LOGINRoni terbaring di sofa, tubuhnya masih setengah sadar. Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi pikirannya berada dalam kabut tebal antara tidur dan sadar.
Dalam kondisi itu, ia merasakan sesak yang tidak nyaman di celana panjangnya—sesak yang mengganggu, membuatnya tidak tenang. Dengan gerakan otomatis, tanpa benar-benar sadar, tangannya bergerak ke pinggang, membuka kancing celana panjangnya. Ia menariknya ke bawah, melepaskan celana panjang itu dan membiarkanRoni mencoba melawan, menendang ke belakang, tapi orang itu terus menarik tali dengan erat. Rasa sakit dan kepanikan mulai menguasainya. Namun dalam kegelapan yang semakin pekat, satu kata muncul di benaknya yaitu cincin. Dengan sisa tenaga, ia menggosok cincin di jarinya tiga kali. Cahaya keemasan menyala di hadapannya, dan Dewi Murni muncul tepat di antara Roni dan penyerangnya. Tali yang menjerat leher Roni tiba-tiba terlepas dengan sendirinya, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memutuskannya. Roni jatuh berlutut di tanah, terbatuk-batuk, tangannya memegang lehernya yang terasa perih. Sementara sopir taksi itu masih berdiri di belakang Roni, terkejut melihat tiba-tiba talinya putus tanpa sebab. "Hei! Apa—bagaimana talinya bisa putus?!" seru sopir itu dengan nada bingung dan sedikit ketakutan. Roni hanya diam dan berusaha mengatur napas, merasakan hembusan udara segar yang kembali mengisi paru-parunya. Di hadapannya, Dewi Murni berdiri dengan tenang, melindunginya dar
Roni berdiri di tepi jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga, dengan tas ransel kecil di punggungnya—hanya berisi beberapa baju dan sehelai selimut tipis. Tubuhnya masih terasa sakit, memar di wajah dan lengan masih terlihat. Orang-orang yang pernah ia kenal mengantar kepergian Roni untuk terakhir kalinya. Pak Raharjo menatap Roni dengan mata berkaca-kaca, lalu meraih tangan Roni dan menggenggamnya erat. "Ron, maaf aku tidak bisa banyak membantumu. Kau harus merelakan desa ini dan membangun hidup baru. Jangan pernah menyerah." Roni menunduk, menahan air mata, "Terima kasih, Pak. Tanpa Bapak, aku sudah mati malam ini." Pak Raharjo mengangguk, lalu melangkah mundur dan memberi tempat pada Ajeng yang sudah menangis sejak tadi. Gadis itu langsung memeluk Roni erat-erat, "Ron... jaga dirimu baik-baik ya. Bila ada waktu aku akan mencarimu." Roni membalas pelukannya, "Maaf, aku terlalu sering mengecewakanmu, Ajeng. Aku akan menunggu saat kita bertemu lagi." Ningrum dat
Pria itu memiliki tubuh tua yang sedikit membungkuk namun matanya masih tajam. Ia melangkah maju dengan tenang, tepat saat Rangga sudah mengacungkan korek api di tangannya. Dia adalah Pak Raharjo. "Cukup, Rangga!" Suara Pak Raharjo menggema, cukup keras untuk membuat beberapa warga terdiam. "Kita tidak bisa begitu saja menghakimi seseorang tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu!" Rangga menoleh dengan ekspresi kesal, "Apa maksud Pak Raharjo? Kami melihatnya sendiri! Roni tertangkap basah sedang memperkosa Mbak Heny!" Warga mulai bergemuruh setuju. Namun Pak Raharjo tetap tenang, "Kalian melihat Roni di sana, tapi apa kalian melihat seluruh kejadian dari awal? Apa kalian tahu bagaimana Heny bisa berada di sana? Apa kalian tahu siapa yang mengikatnya?" Kerumunan mulai sedikit ragu. Beberapa warga saling berpandangan. Rangga tersenyum sinis, "Pak Raharjo, jangan membela pemerkosa! Bapak ini sudah tua, mungkin sudah tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah!" P
PYAAARRR!!! Guyuran air yang banyak membuat Roni tersadar dari pingsannya. Ia mendapati tubuhnya di ikat dan di salib pada tiang papan yang besar. Roni melihat ke sekeliling di mana semua warga sudah melingkar di halaman depan balai desa. Dan tak jauh darinya Pak Kades berdiri sambil mengelus dagunya sendiri. "Kau sudah sadar, Roni?" Tanya Pak Kades sambil tersenyum puas. "Pak Kades..." Rintih Roni pelan. Malang sekali nasibnya, untuk kedua kalinya dia tertangkap. Dan Pak Kades adalah orang yang selalu berdiri di depannya. Pak Kades memalingkan wajahnya dari Roni. Dia menatap ke arah para warga yang sedang berkerumun seperti sedang menonton sebuah atraksi. "Warga sekalian!" Sapa Pak Kades dengan suara tegas. "Salah satu warga di desa kita ini sudah melakukan tindakan yang memalukan bagi desa kita tercinta." "Iya benar!" "Dasar biadab!" Sahutan warga bergemuruh di tengah keramaian. Umpatan dan cacian kotor yang terlontar pada Roni. Pak Kades mengangkat tangannya a
Dengan gerakan perlahan, ia menunduk dan mencium bibir Heny. Heny terkejut, tubuhnya menegang. Ia mencoba menarik kepalanya. "Mmff—! Lepaskan!" Suaranya tertahan di balik ciuman Roni. Tapi Roni tidak bergeming. Tangannya meraih pipi Heny, menahannya dengan lembut namun tegas. Ciuman itu semakin dalam, dan Heny yang awalnya menolak, perlahan mulai melemas. Roni terus bergerak dalam diam, tangannya meremas kedua bukit Heny dengan ganas, jari-jarinya sesekali memilin ujungnya hingga Heny mengerang tertahan. "Mmff—" Nafas Roni semakin berat, hasrat yang tertahan selama berhari-hari kini meledak tanpa kendali. Ia tidak peduli siapa yang ada di depannya, tidak peduli dengan suara-suara kecil di kepalanya yang berusaha mengingatkan bahwa ini salah. Tangannya bergerak turun, meraih ujung celana dalam Heny, hendak menariknya ke bawah. Namun tiba-tiba, suara langkah kaki cepat dan teriakan keras memecah keheningan. "RONI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Roni membeku. Ia menoleh, da
"K-Kau?!" suara si maling bergetar, penuh dengan ketakutan yang tidak masuk akal. "Maaf! Maafkan saya! Saya tidak tahu ini daerahmu! Saya janji tidak akan mengulangi lagi!" Roni mengerutkan kening, bingung, "Mas Bram, kenapa dia—" Bram dengan tenang menekan si maling lebih kuat, suaranya dingin dan tegas, "Kau tahu aturan di sini, kan? Jika aku melihatmu lagi, kau tahu apa yang akan terjadi." Si maling mengangguk cepat, "Iya, Bos! Saya mengerti! Saya tidak akan kembali lagi!" Bram melepaskan cengkeramannya, membiarkan si maling berdiri dengan susah payah. Tanpa menoleh ke belakang, maling itu berlari menghilang ke dalam kegelapan malam. Roni menatap Bram dengan tatapan yang penuh pertanyaan, "Mas Bram... apa yang baru saja terjadi? Sepertinya dia mengenalmu dan takut padamu?" Bram berbalik, menatap Roni dengan tatapan yang tenang, "Dia pernah jadi pasienku dan aku pernah menolongnya dulu. Dia berutang nyawa padaku. Itu saja." Roni tidak sepenuhnya percaya dan masih berd







