Masuk“Hah? Ini ... serius?”Naufal masih menatap layar ponselnya dengan mata melebar. Nayla yang duduk di sampingnya ikut penasaran.“Kenapa, Sayang? Siapa yang kirim pesan?”Naufal tidak menjawab. Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya.“Sayang, lihat ini.” Naufal menyerahkan ponselnya kepada Nayla.Nayla pun ikut membaca pesan tersebut. Beberapa detik kemudian, matanya ikut membesar.Undangan Pernikahan Laras & Hendra.“Laras sama Hendra mau nikah?”“Iya.” Naufal mengangguk."Wah!" Nayla langsung tersenyum lebar. “Serius mereka?”“Sepertinya begitu.”Nayla kembali membaca pesan itu, lalu menatap Naufal dengan wajah tidak percaya. “Kok mereka nggak bilang apa-apa sama kita?”Naufal terkekeh. “Aku juga nggak tahu.”“Padahal mereka kerja di florist aku. Masa aku malah dapat undangan dari pesan seperti ini?”“Berarti ini kejutan, Sayang," kata Naufal menenangkan sang istri.“Bukan kejutan lagi. Aku malah kaget.”Keduanya tertawa kecil. Nayla terlihat
Dimas masih duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Sejak tadi sudut bibirnya terus terangkat setiap kali melihat layar. Nayla yang duduk di sebelah Naufal mulai merasa penasaran, apalagi Dimas terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.“Kak Dimas,” panggil Nayla.“Apa?” sahut Dimas datar.“Siapa yang kamu chat sampai senyum-senyum begitu?”Dimas segera menurunkan ponselnya dan menggeleng cepat. “Nggak ada.”Nayla menahan senyum. “Ah masa?”“Iya.”“Boleh aku lihat?”“Nggak boleh. Jauh-jauh sana, dan urusanmu sendiri.”Jawaban Dimas yang terlalu cepat justru membuat rasa penasaran Nayla semakin besar. Ia bangkit dari sofa dan menghampiri Dimas.“Aku cuma mau lihat sebentar.”“Nggak boleh."“Aku cuma penasaran, Kak.”“Penasaran boleh. Tapi jangan kepo urusan orang.”"Pokoknya aku mau lihat!"Nayla malah tertawa dan berusaha mengambil ponsel Dimas. Pria itu segera mengangkat tangannya lebih tinggi sehingga ponsel tersebut tidak bisa dijangkau.“Kak, sini lihat!”“Nggak
“Aku … aku tidak cemburu,” ucap Dimas gugup, tapi jelas wajahnya merah padam.Nayla menahan senyum. “Iya, Kak. Nggak cemburu.”“Memang aku bilang aku cemburu?”“Nggak ada yang bilang begitu,” sahut Naufal santai. “Tapi kenapa wajahmu merah?”Dimas terdiam. Ia semakin kesal melihat Naufal dan Nayla yang malah saling pandang sambil menahan tawa.Nayla akhirnya merasa kasihan. “Pria yang Kak Dimas lihat tadi itu adalah Dokter Reza.”“Reza?”“Iya. Dia baru datang dari Prancis karena di hubungi Kak Sarah setelah Shella kecelakaan.”Dimas yang sejak tadi tegang seketika terlihat lebih santai. Bahunya yang semula kaku perlahan mengendur.“Oh.”Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya, tetapi perubahan wajahnya terlalu jelas untuk disembunyikan.Naufal dan Nayla saling sikut.“Kok lega?” goda Nayla.“Siapa yang lega?”Naufal tertawa kecil. “Nggak ada. Kita cuma salah lihat.”"Cih!" Dimas mendengus, lalu membuang wajah ke arah lain. Namun, sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum tipis ya
Reza terdiam mendengar ucapan Naufal. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Naufal masih menganggapnya sebagai sahabat setelah semua kesalahan yang pernah dilakukannya.“Fal, aku benar-benar .…”“Sudah.” Naufal menepuk bahunya sekali lagi. “Tidak perlu membahasnya lagi.”“Iya." Reza mengangguk pelan. “Aku berterima kasih karena kau masih mau memaafkanku.”Naufal tersenyum tipis. “Aku bukan hanya memaafkanmu. Aku juga ingin kau kembali seperti dulu.”“Seperti dulu?” Reza menatapnya bingung.“Ya. Sebagai sahabatku.”Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Kemudian Reza tersenyum kecil. Ia mengangguk dan memeluk Naufal.“Baiklah. Aku janji. Aku akan perbaiki semuanya." “Terima kasih, Za. Aku percaya padamu." Naufal mengangguk dan membalas pelukan sahabatnya itu.Beberapa saat, mereka pun melepaskan pelukan mereka dan kembali menuju ruangan Shella.Sementara itu di dalam, Nayla masih duduk di samping ranjang Shella yang tampak sedang terlelap.Ia sesekali melirik ke
Nayla masih berdiri membeku di ambang pintu. Kedua matanya terbuka lebar, bibirnya bergetar.“Dokter Reza?”Pria yang duduk di samping ranjang Shella itu menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan seketika ingatan lama kembali memenuhi kepala Nayla.Dia dokter Reza, sahabat Naufal sekaligus Pria yang dulu pernah menyukainya. Pria yang bahkan pernah membuat hubungan mereka menjadi rumit karena perasaan itu. Tapi Nayla masih ingat bagaimana Reza berusaha menjauh demi menjaga rumah tangganya bersama Naufal."Maaf." Jantungnya berdegup lebih cepat.Nayla buru-buru mundur dan hendak menutup pintu, tetapi Reza bangkit dan menahan tangannya.“Tunggu, Nayla!" sergahnya seraya memegang erat pergelangan tangan Nayla.Gadis itu menunduk, menatap pergelangan tangannya yang ditahan Reza, lalu menatap wajah pria itu dengan gugup."Lepaskan, Dok! Aku ... aku nggak mau kalau sampai ada yang melihat kita. Terutama Naufal.""Aku akan lepaskan. Tapi tolong jangan pergi. Aku pengen ngobrol sama kamu, Nay."Se
“Sayang," panggil Naufal yang ternyata masih belum menyerah. Pria itu masih terus merayu Nayla yang sudah berbaring di sampingnya.“Apa lagi sih, Sayang?” dengus Nayla lirih.“Serius nih aku tidak boleh minta jatah?”"Ya ampun, sayang.” Nayla menghela napas panjang. “Tadi sudah aku bilang, aku masih takut.”“Aku sudah bilang kalau tidak akan menyakiti kamu dan calon bayi kita, Sayang.”“Tapi aku tetap khawatir.”“Dengarkan aku." Naufal mendekat sambil tersenyum. “Aku janji akan hati-hati.”Nayla menatap suaminya dengan wajah pasrah.“Kamu ini benar-benar tidak mau menyerah, ya?”“Tidak.”"Haha." Nayla akhirnya tertawa kecil. “Dasar.”Naufal kembali merengek, membuat Nayla semakin tidak bisa menahan tawanya. Setelah beberapa saat, akhirnya Nayla mengangguk pelan.“Ya sudah karena kamu terus saja maksa. Tapi kamu harus hati-hati ya.”Wajah Naufal seketika berubah cerah. “Benarkah?”“Iya.”Naufal langsung tersenyum lebar. “Terima kasih, Sayang. Aku janji akan hati-hati.Nayla menggeleng
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







