangan Alissa dengan ibu jari, "Kedua orang tuaku sudah tidak sabar ingin bertemu langsung denganmu. Kamu tidak perlu secemas ini.""Tapi, aku... aku benar-benar gugup," sahut Alissa pelan, suaranya hampir pecah, "Bagaimana kalau orang tuamu tidak menyukaiku?""Tidak mungkin," kekeh Noah santai, "Papi dan Mami sudah tahu betapa berartinya kamu buat aku. Lagi pula, mereka sangat mengagumi perjuanganmu selama ini di London.""Tetap saja, status kita berbeda, Noah..." lirih Alissa."Kita sudah sering membicarakan hal







