LOGINGisella melangkah masuk kedalam ruangan VIP restoran lalu duduk dengan punggung tegak sempurna di kursi yang disiapkan Leon untuknya. Ia memperhatikan ruangan itu sebelum pandangannya tertuju pada Leon yang duduk di sampingnya dengan santai. “Kenapa harus menyewa ruang privat hanya untuk makan siang, Leon?” Sementara, di dalam kepalanya mulai berisik. ‘Biasanya juga makan di meja reguler biar cepat selesai lalu kembali bekerja. Kenapa sekarang pakai repot menyewa ruang VIP segala? Jendelanya tertutup rapat, lampunya temaram. Apa ini... Dia sedang mengajakku kencan?’ Mendengar tebakan batin istrinya, Leon hanya menanggapi dengan santai. “Aku hanya ingin makan siang yang tenang dengan istriku tanpa gangguan,” jawabnya singkat. Seorang pelayan masuk membawa buku menu. Namun, sebelum Gisella sempat membukanya, Leon sudah lebih dulu bersuara. “Dua porsi steak daging sapi medium well dengan saus jamur lada hitam. Minumnya sparkling water dengan irisan lemon,” pesan Leon lancar
“Kamu benar-benar serius dengan ucapanmu semalam, Leon?” Gisella menoleh ke arah Leon. Gisella duduk tegak di mobil mewah suaminya, dengan balutan setelan blazer dan rok selutut berwarna nude membuatnya tampak sempurna sebagai istri Leon. Namun, di dalam kepalanya, rutukan kekesalan sudah terdengar sejak ia dipaksa bangun lebih pagi dari biasanya. ‘Benar-benar diktator! Sekarang dia berpikir aku pajangan yang siap dibawa ke mana-mana? Kalau seperti ini kapan aku bisa merevisi sketsa ku sementara harus mengikutinya ke kantor tiap hari?!’ Leon memalingkan wajah ke arah jendela mobil, ia menekan bibirnya untuk menyembunyikan senyumannya. “Tentu saja aku serius, Gisella. Mulai hari ini, kamu harus selalu di sampingku,” jawab Leon tanpa menoleh. Mobil terus melaju cepat sampai akhirnya Gisella menyadari rute yang diambil sopir mereka bukanlah arah menuju gedung utama Gavyn Group. Gisella mengerutkan dahi bingung. “Pak, bukankah ini jalan menuju rumah sakit?” “Benar
‘Memperbaiki dari awal katanya? Setelah dua tahun jadi pajangan, tiba-tiba Leon ingin memperbaiki dari awal? Ada apa dengannya..?’ Gisella menatap mata Leon yang terlihat sangat serius dengan ucapannya membuat Gisella tiba-tiba gugup, kepalanya justru menggeleng kecil. Leon memperhatikan wajah Gisella, ia merasa bingung dengan jawaban istrinya. Tapi, beberapa detik kemudian, suara Gisella terdengar sangat pelan, “Iya...” Leon mengernyitkan alis. “Kamu baru saja menggeleng, Gisella.” “Aku tahu...” gumam Gisella lirih. “Lalu kenapa bilang iya?” tanya Leon terheran. “Karena aku... Aku gugup!” suara Gisella nyaris tidak terdengar. Jawaban jujur Gisella membuat bibir Leon melengkung, mengusap senyum di depan istrinya. “Aku pikir kamu tidak akan memberikan aku kesempatan..” Gisella mendengus kecil, menunduk sedikit. “Aku tidak sekejam itu..” ucapnya lirih. ‘Aku akan memberikan kamu kesempatan setahun Leon, kalau masih tetap seperti dua tahun ini.. Aku menyerah
Gisella berbalik begitu pintu utama penthouse tertutup rapat setelah mengantar Helena dan Serena sampai pintu utama penthouse. Di hadapannya, Leon berdiri tegak menatapnya nyaris tidak berkedip. Gisella menarik napas panjang, berusaha menjaga nada suaranya tetap anggun dan terkontrol. “Apa maksud kamu bicara seperti tadi di depan Mama dan Serena?” “Kenapa?” Leon memiringkan kepalanya. “Aku hanya bilang kita bisa mulai mengusahakannya malam ini. Bukankah itu jawaban yang paling Mama harapkan?” ‘Dua tahun kamu mengabaikanku, membiarkanku tidur sendirian. Lalu setelah kepalamu terbentur, tiba-tiba kamu ingin mengusahakan malam ini? Ini sangat aneh, Leon.’ Suara itu terdengar nyaring, bergema jelas di kepala Leon. “Kenapa harus malam ini?” tanya Gisella akhirnya. Leon memajukan langkah. “Memangnya jawaban apa yang ingin kamu dengar, Gisella?” Pertanyaan sederhana itu sukses menghentikan napas Gisella selama beberapa detik. Bagaimana mungkin ia mengaku bahwa selama dua
Ting Tong! Bunyi bel membuyarkan fokus Gisella dari kejadian tadi. Ia baru saja selesai membasuh mukanya akibat merah padam. Saat mendengar bel, Gisella buru-buru merapikan rambut sebelum keluar dari kamar utama. Penthouse yang mereka tempati berada di lantai tertinggi Gavyn Residence, salah satu properti milik keluarga Leon. Sejak menikah, mereka memilih tinggal di sana daripada menempati mansion keluarga Gavyn di kawasan utara kota. Alasannya karena agar Leon ingin dekat dengan kantor pusat, sedangkan Gisella menginginkan ruang pribadi jauh dari campur tangan keluarga. Sayangnya, privasi tersebut tidak berlaku ketika ibu mertuanya datang. Begitu membuka pintu, Gisella mendapati mertuanya, Helena Gavyn berdiri bersama seorang perempuan muda berbalut setelan putih. Gisella tahu siapa perempuan itu. Serena Wijaya, Direktur komunikasi perusahaan Leon yang membawa keranjang buah dan beberapa kotak makanan di belakang mereka. “Mama,” sapa Gisella sambil mencium pipi Helena. “Kenap
Gisella terbangun ketika sesuatu yang berat menahan pinggangnya. Ia membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai, menerangi lengan Leon yang masih melingkar di tubuhnya. Entah sejak kapan posisi mereka berubah. Semalam Gisella tertidur membelakanginya, tetapi kini punggungnya menempel rapat pada dada suaminya. Napas hangat Leon menyentuh tengkuknya secara teratur. 'Jangan bergerak. Kalau aku bergerak, dia pasti bangun dan melepaskanku.' Gisella memejamkan mata lagi, berpura-pura masih tidur. Ia tahu seharusnya segera bangun dan memeriksa kondisi luka Leon. Namun, setelah dua tahun menunggu kedekatan sekecil ini, ia ingin menikmatinya beberapa menit lebih lama. Lengan di pinggangnya tiba-tiba mengerat. “Sudah bangun?” Suara serak Leon terdengar tepat di belakang telinganya. Tubuh Gisella menegang. “Belum.” “Sudah!” pekiknya mengoreksi perkataannya. Gisella berusaha bergeser, tetapi tangan Leon masih menahan pinggangnya. 'Kenapa.. Gak mau lepas? Ap







