Share

Bab 77 - Baringkan Tubuh

Author: Frands
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-01 10:31:56

Bram melangkah maju, menatap Loly dengan tatapan tajam. "Dia teman saya. Dan saya akan membayar berapa pun harga yang Anda minta. Saya ingin dia mendapatkan perawatan terbaik di sini."

Loly terkejut dengan ketegasan Bram, tapi ia tetap berusaha bertahan. "Tuan, saya mengerti maksud Anda, tapi—"

"Tidak ada tapi," potong Bram, suaranya mulai meninggi. "Anda tidak tahu siapa dia. Dan Anda tidak berhak meremehkan orang hanya dari penampilannya." Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lem
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 183 - Tiga wanita

    "Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 182 - Ukuran yang Luar Biasa

    "Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 181 - Tidak Bisa Tenang

    Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 180 - Beraninya Kamu!

    Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 179 - Tidak Akan Berhenti Jadi Ancaman

    Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 178 - Bekerja tak Tenang

    Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status