Share

38. Benci Tapi ....

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-04-14 09:57:18

Menjelang larut malam, koridor di rumah sakit itu semakin sepi. Lampu-lampu putih menyala terang, tapi suasananya justru terasa dingin dan sunyi.

Nayla masih duduk di kursi tunggu, tidak jauh dari pintu kamar Naufal. Matanya sembab, bekas tangis tadi belum sepenuhnya hilang. Tatapannya kosong ke depan, tapi pikirannya entah ke mana.

Klik!

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka pelan. Nayla refleks menoleh.

Dari dalam, Rianti keluar dengan langkah kaki yang tenang. Namun wajah cantik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    63. Calon Suamiku Dokter Mesum

    “Ihh, Naufal!” Nayla spontan memukul lengan pria itu pelan. Wajahnya semakin merah mendengar bisikan Naufal barusan. “Aw, kenapa, Sayang? Aku serius sama ucapanku,” ucap pria itu santai. “Pelukan barusan itu nyaman banget kok.” “Huh! Dasar kamu mesum!” “Kata siapa?” Naufal pura-pura polos. Nayla mendelik, tapi detik berikutnya ia justru menunduk malu. Tangannya refleks menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi dada. Melihat tingkah itu, Naufal tertawa kecil. Ia lalu meraih tangan Nayla dan menarik gadis itu agar duduk lebih dekat di sampingnya. “Sudah. Jangan malu sama calon suami sendiri.” Kalimat itu justru membuat Nayla membelalak. Ia menengadahkan wajahnya cepat, dan menarik tangannya dari pegangan Naufal. “Ca ... calon suami?” “Iya.” Naufal menatap cincin di jari manis Nayla. “Atau kamu lupa ini?” Ia mengangkat tangan Nayla, memperlihatkan cincin itu di antara mereka berdua. Nayla ikut menatap cincinnya. Jantungnya berdebar keras. “Tapi aku belum jawab re

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    62. Lupa Gak Pakai Bra

    “Naufal, kau ….” Suara Dimas tercekat, ia menggeleng tak menyangka jika adiknya itu sudah ada di sana bersama para polisi.“Pengakuan kalian cukup jelas,” kata Naufal dingin. “Terima kasih sudah bicara sendiri, Kakakku.”"Naufal, ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku bisa jelaskan semuanya. Kau pasti percaya padaku kan? Aku ini kakakmu!” Dimas berusaha meraih tangan Naufal, tapi adiknya itu dengan cepat menepisnya."Aku tidak pernah punya kakak sejahat dirimu.” Ia kemudian menoleh pada para polisi itu."Pak polisi, bawa Dokter Dimas Mahendra dan temannya ini pergi dari sini!”"Baik, Pak.” Polisi pun maju dengan cepat menghampiri kedua laki-laki itu.“Saudara Dimas Mahendra dan Saudara Agung, kalian ditahan untuk pemeriksaan terkait dugaan pembakaran sengaja, persekongkolan, dan ancaman.”“Kurang ajar!” Agung mencoba kabur, tapi langsung dibanting ke lantai dan diborgol.Para polisi juga segera meringkus Dimas. Dokter itu meronta saat tangannya ditahan petugas."Pak Dimas, lebih bai

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    61. Jebakan

    Naufal menatap layar ponselnya selama beberapa detik lagi. Dua balasan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis.“Target sudah menggigit umpan,” desisnya lirih.Rianti masih berdiri di samping sofa dengan wajah tegang. Ia tak menyangka putra bungsunya itu akan bergerak secepat ini.“Fal, apa kamu yakin kalau ini jalan yang benar?” tanyanya pelan.Naufal meletakkan ponsel di meja. Tatapannya tajam dan dingin, lalu menoleh sekilas pada mamanya.“Kalau aku diam, mereka akan terus menyakiti Nayla.”“Tapi Dimas itu kakakmu.”“Dan Nayla itu calon istriku, Ma.” suara Naufal naik satu oktaf.Jawaban itu membuat Rianti terdiam. Ia tahu nada suara Naufal. Jika sudah seperti itu, maka tak ada yang bisa menghentikannya.“Mama nggak mau kalau sampai keluarga ini hancur, Nak,” bisik Rianti, suaranya bergetar.Naufal menatap lekat pada mamanya. Wajahnya sedikit melunak. Ia pegang bahu mamanya dengan pelan.“Aku juga nggak mau itu terjadi, Ma. Tapi Dimas yang mulai semua ini, bukan aku.”Belum semp

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    60. Ah! Ayo Masukin Lebih Dalam

