로그인“Hah? Berdua?” ulang Nayla pelan. Ia mengernyit dalam.Reza melirik ke kanan dan kiri koridor rumah sakit seolah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.“Iya. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan.”“Memangnya nggak bisa di sini?” Nayla menyipitkan matanya.“Enggak, nanti ada yang dengar.” Nada suara Reza terdengar jauh lebih serius daripada biasanya. Dan hal itu membuat Nayla ikut merasa tidak nyaman.Reza menarik tangan Nayla dan mengajaknya menuju koridor yang agak tersembunyi. Jujur saja, Nayla benar-benar gelisah dengan keadaan saat ini.“Dokter, jangan bikin aku takut dong!” ujar Nayla seraya menarik tangannya dari pegangan Reza.“Ah, maaf.” Reza angkat tangan dan menghembuskan napas panjang. "Tapi aku juga sebenarnya nggak mau ngomong ini.”"Memangnya ada apa?”“Nayla, aku baru saja ketemu sama kakakku.”“Kakak kamu? Yang waktu itu pesan seserahan nikah? Kak Sarah?”“Iya." Reza mengangguk. “Dia datang pagi-pagi ke rumah sakit cuma buat ngobrol soal Agung.”"What? T
“Apa yang dikatakan Naufal memang masuk akal banget sih,” batin Nayla yang kini sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.Wanita itu terdiam cukup lama. Pikirannya kembali melayang pada semua ucapan Dini tadi pagi. Tangisan, permohonan, dan keyakinan wanita itu bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Agung.Tapi setelah berbincang dengan Naufal dan mendengarkan asumsi dari suaminya, entahlah. Ada keraguan yang mulai muncul di hati Nayla sekarang.“Tapi Dini kelihatannya yakin banget kalau bayinya itu anak Mas Agung,” gumam Nayla.“Entahlah, mungkin dia ada alasan lain,” jawab Naufal tenang.“Tapi kalau memang mereka sering berhubungan badan, gimana?”“Belum tentu juga itu anak Agung, Sayang.”“Aku semakin nggak mengerti dengan semua ini,” geleng Nayla pelan.Naufal menghela napas. “Sayang, aku bukan sedang menuduh Dini selingkuh. Tapi secara medis, kalau kondisi Agung sama seperti hasil pemeriksaan dulu, kemungkinan dia punya anak itu sangat kecil. Bahkan hampir nggak ada.”Nayla men
“Apa? Itu nggak mungkin, Din!” Nayla menggeleng cepat."Aku mohon, Nay. Cuma kamu yang bisa aku mintain tolong saat ini,” rengek Dini sambil terus menangis di kaki Nayla."Astaga, Dini!” Nayla benar-benar kehilangan kata-kata. Ia sampai memijat pelipisnya sendiri karena terasa berdenyut.“Aku serius, Nay. Tolong aku,” pinta Dini lagi.“Tapi dia sudah menikah. Bagaimana mungkin kamu ingin dia kembali, Din?”“Tapi dia ayah dari anakku, Nay! Bagaimana nasib anakku nanti kalau lahir tanpa ayah, dan bagaimana nasib aku kalau punya anak tanpa ada suami? Tolong, Nayla, tolong!” mohon Dini dengan sangat memelas.Ia bahkan sudah tak peduli mau dicap seperti apa oleh Nayla. Yang jelas, saat ini ia sangat membutuhkan bantuan Nayla.“Aku nggak bisa ikut campur, Din." “Nayla, tolong.”“Aku nggak bisa janji apa-apa.”"Cuma kamu yang bisa nolongin aku, Nay.” Dini masih ingin memohon lagi.Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah dalam florist, menuju ke depan menghampiri mereka berdua
“Dini?" Mata Nayla melebar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang berdiri di depan florist pagi-pagi seperti ini adalah Dini. Nayla kaget, karena terakhir yang ia tahu, Dini ditangkap polisi setelah membuat keributan dan mencemarkan nama baik toko bunganya. Wanita itu tampak jauh berbeda dibanding terakhir kali mereka bertemu. Dulu Dini terlihat sangat angkuh, kasar, dan penuh kebencian menatap Nayla. Namun kini, wajahnya tampak pucat, matanya sembab, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya seperti seseorang yang sudah lama kehilangan waktu tidur. "Dini, kenapa kamu bisa ada di sini? Seharusnya kan kamu di penjara?" tanya Nayla kaget. "Aku bebas, Nay. Agung yang bantu aku pakai relasi dari dia dan ibunya." “Oh, gampang banget bebas ya? Padahal kamu sudah jadi provokator untuk menjatuhkan florist aku,” gumam Nayla pelan, sembari memutar bola matanya dengan malas. “Maaf, Nayla.” suara Dini terdengar serak. “Apa yang kamu lakukan di sini pagi-pagi begini d
