ログインRoni terkejut, matanya membelalak. "Apa? Cincin ini?" Tika mengangguk, "Aku tidak tahu di mana keistimewaannya,, tapi aku ingat betul bentuk dan warnanya. Atau mungkin hanya kebetulan semuanya sama." Roni terdiam, pikirannya berputar. Cincin itu memang memiliki keistimewaan. Tapi jika Tika mengenali cincin ini sebagai milik ayahnya, itu berarti ada hubungan yang lebih dalam antara ayah Tika dan benda ini. "Tika," kata Roni hati-hati, "aku tidak tahu kalau cincin ini sama dengan milik ayahmu. Aku menemukannnya di kandang milik Pak Raharjo." Tika membelalak, terlihat terkejut, "Kandang Pak Raharjo?" "Iya, memangnya kenapa?" Tika kembali teringat dengan saat terakhir bertemu ayahnya sebelum ditangkap. Ayahnya berkata kalau dia akan pergi ke rumah Pak Raharjo. "Pantas saja kalau aku merasa familiar dengan cincinmu." Gumam Tika pelan. "Cincin itu memang milik ayahku." Roni masih bingung membalas ucapan Tika. Jika benar itu milik ayahnya, berarti ayah Tika juga pernah men
Roni masih kebingungan dengan pernyataan Tika bahwa dirinya sudah menghilang selama tiga hari. Namun dia memutuskan untuk tetap fokus pada usahanya. Tika membantu Roni merapikan barang-barang yang ada. Sesekali dia melirik ke arah Roni yang juga sibuk melihat-lihat ikan di kolamnya. "Roni, apa benar Pak Kades dan orang yang bernama Widodo telah mengurungmu?" Tanya Tika penasaran. Roni menoleh, dan menatap Tika dengan wajah serius. Dia teringat dengan obrolan Pak Widodo dan Pak Kades yang hendak menargetkan Tika. "Tika." Ucap Roni lirih. "Mungkin mulai besok kamu tidak perlu membantuku lagi." Wajah Tika seketika berubah tegang. Ia mengerutkan kening seolah tak percaya dengan ucapan yang baru di dengar dari mulut Roni. "Kenapa kamu bilang seperti itu?" Tanya Tika dengan suara berbisik. Roni menghela napas panjang. Lalu mendekat ke arah Tika dengan pelan. "Aku tidak akan membahayakanmu lebih dari in
Baccan dan Buccan masih memperhatikan Dewi Murni. Mereka mendengus kesal saat wanita itu kian mendekat dan berhenti tepat di depan kedua harimau itu. Baccan dan Buccan mengangkat satu kaki depannya, berusaha menyerang Dewi Murni dengan cakar mereka. Roni memalingkan muka karena tak tahan jika melihat tubuh indah Dewi Murni tercabik. Suasana hening untuk beberapa saat. Roni tak mendengar teriakan ataupun auman yang menggema di udara. Roni menoleh kembali ke arah Dewi Murni dan kedua harimau itu, matanya membelalak lebar. "Ke–kenapa bisa begitu?" Dewi Murni membelai lembut bawah dagu Baccan dan Buccan. Kedua binatang itu merasa sangat suka dengan perlakuan itu, mereka berguling-guling manja seperti kucing kecil yang bermain dengan majikannya. "Kau lihat, Roni? Mereka cukup menggemaskan, bukan?" Dewi Murni menoleh ke arah Roni, kedua tangannya masih menggelitik bawah dagu kucing-kucing besar itu. Roni terpera
Roni menoleh dan melihat dua ekor harimau mendekat dengan langkah mengendap-endap. Mata kedua hewan itu tajam ke arah Roni seolah siap menerkamnya. "Kalian benar-benar serius dengan ini?" Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Roni. Pelan-pelan Roni melangkah mundur hingga punggungnya menempel ke jeruji besi di belakangnya. Roni menoleh dengan cepat ke arah Pak Widodo dan Pak Kades. "Pak Kades! Tolong lepaskan aku!!" Seru Roni sekencang-kencangnya karena panik. Namun Pak Kades hanya tersenyum riang dan membalik badan, mengikuti Pak Widodo yang sudah berjalan lebih dulu. Saat Pak Widodo berada di ambang pintu langkahnya terhenti sejenak dan menoleh. "Nikmati hidangan spesial kalian, Baccan, Buc
Tubuh Roni yang sudah pingsan dihempaskan begitu saja di atas tanah lembab dengan dedaunan yang basah. "Engghh..." Erang Roni pelan. Wajahnya terasa lengket dengan tanah, matanya mulai terbuka perlahan. Roni melihat samar dirinya sudah berada di balik jeruji besi. Prok... Prok... Prok... Terdengar suara tepuk tangan lambat namun bersuara sangat nyaring. Roni menoleh ke arah sumber suara tersebut dan melihat Pak Kades tersenyum puas ke arahnya. "Mantap sekali, Roni!" Seru Pak Kades kegirangan. "Aku nggak nyangka kalau tindakanmu akan sejauh ini." Roni tak menjawab dan hanya bisa mengerutkan kening saja. "Apa kau puas sekarang herman?" Suara orang lain semakin mengejutkan Roni, sosok Pak Widodo muncul di belakang Pak Kades. Pak kades sedikit menggeser tubuhnya lalu menundukkan kepala penuh hormat. "Saya puas sekali, Pak Widodo." Jawab Pak Kades dengan senyum semringah. "Lalat kecil itu akhirnya akan lenyap seperti serangga lain yang pernah menggangguku dulu." Pak Wi
"Ini dia orang yang sedang kau cari informasinya," kata Bu Loly dengan santai, "Widodo. Suamiku." Pak Widodo melangkah masuk, menatap Roni yang terikat di kursi dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia tersenyum tipis, "Jadi, kau orangnya. Aku sudah sering mendengar tentangmu." Roni menatap Pak Widodo, mencoba memahami situasi yang semakin rumit. "Kau... kau adalah orang yang berbisnis di desaku dan menjadikan para wanita sebagai pemuas di kota?" Pak Widodo mengangguk, "Kau keberatan dengan itu? Dan kau ingin jadi pahlawan untuk menyelamatkan mereka?" Pak Widodo menarik kursi kayu di hadapan Roni, duduk dengan santai, menyilangkan kakinya. Matanya menatap Roni dengan tatapan antara penasaran dan peringatan. Bu Loly berdiri di sampingnya, tangan bersilang di dada, ikut menyaksikan. "Jadi, namamu Roni," Widodo memulai, suaranya rendah dan tenang, "aku dengar kau sudah banyak bergerak akhir-akhir ini. Menyelidiki jaringan kami, mencari tahu tentang pengiriman, dan bahkan menem







