MasukHari-hari setelah Nayla sadar terasa sangat berbeda bagi Naufal. Beban besar yang selama ini menghimpit dadanya perlahan menghilang. Rumah sakit yang sebelumnya dipenuhi ketegangan kini berubah jadi tempat penuh senyum dan rasa lega.Meski kondisi Nayla sudah jauh membaik, tetapi Naufal tetap memperlakukannya seperti orang paling rapuh di dunia. Ia hampir tidak pernah membiarkan Nayla berjalan sendiri.Tanpa malu, Naufal menggendong Nayla melewati rekan-rekan dokter dan para perawat. Ia seolah tak peduli jika di pandang sebelah mata karena sikapnya itu. Apalagi dia adalah seorang dokter yang terkesan identik dengan kewibawaannya.“Na, aku bisa jalan sendiri,” protes Nayla pelan sambil menahan malu saat Naufal kembali menggendongnya keluar dari ruang rawat.Namun Naufal tetap berjalan santai sambil menggendong tubuh gadis itu erat.“Tidak boleh,” jawabnya tegas. “Nanti kamu jatuh.”“Naufal!" Nayla mendelik pelan. “Aku bukan anak kecil.”“Kamu lebih bahaya dari anak kecil, Nay.”"Astaga
“Nay, ayo bangun, Sayang.”Naufal membeku sesaat saat melihat jari Nayla bergerak lagi. Gerakan itu kecil, sangat lemah dan hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama, tetapi cukup jelas untuk membuat napasnya langsung tertahan. Jantungnya berdegup lebih cepat, matanya tidak berkedip menatap tangan itu seolah takut kehilangan momen tersebut.“Nayla.” suaranya bergetar lirih, nyaris seperti bisikan yang takut memecah harapan yang baru saja muncul.Ia cepat-cepat mendekat, kursinya bergeser sedikit saat tubuhnya condong ke depan. Tangannya kembali menggenggam jemari Nayla, kali ini jauh lebih hati-hati, seolah sentuhan sedikit saja bisa menghilangkan respon itu. Sedangkan Reza terus fokus melakukan tindakan untuk Nayla. Hangat tubuh Naufal rasanya sangat kontras dengan dinginnya tangan Nayla.“Nayla, dengar aku,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosinya agar tetap stabil. “Kalau kamu bisa dengar, coba gerakkan lagi tanganmu ya. Sedikit saja. Ada aku di sini.”Ruangan
“Ya Tuhan, ada apa ini?” Naufal kalang kabut.Suara monitor itu berubah tajam, memecah suasana yang sebelumnya hening. Bunyi monitor itu terdengar lebih cepat dan tidak beraturan. Grafik di layar melonjak naik turun tanpa pola yang jelas.Naufal langsung berdiri, tubuhnya refleks menegang, dan wajahnya seketika pucat saat melihat perubahan itu.“Nayla!” panggilnya dengan suara tegang dan panik. Rianti yang masih berada di dalam ruangan itu pun ikut panik. Langkahnya mendekat ke arah monitor itu dengan napas tidak teratur.“Apa yang terjadi, Fal?” tanyanya dengan suara gemetar.Namun, Naufal tidak menjawab pertanyaan mamanya itu. Fokusnya langsung berubah, rahangnya mengeras, dan dalam sekejap ia kembali menjadi seorang dokter, bukan pria yang tadi hampir hancur.“Ma, keluar,” perintahnya tegas tanpa menoleh. Tidak ada lagi emosi yang berantakan, yang tersisa hanya ketegasan dan kecepatan berpikir.Rianti terdiam sepersekian detik, seolah tidak siap ditolak di saat seperti ini. “Tap
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat bagi Naufal, seolah waktu berhenti hanya di ruangan itu.Pagi, siang, malam bercampur jadi satu tanpa perbedaan yang jelas. Cahaya matahari berganti lampu malam, lalu kembali lagi, tetapi bagi Naufal semuanya terasa sama. Ia tetap duduk di kursi yang sama, di sisi tempat tidur Nayla, dengan posisi hampir tidak berubah. Tangannya menggenggam jemari gadis itu yang dingin dan tidak kunjung membalas. Tatapannya kosong, terpaku pada wajah Nayla yang pucat, berharap ada sedikit saja perubahan yang bisa ia tangkap.Namun Nayla belum juga membuka mata. Tidak ada gerakan dan tidak ada respon sama sekali. Hanya terdengar suara mesin yang berdetak pelan dan monoton, seperti satu-satunya tanda bahwa hidup masih bertahan.Naufal hampir tidak pernah beranjak dari tempat duduknya. Tugasnya sebagai dokter pun sudah tak pernah ia jalankan lagi.Wajahnya semakin pucat, matanya sembab, lingkar hitam terlihat jelas di bawah matanya. Rambutnya berantakan, pakai
“Mulai sekarang, terserah mama mau berbuat apa saja. Aku dan Nayla akan pergi dari kehidupan mama.”Naufal berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang sudah terlalu penuh di dalam dadanya. Tangannya masih mengepal kuat di samping tubuhnya, urat-uratnya terlihat tegang. Ia bisa mendengar tangis sang mama di belakangnya yang pecah dan tak tertahan.“Naufal, tolong maafkan mama. Mama ingin melihat Nayla.”"Nggak perlu. Nayla nggak butuh dijenguk oleh mama.”"Naufal!”Mamanya terus memanggil namanya dengan suara lirih yang penuh penyesalan, tetapi Naufal tidak menoleh sedikit pun.Ia tetap berdiri, seolah tubuhnya membeku di tempat, sampai akhirnya ia menarik napas panjang yang terasa berat, lalu berbalik tanpa ragu meninggalkan rumah itu.Langkahnya cepat dan tegas, seolah tidak memberi ruang untuk berhenti."Fal.” suara Rianti kembali memanggil dengan pelan dan rapuh, tetapi Naufal tetap berjalan.Tidak ada jawaban, tidak ad
“Sekarang jelaskan sama aku, Ma.” Suara Naufal rendah, tetapi penuh tekanan. Ruangan pun terasa semakin sempit.Rianti masih terdiam. Tatapannya sempat bergeser ke pria di samping Naufal, lalu kembali pada wajah anaknya.“Naufal, kamu salah paham ….”“Jangan bohong, Ma!” potong Naufal keras.Bi Inah yang berdiri di sudut ruangan pun sampai tersentak. Rumah yang biasanya tenang, kini dipenuhi dengan ketegangan yang seolah bisa membuat detak jantung terhenti.Naufal melangkah maju, jaraknya semakin dekat dengan sang mama.“Aku melihat sendiri Mama memberi uang kepadanya,” lanjutnya sambil menunjuk pria itu. “Dan aku juga melihat sendiri isi kameranya.”Ia mengangkat kamera itu, dan kembali menunjukkannya pada Rianti.“Semua foto-foto aku dan Nayla diambil secara diam-diam. Apa semua ini masih kurang sebagai bukti, hah?” sentaknya penu emosi dan rasa kecewa.Rianti menatap layar itu tanpa bergerak. Matanya nyaris tak berkedip. Raut wajahnya mulai berubah, dan bibirnya pun memucat.“Jadi