    Naufal membeku beberapa detik saat Nayla menyodorkan buah dadanya semakin dekat ke mulut Naufal. Sejenak ia diam, tetapi ia tersentak kaget ketika puting keras Nayla menyentuh bibirnya. “Akh! Nay?" "Ayo, Na! Hisap susuku, sama jarimu jangan berhenti! Ayoo, mainkan lebih cepat di bawah sana! Ahhh!” Nayla menggoyang-goyangkan dadanya dan menampar wajah Naufal dengan kedua benda jumbo nan kenyal tersebut. Napas gadis itu masih berantakan, tubuhnya lemah, dan matanya setengah terpejam karena rasa sakit sekaligus keenakan. Namun justru itu yang membuat kesadaran Naufal kembali. Ia tergagap dan segera menarik dirinya mundur perlahan. “Nay, cukup.” suaranya lirih dan tertahan. Nayla membuka mata pelan. “Kenapa?” “Karena kamu sedang sakit.” Suara Naufal rendah dan tegas. “Aku nggak mau menyentuhmu lebih jauh dalam keadaan seperti ini.” “Tapi aku ....” “Aku tahu.” Ia mengusap rambut Nayla lembut. “Dan aku nggak akan ambil kesempatan saat kamu lemah.” Mata Nayla berkaca-kaca

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    59. Ohh! Sentuh Tubuhku, Sayang!

    “Nayla!”Suara Naufal pecah saat tubuh gadis itu melemas di pelukannya. Ia cepat-cepat membaringkan Nayla di atas kasur, kemudian menepuk pelan pipinya yang sudah mulai pucat.“Nay, buka mata kamu,” pintanya lagi, tapi tetap saja tak ada jawaban.Nayla masih terpejam rapat. Napasnya pendek-pendek, seiring dadanya yang naik turun. Keningnya juga basah oleh keringat dingin. Sedangkan jemarinya masih mencengkeram bagian bawah perutnya, seolah menahan nyeri hebat bahkan dalam keadaan tak sadar.“Ya Tuhan! Kenapa harus begini sih, Nay?”Naufal berdiri cepat dan mengambil ponsel di meja. Ia sudah memutuskan membawa Nayla ke rumah sakit sekarang juga.“Aku harus segera bawa Nayla ke rumah sakit. Ambulance harus segera datang," tekadnya, lebih kepada dirinya sendiri.Baru saja Naufal hendak menekan nomor sopir, tiba-tiba jari Nayla bergerak lemah. Tangannya segera meraih lengan Naufal dan mencengkeramnya dengan erat.Pria itu langsung menoleh. “Nay, kamu udah sadar?” ada binar kebahagiaan di

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    58. Ahh! Sakit

    “Kurang ajar! Ternyata memang benar dia!" Naufal menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Foto dari CCTV itu terlihat jelas. Agung duduk santai di sudut kafe, sementara di depannya ada pria berjas hitam yang wajahnya sangat dikenalnya."Dimas,” geram Naufal kesal.Rahang pria itu langsung mengeras. Jadi dugaannya benar.Sejak awal ia sudah curiga kalau kakaknya itu ikut bermain di belakang semua ini. Terlebih setelah penemuan korek api berinisial D.M di belakang florist Nayla.Semua terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Bisa-bisanya dia jadi pelaku di balik terbakarnya floristnya Nayla.“Dasar nggak tahu malu.” Suaranya masih bernada kesal.“Naufal, bagaimana?”Nayla menoleh ke arah Naufal. Pria itu dengan cepat mengangkat layar ponsel tepat di hadapan Nayla. Wajah gadis itu langsung pucat saat melihat gambar mantan suaminya di sana.“Itu ... Mas Agung?”“Dan ini lawan bicara dia.” Naufal menyipitkan mata. “Dimas.”Nayla terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka mantan su

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    17. Lanjut Terapi Plus Plus

    Tok! Tok! Tok!Suara ketukan di pintu, membuat Nayla dan Naufal tersentak kaget. Mata Naufal sudah mengembun dipenuhi oleh nafsu. Saking bernafsunya, ia bahkan lupa jika saat ini mereka sedang berada di kamar mandi.“Naufal, apa yang terjadi di sana? Apa Nayla baik-baik saja?" Suara Rianti di luar

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    11. Dia Lagi?

    Nayla tersentak dan berteriak keras. Refleks ia menarik rem secara mendadak. Citt! Ban motornya berdecit keras di aspal, tubuhnya sampai hampir terlempar ke depan. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari motornya. Jantung Nayla berdegup sangat ken

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    10. Tega Kamu, Mas!

    “Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Di

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    30. Fakta Tak Terduga

    Beberapa detik Nayla tidak bergerak, seolah tubuhnya lupa cara bereaksi.Naufal juga tidak langsung menjauh.Bibirnya masih melumat bibir Nayla dengan lembut.Jantung Nayla berdegup kencang, semakin tidak terkontrol. Tangannya yang tadi bertumpu di meja, kini perlahan mengepal.“Naufal,” suaranya h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status