“Ahh, Sayang.” Nayla mencengkeram lengan kekar Naufal yang saat ini sedang memeluk tubuhnya dari belakang."Kenapa, sayang? Kamu mau lebih jauh?” bisik pria itu sambil terus asyik menciumi leher istrinya dan sesekali ia menjilati cuping telinga Nayla."Ahh! Shhh!” Nayla mendesah tertahan, berusaha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ketika saat ini Naufal terus meremas-remas buah dadanya.Jemari kekarnya tak mau diam, ia cubit put*ng susu Nayla dan ditariknya dengan gemas. “Jangan dicubit dong, Sayang. Sakit tau," sungut Nayla, membuat Naufal justru terkekeh.“Habisnya aku gemes banget," jawab pria itu dengan mesum.Dengan cepat , ia raih perut ramping sang istri dan dia balik tubuh Nayla agar berhadapan dengannya.Begitu mereka saling berhadapan, kedua lengan Nayla refleks melingkar di leher Naufal. Keduanya segera berciuman dengan sangat panas.Suara decakan bibir mereka terdengar beradu dengan suara gemericik air. Ciuman itu perlahan berubah semakin panas.Naufal menciumi tubuh sang
Melihat ponsel Nayla yang bergetar berulang kali tanpa mendapat respon, Renata pun menoleh kepada sahabatnya itu.“Siapa sih, Nay? Kok kamu cuekin?" tanyanya dengan rasa penasaran seperti biasa.“Dini," jawab Nayla singkat.“Hah?" Renata membeo sampai matanya melebar.Ternyata yang menghubungi Nayla adalah Dini."Iya. Dia kirim pesan,” kata Nayla.Wanita itu ternyata mengirim pesan panjang.Dini memberi tahu bahwa hari ini Agung menikah dengan wanita lain. Ia juga mengatakan ingin bertemu dengan Nayla karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.Nayla hanya membaca sekilas lalu mengunci layar ponselnya. Ia sama sekali tidak tertarik.Hubungannya dengan Agung sudah lama berakhir. Begitu juga dengan semua masalah yang melibatkan Dini.Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar. Dini menelepon. Tetapi Nayla langsung menolaknya dengan cepat. Namun Dini tak berhenti di situ. Ia kembali menelepon lagi.“Gigih juga ya,” komentar Renata sambil terus asyik merangkai bunga.“Ganggu bange
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat bagi Naufal, seolah waktu berhenti hanya di ruangan itu.Pagi, siang, malam bercampur jadi satu tanpa perbedaan yang jelas. Cahaya matahari berganti lampu malam, lalu kembali lagi, tetapi bagi Naufal semuanya terasa sama. Ia tetap duduk di kursi yang sam
“Mulai sekarang, terserah mama mau berbuat apa saja. Aku dan Nayla akan pergi dari kehidupan mama.”Naufal berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang sudah terlalu penuh di dalam dadanya. Tangannya masih mengepal kuat di samping tubuhn
“Sekarang jelaskan sama aku, Ma.” Suara Naufal rendah, tetapi penuh tekanan. Ruangan pun terasa semakin sempit.Rianti masih terdiam. Tatapannya sempat bergeser ke pria di samping Naufal, lalu kembali pada wajah anaknya.“Naufal, kamu salah paham ….”“Jangan bohong, Ma!” potong Naufal keras.Bi In
"Naufal, ada apa ini? Tolong jangan buat aku cemas! Kau ... kau tidak akan bertindak yang macam-macam kan?" Dokter Reza benar-benar dibuat panik.“Aku ada urusan penting, Za. Tolong kau jaga Nayla. Dan jangan banyak tanya.”Reza terdiam sebentar, lalu menghela napas pendek. “Huft, Oke kalau begitu.







